
Dengan tubuh yang telah pulih seutuhnya, Orlog membawa tubuh Brian berjalan ke arah iblis itu. Sedikit demi sedikit, Ia mendekat dengan tenang.
Tanpa senjata apapun, Orlog terus mempercepat langkah kakinya.
Hingga akhirnya, kembali tepat di hadapan iblis itu. Dengan lingkaran sihir yang menyelimuti tubuhnya.
Terlihat sekilas, Iblis itu begitu keheranan. Wajahnya seakan-akan berkata 'bagaimana dia masih hidup?' dengan sangat jelas.
Sementara itu, Orlog tak memberikan kesempatan sedikit pun pada lawannya. Dengan cepat Ia melancarkan serangannya.
Hanya saja....
Bukan sebuah pukulan atau tendangan yang diberikannya.
Orlog membuka telapak tangan kirinya selebar mungkin, berusaha untuk meraih tubuh iblis itu.
Seketika setelah menyentuh lengan kanan lawannya....
'Bzzzttt!!!'
Distorsi kembali terjadi. Tapi bukan pada tubuh Brian sendiri, melainkan pada lengan kanan iblis itu.
Dalam sekejap, lengan kanannya mulai dari ujung jari hingga sikut berubah bentuk sepenuhnya. Kini menjadi hancur lebur, remuk dengan banyak darah yang mengalir.
"Kugghh!!!" teriak Iblis itu menahan rasa sakit yang begitu luarbiasa.
Meski begitu, Ia tak boleh berpindah dari tempat ini ataupun kehilangan fokusnya. Jika tidak, maka sihir skala besarnya akan gagal aktif.
Dengan senyuman yang lebar, Orlog pun melompat mundur sembari berkata.
"Aah, jadi begitu. Kazzan That Garkath, salah seorang pendeta dari penyembah Raja Iblis."
'Ba-bagaimana dia bisa tahu nama ku?!' teriak iblis itu dalam pikirannya.
Bagi para iblis, nama lengkap adalah sesuatu yang tabu untuk diungkapkan sepenuhnya. Membuat hampir tak ada yang mengetahui nama asli mereka.
Sambil terus menahan rasa sakitnya, Iblis bernama Kazzan itu memelototi sosok Brian. Kebingungan atas perubahan yang terjadi padanya.
Sementara itu, Orlog dengan senyuman yang lebar, menunjuk ke arah Kazzan.
"Tangan itu, adalah apa yang akan terjadi padamu 1 menit dan 31 detik lagi."
'Deg! Deg!'
Kedua mata Kazzan terbuka lebar. Terkejut atas apa yang dikatakan oleh manusia itu.
"Apa maksudmu?" balasnya dengan suara yang gemetar ketakutan.
"Perlu ku sebutkan apa yang akan terjadi pada bagian tubuh yang lain?"
Tatapan penuh percaya diri dari Orlog membuat Kazzan ketakutan setengah mati. Jika lengannya saja hancur seburuk itu, bagaimana dengan yang lainnya?
"Satu menit lagi, kah akan mati. Tapi bukan di tanganku."
__ADS_1
'Satu menit?! Tidak.... Ini tidak mungkin! Hanya sebuah gertakan! Pasti....'
Saat masih memikirkan mengenai hal itu, seketika Kazzan merasakan sebuah aura yang sangat kuat. Aura yang sangat dikenali olehnya dan juga sangat dibencinya.
'Sihir suci?! Di tempat seperti ini?! Jangan katakan komandan dari salah satu perintah suci?!'
Pandangannya pun kembali ke arah sosok Brian yang masih tersenyum lebar.
"Aah, kau sudah menyadarinya?"
Tanpa pikir panjang, Kazzan segera membatalkan sihir skala besarnya. Keseluruhan cahaya keunguan yang menyelimuti kota di Grenary ini segera menghilang begitu saja.
Seakan-akan tak pernah ada di dunia ini.
Sementara itu, Kazzan langsung berbalik arah dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat yang 'terkutuk' ini. Memikirkan keselamatannya dibandingkan dengan pengorbanan ini.
'Tapi.... Bagaimana dia bisa menyadarinya? Dan.... Sihir apa itu? Apakah benar-benar ini masa depanku jika aku tetap di sana? Atau.... Semua itu hanya gertakan?' pikir Kazzan dalam hatinya sambil memandangi lengan kanannya.
Di kejauhan, Orlog mulai mempersiapkan langkah yang selanjutnya. Ia menghapus senyuman di wajahnya sembari berkata.
"Lihat? Aku sudah menyelamatkan mereka. Sekarang, sisanya kau yang tanggung."
Distorsi kembali muncul di sekujur tubuh Brian. Terutama pada kedua lengannya.
Hanya saja kali ini, lengan Brian kembali seperti sebelumnya. Dengan banyak luka dan darah. Tulangnya kembali remuk.
