Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 29 - Persembahan


__ADS_3

Setibanya kembali di kota kecil wilayah Grenary ini, semuanya telah berubah sepenuhnya.


Dari bawah tanah, cahaya keunguan nampak menerangi gelapnya malam hari ini. Cahaya itu bergerak kesana kemari layaknya kain tipis yang terhempas oleh angin.


Brian dan Cecilia yang melihat para warga kota panik, mulai kebingungan atas apa yang sebaiknya mereka lakukan.


"Apa-apaan ini?!"


"Serangan iblis?! Dimana para perintah suci?!"


"Mama! Mama dimana?!"


Kekacauan benar-benar terasa di seluruh sisi kota kecil ini. Para prajurit penjaga yang hanya mengenakan perlengkapan seadanya, nampak berusaha keras untuk mengevakuasi para penduduk kota kecil ini.


Termasuk juga, para petualang lain yang sebelumnya selamat dari pembantaian sepihak itu.


"Brian, bukankah mereka...." ucap Cecilia menunjuk ke arah kejauhan.


"Mereka adalah kelompok petualang Ronald itu? Mereka selamat?" tanya Brian terkejut.


Tapi dari tingkah mereka saat ini, nampaknya mereka tak lagi memiliki sisa kekuatan maupun mental untuk bertahan. Dan berusaha untuk lari sekuat tenaga meninggalkan kota ini.


Saat Brian menoleh ke arah belakang, di kejauhan terlihat sosok Iblis itu tengah merapalkan mantra. Tubuhnya dikelilingi oleh banyak cahaya keunguan dan juga tulisan dengan huruf yang aneh.


"Kau tahu ini sihir apa?" tanya Brian pada Cecilia sembari menunjuk ke tanah.


Cecilia hanya menggelengkan kepalanya. Tak mengetahui sedikit pun petunjuk mengenai apa yang sedang terjadi.


"Sihir milik iblis adalah salah satu sihir paling kuno, aku bahkan tak bisa membaca tulisan itu." balas Cecilia menunjuk ke arah sosok Iblis itu. "Tapi satu hal, aku yakin akan membunuh kita semua di sini." lanjutnya.


Mengingat kekuatan iblis itu, Brian sepakat. Sihir ini kemungkinan besar bisa membunuh semua yang masih ada di tempat ini.


Hanya saja....


"Lari lah! Kalian hanya punya waktu 5 menit!"


Sekali lagi, suara Orlog terdengar dengan jelas di dalam tubuh Brian.


"Itu adalah salah satu sihir kuno dari bangsa Iblis, Restravvan. Sebuah sihir untuk memanen jiwa. Siapapun yang ada di dalam lingkaran sihirnya, akan langsung mati begitu saja." lanjut Orlog.


'Deg! Deg!'


Jantung Brian seketika berdetak dengan sangat kencang. Ia menoleh ke berbagai arah, dan baru saja Ia menyadarinya.

__ADS_1


"Kau bercanda kan.... Bukankah cakupan sihir ini.... Mencapai keseluruhan wilayah di kota ini? Bahkan lebih luas lagi?!" ujar Brian pada dirinya sendiri.


Di kejauhan, Ia dapat melihat dinding semu yang terbentuk dari cahaya keunguan. Membentuk sebuah lingkaran raksasa yang mencakup hampir keseluruhan wilayah di Grenary ini.


"Maka dari itu. Lari sekarang! Tak ada jaminan kalian masih bisa selamat jika menunggu lebih lama lagi!"


Brian hanya bisa terjatuh ke tanah, dengan kedua lututnya sebagai tumpuan.


Cecilia yang melihatnya segera membantu Brian untuk berdiri, tapi....


"Brian? Ada apa?"


"Hahaha.... Kita akan mati.... Kita semua...."


Brian tertawa ringan sembari melihat para penduduk yang masih berusaha untuk meninggalkan kota ini.


Beberapa terpisah dari keluarga mereka, bahkan beberapa yang lain terlihat enggan untuk berpisah dengan rumah yang telah lama mereka bangun.


Tapi satu hal yang sama, mereka semua takkan cukup cepat untuk meninggalkan cakupan wilayah dari sihir ini.


Tak ada satu pun.


Bahkan Brian sendiri tak yakin bahwa dirinya dan Cecilia bisa meninggalkan wilayah Grenary dalam kurang dari lima menit.


Ribuan, mungkin puluhan ribu orang akan mati di belakang mereka. Dengan keputusasaan yang menyelimuti jiwa mereka semua.


