
'Sruugg! Srruugg! Srruugg!'
Dari kejauhan, beberapa prajurit nampak berjalan di jalan tanah ini. Bersama dengan mereka adalah beberapa iblis berkulit hijau dan bertubuh kecil yang dirantai.
Para prajurit itu menyeret monster yang dikenal sebagai Goblin itu dengan kasar. Seakan-akan hanyalah barang yang bisa dibuang kapan saja.
"Percepat langkah kalian!"
"Kraaaa! Kuuughh!!" teriak beberapa ekor Goblin itu kesakitan.
"Cih, monster-monster bodoh ini...."
"Kapten, apakah kau yakin untuk membawa mereka? Mereka terlihat tidak berguna sama sekali." ujar salah seorang prajurit dengan zirah ringan itu.
Pada bagian terdepan, seorang Ksatria dengan zirah besi yang tebal terlihat memimpin mereka semua.
Mendengar pertanyaan bawahannya, Ia pun menoleh. Memperlihatkan wajahnya yang memiliki kulit agak putih dan mata yang sedikit sipit.
"Tentu saja. Mereka bisa bekerja di tambang besi di wilayah ku. Tenang, aku akan mentraktir kalian minum nanti." balas Ksatria itu.
"Whoah! Terimakasih kapten!"
"Kapten Nakamura memang yang terbaik!"
Seketika, semangat pasukannya pun meningkat drastis. Membuat suasana pada regu yang terdiri dari 12 prajurit yang dipimpin seorang Ksatria itu kembali menjadi cerah.
Hanya saja....
'Na-Nakamura?! Nama ini.... Jangan katakan, orang dari duniaku? Tidak salah lagi, namanya seperti seseorang dari Cina atau semacamnya.' pikir Brian yang saat ini menepi, memberikan jalan kepada rombongan pasukan itu.
Hal yang sama juga dilakukan Cecilia, tentunya karena Brian yang menyarankan dirinya.
Bersembunyi sudah tak lagi memungkinkan di tengah jalanan yang lapang ini.
Kabur pun justru hanya akan meningkatkan kecurigaan para prajurit. Yang bahkan telah berada cukup dekat dengan mereka berdua sebelumnya.
Jadi satu-satunya cara, adalah membiarkan mereka lewat terlebih dahulu sambil memberikan hormat.
Cecilia bersama dengan Brian sedikit menundukkan kepala mereka berdua ke arah jalanan.
Melihat keduanya, seluruh prajurit itu pun merasa senang.
"Terimakasih." ucap kapten pasukan itu, Nakamura dengan singkat. Ia tetap berjalan setelah sedikit melirik ke arah keduanya.
Mata Brian dan juga Nakamura nampak saling bertatapan sesaat. Sebelum akhirnya rombongan pasukan itu pergi menjauh.
Sambil melihat sosok pada Goblin yang ditarik dengan rantai itu, Brian pun bertanya.
__ADS_1
"Jadi hal seperti itu sudah wajar?"
Cecilia hanya mengangguk ringan sambil menarik beanienya kebawah. Membuat bahkan matanya tertutupi oleh beanie itu.
"Lalu, kapten itu.... Yang kau bilang memiliki darah Hecate?" tanya Brian sekali lagi.
"Benar.... Aku sangat yakin, karena aku melihat yang sama pada tubuh kita." balas Cecilia dengan tubuh yang gemetar.
Ia masih belum bisa mempercayai kenyataan ini. Selama ini, Cecilia selalu berfikir bahwa dunia ini hanya hitam dan putih dengan manusia sebagai pembela kebenaran.
Tapi melihat sosok Pria itu....
Membuat dirinya semakin ragu atas pihak mana yang benar-benar memihak kebajikan.
'Aku bisa merasakannya. Tatapan mata itu adalah tatapan seseorang yang kuat. Sama seperti beberapa senior di kantor ku dulu. Tak salah lagi....' pikir Brian sambil mengingat-ingat kembali wajah pria bernama Nakamura itu.
"Jadi.... Apakah kau masih berani untuk masuk ke kota?"
Semangat Cecilia terlihat menurun setelah mengetahui hal barusan. Bahkan mendengar pertanyaan dari Brian itu, Ia masih diam tak menjawab.
"Bukankah kau bisa melihat sedikit dari masa depan? Sama seperti anak panah yang menembus lenganku dan juga pria barusan?" tanya Brian sekali lagi.
Cecilia masih terdiam, tak mau menjawab.
"Hah.... Dengan kekuatan itu kau seharusnya bisa...."
