Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 34 - Kembali ke Toko


__ADS_3

"Yoo, Jareth. Apa kabar?" tanya Brian yang masuk ke dalam toko pandai besi ini.


Masih sama seperti biasanya, toko pandai besi ini sangat lah sepi. Kalah saing dengan pandai besi yang lainnya.


Tak berselang lama, terlihat wajah Jareth yang muncul dari balik gorden di sudut ruangan ini.


"Aah, kalian? Tunggu sebentar."


Cecilia dengan segera melihat berbagai persenjataan dan perlengkapan di toko ini. Terutama zirah kulit dan juga anak panah dengan ujung baja.


"Brian?"


"Pilih saja sesukamu. Uang kita cukup banyak." balas Brian yang segera duduk di hadapan meja kasir itu.


Ia mengetukkan jarinya dengan irama layaknya langkah kaki kuda di atas meja kayu itu.


'Tak terasa.... Aku sudah terbiasa hidup di dunia ini dengan segala keanehannya.'


Brian menolehkan wajahnya, memperhatikan toko pandai besi yang penuh dengan berbagai perlengkapan ini. Perlengkapan yang tak terjual, tapi juga masih rapi dan bersih.


Bahkan setitik debu pun tak terlihat di rak kayu yang berjejer rapi itu.


"Maaf membuat kalian menunggu. Jadi ada apa?" tanya Jareth yang telah berganti pakaian. Terlihat handuk masih menggantung di pundaknya.


'Ttrruuk! Tukk! Tukk!'


Brian meletakkan 6 buah koin emas di atas meja kasir itu. Beberapa koin terlihat menggelinding sesaat sebelum terjatuh.


"Berikan dia yang terbaik, dan sebuah pedang untukku. Juga sebuah zirah kulit rekomendasi mu." balas Brian sambil melirik ke arah Jareth.


Jareth sendiri terkejut melihat enam buah koin emas di hadapannya. Jumlahnya sangat lah besar baginya yang jarang laku.


Dan dengan keenam koin emas itu, Jareth pun tersenyum lebar sembari bertanya.


"Zirah kulit? Yakin tak ingin mencoba zirah besi?"


Brian menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Aku lebih suka sesuatu yang ringan. Jadi, apakah cukup?"


"Tentu saja."


......***......


Setelah beberapa saat mencoba dan menggunakan berbagai perlengkapan yang disarankan oleh Jaret, keduanya berdiri di hadapan sebuah cermin besar di sudut ruangan.

__ADS_1


Cermin yang menempel pada dinding kayu itu memperlihatkan penampilan baru Brian dan juga Cecilia.


Di satu sisi, Brian tampak cukup gagah dengan zirah kulit minotaur berwarna kehitaman itu. Zirah kulit itu menutupi sebagian besar dada dan perutnya, serta sebagian lengan dan kakinya.


Pedang besar yang sepanjang 1.3 meter terlihat menggantung menggantung pada punggungnya. Terkait pada sebuah sabuk dengan tiga sisi di tubuhnya itu.


Dengan sarung tangan yang masih memperlihatkan keseluruhan jarinya, Brian mencoba untuk menarik pedangnya. Memberikan kuda-kuda untuk bersiap menyerang.


"Hmm, ku rasa aku masih perlu membiasakan diri dengan pedang besar?" ucap Brian pada dirinya sendiri.


Tapi selain masalah kecil itu, Ia nampak sangat puas dengan hasilnya.


Di sisi lain, Cecilia terlihat begitu menawan dengan zirah kulit minotaur yang sama hampir di sekujur tubuhnya.


Celana panjang dengan bahan yang lentur memberikannya ruang gerak yang nyaman. Sebagai tambahan, kulit minotaur diletakkan di atasnya. Melindungi kedua kakinya dengan cukup baik.


Senjata utamanya masih busur baja yang dibelinya dulu. Tapi kali ini, Cecilia memperoleh anak panah yang lebih kuat.


30 anak panah dengan ujung baja, serta 5 anak panah dengan ujung mithril. Sebuah bahan legendaris yang memiliki kekuatan jauh melampaui baja, tapi juga seringan lempengan besi tipis.


'Swuusshh!'


Cecilia mencoba menarik sepasang belati yang dikaitkan di pinggangnya. Dengan bilah yang sedikit miring serta bahan utama dari batu obsidian, kedua belati itu menukarkan daya tahan dengan ketajaman yang tiada tanding.


