Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 39 - Ekspedisi


__ADS_3

...- Reruntuhan Kota Baltimore -...


Kota yang telah mati, dengan dinding dan bangunan yang telah lama runtuh. Tak ada satu pun jiwa di kota ini. Selain hewan-hewan liar yang berusaha untuk hidup jauh dari manusia.


Cahaya rembulan yang remang-remang menerangi pemandangan kota yang dulunya pernah berdiri dengan megah itu.


Di tempat ini pula, Brian dan juga Cecilia menemukan mata itu. Sebuah mata yang entah akan menjadi sebuah berkah, atau pun bencana.


Hingga saat ini, sosok yang disebut sebagai Orlog atau dewa takdir itu memang selalu membantu keduanya. Tapi semua itu atas dasar saling menguntungkan.


Terutama untuk menjaga keselamatannya sendiri.


Dan akhir-akhir ini, Orlog juga tak pernah muncul kembali. Meskipun Cecilia masih dapat menggunakan kekuatan mata itu dengan baik.


'Srruugg! Sruuugg!'


Setelah beberapa hari perjalanan dari kota Mapleford, kelompok beranggotakan tiga orang ini pun memutuskan untuk beristirahat. Memilih salah satu rumah yang tak begitu rusak di kota ini.


'Brukk!'


Brian segera meletakkan tas besarnya ke lantai. Mengeluarkan tiga buah kantung tidur yang terbuat dari kain dan kulit hewan itu.


"Ki-kita akan baik-baik saja kan?" tanya Hella yang masih saja ketakutan.


Kabar terakhir dari Guild menyebutkan Wyvern itu nampak di sekitar Kota Baltimore. Meskipun, itu hanyalah laporan dari para pedagang dan pengelana yang melintasi kota ini.


Dimana informasi itu belum tentu juga akurat.


"Tenang saja. Tapi jika kita mati, setidaknya bukan untuk alasan yang bodoh." balas Brian yang mengangkat kantung tidurnya agak jauh.


Cecilia sendiri meletakkan kantung tidurnya di sebelah gadis penakut dan pemalu itu. Seorang penyihir yang mengenakan perlengkapan prajurit.


"Brian benar. Sekarang lebih baik tidur dan bersiap untuk besok."


Sambil menyalakan api unggun kecil di teras rumah ini, Brian berkata.


"Aku akan jaga selama 4 jam. Setelah itu giliranmu, Cecilia."


"Ya ya, aku tahu." balas Cecilia yang langsung segera tertidur.


Meninggalkan Hella sendirian di balik selimut kantung tidurnya itu. Masih terjaga dan sulit tidur di lantai yang keras ini.


Ia masih belum terbiasa dengan kehidupan seorang petualang. Dan parahnya lagi, misi pertamanya adalah memburu salah satu makhluk yang paling berbahaya di dunia ini.


Beberapa puluh menit berlalu. Cahaya kuning kemerahan dari api unggun di luar cukup menerangi rumah ini.


Sosok Brian dapat terlihat sedang berlatih dengan menggunakan pedang besarnya diluar. Di sekitar api unggun itu, gerakannya terlihat seperti sebuah tarian yang indah.


Ia melepaskan pakaian bagian atasnya, termasuk zirahnya agar bisa bergerak dengan lebih leluasa. Juga agar tak mengotori pakaian dengan keringatnya.


'Swuushh! Swuusshh!'


Berkali-kali Brian mengayunkan pedang besarnya. Keringat terlihat menetes setiap kali ayunan pedang itu menebas api unggun.


Hella yang masih terjaga tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Brian.

__ADS_1


Bukan karena alasan apapun, melainkan....


'Apakah manusia memang bisa bergerak secepat itu? Bahkan dengan pedang sebesar itu?' pikir Hella dalam hatinya kebingungan.


Sudah cukup sering baginya melihat petualang yang memaksakan diri mereka mengangkat pedang besar.


Dimana hasilnya adalah mereka kelelahan setelah beberapa kali tebasan, atau ayunan pedang mereka terlalu lambat hingga musuh mudah menghindarinya.


Tapi ini....


'Swwuusshh! Wuusshh! Swuuushh!'


'A-apa yang?!'


Dalam dua detik saja, Brian berhasil melayangkan tiga buah tebasan pedang besarnya.


Merasa penasaran dan juga sulit untuk tidur, Hella memutuskan untuk bangun keluar. Melihat sesi latihan Brian dengan duduk di samping api unggun yang hangat itu.


"Huh? Kau tak tidur?" tanya Brian penasaran. Ia menancapkan pedangnya ke tanah sambil beristirahat sejenak.


"Belum mengantuk. Anu.... Boleh kah aku melihat?" tanya Hella sambil terus menatap kedua kakinya.


"Tak masalah. Sekalian bantu aku berjaga." balas Brian yang kembali berlatih.


Sejak tiba di dunia ini, perkembangan pada tubuh Brian telah mulai terlihat jelas. Garis-garis ototnya telah tergambar dengan jelas. Berbeda jauh jika dibandingkan dengan tubuhnya dulu yang hampir tak memiliki otot.


Tanpa sadar, Hella terlalu lama menatap ke arah perut Brian yang begitu terlatih.


'Eeh?! Tu-tunggu?! I-ini?!'


