Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 8 - Temuan Pertama


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu.


Brian dan juga Cecilia masih terus mencari di reruntuhan kota Baltimore ini.


Mereka berdua melakukan renovasi sederhana pada salah satu rumah yang masih sedikit layak huni. Menjadikannya sebagai markas sementara di Kota ini.


Sedangkan untuk urusan makan dan minum, keduanya telah terbiasa dengan pola hidup berburu dan meramu. Jadi kehidupan ini sama sekali tak berbeda dengan kehidupan mereka sebelumnya.


Hanya saja....


'Bruukk! Krettakk!'


Brian terlihat melemparkan beberapa batuan besar ke samping untuk melihat apakah ada sesuatu di bawahnya.


Tapi hasilnya benar-benar nihil.


Kerja keras mereka selama beberapa bulan ini benar-benar tidak membuahkan hasil sama sekali. Membuat Brian mulai merasa putus asa dengan rencana ini.


"Hei, Cecilia. Kau pikir kita benar-benar bisa menemukan sesuatu di balik reruntuhan ini?"


"Bersabar lah! Kita pasti akan segera menemukan sesuatu!" balas Cecilia yang masih bersemangat mencari, meskipun pakaian dan penampilannya kini terlihat begitu kotor.


"Bagaimana dengan pecahan tanduk yang seharusnya kau gunakan untuk memanggil ku itu? Kau masih punya kan?" tanya Brian penasaran.


"Tentu saja! Tapi potongan kecil itu kurang berguna. Sedangkan ritual untuk memasukkan pecahan kekuatan Hecate cukup rumit. Jadi lebih baik dimasukkan nanti setelah terkumpul cukup banyak." jelas Cecilia.


"Begitu kah?"


"Memang begitu!"


Brian secara perlahan mulai menyesali mulut dan pikirannya sendiri, yang berani-beraninya mengutarakan ide bodoh ini.


Sebuah ide yang bukannya mempermudah hidup mereka, tapi justru mempersulit situasi yang sudah buruk ini.


'Duaaarr! Gledduuk!!'


Tak berselang lama, suara gemuruh di langit mulai terdengar. Awan pun mulai terlihat begitu gelap, tak membiarkan cahaya matahari melewatinya.


"Cecilia! Mungkin sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu! Sebentar lagi akan hujan badai!" teriak Brian dengan keras.


"Eeh?! Tapi sedikit lagi...."


"Jika kau sakit akan jauh lebih merepotkan lagi!"


"Baiklah...."


Dengan berat hati, Cecilia melempar potongan kayu yang sebelumnya diangkat olehnya. Sebelum akhirnya mulai berbalik arah untuk kembali ke rumah sementara mereka.


Benar saja.


Tak berselang lama setelah keduanya memasuki rumah itu, hujan badai segera turun. Dengan angin yang sangat kencang serta hawa dingin yang dibawa dari wilayah Frostbite membuat hujan ini jauh lebih mematikan daripada hujan di bumi.


Sesekali, pecahan es terlihat menghantam tanah dengan kuat. Es yang tercipta akibat tetes air yang membeku karena suhu dingin di wilayah Frostbite.


Pecahan-pecahan es itu dapat memberikan kerusakan yang sangat besar, bahkan pada bangunan.

__ADS_1


"Jika itu mengenai tubuhmu, bukankah kau akan mati?" tanya Brian dengan tatapan yang sinis.


"Tidak mungkin aku mati karena es batu. Tapi.... Terluka parah mungkin saja terjadi."


"Itu sama saja."


Sambil berteduh, Brian menyalakan api unggun di dalam rumah ini. Sementara itu, Cecilia mengambil beberapa persediaan makanan mereka.


Ia mengambil dan mempersiapkan beberapa ekor kelinci dan menusukkannya pada sebuah tusukan besi. Lalu Cecilia membakarnya di atas api unggun yang baru saja dibuat.


"Hmm.... Kau tahu? Ini mengingatkanku pada sate di duniaku." ucap Brian sambil tertawa ringan setelah melihat daging kelinci yang ditusukkan pada besi itu.


"Sate? Apa itu?" tanya Cecilia penasaran.


"Sebuah hidangan dimana kau menusukkan daging pada batang bambu tipis, atau bisa juga besi. Sama seperti itu." jelas Brian.


"Nama yang menarik. Jadi di sana juga ada hidangan seperti ini?"


Keduanya saling berbagi cerita satu sama lain sambil berteduh dari hujan badai yang mengerikan itu.


......***......


Beberapa Minggu kemudian....


Keduanya masih belum menemukan apapun selama pencarian ini, membuat Brian semakin putus asa terhadap rencana ini.


Tapi di saat semua harapan hampir sirna....


"Brian!" teriak Cecilia dengan keras.


"Hah?!" balas Brian kebingungan dengan penampilan yang begitu lusuh.


Brian berusaha untuk memastikan apa yang ada di tangan kanan Cecilia.


