
Jauh di dalam wilayah Frostbite, di tengah salju dan es yang sangat dingin itu, ratusan prajurit terlihat berbaris dengan rapi.
Sedangkan di hadapan mereka, adalah hutan dengan salju yang tebal. Tidak berwarna putih, melainkan berwarna merah gelap.
Semua itu dikarenakan pembantaian yang baru saja dilakukan oleh Perintah Suci ke 6 yang tiba di tempat ini.
"Nona Aeryn, seluruh iblis tingkat rendah telah dibasmi. Tapi masih ada 3 iblis pewaris Hecate yang masih berhasil selamat." ucap salah seorang Ksatria itu sambil berlutut di hadapan Aeryn.
Mendengar laporan itu, Aeryn menggenggam erat pedangnya. Wajahnya pun terlihat begitu kesal dengan situasi ini.
"Dimana mereka?" tanya Aeryn singkat.
"Mereka kabur ke wilayah Utara. Beberapa regu masih berusaha untuk...."
"Rawat yang terluka dan bersiap lah untuk kembali." balas Aeryn singkat sambil menarik pedang di pinggangnya.
Pedang itu memiliki gagang berwarna kemerahan dengan wujud seperti mulut naga. Bilah pedang itu lurus dan berwarna putih cerah.
"Nona Aeryn?"
Dengan langkah yang semakin cepat, Aeryn hanya membalas dengan singkat.
"Biar aku yang membereskannya sendiri."
Dalam sekejap, Aeryn melesat dengan sangat cepat. Seakan-akan menghilang begitu saja. Meninggalkan pasukannya di tengah hutan bersalju ini.
Di kejauhan, tepatnya di sekitar wilayah sungai yang beku itu, tiga sosok Iblis terlihat sedang berusaha kabur.
Mereka berlari sekuat tenaga, karena saat ini nyawa mereka sendiri adalah taruhannya.
"Sialan! Ksatria sialan itu!"
"Semua ini salahmu! Karena kau mencoba untuk memburu ternak di wilayah manusia!"
"Hah?! Salahku?! Lalu siapa yang memohon agar seseorang mencarikan anak mereka makanan?! Kau! Aku hanya ingin membantu mu!"
"Diam dan percepat langkah kaki kalian!"
Ketiga iblis pewaris kekuatan Hecate itu terlihat berdebat satu sama lain. Melemparkan kesalahan pada yang lainnya.
Ksatria yang berusaha untuk mengejar mereka bertiga nampak kesulitan. Bukan hanya kalah cepat, tapi lingkungan yang sangat dingin di wilayah Frostbite ini semakin membatasi pergerakan mereka.
"Lihat, kita sudah cukup jauh. Sekarang kita hanya perlu bergegas ke arah persembunyian." ucap salah seorang Iblis dengan tanduk di dahinya itu sambil menoleh ke belakang.
Tapi tiba-tiba....
'Tap!'
Seorang Ksatria dengan rambut perak yang diikat itu berdiri tepat di hadapan mereka. Ksatria wanita itu mengangkat pedangnya dan mengarahkannya tepat ke arah ketiga Iblis itu.
__ADS_1
"Menyerah lah, Iblis. Sekalipun kau membawa sebagian dari kekuatan Hecate, kalian tak memiliki kesempatan untuk menang dariku." ucap Aeryn dengan wajah yang datar.
Aeryn segera membuat kuda-kuda dengan menggenggam pedang itu menggunakan kedua tangannya.
Posisinya telah siap untuk mengayunkan pedangnya.
Sedangkan ketiga Iblis barusan hanya bisa terkejut melihat kemunculan Aeryn yang sangat tiba-tiba itu.
"Hah! Kau pikir kami akan menyerah?! Terlebih lagi pada Ksatria wanita seperti mu?!"
"Lihat ini! Kami memiliki sebagian dari tanduk Raja Iblis! Jangan berfikir bahwa kau...."
'ZRAAAAAATTTT!!!'
Hanya dalam satu tebasan saja dari jarak yang jauh, Aeryn berhasil memenggal kepala ketiga Iblis itu dengan pedangnya.
Gelombang udara yang sangat kuat dari ayunan pedangnya mampu menembus leher tebal ketiga Iblis itu. Tanpa kesulitan sedikit pun.
'Sreeett!'
Sambil menutup matanya, Aeryn menyarungkan kembali pedangnya di pinggangnya.
Ia berjalan perlahan ke arah jasad ketiga Iblis itu. Kedua tangannya pun mulai bergerak, seakan-akan sedang menggambar di udara.
Dalam sekejap, sebuah lingkaran sihir yang besar dengan warna putih cerah muncul di atas salju tebal itu.
"Scrios...." ucap Aeryn sambil melompat mundur beberapa langkah.
