
Di saat Brian merasa ketakutan terhadap banyaknya Wyvern di hutan ini, sikap Cecilia justru sebaliknya.
Ia terlihat tersenyum lebar. Bahkan tertawa cukup keras.
"Buahahaha!!! Brian! Lihat! Ladang emas! Kita akan sangat kaya raya setelah memburu mereka bukan?!" teriak Cecilia.
"Bodoh! Kita akan kabur dan...."
'Swuuusshhh!!!'
Cecilia dengan cepat menembakkan anak panah Runic miliknya ke arah salah satu dari Wyvern muda itu.
Berbeda dengan anak panah yang lain, sihir yang tertuliskan pada Rune di ujung panah itu memberikan kekuatan yang jauh lebih besar.
Mulai dari kecepatan, daya tembus, serta lingkup serangan. Semuanya jauh berbeda.
Lapisan angin terlihat menyelimuti anak panah itu mulai dari ujung mata panah hingga ke belakang. Hentakan tekanan angin yang kuat juga tercipta pada saat Cecilia melepaskan anak panah itu.
Dengan gabungan antara kecepatan anak panah, dengan kemampuan mata Cecilia untuk memprediksi sedikit di masa depan....
Mustahil bagi Wyvern muda itu untuk menghindar. Dan dalam sekejap....
'Sraaaaaasssshhhh!!!!'
Anak panah itu menembus dan melubangi kepala Wyvern muda itu hingga ke bagian punggungnya. Membunuhnya seketika.
'Braaaakk!'
Batangnya yang tak lagi berdaya langsung terjatuh ke tanah. Darah kemerahan mulai mengalir dari balik kulit birunya yang mulai memucat.
"Ya-yang benar saja?! I-itu anak panah?!" teriak Brian terkejut. Ia sama sekali tak bisa mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.
Dimana sebuah anak panah, mampu dengan mudahnya menembus dan menghancurkan tubuh Wyvern muda itu.
"Huwaaah! Brian! Aku suka panah ini!"
Harapan mulai muncul kembali pada kelompok ini. Tapi masalahnya, hanya ada dua anak panah Runic lagi yang tersisa.
Cecilia tak bisa menembakkannya secara asal.
Sementara Wyvern muda itu mungkin cukup mudah untuk diatasi, mungkin akan beda ceritanya dengan induknya.
'KRAAAAAAAAKKK!!!'
Teriakan keras dari sang induk dapat terdengar. Sekalipun tak mampu memahami bahasa dari monster itu, Brian dapat memahaminya dengan jelas.
Bahwa barusan, adalah sebuah teriakan dengan banyak kesedihan di dalamnya.
"Maaf tapi kami juga perlu bertahan hidup!"
Brian mengencangkan kembali genggaman kedua tangannya pada pedang besar itu. Dengan hentakan kaki yang kuat, Ia melompat tepat ke arah salah satu Wyvern muda itu.
'Zraaaaaasshh!'
Tebasannya mungkin sangat lah tajam. Tapi jarak jangkauannya tak cukup jauh untuk bisa menggapai monster yang terbang di udara.
"Cih!" keluh Brian setelah menyadari tebasannya hanya memotong sedikit dari lengan Wyvern itu.
'KRAAAAAKKK!!!'
'BLAARRR!!!'
Kini, ketiga Wyvern muda itu mulai mendarat di tanah. Tubuhnya yang masih ramping memungkinkan mereka bergerak dengan cukup lincah.
__ADS_1
Dan dalam sekejap, dua dari mereka berhasil berlari mendekat ke arah Brian. Mengayunkan lengan mereka dengan cakar yang tajam itu.
'Swuushh! Swuusshh!!'
Dengan mudah Brian dapat menghindari serangan dari kedua Wyvern itu. Tapi dari sampingnya, Wyvern ketiga berhasil mengejutkannya.
Ia mengayunkan ekornya dengan cepat layaknya sebuah cambuk. Memukul tubuh Brian hingga terlempar sejauh beberapa meter.
'Brruuukkk!'
Kini dengan tubuhnya yang terseret di atas tanah, Brian menghadapi tiga ekor Wyvern seorang diri. Salah satunya terlihat berjalan dengan sedikit terpatah-patah karena lengannya yang terpotong.
Tapi tetap saja....
"Tu-tunggu dulu! Kemana kau?!" teriak Brian yang melihat Cecilia telah berlari. Membawa Hella di punggungnya.
"Maaf tapi ku serahkan tiga itu padamu oke?!"
"Hah?!"
Dengan tiga ekor Wyvern yang memiliki tinggi hingga sedadanya berjalan secara perlahan mendekat ke arahnya, Brian hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
'Bisakah aku melakukannya? Bisa kah aku bertahan?' pikir Brian dalam hatinya.
Jujur saja, Brian cukup berharap jika Orlog akan datang menyelamatkannya saat ini. Atau membantunya.
Tapi kenyataan bahwa Orlog tak muncul sama sekali hanya berarti satu hal.
Yaitu situasi saat ini, tak begitu mengancam nyawanya.
Dengan kata lain....
"Baiklah, aku sia...."
Pukulan cepat dari salah seekor Wyvern itu mengenai tepat di dada sebelah kirinya. Melemparkan tubuh Brian sejauh beberapa meter ke samping.
"Kuughhh! Sialan! Sakit tahu?!" teriak Brian yang segera bangkit dengan menggunakan pedang besarnya sebagai tumpuan.