Memikirkan kemungkinan bahwa umat manusia benar-benar mengeksploitasi sisa kekuatan Hecate, Brian juga mulai merinding.
Bagaimana jika komandan ksatria dari Perintah Suci itu juga memiliki kekuatan Hecate?
'Tidak! Tidak! Itu tak mungkin. Atau.... Apakah mungkin?'
"Dengar, Cecilia. Ku rasa tak ada gunanya jika memikirkannya terus menerus. Bagaimana jika kita lanjut? Dan jika keadaan memburuk kita segera kabur?"
"Hmm.... Ku rasa aku setuju dengan itu. Kau benar."
Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka ke Kota Mapleford.
......***......
...- Wilayah Frostbite - ...
Dalam sebuah gunung tinggi, jauh... jauh di kedalaman wilayah Frostbite yang tertutupi oleh salju abadi, sebuah kastil berwarna putih kebiruan terlihat menjulang tinggi.
Barisan prajurit dengan zirah berwarna biru muda terlihat menjaga kastil itu dari luar hingga dalam.
Semuanya memiliki ciri yang sama, yaitu memiliki rambut kebiruan dengan kulit putih pucat dan telinga yang panjang menyirip.
__ADS_1
Salah seorang prajurit terlihat berlari secara tergesa-gesa menuju ke ruang tahta. Sebuah tahta dengan singgasana yang seakan terbuat dari es.
'Klaaangg!'
"Yang Mulia, kabar buruk. Desa di Selatan telah dimusnahkan beberapa Minggu yang lalu. Salah seorang prajurit patroli menyadarinya saat hendak memungut pajak." ucap Prajurit itu sambil meletakkan tombaknya ke lantai.
Mendengar berita itu, sang penguasa yang memiliki perawakan tubuh besar dan kuat mulai mengangkat wajahnya.
"Perintah Suci?" tanya penguasa itu.
"Benar sekali, lebih tepatnya perintah suci ke enam." jawab prajurit itu sambil terus berlutut di hadapannya.
"Bagaimana dengan sisa kekuatan Hecate?"
Kalimat pertanyaan itu dilontarkan dengan suara yang sedikit gemetar. Seakan-akan merasa khawatir atas apa yang mungkin akan terjadi.
"Dimusnahkan...." balas Prajurit itu dengan suara yang lemas.
'Braaakkk! Kreettaaakkk!!!'
Penguasa itu segera memukul singgasananya sendiri hingga retak. Bahkan retakannya melebar hingga ke lantai dekat dengan prajurit yang membawakan pesan itu.
Secara perlahan, penguasa itu mulai berdiri. Tingginya mencapai sekitar 195cm dengan tubuh yang kekar. Kulitnya putih pucat dengan rambut kebiruan dan telinga yang panjang.
Hanya saja....
Tangan kirinya terlihat berbeda. Dengan warna kulit hitam pekat dan banyak alur kemerahan yang terkesan menyala dan mengeluarkan hawa panas.
Ia mulai berjalan ke arah pembawa pesan itu secara perlahan dan menatap tepat ke arah kedua matanya.
"Ya-Yang Mulia?" tanya prajurit itu ketakutan. Ia berfikir bahwa Tuannya mungkin sangat marah atas berita itu dan akan menghukumnya.
Tapi pada kenyataannya, saat Ia menatap ke arah mata biru cerah seperti kristal itu....
"Aku sudah muak dengan perintah suci. Persiapkan 50.000 prajurit, akan ku tunjukkan pada manusia... siapa yang mereka lawan." balas penguasa itu dengan suara yang terkesan begitu berat.
Ia segera berjalan menjauh, meninggalkan ruang tahta ini.
Seluruh penjaga yang ada di dalam ruangan ini segera mengikuti langkah kakinya.
Langkah kaki yang membawa suhu dingin mematikan setiap kali kakinya menyentuh tanah. Membekukan apapun di sekitarnya.
Setibanya di luar ruang tahta, beberapa prajurit nampak membawakan perlengkapan penguasa itu. Sebuah perlengkapan berupa zirah tebal berwarna biru muda dan sebuah tombak kristal kebiruan yang panjang.
"Umat manusia, kalian telah melangkah terlalu jauh. Aku, Freisch sang penguasa Frosbite, juga dengan tangan kiri Hecate ini.... Akan memusnahkan kalian." ucap Penguasa Frostbite itu pada dirinya sendiri.
Sorakan para pengikutnya yaitu para Frost Elf terdengar begitu meriah saat Ia mengangkat tombaknya ke udara.
__ADS_1
Dan dengan itu pula, awal dari peperangan yang baru akan segera dimulai.