Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 38 - Persiapan


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Ini adalah tawaran terakhir."


"Uuh.... Ba-bagaimana ya?" balas Hella kebingungan.


Saat ini, di dalam toko penyembuhannya yang sepi ini, dua orang sedang memojokkannya. Di satu sisi, Brian terus memberikan tekanan dan hasutan.


Sedangkan di sisi lain, Cecilia nampak memainkan belatinya dengan satu tangan. Sambil memberikan tatapan yang tajam ke arah Hella.


"Sudah lah, terima saja. Lagipula toko mu sepi kan?" ucap Cecilia.


"Ta-tapi.... Tapi...."


'Tap!'


Brian meletakkan sebuah koin emas di atas meja kerja Hella. Membuat pandangan gadis itu tertuju pada koin emas itu.


"Eeh? Eeh?!"


"Bayaran pertama mu. Jika kerjamu bagus, kau akan mendapat lebih banyak lagi."


"Tapi berpetualang di luar...."


Hella terlihat ragu. Alasannya membuka toko untuk menjadi penyembuh tentunya untuk menghindar dari bahaya.


Tapi resikonya? Toko miliknya akan cukup sepi. Karena sebagian besar kelompok petualang dan prajurit memiliki penyembuh mereka sendiri.


Sedangkan pelanggan yang datang ke toko Hella ini, kemungkinan hanyalah petualang penyendiri atau penduduk setempat.


Itu pun, Hella sudah cukup tersingkir akibat terbukanya toko obat-obatan herbal di dekatnya. Dimana harganya jauh lebih murah.


"Berbahaya? Tenang saja, kami akan melindungi mu." balas Brian.


Hella melirik ke arah kotak kayu di samping mejanya. Membuka untuk melihat isinya hanyalah puluhan koin perunggu yang tak berharga.


Seakan-akan mempertegas situasi ini, perutnya pun berbunyi.


'Krruuukk!'


"Hmm?" tanya Brian kebingungan.


"Ma-maaf.... A-aku belum makan sejak kemarin...." balas Hella dengan wajah yang begitu memelas.


Situasi keuangannya saat ini benar-benar buruk. Godaan untuk menerima tawaran mereka berdua benar-benar besar.


Tapi.... Apakah tak ada jalan lain? Itu lah yang ada di dalam pikirannya.


Sebelum sempat memutuskan, Cecilia telah memberikan tekanan yang baru.


"Aah, membosankan. Brian, sudahlah. Gadis pengecut ini tak berani berpetualang di luar dinding kota."


"Eeh?! Bu-bukan se-seperti itu...."


"Kau benar. Bukankah penyihir bernama Vania kemarin juga bisa menggunakan sihir penyembuh?" balas Brian yang segera berjalan menjauh. Menuju ke arah pintu di ujung ruangan ini. Tak lupa, Ia juga memungut kembali koin emasnya.


"Oh iya, kau benar. Mungkin dia akan menerima tawaran kita?"


Dengan pikiran yang panik dan rasa takut jika melepaskan kesempatan ini, Hella berusaha untuk menghentikan mereka berdua.


Ia berusaha berlari secepat mungkin meskipun jubah penyihir nya yang berwarna putih itu sedikit menghambatnya.

__ADS_1


Dalam sekejap, Hella telah berdiri tepat di depan pintu ruangan ini. Membentangkan kedua tangannya selebar mungkin.


"Hah.... Hah.... Aku.... Aku ikut...." ucapnya yang telah kehabisan nafas, hanya karena lari dalam jarak sedekat itu.


Senyuman yang tipis terlukis di wajah keduanya. Mengetahui bahwa rencana licik mereka telah berhasil sepenuhnya.


"Begitu kah? Bagus, jika begitu pertama kita akan mengganti pakaian mu. Terlalu mencolok di tengah hutan." balas Brian menunjuk ke jubah penyihir yang memiliki warna utama putih dengan cukup banyak hiasan itu.


"Eeh?! Tapi...."


......***......


...- East Forgery -...


Di sudut ruangan, Jareth berdiri sambil menyilang kan kedua lengannya. Memandangi sosok seorang gadis yang didandani oleh gadis lainnya.


Sambil merengek, gadis yang tak lain adalah Hella itu hanya bisa pasrah. Sementara Cecilia sendiri tengah sibuk memasangkan zirah kulit berwarna kehitaman itu pada tubuh Hella.


"Nah, dengan warna ini kau takkan begitu mencolok di hutan. Dan juga apa-apaan dengan tongkat sihir besi dengan ornamen keemasan itu? Ganti! Jareth! Kau ada tongkat penyihir dari kayu atau semacamnya?!" teriak Cecilia.


"Hah.... Kau tahu? Aku tak mau bertanggungjawab atas penculikanmu ini." ucap Jareth kepada Brian yang berdiri di sebelahnya.


"Penculikan? Apa maksud mu dengan itu?"


Jareth tak menjawab. Ia langsung pergi ke arah salah satu tong yang menyimpan cukup banyak tongkat sihir kayu.


Tongkat sihir kayu itu cukup sederhana, dengan bahan dari pohon oak dan sebuah batu sihir kecil berwarna kebiruan di ujungnya.


Dengan tatapan yang penuh rasa iba, Jareth sedikit melirik ke arah Hella sebelum akhirnya menyerahkan tongkat kayu itu padanya.


"Aku bukan pembuatnya, karena aku tak bisa sihir sedikit pun. Jadi jangan salahkan aku." ucap Jareth.


"Aaah, diam! Bukankah biasanya kau menyembuhkan lengan Brian tanpa tongkat sihir?!" balas Cecilia yang masih mengikatkan zirah kulit itu pada tubuh Hella.