Ia sedikit melirik ke arah dada kirinya, dimana cakar itu sedikit menembus zirah kulitnya. Memberikan luka gores yang tak begitu dalam bagi tubuhnya.
Saat salah seekor Wyvern itu mendekat, Brian dengan cepat mengayunkan pedangnya secara vertikal ke atas. Menebas leher Wyvern muda itu cukup dalam.
'KRAAAAAAAAKKK!!!'
Teriakan yang dipenuhi oleh rasa sakit dapat didengarkan olehnya. Darah pun menyembur dengan cukup deras, mengotori wajah dan juga tubuh Brian di hadapannya.
"Berisik!"
Dengan cepat, Brian menarik pedangnya ke belakang dan memberikan sebuah tusukan tepat ke dada Wyvern itu.
'Jleeebbb!!!'
Menembus tepat di jantungnya.
'Bruuukk!!!'
Tak berselang lama setelah mencabut pedang besarnya, Wyvern itu pun terjatuh. Menyisakan hanya dua ekor Wyvern muda lagi untuk diburu.
Tapi saat ini, keadaan benar-benar berbalik arah.
Melihat kekuatan sosok manusia di hadapannya yang berbeda jauh dari perkiraan mereka, kedua Wyvern itu mulai melangkah mundur secara perlahan.
Mereka merasakan ketakutan yang cukup besar saat melihat sosok manusia yang bersimbah darah itu.
__ADS_1
"Ada apa? Memutuskan untuk mundur?" tanya Brian sambil menyeret pedang besar itu dengan kedua tangannya.
"Maaf, tapi aku telah memutuskan untuk menambah hasil buruannya. Berdoa lah kepala kalian berharga cukup mahal!"
Dengan pernyataan itu, Brian segera menerjang ke arah kedua Wyvern itu. Bersiap untuk memburu semuanya tanpa menyisakan satu pun.
......***......
'Syuuutt! Syuuutt! Syuuuttt!'
Puluhan anak panah terus ditembakkan oleh Cecilia sambil berlari, membawa Hella di punggungnya.
Ia takkan melepaskan sang induk kabur darinya. Tidak selama ada harga 50 koin emas di kepalanya.
"Berhenti! Kau meninggalkan anak-anak mu begitu saja?!" teriak Cecilia kesal sambil terus menembakkan anak panah dengan mata besi itu.
Semuanya mengenai tepat pada sasarannya. Tapi hanya beberapa saja yang bisa memberikan sedikit lubang kecil pada sayap induk Wyvern ini.
Sedangkan jika diarahkan pada bagian tubuh yang lainnya, panah itu bahkan tak mampu menancap. Langsung terpental begitu saja.
"Ce-Cecilia! Turunkan saja aku! Aku hanya akan jadi beban dan...."
"Itu benar! Lakukan sesuatu dengan sihirmu!" balas Cecilia yang seakan tak memperdulikan apapun perkataan gadis itu.
"Eeh?! Ta-tapi menggunakan sihir di situasi seperti ini...."
"Berisik dan cepat lakukan!"
Secara terpaksa, Hella mengarahkan tongkat sihirnya pada Wyvern itu. Pada ujung tongkatnya, terlihat lingkaran sihir yang sebesar telapak tangan pria dewasa dengan warna biru yang indah.
Lambang bintang dan beberapa simbol aneh terlihat muncul pada lingkaran sihir itu.
Pada saat yang bersamaan, butiran-butiran air yang ada di sekitarnya mulai terserap. Terkumpul menjadi satu dan mulai membeku.
Menyerupai bentuk sebuah tombak sepanjang telapak tangan manusia.
Setelah tak ada lagi butiran dari uap air yang terkumpul, tombak es itu pun melesat ke arah Wyvern yang terbang di langit itu.
'Swuuuuuuuussshhh!!!'
Kecepatan dan juga akurasinya memang tak bisa menandingi tembakan panah Cecilia. Akan tetapi....
'Sraaasshh!!!'
Sekalipun hanya menyerempet sedikit di bagian leher Wyvern itu, tombak es itu mampu menggores kulit kerasnya.
"Waw, bukankah es itu lebih tajam daripada panah ku? Kenapa tidak dari tadi?" tanya Cecilia sambil tersenyum. Ia bahkan mulai berhenti untuk menembakkan anak panahnya.
"A-aku kesulitan berkonsentrasi dalam situasi ini...." balas Hella dengan wajah memelas.
Bagaimanapun, saat ini Ia hanya bisa menggantungkan dirinya pada Cecilia dengan lengan kirinya. Sedangkan lengan kanannya digunakan untuk memegang tongkat sihirnya.
Dalam situasi yang terus bergerak cepat dan banyak goncangan ini, tentu sangat sulit untuk berkonsentrasi menggunakan sihir.
"Begitu kah? kalau begitu...."
Cecilia kini tak lagi ragu. Ia segera mengambil panah Runic dengan warna kehitaman itu. Dengan cepat, Cecilia mulai membidik dan mengarahkannya pada sayap induk Wyvern itu.
Berharap, untuk menjatuhkannya ke tanah agar Hella bisa berkonsentrasi dengan lebih baik.
'Jangan bercanda. Jika tanpa bisa berkonsentrasi saja mampu membuat sihir sekuat itu....'
Senyuman Cecilia semakin melebar seiring meningkatnya peluang kemenangan dalam perburuan ini. Tentu saja, termasuk 50 koin emas yang seakan-akan sudah berada di depan matanya.
__ADS_1