Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 32 - Pahlawan?


__ADS_3

'Brakkk! Gruukk!'


Goncangan yang cukup kuat membangunkan Brian seketika. Kedua matanya yang terbuka lebar berusaha untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Kereta kuda?" tanya pemuda itu kebingungan.


Saat ini, Ia duduk di sebuah gerobak kecil tanpa atap yang ditarik oleh seekor kuda. Kusir yang mengendarai kuda itu terlihat duduk di bagian depan.


Sementara itu, tepat di sebelah tubuhnya, terlihat sosok Cecilia yang tertidur pulas dengan menggunakan paha Brian sebagai bantalannya.


Tapi sebelum Brian sempat sadarkan diri sepenuhnya....


"Sudah bangun?"


Suara seorang pemuda terdengar dari arah depan. Ia melompat ke belakang dan duduk tepat di hadapan Brian saat ini.


Dengan penampilan yang sederhana, pria berambut kecoklatan dengan jubah putih itu meletakkan dagunya di atas kepalan kedua tangannya.


"Ka-ka...."


Tubuh Brian gemetar ketakutan. Tapi pada saat Ia menoleh, dirinya tak lagi memiliki senjata apapun. Hanya sepasang lengan yang penuh dengan perban dan kayu di baliknya.


"Tulang lenganmu remuk. Bawahan ku memberikan perawatan sederhana sebelum sampai di kota. Dengan itu, kau takkan banyak kesakitan sampai disembuhkan penyihir." jelas pemuda yang tak lain adalah Reverie itu.


Reverie terus memberikan tatapan yang tajam ke arah Brian. Sebuah tatapan yang seakan-akan berusaha untuk melihat jati dirinya yang sebenarnya.


Setelah keheningan beberapa saat, Komandan perintah suci ke sembilan itu kembali bertanya.


"Aku sama sekali tak paham. Apa motif kalian?" tanya Reverie penasaran.


Melirik ke arah Cecilia yang masih tertidur pulas, Brian pun membalas.


"Kami.... Tidak. Lebih tepatnya aku tak mampu melihat mereka semua mati."


"Mereka dalam artian penduduk kota?"


Brian mengangguk ringan membenarkan pernyataan itu.


"Dan lengan itu?"


"Aku berusaha menghentikan iblis itu tapi.... Terakhir ku ingat, aku terpukul hingga terluka parah seperti ini."


"Jadi begitu ya?"


Reverie mengambil nafas yang dalam sembari memperhatikan sekelilingnya.


Barisan kereta kuda serta penduduk yang mengungsi terlihat begitu panjang di jalanan tanah ini.


Sekalipun iblis itu telah terbunuh di tangan Reverie, tapi tak ada jaminan bahwa iblis itu hanya bergerak sendiri. Membuat Reverie sebagai komandan perintah suci memerintahkan evakuasi ini.

__ADS_1


Menghimbau semua penduduk untuk mengungsi sementara pasukannya akan membereskan sisanya. Termasuk, jika memang ada bangsa Iblis lain yang tersisa.


"Kau lihat mereka semua?" tanya Reverie singkat sembari menunjuk ke arah rombongan di belakang kereta kuda yang ditungganginya ini.


Brian menoleh tepat ke arah yang ditunjuk oleh komandan itu. Terlihat kesedihan menyelimuti wajah keseluruhan para pengungsi.


Dari mulutnya, hanya bisa keluar satu kalimat.


"Maaf, jika saja aku lebih kuat...."


"Lebih kuat?" tanya Reverie kebingungan sambil menyipitkan kedua matanya. "Dengan darah iblis itu?" lanjutnya sambil berbisik.


Sang kusir yang tak mampu mendengar kalimat Reverie berikutnya, hanya bisa kembali fokus pada pekerjaannya.


Seketika, Brian terkejut bukan main.


Komandan perintah suci yang memiliki kekuatan sangat besar itu, telah mengetahui rahasianya.


Dengan hal itu, maka kematiannya sudah dapat dipastikan.


"Dengarkan aku baik-baik, darah terkutuk itu takkan memberikan kekuatan apapun padamu." bisik Reverie.


