Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 26 - Rumor


__ADS_3

Kembali ke dalam kota Mapleford, semuanya seakan berubah.


Wajah para penduduk kota yang sebelumnya terkesan begitu bahagia, kini terlihat dipenuhi dengan rasa takut.


Semuanya berjalan sembari menatap tanah. Tak berani mengangkat wajah mereka. Bahkan beberapa penduduk Kota terlihat gemetar ketakutan di sudut kota.


"Apa-apaan ini?" keluh Brian dengan suara yang lirih.


Tak ada jawaban yang diperolehnya, membuat Brian berjalan langsung menuju ke Guild petualang.


Menanyakannya pada kenalannya yang dipercaya.


"Yo, Adelle, apa yang sebenarnya terjadi? Aku baru kembali dari misi dan apa-apaan ini?" tanya Brian di hadapan setelah menyerahkan bukti Quest sebelumnya.


Adelle terlihat menyipitkan matanya sembari memberikan hadiah mereka tanpa berkata sepatah kata pun. Tentu saja, dipotong 'pajak' keamanan.


Setelah beberapa saat, Adelle keluar dari bilik mejanya. Melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar mereka berdua mengikutinya.


Tanpa ragu, Brian dan Cecilia pun berjalan mengikuti langkah kaki Adelle. Membawanya ke sudut ruangan, duduk di salah satu meja yang cukup jauh dari orang lain.


"Reux, kau tahu tentang penyembah iblis bukan?" tanya Adelle dengan tatapan dingin.


"Mereka yang berusaha membangkitkan Raja iblis bukan? Tentu saja. Kenapa memangnya?" balas Brian singkat.


"Hah...."


Adelle terlihat mengambil nafas yang cukup panjang sebelum kembali berbicara.


"Menurut Komandan Perintah Suci ke sembilan, Reverie, para penyembah iblis baru saja mendapatkan lengan kiri Hecate." lanjut Adelle.


Kedua mata Cecilia dan juga Brian segera terbuka lebar. Bahkan mulut mereka berdua juga menganga lebar karena penuh rasa terkejut.


Tak hanya itu....


Keduanya kini memahami rasa takut yang menyelimuti para penduduk di kota ini.


"Apa?! Bukankah itu sangat buruk?!" teriak Brian terkejut.


"Sangat buruk? Kau meremehkan Hecate?" tanya Adelle kembali.


"Aku tahu dia kuat dari legenda tapi...."


Sebelum perkataan Cecilia selesai, Adelle kembali berbicara. Kini dengan suara yang cukup lirih hingga sulit didengar orang lain.


"Kau tahu alasan kenapa aku membiarkan kalian berdua?" tanya Adelle singkat.


Brian dan juga Cecilia segera menggelengkan kepala mereka secara bersamaan.

__ADS_1


"Satu, kalian tak berbahaya. Dua, kalian memburu iblis lain. Ketiga.... Orang-orang seperti kalian memperlambat kebangkitan Hecate sepenuhnya."


Penjelasan Adelle memang masuk akal. Dengan terpecahnya bagian kekuatan Hecate di berbagai wilayah yang berbeda, membuat pengumpulannya sangat sulit.


Tentunya kenyataan itu saja mampu memperlambat gerakan para pemuja Iblis untuk memperoleh kembali kekuatan Hecate.


Tapi....


"Memangnya.... Sekuat apa raja iblis itu? Bukankah dia telah dibunuh di masa lalu? Artinya dia tak begitu kuat kan?" tanya Brian.


Mendengar pertanyaan bodoh itu, Adelle segera berdiri dengan wajah kesal. Berjalan ke arah ruangan khusus pegawai Guild sebelum kembali membawa sebuah buku tebal.


'Braaakk!'


Setelah membanting buku tebal itu di meja, Adelle membukanya dengan cukup kasar. Membolak-balikkan halaman buku itu hingga tiba di halaman yang Ia cari.


"Kalender Naga, tahun 942. Enam pahlawan umat manusia yang dipanggil dari dunia lain, bersama dengan Kaisar Julius von Luvelia, berhasil menumbangkan Raja Iblis Hecate.


Korban dari pihak manusia mencapai lebih dari 10 juta jiwa di seluruh benua Terraria, kehancuran lebih dari 50 kota kecil dan sedang, serta tiga kota besar. Kemunduran ekonomi dan kelaparan melanda seluruh kekaisaran dan juga seluruh benua.


Bahkan, benua lain juga terkena imbas dari Raja Iblis Hecate. Salah satu bekas terbesar dari kehancuran yang dibawa Hecate adalah sebuah wilayah subur yang kini menjadi wilayah es abadi, Frosbite."


Mendengar penjelasan Adelle yang panjang lebar itu, Brian tak sanggup mempercayainya. Begitu pula dengan Cecilia.


"Tu-tunggu dulu! Aku punya banyak pertanyaan untukmu!" teriak Brian.


Adelle segera menutup buku tebal itu sembari menatap sosok Reux di hadapannya.