Waktu terus berlalu. Dan Brian sama sekali belum berhenti untuk mengayunkan pedangnya. Melatih pergerakan dan kuda-kudanya dengan menghadapi musuh di imajinasinya.


Setelah setengah jam, akhirnya Brian berhenti. Kehabisan nafasnya setelah semua gerakan berat itu.


"Hah.... Mungkin cukup untuk saat ini." ucap Brian sambil menancapkan pedangnya ke tanah. Ia langsung duduk di hadapan api unggun itu dan beristirahat, dengan reruntuhan dinding rumah sebagai sandarannya.


"Luarbiasa sekali, Brian. Aku tak menyangka manusia bisa bergerak seperti itu." ucapnya sambil memuji pemuda itu.


Mendengar pujian seorang gadis, tentu saja Brian tersipu. Tapi....


Hanya untuk sesaat.


Karena....


"Manusia? Kita semua manusia kan?" tanya Brian kembali keheranan.


"Eh?! Ah, uh.... I-iya! Be-benar! Hahaha...." balas Hella dengan tawa yang seakan dipaksakan.


Sikapnya itu tentu membuat Brian semakin curiga. Sepengetahuannya, tak ada manusia yang memanggil orang lain sebagai 'manusia' di wilayah kekaisaran ini.


Karena semuanya pasti tahu, bahwa mereka adalah manusia.


Dengan tatapan penuh curiga, Brian memperhatikan keseluruhan tubuh Hella. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


'Telinga normal, gigi normal, tak ada tanduk, tak ada bagian tubuh aneh lainnya, hmm? Apakah memang aku salah sangka?' pikir Brian dalam hatinya.

__ADS_1


"Bukan.... Aku.... Hanya saja aku.... Pernah melihat sesuatu yang bukan manusia...." jelas Hella yang berusaha menghindari kontak mata dengan Brian.


"Keberatan untuk bercerita?"


Sambil menanti jam jaganya selesai, keduanya menghabiskan waktu dengan berbagi cerita.


"Ras elf? Jadi kau pernah bertarung bersama mereka?" tanya Brian penasaran.


Hella menganggukkan kepalanya, mengiyakan pernyataan dari Brian. "Itu lah kenapa aku merasa gerakanmu tidak seperti manusia biasa." ucapnya.


Secara perlahan, Hella mengeluarkan sebuah kartu tanda pengenal petualang dengan warna perak yang indah.


"Hella Coireal. Petualang perak tingkat tiga.... Huwaah! Kau beberapa tingkat lebih tinggi dariku?!"


Dengan senyuman yang ramah, Hella pun kembali menganggukkan kepalanya.


"Jika kau sekuat itu kenapa kau berhenti?!"


Mendengar pertanyaan itu, senyuman manis di wajah Hella segera luntur. Terhentikan oleh ekspresi sedih dan juga ketakutan.


"Aku.... Aku tidak kuat. Aku hanya bisa sihir, itu saja. Dan...."


Segera setelah itu, Hella menceritakan semuanya pada Brian. Mengenai seluruh masa lalunya, dan bagaimana Ia bisa berada di titik saat ini.


Hawa dingin merembet di sekujur tubuh Brian setelah mendengar kisahnya. Rasa takut, rasa sedih, dan amarah. Semuanya bercampur aduk dalam dirinya.


Sebuah kelompok beranggotakan 6 orang, dimana satu diantaranya adalah seorang elf yang menyamar.


Kekuatan mereka berada di tingkat perak dan sudah setara dengan pasukan elit dari Kekaisaran. Tapi dengan kekuatan itu sekalipun....


Mereka semua terbantai di salah satu reruntuhan tambang oleh segerombolan minotaur. Dimana hanya Hella sendirian, yang bisa selamat dengan melarikan diri.


Meninggalkan seluruh rekannya terbunuh di tangan para monster itu.


"Ka-kau.... Kau tak bercanda kan?" tanya Brian setelah mendengar keseluruhan cerita dari Hella.


"Tentu saja tidak." balasnya sambil menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan masih ingat dengan jelas teriakan mereka. Tolong.... Sembuhkan aku.... Aku masih bisa berjuang...." lanjut Hella.


Brian menundukkan kepalanya, menatap api unggun yang mulai meredup itu. Ia berusaha dengan keras untuk menahan air matanya.


"Aku minta maaf, atas seluruh sikap ku sebelumnya padamu." ucap Brian dengan penuh perasaan menyesal.


Ia teringat atas seluruh perlakuannya pada Hella, yang pastinya cukup menyakiti perasaan gadis itu. Terlebih lagi....


"Dan juga, aku turut berduka atas semua rekanmu." lanjut Brian.


Senyuman kembali menghiasi wajah manis Hella. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, Ia pun membalas.


"Tak masalah. Lagipula, sudah saatnya bagi ku untuk berusaha melupakan masa lalu itu."


'Pasti sangat sulit untuk melakukannya, terlebih lagi jika sudah menjadi rekan selama bertahun-tahun....


Jika saja.... Aku kehilangannya saat ini, apakah aku bisa melupakan dan merelakannya?' pikir Brian sembari melirik ke arah Cecilia yang masih tertidur pulas.


Tak perlu waktu lama bagi Brian untuk memperoleh jawabannya.

__ADS_1


'Hahaha, pertanyaan bodoh. Tentu saja tak bisa. Takkan pernah bisa.' balas Brian sendiri dalam hatinya.


__ADS_2