
Cecilia segera menarik busurnya, dengan anak panah Runic kehitaman itu. Incarannya sangat jelas, yaitu sayap kanannya.
Dalam waktu yang singkat mata kanan Cecilia nampak bercahaya. Mengaktifkan kekuatan penglihatannya.
Dalam pandangannya, terlihat gerakan Wyvern itu beberapa detik kedepan. Yang membuat Wyvern itu sedikit buram dan seakan-akan terdapat dua Wyvern dalam penglihatannya.
Tapi Ia telah terbiasa dengan penglihatan ini.
Ia telah sering menggunakannya untuk keuntungannya sendiri. Dan dengan itu....
'Swuuuuuuuussshhh!!!'
Tekanan angin yang sangat kuat menghempaskan seluruh dedaunan yang ada di sekitar Cecilia.
Dengan sangat cepat, anak panah itu melesat dan menembus sayap kanan Wyvern itu. Merobeknya cukup lebar hingga membuatnya kesulitan untuk terbang.
Sedikit demi sedikit, Wyvern itu mulai terjatuh ke tanah. Tak mampu mengangkat badan besarnya hanya dengan satu sayap saja.
'Braaaakkkkk!!!'
Akhirnya, tubuh Wyvern itu terjatuh dan merobohkan banyak cabang pepohonan di hutan ini.
"Bagus, sekarang kau serang dia." ucap Cecilia yang segera membungkuk. Menurunkan Hella dari punggungnya.
"Eh?! Ta-tapi...."
'Bruk! Bruk!! Brukk!'
Tanpa disangka, Wyvern itu segera berlari ke arah Cecilia dan juga Hella. Dengan lengannya yang cukup besar itu, Ia bersiap untuk mencabik-cabik lawannya.
Cecilia hanya meliriknya sesaat. Dengan mata kanannya yang sedikit memancarkan cahaya kemerahan.
'Swussshh!'
Dengan cepat, Cecilia kembali menunduk sambil menarik tubuh Hella ke bawah.
"Lari." ucap Cecilia singkat. Ia segera mengalungkan busurnya dan kembali menggendong Hella dengan kedua tangannya.
"Huweeeh?!"
Kecepatan lari Cecilia sedikit lebih lambat dibandingkan dengan Wyvern itu. Tapi berkat kecerdasan serta lingkungan hutan yang cukup lebat ini, Cecilia mampu menghindari sebagian besar serangannya.
Dengan bersembunyi di balik pepohonan.
'Blaaaaaarrr! Kreeeeekkkk!!!'
Hanya satu cakaran saja dari Wyvern itu. Dan pohon besar yang digunakan oleh Cecilia sebagai tempat berlindungnya segera roboh.
'Brrukkkk!!!'
Cecilia bersama dengan Hella di kedua lengannya sedikit tertimpa pohon yang runtuh itu. Tapi keduanya dengan cepat bangkit untuk kembali berlari.
"Yang benar saja?!"
"Ma-maaf jika aku hanya menjadi beban dan...."
"Tutup mulutmu dan sembuhkan aku! Kita akan pergi dari sini!" balas Cecilia kembali menggendong Hella.
Kini, gadis itu mempercepat langkah kakinya. Bermaksud untuk segera bergabung kembali dengan Brian.
'Blaarr! Blaaarrr!! Blaaarrr!!!'
Langkah kaki berat dari Wyvern itu terdengar hingga menggetarkan tanah di sekitarnya. Beberapa pepohonan yang tertabrak oleh Wyvern itu segera roboh, yang membuat pohon lain di sekitarnya ikut roboh.
Di kejauhan, terlihat sosok Brian yang sedang menancapkan pedang besarnya pada kepala Wyvern muda itu.
"Brian! Butuh bantuan!" teriak Cecilia dengan keras.
Secara refleks, Brian segera menoleh dan melihat sosok induk Wyvern itu yang sedang mengejar keduanya.
Karena tugasnya telah selesai, Brian segera berlari untuk memberikan bantuannya. Ia menggenggam pedang besarnya dengan erat, dan berniat untuk memancing perhatian dari Wyvern itu.
Memberikan kesempatan bagi Cecilia untuk menyerang dengan leluasa.
"Serahkan padaku."
'Tap! Tap! Tap!'
Pergerakan Brian semakin cepat seiring dengan berjalannya waktu. Dan dengan pedang yang diseretnya di tanah itu, Ia berniat untuk melawan induk Wyvern ini.