"Hah.... Nampaknya kalian hanya kuat tapi cukup bodoh ya? Sekarang tahun 974, kalender Naga. Dan ya, angka itu kematian itu mungkin tidak akurat. Tapi perbedaannya mungkin hanya sekitar 1 atau 2 juta.


Terakhir, wilayah Frostbite adalah tanah yang subur. Memang, di bagian Utara terdapat pegunungan yang diselimuti es sejak dulu. Tempat dimana Frost Elf tinggal.


Tapi berkat kekuatan sihir Hecate, Ia memperluas wilayah yang tertutupi es abadi itu hingga ke barisan pegunungan Tania. Bahkan setelah 32 tahun Hecate terbunuh, efek sihir itu masih tersisa."


'Glek!'


Brian menelan ludahnya sendiri setelah memahami kenyataan ini.


Jangankan sihir yang merubah iklim selama puluhan tahun. Brian bahkan masih kesulitan menggunakan sihir untuk membakar tumpukan kayu.


Dengan kata lain, jika Hecate bangkit kembali....


"Bukankah kalau begitu, apapun yang terjadi Ia tak boleh bangkit kembali?!" teriak Cecilia panik.


"Kau bocah? Semua orang juga tahu hal itu." balas Adelle kesal.


"Dengar, aku peringatkan kalian karena hubungan kita yang saling menguntungkan. Berhati-hati lah, dan jangan terlalu mencolok. Kalian akan mengundang penyembah iblis itu memburu kalian.

__ADS_1


Dan jika perintah suci menemukan kalian, aku takkan bertanggungjawab apapun karena perjanjian ku hanya lah untuk tutup mulut." bisik Adelle sebelum melangkah pergi meninggalkan keduanya.


Peringatan dari Adelle memang cukup berharga.


Menyadarkan kembali keduanya, bahwa kenyataan mereka masih bisa hidup tenang di kota manusia ini....


Adalah karena tak ada satu pun yang mengetahui sosok mereka yang sebenarnya.


"Lalu? Bagaimana sekarang?" tanya Cecilia sembari memesan beberapa makanan dan minuman. Memesankan untuk Brian sekalian.


"Beristirahat di sini selama beberapa saat, lalu mengambil Quest Ogre itu. Membeli beberapa bahan dan makanan untuk beberapa Minggu kedepan di luar kota." jelas Brian.


"Hah.... Aku akan rindu tidur di kasur yang empuk." keluh Cecilia.


"Bersabar lah. Ini sudah resiko bukan?"


Memasang wajah cemberut, Cecilia meletakkan kepalanya di meja. Tangannya terlihat memukul meja itu beberapa kali secara perlahan.


Memikirkan mengenai hal ini, Brian juga lelah jika harus selalu hidup dalam persembunyian.


Bagaimana jika....


Ia mengumpulkan cukup modal untuk membangun rumah kembali? Hidup tenang di kedalaman hutan?


"Hey, Cecilia. Kau tahu? Aku berfikir untuk mengumpulkan modal agar bisa membangun kembali rumah yang lebih layak. Bagaimana menurutmu?"


"Rumah?! Dimana?!"


"Bodoh, tenangkan dirimu sedikit!" teriak Brian sembari menjauhkan wajah Cecilia darinya.


Brian mengeluarkan koin yang ada di dalam tasnya. Beberapa koin terlihat menggelinding sesaat sebelum kembali terjatuh di atas meja kayu itu.


"4 koin emas, dan puluhan koin perak serta koin receh perunggu. Sejujurnya, kondisi keuangan cukup baik. Tapi masalahnya, apakah cukup untuk membeli tanah? Dan apakah boleh?" tanya Brian pada Cecilia.


Di saat yang bersamaan, pramusaji datang membawakan dua gelas minuman dingin untuk Brian dan juga Cecilia


Ia tak sengaja mendengar beberapa kalimat terakhir dari Brian.


"Tentu saja kalian boleh membeli tanah. Kalian bisa menyampaikan lokasi yang kalian inginkan ke Guild agar kami mengurus sisanya. Dengan biaya tentunya.


Atau kalian bisa menghemat beberapa koin dengan mengurus berbagai berkas sendiri di balai kota." jelas pramusaji itu dengan ramah. Senyumannya juga begitu manis menghiasi wajahnya yang cukup cantik.


"Benar kah? Dan.... Jika kami membeli tanah itu.... Apakah kami bisa melarang orang mendekat? Kau tahu, kami ini cukup pelit...." ucap Brian dengan alasan yang sangat tak masuk akal itu.


Tapi balasan yang diperolehnya jauh diluar harapannya.


"Tentu saja bisa. Kalian bisa mengajukan batas akses wilayah, walaupun hanya pada tanah dengan ukuran tertentu. Atau lebih tepatnya, tanah yang cukup besar."

__ADS_1


Dengan ini, keduanya memperoleh suatu harapan dan tujuan yang baru.


Memperoleh cukup banyak uang untuk membeli tanah yang luas, kemudian melarang siapapun mendekat agar keduanya bisa hidup tenang.


__ADS_2