"Ini.... Sangat keren!" teriak Cecilia puas setelah melihat sepasang belati berwarna hitam keunguan itu.


Tentunya, pelindung kepala itu memberikan perlindungan dan penyamaran yang lebih baik terhadap identitas asli Cecilia.


"Bagus kan, pilihanku?" ucap Jareth dengan puas.


"Kau serius membuat semua ini sendiri?! Ini.... Ini sangat keren! Aku akan memamerkannya di Guild!" balas Cecilia yang masih beberapa kali memutar tubuhnya di hadapan cermin itu.


Di setiap bagian perlengkapan yang ada di toko ini, semuanya memiliki sebuah simbol yang menunjukkan pengrajinnya. Yaitu Jareth, dari East Forgery.


Hanya saja....


Brian yang sedikit terlalu lama memandangi sosok Cecilia yang masih terus memutarkan badannya itu....


'Hah?! Tu-tunggu dulu?!'


Brian baru saja menyadari kenyataannya.


Berbeda dengan zirah kulitnya yang merupakan tambahan di atas pakaiannya sendiri, zirah Cecilia sedikit berbeda.


Atau lebih tepatnya, zirah untuk wanita.

__ADS_1


Bagaimanapun, wanita memiliki tubuh yang sedikit berbeda daripada pria. Dengan beberapa lekukan yang membuat zirah seringkali sulit untuk dikenakan karena banyaknya bagian yang terpisah.


Karena itu lah, zirah kulit untuk wanita, setidaknya di toko yang sepi ini, dibuat di atas bahan kain hitam tipis yang lentur.


Kecurigaan Brian terbukti nyata setelah melihat keranjang kayu di depan ruang ganti yang barusan digunakan oleh Cecilia. Dimana tumpukan pakaiannya sebelumnya dapat terlihat jelas.


"Jareth! Ikut dengan ku sebentar!" teriak Brian dengan panik.


"Hah?! A-ada apa?!"


Cecilia yang masih sibuk mengagumi dirinya sendiri tak memiliki waktu untuk memikirkan kedua orang itu. Ia masih terus memperhatikan setiap sudut tubuhnya dengan zirah barunya itu.


Sementara itu jauh di sudut ruangan sisi yang lainnya....


"Sialan! Apa yang kau berikan padanya?!" bisik Brian dengan tekanan yang tinggi.


"Hah? Tentu saja zirah kulit."


"Lalu apa-apaan dengan model itu?! Bukankah kau bisa melihat banyak lekuk tubuhnya? Dan itu! Kau bahkan bisa melihat kulitnya!" balas Brian yang masih dengan tekanan sambil menunjuk ke arah Cecilia.


Jareth segera menoleh ke arah yang ditunjukkan. Dan benar saja, terlihat bagian di atas pinggangnya yang cukup terbuka. Memperlihatkan sedikit kulit di perut bagian kanan dan kirinya.


"Eh?! Di-dia melepas pakaiannya?! Kenapa?! Itu seharusnya dikenakan di atas pakaiannya, seperti sebuah setelan baju!" balas Jareth panik.


"Jadi kau tak sengaja melakukan ini?!"


Jareth segera menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Sekalipun teriakan keduanya mulai semakin kencang, Cecilia masih saja sibuk berpose dengan kedua belati barunya.


Dan kini, Cecilia justru mengganti pose dengan menarik busurnya. Seakan-akan sedang mengincar buruannya.


Dengan tangan kanan yang telah lama memukul wajahnya sendiri, Brian pun berjalan ke arah Cecilia. Berniat untuk memberitahukan kesalahannya.


Seberapa besar pun keinginannya untuk tetap mempertahankan 'keindahan' itu, Brian tahu bahwa semua ini salah dan tak bisa dibiarkan.


Oleh karena itu....


"Ka-kau.... Kau tahu zirah itu sebaiknya dikenakan di atas pakaianmu kan?" tanya Brian dengan sedikit gerogi.


"Hmm? Tentu saja. Kau pikir aku bodoh?" balas Cecilia dengan wajah yang terlihat kesal.


"Lalu kenapa kau...."


"Aku merasa lebih nyaman seperti ini."

__ADS_1


Tanpa sepatah kata balasan pun, Brian segera berbalik arah dan duduk di samping Jareth. Kembali memandangi sosok Cecilia yang tak juga berhenti untuk berpose di depan cermin.


'Ka-kalau begini, bukan salahku kan?'


__ADS_2