__ADS_1
'Kemungkinan takkan berbeda jauh dengan sebelumnya kan?' pikir Brian dalam hatinya.
Dengan kekuatan penuh, Brian mengayunkan pedang besarnya itu ke arah lengan sang induk Wyvern.
'Jleebbb!!!'
"Eh?!"
Pedangnya tak mampu untuk memotong lengan Wyvern itu. Bahkan pedangnya menancap dan terhenti setelah beberapa centimeter saja.
Kulit dan daging dari Wyvern dewasa itu jauh lebih tebal dibandingkan dengan ketiga Wyvern muda yang dilawannya.
Bahkan dengan pedang besar dua tangan sekalipun, Brian tak mampu untuk memotongnya secara langsung.
Dan kini....
"Hengghh! Sialan!"
Tak mampu untuk menarik kembali pedangnya yang menancap pada lengan Wyvern itu, Brian memutuskan untuk segera melompat mundur.
Meski begitu, rencananya telah sukses. Ia berhasil menarik perhatian dari Wyvern itu.
"Cecilia! Bunuh dia!" teriak Brian dengan keras.
Kini giliran Brian yang menjadi incaran dari monster ini.
'Blaaarrr!! Blaaarrr!!'
Beberapa kali lengan dengan cakar yang tajam itu menghantam tanah. Dimana Brian cukup beruntung untuk bisa menghindarinya.
'A-apakah memang sekuat ini?!' pikir Brian dalam hatinya.
Mulai dari kecepatan gerakan, serangan, kekuatan, serta daya tahan. Wyvern di hadapannya ini jauh lebih kuat daripada ketiga anaknya.
'Apakah hanya karena lebih tua? Atau....'
Pikiran Brian mulai mengarah ke hal lain. Sama seperti Goblin yang menjadi jauh lebih kuat itu, Wyvern ini mungkin juga sama.
Memperoleh kekuatan yang jauh lebih besar dengan meneguk darah dari Hecate.
Saat sedang melamun....
'Blaaaarr!!!'
"Kugghh!!!"
Luka yang diterimanya bahkan tidak main-main. Zirah kulit yang melindunginya sepenuhnya robek. Dengan dada yang bersimbah darah akibat luka cambukan itu.
Di hadapannya, sosok Wyvern itu berjalan dengan tenang. Ia menggerakkan lengannya beberapa kali untuk membuang pedang yang menancap itu.
Dan kini, dengan fokus yang hanya tertuju pada Brian, Ia bersiap untuk memburunya.
'Sialan! Cecilia?! Apa yang kau lakukan?! Ini kesempatan sempurna untuk menembaknya bukan?!'
Secara tiba-tiba, tiga buah tombak es yang berukuran cukup besar melesat ke arah Wyvern itu. Menancap pada tubuh bagian kirinya.
'Jleeebb! Jleebb!!'
Luka yang diberikan sangat lah dalam. Membuat Wyvern itu berteriak kesakitan sebelum melangkah mundur beberapa kali.
Terlihat Wyvern itu hendak terbang, tapi sayap kanannya yang telah robek sepenuhnya membuatnya tak mampu untuk kembali terbang di udara.
"Eh?"
Brian menoleh ke arah asal dari tombak es itu. Terlihat sosok seorang gadis berambut hitam panjang. Ia menggenggam tongkat kayu itu dengan kedua tangannya.
Dengan pakaian yang sama sekali tidak menggambarkan sosok seorang penyihir, gadis itu kembali menembakkan beberapa tombak es.
Lingkaran sihir kebiruan nampak berada di ujung tongkatnya. Bersama dengan itu, tekanan angin dingin yang kuat di setiap tembakan tombak es itu menghempaskan rambut hitamnya yang indah.
'Swuuusshhh! Swuuushh! Swuuuusshhh!!'
'KRAAAAAAAAKKK!!!' teriak Wyvern itu kesakitan
"Hahaha! Bukankah kau sangat kuat?! Tapi.... Dimana Cecilia?" tanya Brian yang segera menjauh dari bahaya Wyvern itu.
Lengan kirinya terlihat berusaha keras untuk menahan aliran darah pada luka di dadanya.
Brian sama sekali tak mampu untuk melihat sosok Cecilia dimanapun. Mengesampingkan hal itu, Ia segera berlari ke arah pedangnya.
__ADS_1
Kembali mempersenjatai dirinya untuk pertarungan berikutnya.
Setelah 9 tombak es itu menancap di tubuh sang Wyvern, Hella merubah sihirnya. Kali ini Ia menembakkan sihir air yang membasahi tubuh Wyvern itu.
