Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 30 - Pecahan


__ADS_3

Sembari berlari ke arah iblis itu, Brian tersenyum dalam hatinya.


Selama ini, tindakannya hanya lah sebuah pertaruhan, dengan nyawa sebagai bayarannya.


Sebuah pertaruhan untuk melihat apakah kali ini, Orlog juga akan membantunya kembali. Mengingat apa yang terjadi ketika melawan Goblin pada saat itu.


Akan tetapi, tak ada suara sedikit pun dari sosok yang mengaku sebagai dewa takdir itu.


Hanya keheningan, serta teriakan dari para penduduk kota yang memenuhi telinganya.


Apakah Brian telah salah?


Apakah pertaruhannya akan gagal bahkan sebelum permainan dimulai?


Tanpa di sadari nya, Brian telah berdiri cukup dekat dengan sosok iblis itu.


'Sreett!'


Ia memperkuat genggaman pada pedangnya. Sedangkan tatapannya tertuju hanya pada sosok iblis itu.


Penampilannya terlihat sama sekali tak berdaya, dengan beberapa lingkaran sihir yang melayang mengelilingi tubuh iblis itu.


Dalam diam, Iblis itu sama sekali tak bergerak dengan kedua tangan yang terbuka lebar sembari merapalkan mantranya.


'Kesempatan!'


Itulah yang ada di dalam pikiran Brian.


Dalam berbagai permainan RPG yang telah dijalaninya, seorang penyihir selalu memiliki kelemahan yang fatal.


Yaitu tak bisa bergerak ketika sedang merapalkan mantranya.


Dan dengan hal itu lah....


'Sraaaatttt!'


Brian mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Mengarah tepat pada leher iblis itu.


Hanya saja....


'Klaaaangg!!!'


Iblis itu mengangkat lengan kanannya, menahan pedang besi Brian dengan begitu mudahnya.


"Ap...."


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Iblis itu kembali menarik lengan kanannya sebelum memukul tubuh Brian sekuat tenaga.


'Blaaaaaaarrrr!!!'


Secara refleks, Brian menggunakan kedua tangannya untuk berlindung. Menahan pukulan yang seharusnya mengenai tepat di dadanya itu.


'Braaak! Braaakk!!'


Tubuh Brian terlempar sangat jauh. Melewati berbagai semak dan dahan pepohonan yang ada dengan cepat, sebelum terhenti sepenuhnya ketika tubuhnya menabrak dinding kayu kota ini.


'BRAAAAAKK!!!'


"Kuughhh!!!"

__ADS_1


Darah menyembur dari mulut Brian seiring dengan remuknya dinding kayu itu.


Hal terakhir yang diingatnya, hanya lah tatapan dingin dari iblis itu. Sebuah tatapan yang sama seperti ketika dirinya mengusir nyamuk atau serangga lainnya.


"Sia... lan...."


'Bruuukkk!'


Tak berselang lama, tubuh Brian tersungkur ke tanah. Kehilangan kesadarannya secara perlahan.


Pandangannya semakin sempit dan juga semakin gelap.


Sebelum akhirnya....


"Hah.... Baiklah."


Suara Orlog terdengar sesaat sebelum Brian sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Dengan cepat, tubuh Brian kini bangkit kembali dari tanah.


Distorsi cahaya nampak di sekujur tubuh Brian, dengan distorsi yang paling kuat terjadi pada bagian yang paling banyak terluka. Yaitu kedua lengan dan juga punggungnya.


Jika seseorang melihat dirinya saat ini, seakan-akan kedua lengan Brian memiliki wujud yang abnormal. Dengan jari yang salah tempat selama beberapa saat sebelum kembali lagi seperti semula.


Begitu pula dengan sebagian cahaya yang menghilang di sekitarnya. Membuat sebagian dari lengannya terlihat tak pernah ada di dunia ini.


Layaknya sebuah gambar pada film yang rusak, fenomena distorsi itu dapat terlihat hampir pada seluruh tubuh Brian.


Hanya saja....


Sedikit demi sedikit, lengan Brian yang sebelumnya telah remuk sepenuhnya akibat pukulan dari Iblis itu, kini telah kembali seperti semula.


Tapi Brian sama sekali tak menyadarinya. Ia telah kehilangan kesadarannya barusan.


Sembari membenahi rambut dengan tangan kirinya, tubuh Brian pun kembali berbicara seperti biasa. Namun dengan suara yang sedikit berbeda.


"Kau hanya ingin menahan iblis itu bukan? Serahkan padaku." ucap Brian pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


Terlihat satu-satunya perbedaan yang nyata, adalah pupil pada matanya yang berubah menjadi hitam pekat.