Bersamaan dengan itu, Orlog mengembalikan kesadaran Brian kepada tubuhnya.
"Uuggh.... Sialan.... Apa yang...." ucap Brian kebingungan dengan situasi ini. Penglihatannya masih cukup samar-samar dengan kesadaran yang begitu tipis.
'Srruugg! Srruuugg!'
Suara langkah kaki yang cepat dapat terdengar dari kejauhan. Melewati semak-semak di hutan ini.
"Hmm?"
Melihat sosok seorang pria yang tergeletak di tanah, Komandan Reverie menghentikan langkah kakinya sesaat untuk melihat keadaannya.
Ia membungkukkan badannya untuk melihat ke arah wajah Brian yang masih tak berdaya, dengan banyak luka di tubuhnya.
"Kau yang saat itu.... Jadi kau yang menahan iblis itu? Terimakasih, tapi bertahan lah. Aku harus mengejarnya."
Dengan kalimat itu, Reverie kembali berlari untuk mengejar iblis itu.
"Dewi Cahaya, berkahi lah aku dengan kekuatanmu." ucap Reverie singkat dengan suara yang lirih.
Seketika, kedua kakinya diselimuti oleh cahaya keemasan yang indah. Mempercepat langkah kakinya beberapa kali lipat.
"Hah.... Hah.... Hah.... Sialan! Sialan! Kenapa semua ini terjadi?! Kenapa ada komandan di sini?! Dan apa-apaan dengan orang itu?!" keluh iblis itu yang mulai kehabisan nafasnya.
Ia mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk berlari barusan. Belum lagi sihir skala besar sebelumnya yang sangat menguras energinya, membuatnya harus memperlambat langkah kakinya.
Dengan nafas yang terengah-engah, Ia masih terus berusaha untuk kabur.
__ADS_1
Hanya saja....
Reverie jauh lebih cepat dibandingkan dengannya.
'Srrruuuggg!!! Tapp!!!'
Komandan perintah suci ke sembilan itu berhenti tepat di hadapan Kazzan. Tanpa ragu, Reverie segera melayangkan tinju dengan tangan kanannya. Mengarah tepat pada paha kanan iblis itu.
'Blaaaarrr!!!'
Hentakan dari pukulan kuat Reverie cukup untuk menggoyahkan pepohonan di sekitar. Merontokkan banyak daunnya hanya dengan tekanan angin yang dibuatnya.
Tapi bagi targetnya, kini paha kanan Kazzan remuk sepenuhnya dengan darah yang menyembur ke berbagai arah.
"Gaaaaaaahhhh!!!" teriaknya kesakitan.
'Blaaaaaarrrr!!!'
Kini dengan tangan kirinya, Reverie memberikan pukulan tepat di pundak kiri Kazzan. Pukulan itu sangat kuat hingga menghempaskan keseluruhan lengan kirinya.
'Braaakk! Sraaaasshh!!'
Darah mengalir dengan sangat deras dari lengan kiri Kazzan. Dan dengan begitu banyaknya darah yang hilang, Kazzan pun melemah dengan sangat cepat.
Kesadarannya mulai menipis dengan tubuh yang tak lagi mampu untuk berdiri.
"Sia...."
'Blaaaaarrr!!!'
Reverie mengakhiri semuanya dengan pukulan tangan kanannya. Sebuah pukulan yang cukup kuat, untuk menghempaskan seluruh kepala Kazzan hingga hancur sepenuhnya.
Membunuhnya seketika.
'Brruuukkk!'
Tubuh Kazzan segera terjatuh ke tanah. Tertimbun diantara rerumputan yang cukup tinggi itu.
Sementara itu, Reverie segera berlutut untuk membalikkan badan Kazzan. Menggeledah apapun yang ada di balik jubah hitamnya.
Setelah beberapa saat, Reverie memperoleh tiga buah botol kaca kecil dengan cairan kemerahan di dalamnya.
"Hah.... Jika kau ingin lari dariku, sebaiknya kau buang benda ini lebih dulu. Baunya terlalu kuat di hidungku." ucap Reverie sembari menggunakan sihir api dengan warna kebiruan untuk membakar tiga botol itu di tangannya.
Darah Hecate yang tersimpan di dalamnya terlihat mulai mendidih dan menguap, sebelum akhirnya musnah sepenuhnya.
Sebelum Reverie bangkit, Ia melihat lengan kanan iblis itu yang telah remuk dengan seksama.
'*Jadi manusia dengan sedikit darah iblis itu bisa melukai iblis tingkat tinggi sampai seperti ini? Bagaimana bisa?
Hah, apapun itu.... Aku harus berterimakasih padanya. Tanpanya, mungkin aku akan terlambat dan ribuan nyawa akan jadi bayarannya*."
Reverie pun akhirnya bangkit. Berniat untuk menyelamatkan Brian, sekaligus mengendalikan situasi di wilayah Grenary ini.
__ADS_1