Dan hampir tanpa jeda, Hella kembali menggunakan sihir es. Bukan untuk membentuk tombak itu lagi.
Melainkan untuk membekukan pergerakan dari Wyvern itu.
Lingkaran sihir kebiruan muncul di tanah tempat Wyvern itu berdiri. Mengeluarkan hawa yang sangat dingin, yang secara perlahan membekukan tubuh dari Wyvern itu.
'KRAAAAAAAAKKK!!!'
Dengan teriakan yang keras, Wyvern itu berusaha untuk keluar dari lingkup lingkaran sihir itu.
Tapi sedikit demi sedikit.... Tubuh Wyvern itu mulai membeku. Dimulai dari ujung jari kaki dan lengannya, merembet hingga ke atas.
'Kreettaakk! Pyaaarrr!!'
Semakin kuat Wyvern itu berusaha untuk bergerak, semakin besar pula luka yang dideritanya. Kini, salah satu kakinya yang membeku telah remuk dan hancur.
'Pyaaaarr!!'
Tak berselang lama, lengan kanannya juga ikut hancur. Pecah menjadi banyak serpihan es di tumpukan dedaunan yang juga membeku itu.
'Kraaaa.... Kraaaa!!'
Brian yang hanya berdiri diam, menyaksikan kengerian dari sihir untuk pertama kalinya. Ia menggenggam erat pedang besar itu dengan tangan kanannya.
Tanpa disadari, menggigit bibirnya sendiri akibat pemandangan di hadapannya.
'Pyaaaarrr!!!'
Kini, kaki dan lengannya yang tersisa ikut hancur karena dipaksakan untuk bergerak. Es yang dingin mulai merembet hingga ke arah perut dan dada Wyvern itu.
Dan akhirnya, tanpa adanya tumpuan dari anggota geraknya, Wyvern itu terjatuh ke tanah. Perut dan dadanya yang membeku langsung retak setelah terjatuh.
Menyisakan hanya sebagian punggung, leher serta kepalanya saja yang belum membeku.
Dalam hatinya, Brian merasa iba pada Wyvern yang seharusnya menjadi buruannya itu. Tapi mau bagaimana lagi?
Sekalipun dibiarkan, seseorang juga pasti akan memburunya. Dan jika tidak ada yang memburunya, Wyvern itu yang akan memburu manusia.
'Benar.... Itu benar.... Ini adalah dunia yang kejam.... Tak ada salahnya untuk....'
'Bruukk!'
Di kejauhan, Hella terlihat terjatuh ke tanah. Tak berdaya sedikit pun.
Brian segera menyadarinya.
Bahkan, sihir api sederhana untuk membuat api unggun saja sudah cukup sulit baginya.
Apalagi sihir skala besar seperti ini. Belum termasuk banyaknya penyembuhan yang diminta oleh dirinya dan mungkin juga Cecilia.
Tentunya, sangat menguras bukan hanya energi sihirnya tapi juga tenaganya.
Brian berjalan secara perlahan ke arah Wyvern itu. Mengangkat pedang besar itu hanya dengan tangan kanannya, lalu menghantamkannya tepat pada dada Wyvern yang telah membeku itu.
'Pyaaaarrr!!!'
Kini, dengan remuknya dada dan juga jantungnya, tak diragukan lagi Wyvern itu telah mati.
'Klaaangg!'
Brian meninggalkan pedangnya, dan berjalan ke arah Hella.
"Hella? Kau tak apa?" tanya Brian khawatir. Ia melihat sosok gadis itu terjatuh dengan wajah menghadap ke tanah.
"Tak masalah, hanya kehabisan tenaga." balasnya singkat.
"Syukurlah...."
Kini, dengan kemenangan yang telah ada di tangan, Brian akhirnya dapat bernafas lega. Meskipun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya.
"Sekarang! Bersiaplah untuk.... Eh?" teriak Cecilia di kejauhan. Tangannya telah siap untuk menembakkan panah Runic itu, tapi semangatnya memudar seketika.
"Darimana kau? Pestanya sudah berakhir."
"Eh?! Aku hanya pergi untuk mengambil panahku yang terjatuh! Dan semua sudah selesai?!"
__ADS_1
"Begitu lah. Coba periksa tubuh Wyvern itu atau semacamnya. Pastikan dia telah mati."
Akhirnya, perburuan kecil ini selesai. Meskipun sedikit diluar rencana awal, tapi setidaknya semua beres tanpa adanya korban jiwa.