'Ma-mata?!' teriak Brian dalam hatinya.


Ia tak percaya atas apa yang baru saja dilihatnya. Karena sepengetahuannya, semua bagian tubuh dari seseorang yang telah mati itu seharusnya membusuk.


Tapi Brian baru teringat bahwa bahkan darah dari Raja Iblis bisa bertahan hingga puluhan tahun lebih.


"Lihat ini, Brian! Tak salah lagi! Ini benar-benar mata milik Hecate!" teriak Cecilia dengan penuh rasa gembira.


"Kau serius? Tapi kenapa ada di sini?" tanya Brian sambil berjalan mendekat.


"Entah lah, kau pikir aku tahu? Aku bahkan belum pernah melihat sosok Raja Iblis itu secara langsung." balas Cecilia sambil terus memperhatikan mata itu.


Mata itu memiliki warna putih dengan pupil merah cerah. Cahaya kemerahan nampak menyelimuti mata itu, yang hanya bisa terlihat oleh mereka yang telah mewarisi sedikit kekuatan dari Hecate.


Itu lah kenapa Cecilia bisa sangat yakin bahwa itu adalah mata milik sang Raja Iblis.


Tapi kini permasalahannya....


"Siapa yang akan menggunakannya?" tanya Brian.


"Kau benar, hanya ada satu mata...."

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, Brian segera mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Sebelum Cecilia melakukan sesuatu yang aneh.


"Kau saja, aku tak ingin menyentuh benda berbahaya seperti itu. Lagipula, yang ku inginkan hanyalah hidup santai di dunia fantasi ini." jelas Brian.


"Begitu kah?"


Cecilia nampak ragu menerima tawaran dari Brian. Tapi setelah memperhatikan mata itu sekali lagi, Ia akhirnya menerima saran dari Brian.


"Kalau begitu aku takkan sungkan." balas Cecilia.


Dengan cepat, Ia segera berlari ke arah rumah sementara mereka. Mengambil beberapa perlengkapan yang cukup aneh.


Cecilia memulainya dengan menuangkan sebuah cairan berwarna perak ke tanah yang cukup datar. Tapi cairan itu tak dituangkan secara sembarangan, melainkan membentuk sebuah lingkaran sihir selebar 1 meter dengan bentuk segienam.


Di tengah segienam itu terdapat berbagai lambang yang rumit.


Brian hanya melihat keseluruhan 'ritual' yang dilakukan oleh Cecilia dari kejauhan dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.


Setelah semuanya siap, Cecilia terlihat meletakkan bola mata Raja Iblis Hecate itu bersama dengan potongan kecil tanduk yang sebelumnya dimiliki di tengah lingkaran sihir.


Dengan merapatkan kedua tangannya, Cecilia terlihat mulai merapalkan mantranya.


'Bahasa apa itu?'


Brian yang mendengarkan rapalan mantra Cecilia dari kejauhan sama sekali tak mengetahui apa yang dirapalkan olehnya.


Secara perlahan, lingkaran sihir yang dibuat oleh Cecilia mulai bercahaya. Mengangkat bola mata dan juga tanduk itu ke udara.


Hal yang sama juga terjadi pada tubuh Cecilia. Dimana cahaya kemerahan mulai menyelimuti dirinya.


Hingga akhirnya, bola mata itu bergerak dengan sendirinya ke arah mata kanan Cecilia. Sedangkan pecahan tanduk itu bergerak ke arah kening sebelah kanan.


Dengan perlahan keduanya seakan-akan menyatu begitu saja dengan tubuh Cecilia.


'Aku bisa merasakannya.... Kekuatan iblis yang sangat besar, mulai terasa dari tubuh Cecilia....' pikir Brian dengan tubuh yang sedikit gemetar.


Hawa yang begitu dingin mulai terasa di sekitar tempat Cecilia berada. Menusuk hingga ke dalam tulang Brian.


"Selesai!" teriak Cecilia tiba-tiba sambil memamerkan mata kanannya yang kini memiliki pupil yang jauh lebih merah dan seakan memancarkan cahaya kemerahan.


Pada kening bagian kanannya, terlihat sebuah tanduk abu-abu kecil yang mulai tumbuh.


"Tak banyak berubah." balas Brian yang melihat sosok Cecilia itu.


Memang, sebelumnya Cecilia juga telah memiliki warna mata kemerahan. Membuat perubahan yang terjadi tak begitu terlihat.


Tapi....


"Hahaha! Bukan masalah penampilan yang utama, tapi kekuatannya!" teriak Cecilia dengan senyuman yang begitu lebar.


"Jadi.... Apa kekuatannya?"


Keheningan menyelimuti kedua orang di tengah kota mati ini.


Dan setelah beberapa menit terdiam....

__ADS_1


"Entah lah, aku juga belum tahu."


Balasan Cecilia yang cukup lirih itu, terasa begitu menyedihkan.


__ADS_2