"Orlog ini sendiri, yang akan membunuhnya." lanjut tubuh Brian, yang kini telah berada di bawah kendalinya.


Dengan tatapan yang penuh atas rasa percaya diri, Orlog pun kembali berjalan ke arah Iblis itu.


Langkah demi langkah Ia lalui dengan sikap yang santai sembari mengumpulkan kembali pecahan-pecahan kekuatannya yang masih tersisa di dunia ini.


......***......


Sementara itu, jauh di luar dinding kota kecil Grenary, terlihat ribuan orang berlarian tak karuan. Semuanya berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan kota yang telah berada dalam lingkup lingkaran sihir raksasa ini.


Di kejauhan, batas dari lingkaran sihir ini terlihat semakin dekat. Mereka tak lagi jauh dari kata 'selamat' dalam pelarian ini.


Di antara kerumunan itu....


"Hah.... Hah.... Hah...."


Cecilia terus berlari secepat mungkin sembari menggendong gadis kecil itu. Nafasnya mulai habis, tapi Ia tak bisa berhenti saat ini.


Lagipula, Ia tak tahu kapan sihir skala besar ini akan aktif.


"Kakak.... Dimana mama?" tanya gadis itu sambil terus menangis.

__ADS_1


Hati Cecilia terus teriris setiap kali Ia mendengar tangisannya. Karena sosok gadis itu sedikit mengingatkannya pada dirinya yang dulu.


Lemah dan sendirian, tak ada satu orang pun di sisinya.


Cecilia memahami dengan baik apa yang dirasakan oleh gadis kecil itu. Dan satu-satunya yang ada di dalam pikirannya, hanyalah sebuah harapan agar gadis itu tak berakhir sama sepertinya.


Setelah mempersiapkan dirinya, Cecilia pun menjawab.


"Tenang, kakak akan mencarikan mama mu. Oke? Tapi sekarang, kita pergi dulu dari...."


'Braaakk!!'


Tanpa sengaja, Cecilia menabrak orang lain dalam perjalanannya. Membuat keduanya jatuh tersungkur ke tanah.


"Ma-maaf...."


Seketika, kedua mata Cecilia terbuka lebar setelah melihat sosok yang terjatuh di hadapannya.


Ia merupakan seorang pemuda dengan rambut kecoklatan yang lurus, menutupi hingga telinganya.


Pemuda itu mengenakan jubah putih dengan alur hitam tanpa sedikit pun lempengan besi yang melindunginya.


Rasa takut seketika menyelimuti sekujur tubuh Cecilia.


Ia adalah orang yang sama yang dilihat olehnya bersama dengan Brian beberapa hari lalu. Memimpin pasukan perintah suci ke sembilan.


Bahkan seakan-akan semua itu belum cukup buruk, Cecilia segera menyadari bahwa beanie yang dikenakannya terjatuh.


Memperlihatkan telinga runcing dan panjangnya, beserta tanduk kecil di kepalanya.


'Mati.... Aku akan mati....'


Satu-satunya yang bisa dilakukan Cecilia, adalah memeluk erat gadis kecil itu. Membuatnya tak bisa melihat sosoknya yang sebenarnya.


'Maaf Brian.... Aku.... Aku....'


'Srruugg!'


Secara tiba-tiba, komandan pasukan perintah suci ke sembilan, Reverie itu justru mengambil beanie milik Cecilia dan mengenakan beanie itu padanya.


Bahkan Reverie berusaha dengan baik untuk menutupi telinga runcing dan juga tanduk kecil Cecilia.


"Eh?" ucap Cecilia terkejut.


Ia sama sekali tak bisa memahami apa yang baru saja terjadi padanya.


Sebelumnya, Cecilia berfikir bahwa dirinya pasti akan mati. Terlebih lagi komandan perintah suci berada tepat di hadapannya.


Tapi yang terjadi justru....


"Terimakasih." balas Reverie sebelum kembali berlari ke arah pusat kota di Grenary ini.


Saat Cecilia melihat kembali ke arah komandan itu, Ia tak menemukan sedikit pun perlengkapan tempur padanya.


Tak ada zirah, juga tak ada senjata. Hanya sepasang sarung tangan putih tipis yang dikenakannya.


'Kenapa? Ah.... Itu tidak penting. Artinya, Brian akan memiliki bantuan tambahan bukan? Sekarang, aku hanya perlu fokus untuk pergi....' pikir Cecilia dalam hatinya.


Ia segera bangkit dan kembali berlari. Meninggalkan wilayah Grenary ini, dan menyerahkan sisanya pada kedua orang itu.

__ADS_1


Berfikir bahwa Brian mungkin akan selamat, jika Komandan itu berbuat hal yang sama seperti yang dilakukannya padanya.


__ADS_2