
"Tanda pengenal." ucap sang penjaga gerbang kota Mapleford itu dengan suara yang datar.
Dengan cepat, Brian menunjukkan kartu tanda petualang nya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Cecilia.
"Reux dan Felix, petualang tingkat perunggu. Silakan masuk."
Penjaga itu pun segera menyingkir dari jalan dan mempersilakan keduanya masuk.
'Yang benar saja.... Penjagaan seperti ini bukankah sangat berbahaya?!' tanya Brian dalam hatinya keheranan.
Ia tak percaya bahwa cara untuk masuk ke dalam kota ini hanya dengan menunjukkan tanda pengenal. Tanpa adanya pemeriksaan yang lebih lanjut.
"Reux, ppffftt!!!" ucap Cecilia sambil berusaha untuk menahan tawanya. Baginya, nama Reux benar-benar aneh dan jelek sehingga membuatnya selalu tertawa ketika mendengarnya.
"Diam lah, dan minta maaf kepada semua orang dengan nama Reux."
Pemandangan kota yang ramai dengan banyak aktivitas yang terjadi membuat keduanya terpana.
Bangunan yang menjulang tinggi dengan banyak penduduk yang berdagang di pinggir jalan. Sesekali terdapat kereta kuda yang melewati jalanan utama di kota ini.
Di kejauhan, terlihat pusat administrasi kota dengan kompleks bangunan yang megah dan besar di bukit Kota ini.
Kemegahan kota ini mempertegas kejayaan dan kemakmuran yang dibawakan oleh Kekaisaran Luvelia.
Terlebih lagi Cecilia yang selama ini selalu hidup dalam persembunyian dan kesendirian, tentu saja sangat terpukau dengan keindahan kota ini.
"Wuaaahh! Bri.... Reux! Lihat lah! Banyak sekali manusia!" teriak Cecilia sesaat setelah tiba di alun-alun utama Kota ini.
Teriakannya tentu mengundang banyak perhatian dari orang-orang di sekitar. Terlebih lagi kata 'manusia' yang diucapkan olehnya.
"Diam! Apa yang kau lakukan?!"
Brian dengan kuat segera menutup mulut Cecilia dan menariknya ke dalam gang yang sepi.
"Dengar, aku tahu kau terpana dengan keindahan kota ini. Tapi jangan melakukan apapun yang mengundang perhatian banyak orang.
Mengerti? Kita tidak tahu kapan atau dimana perintah suci itu berada." ucap Brian sambil terus menutup mulut Cecilia dengan tangan kanannya.
Secara perlahan, Cecilia pun mengangguk. Menerima saran dari Brian.
"Maaf.... Aku hanya kesulitan menahan diri setelah melihat kota ini." balas Cecilia sambil mengatur nafasnya.
Setelah beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan, Cecilia tiba-tiba menampar pipinya sendiri dengan kedua tangannya.
"Baiklah! Aku sudah siap!"
Dengan kalimat balasan itu, keduanya pun mulai berjalan menyusuri kota besar ini. Jalanan demi jalanan mereka lalui tanpa banyak menarik perhatian orang lain.
Sesekali, Brian berbasa-basi dengan penduduk di Kota ini sambil menanyakan beberapa hal kunci. Sebuah kegiatan yang sulit dilakukannya dulu di bumi, entah kenapa kini terasa begitu mudah.
Akhirnya, tepat sebelum matahari terbenam....
__ADS_1
Keduanya telah berada tepat di depan bangunan Guild di kota ini.
...[Adventurer Guild]...
Sebuah papan dengan tulisan itu terlihat terpampang dengan jelas di depan pintu masuk. Ukuran bangunan ini juga cukup besar serta memiliki 4 buah lantai.
"Kau siap?" tanya Brian singkat.
"Tentu saja."
'Kreeeekkk!!!'
Keduanya membuka pintu bangunan Guild itu secara perlahan. Dan tak berselang lama, kedua mata Brian langsung terpana atas pemandangan yang ada di hadapannya.
Puluhan, mungkin ratusan orang terlihat sedang bersantai sambil menikmati makanan dan minuman mereka di meja masing-masing.
Beberapa pramusaji nampak berjalan kesana kemari memenuhi pesanan dari para pengunjung.
"Hahaha! Dan kau tahu?! Aku menebas kepala serigala liar itu dengan pedang kematianku!" teriak salah seorang petualang dengan kepala botak di kejauhan.
Sementara itu dari sisi yang lain....
"Quest apa yang sebaiknya kita ambil?"
"Jujur saja, aku ingin misi yang menghasilkan banyak uang."
"Kalau begitu melawan wyvern?"