Sedangkan Jareth sendiri segera menjauh. Kembali bersandar pada tembok di sebelah Brian.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan padanya? Baru pertama kali aku melihat penyihir menggunakan zirah dan membawa pisau." tanya Jareth penasaran.


"Berburu Wyvern." balas Brian singkat.


Seketika, kedua mata Jareth terbuka lebar. Tak bisa percaya atas apa yang baru saja didengarnya.


Sebelum 'merekrut' Hella, Brian dan juga Cecilia telah mengambil Quest untuk memburu Wyvern itu di Guild. Dan hadiahnya tak tanggung-tanggung, sebesar 50 koin emas.


Jumlah yang cukup untuk bersantai selama berbulan-bulan bagi tiga orang. Tapi tetap saja....


"Hah?! Kau gila?! Prajurit kekaisaran saja kesulitan untuk melawan Wyvern yang telah lepas kau tahu?!" teriak Jareth terkejut.


"Kau benar. Semakin ku gali, Wyvern terdengar semakin mengerikan. Itu lah kenapa, aku ingin bertanya pada pandai besi seperti mu." balas Brian.


Ia menolehkan wajahnya ke arah Jareth. Menatapnya dengan tatapan yang cukup serius.


"Apakah ada senjata atau semacamnya untuk memburu mereka dengan sedikit lebih mudah?"


Melihat tatapan mata Brian yang tak goyah sama sekali, Jareth tahu. Bahwa pria di hadapannya itu benar-benar serius dan takkan mundur dari misi ini.


"Hah...."


Sambil menghela nafasnya, Jareth mulai berfikir. Memikirkan senjata apa yang cocok untuk digunakan melawan Wyvern.

__ADS_1


Dan setelah beberapa saat, Ia memperoleh beberapa gambaran atas senjata yang tepat.


"Balista, harpoon, tombak lempar. Sesuatu yang bisa bergerak cukup cepat ke udara, dan memiliki cukup kekuatan untuk merobek sayapnya." jelas Jareth.


"Merobek sayapnya.... Hmm, benar juga. Memaksanya untuk tetap di tanah. Tapi apakah semudah itu? Aku juga tak pernah melemparkan tombak. Apalagi membawa balista sebesar itu."


"Tak ada yang bilang mudah. Tapi mungkin...."


Jareth segera berjalan ke arah salah satu rak yang berisi banyak anak panah. Diantara tumpukan anak panah itu, Jareth mengambil tiga buah anak panah dengan gagang hitam pekat.


Begitu pula dengan mata anak panah itu. Tapi ada satu hal yang aneh, dimana mata anak panah itu memiliki tulisan yang tak bisa dibaca. Dengan lambang-lambang aneh berwarna kebiruan.


Ia kemudian memperlihatkan anak panah itu pada Brian.


"Runic Arrow, bukan aku yang membuatnya. Aku membelinya dari salah seorang pandai besi terkemuka dengan harga murah beberapa waktu lalu untuk menjualnya kembali.


Tapi sayangnya tak pernah laku. Yah, mungkin karena memang terlalu mahal." jelas Jareth.


"Runic?"


"Artinya, anak panah ini telah diimbuhi dengan sihir. Sedikit alirkan sihir pada anak panah ini, dan dia akan aktif setelah mengenai target. Cukup kuat untuk meruntuhkan dinding rumah."


"Kau serius?!" tanya Brian terkejut.


Jareth pun menganggukkan kepalanya. Tapi ada satu masalah.


"Hanya saja, satu anak panah ini seharga 2 koin emas. Dan setelah Rune aktif, dia hanya akan jadi anak panah biasa. Jadi tak bisa digunakan kembali."


"Hah?! Kau gila?! Kau menipu ku?!"


Jareth hanya diam. Tak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Masih tetap dengan tatapan seriusnya.


"Untuk apa menipu satu-satunya pelanggan setia ku? Tapi memang semahal itu lah benda sihir."


Brian merasa, ini adalah sebuah tawaran untuk mengatasi seluruh solusinya. Terlebih lagi mengingat tembakan anak panah dari Cecilia hampir tak pernah meleset akibat kekuatan matanya.


Tapi masalahnya, Ia takkan punya cukup uang untuk membayarnya sekalipun Brian mau.


Memahami hal itu....


"Aku tahu kalian sedang tak punya uang. Begitu juga aku. Tapi aku punya barang, jadi ini adalah sebuah penawaran."


"Penawaran."


"Aku pinjamkan 3 anak panah ini. Dan jika berhasil memburu Wyvern itu, kau cukup membayar 2 koin emas tiap panah yang kau gunakan. Sisanya bisa kau kembalikan padaku."


Cecilia yang telah selesai mengenakan zirah kulit pada Hella, kini berlari ke arah Jareth. Tatapannya terkunci pada anak panah Runic berwarna kehitaman itu.


"Setuju!" teriak Cecilia sambil merebut ketiga anak panah itu secara langsung.


"Tu-tunggu dulu! Aku masih berfikir!"


Tapi sayangnya, Cecilia telah pergi sambil menyeret Hella keluar dari toko. Membuat Brian mau tak mau harus menerima penawaran ini.


"Hah.... Baiklah. Jareth, aku pinjam dulu tiga anak panah itu." ucap Brian dengan suara yang lemas. Mengingat Ia mungkin akan kehilangan 6 koin emas di masa depan.


"Ya, berhati-hatilah. Ah, dimana kalian akan memburunya?"


"Reruntuhan kota Baltimore. Kabarnya Wyvern itu tinggal di sana."

__ADS_1


__ADS_2