Dari tengah lingkaran sihir itu, muncul cahaya putih yang sangat terang. Bahkan mampu membutakan siapapun yang melihatnya secara langsung.
Cahaya itu menjulang tinggi membentuk suatu pilar. Suhu yang panas dari cahaya itu bahkan mampu dengan mudah melelehkan seluruh es dalam radius 10 meter.
Para Ksatria yang melihat kejadian itu dari kejauhan segera menyadari, bahwa pilar cahaya yang merupakan perwujudan dari sihir tingkat tinggi itu....
Tak lain merupakan ulah dari komandan mereka, Aeryn. Pemimpin dari kelompok Perintah Suci ke-6.
"Aaah.... Lagi-lagi kita bergantung pada Nona Aeryn." ucap salah seorang Ksatria yang melihat pilar cahaya itu di kejauhan.
"Kalau begitu, ketiga Iblis barusan sudah dimusnahkan bukan?"
"Tentu saja. Tak ada satu pun Iblis yang bisa kabur darinya. Hal itu pula yang membuatnya menjadi seorang komandan." balas Ksatria yang lain.
Dengan segera, kelompok Ksatria itu berbalik arah dan kembali ke pasukan utama. Bersiap untuk meninggalkan Frostbite karena seluruh Iblis di tempat ini telah berhasil dimusnahkan.
Sedangkan Aeryn sendiri, Ia masih menggunakan beberapa sihir penghancuran yang lain. Semua itu dilakukannya untuk memastikan bahwa sisa bagian tubuh Raja Iblis Hecate musnah sepenuhnya.
Mencegah Iblis yang lain untuk bisa memanfaatkan hal itu, baik untuk memperkuat diri mereka....
Atau pun membangkitkan Raja Iblis Hecate kembali.
__ADS_1
......***......
...Reruntuhan Kota Baltmore...
Di balik dinding yang menjulang tinggi itu, terdapat sebuah Kota yang dulunya sangat megah. Kota yang dulunya menjadi pusat perdagangan di Kekaisaran Luvelia ini.
Tapi semenjak pertempuran antara umat manusia dengan bangsa Iblis, kota Baltmore runtuh hingga hampir tak bersisa.
Penduduk yang dulunya mencapai angka 800.000 jiwa lebih itu, kini bahkan tak ada satu orang pun di Kota ini.
"Selamat datang di salah satu Kota mati terbesar di benua ini, Baltimore!" ucap Cecilia sambil memamerkan dinding dan gerbang kota yang telah runtuh itu.
Brian hanya bisa menatap ke arah reruntuhan kota itu dengan perasaan penuh kagum sekaligus keheranan. Kedua matanya terlihat terbuka lebar dan nampak berkaca-kaca.
"Hmm? Kenapa? Belum pernah kota mati sebelumnya?" tanya Cecilia penasaran ke arah Brian.
"Begitu lah. Ini adalah kali pertamanya bagiku melihat kota mati secara langsung." balas Brian.
"Kau tahu? Aku penasaran atas dunia tempat mu berasal. Apakah itu dunia yang sangat damai?" tanya Cecilia sambil mendekatkan wajahnya ke arah Brian.
Brian mulai berpikir-pikir setelah mendengar pertanyaan itu.
Dan setelah beberapa saat....
"Tidak.... Ku rasa, dunia tempat ku berasal juga dipenuhi dengan peperangan. Mungkin.... Jauh lebih buruk lagi."
"Menarik. Suatu saat kau bisa ceritakan hal itu. Tapi sekarang, ayo!" teriak Cecilia sambil menarik lengan Brian ke dalam kota mati itu.
Puing-puing bangunan memenuhi jalanan yang telah hancur itu. Membuat perjalanan mereka menjadi lebih sulit.
Meski begitu, keduanya masih terus mencari.
Mengangkat puing-puing bangunan satu persatu, untuk melihat apakah ada sesuatu di baliknya.
Hingga tanpa di sadari, matahari telah terbenam. Malam hari pun tiba.
Dan setelah bekerja seharian....
Mereka berdua tak menemukan apapun.
"Cecilia, apakah kau tak ada sihir atau semacamnya yang bisa mendeteksi keberadaan kekuatan Raja Iblis itu?" tanya Brian dengan tubuh yang begitu kotor akibat debu dari puing-puing bangunan yang dipindahkannya.
"Eh? Jika ada, pemuja Raja Iblis pasti sudah menyelesaikan misi mereka sejak lama."
"Sialan.... Jadi seberapa lama kita akan menggali reruntuhan ini?" tanya Brian yang mulai putus asa.
Sambil melihat di sekeliling reruntuhan kota Baltimore ini, Cecilia pun menjawab.
"Melihat dari kecepatan kita saat ini.... Mungkin 2 atau 3 bulan lagi?"
__ADS_1
"Yang benar saja?"
Pada saat itu lah, harapan Brian sepenuhnya pupus.