"Bodoh, kau ingin bunuh diri?! Bahkan ksatria kekaisaran saja kesulitan menangani mereka."
"Perhatian! Quest baru telah datang!" teriak seorang wanita berambut kehijauan di kejauhan. Ia nampak mengenakan seragam kecoklatan yang rapi dan berdiri di samping papan pengumuman dengan setumpuk kertas di kedua tangannya.
Seketika, semua orang yang sebelumnya sedang menikmati makanan dan minuman mereka langsung berdiri. Berlari menuju ke arah papan pengumuman itu.
Melihat pemandangan yang begitu bebas dan menenangkan ini, Brian merasa begitu senang. Hatinya dipenuhi dengan harapan atas sebuah petualangan fantasi yang sama seperti kebanyakan cerita di bumi.
"Brian?" tanya Cecilia kebingungan karena melihat rekannya itu terdiam dan membatu di tempat.
"Hahaha.... Maaf, aku hanya merasa begitu bahagia melihat semua ini." balas Brian singkat.
"Begitu kah? Kau tahu? Aku juga sangat senang kemari."
Cecilia mulai melangkahkan kakinya semakin jauh ke dalam Guild ini. Sementara itu, kedua tangannya terus menarik beanie nya kebawah agar semakin menutupi telinga runcingnya.
"Jadi.... Kita akan ke arah papan itu?" tanya Brian yang terus mengikuti langkah kaki gadis itu.
"Hmm, ku rasa nanti saja. Aku sangat lapar dan haus, kau juga kan? Jadi ayo pesan sesuatu." balas Cecilia yang telah duduk di hadapan sebuah meja.
Bahkan, tangan kanannya telah melambai untuk memanggil pramusaji yang ada.
"Bodoh! Kita tidak punya uang kan? Lalu bagaimana...."
__ADS_1
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Cecilia segera tersenyum sambil memasukkan tangannya ke arah tasnya.
Setelah beberapa saat....
"Lihat lah!" ucap Cecilia sambil memamerkan sebuah kantung kulit kecil di tangan kanannya.
"Jangan katakan...."
"Kau benar."
Memahami apa maksud dari Cecilia, Brian langsung kecewa. Bukan kepada gadis itu, melainkan kepada dirinya sendiri.
'Aku tak menyangka bahwa kita akan makan dengan uang orang yang baru saja kita bunuh. Maaf, tapi aku juga lapar.'
Uang itu ditemukan oleh Cecilia secara diam-diam saat menggeledah jasad petualang yang menyerang mereka sebelumnya.
Tapi sekotor apapun itu, uang tetap lah uang.
"Pesanannya?" tanya seorang pramusaji dengan begitu ramah. Pramusaji itu memiliki paras yang cantik namun dengan seragam kain yang sederhana.
"Hmm.... Aku ingin sesuatu yang mengenyangkan dan segar." balas Cecilia.
"Dengar, ku rasa itu bukan pesanan yang...."
"Bagaimana dengan bebek panggang dan segelas susu sapi dingin?" tanya pramusaji itu.
'Eh? Pesanan seperti itu juga bisa?' tanya Brian dalam hatinya sendiri.
Cecilia menganggukkan kepalanya dengan cepat. Bahkan bibirnya terlihat telah mulai tergiur hanya dengan mendengar nama hidangan itu.
"Bagaimana dengan Anda?" tanya pramusaji itu lagi.
Brian terlihat mulai berpikir keras. Tak ada menu makanan yang diberikan maupun dipampang di ruangan ini.
Jika dibandingkan, tentu saja pelayanan di dunia ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan dunia Brian sebelumnya.
Hanya saja....
"Jika Anda bingung, bagaimana dengan sup daging sapi? Aku yakin itu bisa menghangatkan tubuh, Anda. Sedangkan minumannya, mungkin segelas bir dingin?"
Sama seperti Cecilia, Brian segera menganggukkan badannya.
Telah lama bagi dirinya untuk menikmati hidangan yang layak, karena selama ini selalu memakan makanan yang diperolehnya di sekitar.
"Baik, tunggu sebentar. Sebelum itu, apakah kalian berdua telah memiliki tempat tinggal?" ucap pramusaji itu sebelum pergi.
"Belum....Apakah di Guild ini ada tempat menginap?"
"Dia puluh lima koin tembaga untuk semalam, jika berminat."
Tak menunggu lama, Brian dan juga Cecilia menyetujui tawaran itu dan segera membayar semua tagihan mereka.
__ADS_1
Dan keduanya pun....
Menikmati malam yang tenang, kini dengan beristirahat di atas ranjang yang empuk. Bukannya tidur di tanah atau bebatuan keras seperti sebelumnya.