"Bodoh! Cepat bangun dan lari! Aku tak ingin jiwa ku yang telah susah payah bangkit kembali binasa!" teriak Orlog dalam hati Brian.


Tapi Brian sama sekali tak memperdulikannya. Tatapan matanya terpaku pada sosok seorang gadis kecil yang menangis di kejauhan.


Terjatuh di tanah, hanya bisa berteriak dan menangis mencari keluarganya yang telah hilang. Hilang di tengah kerumunan manusia yang saling berdesak-desakan untuk kabur ini.


"Mamaaaa!!! Mamaaaa!!!"


Sesekali, langkah kaki orang dewasa menendang tubuh kecilnya. Membuatnya terlempar, terinjak dan terluka.


Tak lagi sanggup melihat hal itu, Brian segera bangkit. Berlari ke arahnya dan menyelamatkan gadis itu.


"Tenang, kakak akan membantumu mencari ibumu." ucap Brian dengan senyuman yang ramah, sembari menghalangi langkah kaki para penduduk kota ini untuk melukainya sekali lagi.


Tanpa sepatah kata pun, gadis itu hanya bisa terus menangis sembari memeluk tubuh Brian. Terlihat dengan jelas luka dan darah yang mengalir dari tubuh gadis kecil itu.


Di kejauhan, Cecilia terlihat menyusul ke arahnya.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan orangtuanya?! Meninggalkan anak mereka seperti ini?!" keluh Cecilia dengan penuh emosi.


Akan tetapi....


'Srruugg!!!'


Brian menyerahkan gadis kecil itu ke arah Cecilia, sembari memberikan ekspresi yang tak pernah ditunjukkannya.


Sebuah ekspresi wajah dengan senyuman yang tipis, serta tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Lari lah, dan tinggalkan kota ini. Temukan ibunya." ucap Brian singkat.


"Hah?! Bagaimana denganmu?!"


Brian segera membalikkan badannya, menatap ke arah sosok iblis yang masih terus merapalkan mantranya itu.


Kini, terlihat beberapa lingkaran yang mengelilingi tubuhnya dengan tulisan yang aneh itu. Jumlahnya semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu.


"Kau pernah mengajariku, bahwa sihir membutuhkan fokus yang kuat. Jika fokus pengguna terganggu, sihir itu bisa batal bukan?" ucap Brian sembari menarik pedang di pinggang kirinya itu.


Menyadari apa yang dimaksudkan oleh Brian, kedua mata Cecilia terbuka lebar. Tak percaya atas apa yang mungkin akan dilakukan rekan terdekatnya itu.


"Brian.... Jangan katakan kau...." balas Cecilia sambil terus memeluk erat gadis kecil itu.


"Aku akan mengganggunya, sehingga semuanya punya cukup waktu untuk kabur. Jadi tolong...."


"Tidak! Aku susah payah memanggilmu dari dunia lain untuk menemaniku! Takkan kubiarkan kau mati begitu saja! Aku.... Aku takkan tahu apa yang...."


"Maaf. Tapi ku percayakan sisanya padamu." balas Brian singkat.


Dengan balasan itu, Brian tak lagi mendengarkan ocehan Cecilia dan langsung berlari. Menuju ke arah sosok Iblis yang masih terus sibuk merapalkan mantranya itu.


Meninggalkan Cecilia sendirian di tengah keramaian kota ini. Bersama dengan gadis kecil yang masih terus menangis di pelukannya.


"Aku.... Aku takkan tahu apa yang sebaiknya ku lakukan berikutnya, tanpamu...." lanjut Cecilia.


Ia hanya bisa berharap, kalimat dengan suara lirih itu tersampaikan pada rekannya. Berharap agar dengan kalimat itu, Brian akan berhenti melangkahkan kakinya menuju kematian itu sendiri.


Lalu berbalik arah untuk lari bersamanya. Tapi pada kenyataannya, semua sudah terlambat.


Satu-satunya hal yang bisa Cecilia lakukan untuk menghargai pengorbanan Brian, adalah dengan memastikan dirinya beserta gadis kecil itu selamat.


Dengan air mata yang terus membasahi pipinya, Cecilia segera berbalik arah dan berlari secepat mungkin.

__ADS_1


Meninggalkan kota yang tak lama lagi, akan menjadi sebuah altar persembahan bagi Iblis itu. Dengan mengorbankan seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.


__ADS_2