"Kau.... Tidak membunuhku?" balas Brian juga dengan suara yang lirih.


"Membunuhmu? Kenapa? Bahkan jika dibiarkan, manusia dan elf lemah seperti kalian berdua akan mati setelah mengumpulkan... mungkin 4 hingga 5 kali lipat darah terkutuk itu."


"Apa maksudmu dengan itu?"


"Hah.... Kau sama sekali tak tahu apa-apa? Dengar, darah itu adalah darah terkutuk. Pernah, pada saat aku masih menjadi ksatria biasa, aku melihat seorang penyihir yang mengumpulkan banyak darah terkutuk itu.


Hasilnya? Memang benar, dia menjadi jauh lebih kuat. Tapi setelah beberapa saat, Ia kehilangan kesadarannya karena tubuh lemah manusia tak mampu menahan kejahatan sebesar itu."


"Eh? Apa yang...."


"Apalagi pada manusia sepertimu. Gadis Elf itu mungkin akan bertahan sedikit lama sebelum tubuhnya hancur. Jadi saranku, lebih baik berhenti lah."


Brian terdiam. Ia tak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari musuh terbesarnya sendiri. Yaitu perintah suci.


Harus kah dirinya mempercayai semua ini?


Tapi jika komandan ini berbohong, memang apa untungnya baginya? Jika Ia mau, komandan itu bisa membunuh Brian kapan saja.


Itu lah yang terus membuat pikiran Brian kebingungan.


"Kau boleh percaya, boleh juga tidak. Tapi yang jelas, di bawah pengawasanku.... Kalian berdua akan aman. Sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan kota ini."


Belum selesai memikirkan masalah yang sebelumnya, Brian kini dihadapkan dengan persoalan yang baru lagi.


"Hah? Tunggu? Apa lagi ini?"

__ADS_1


"Satu.... Tidak, bahkan setengah menit saja sangat berarti pada saat itu. Aku sama sekali tak tahu kapan sihir skala besar itu akan aktif. Dan kau, berhasil menggagalkannya sebelum aku sampai."


Reverie segera menundukkan kepalanya pada sosok manusia dan elf yang seharusnya, tergolong sebagai iblis itu.


Dengan suara yang lembut, komandan itu pun kembali melanjutkan perkataannya.


"Terimakasih. Dan terima lah ini, kalian akan aman di seluruh wilayah manusia. Selama kalian tak membuat masalah, aku akan tetap melindungi nama kalian." bisik Reverie kembali sambil memberikan dua buah cincin.


Cincin itu awalnya nampak seperti cincin biasa. Akan tetapi, cincin itu memiliki sebuah ornamen di atasnya dengan bentuk segienam.


Lambang kepalan tangan terukir dengan indah di atasnya. Beserta sebuah ukiran tulisan yang begitu rapi.


"Vallenhein.... Ini...." ucap Brian kebingungan sambil terus memandangi cincin perak itu.


"Keluarga ku. Dengan begitu, kau layak menyandang nama Vallenhein di belakang nama kalian. Ku jamin, takkan ada seorang penjaga pun yang menahan kalian setelah melihat itu."


Senyuman yang ramah terlukis di wajah rupawan Reverie. Rambut kecoklatan nya yang terhempas oleh angin membuatnya semakin terlihat mempesona.


"Hmm? Berisik, ada apa ini?" ucap Cecilia yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Ia segera duduk dengan kedua tangan yang menggosok matanya.


"Aah, benar juga. Kita belum berkenalan? Reverie Vallenhein." ucap Komandan Reverie sambil mengulurkan tangan kanannya. Meminta agar Brian segera menjabatnya.


"Bri.... Reux." balas Brian yang hampir saja lupa bahwa namanya harus disamarkan mengikuti tanda pengenal petualangnya.


"Brireux, nama yang aneh. Kau yakin nama mu bukan Brian?" balas Reverie sambil tertawa ringan.


"Eh?!"


"Nona muda itu telah menceritakan semuanya. Bukankah benar begitu, Nona Cecilia?"


Cecilia yang akhirnya telah berhasil mengumpulkan keseluruhan kesadarannya, langsung berteriak.


"Aah! Brian! Gawat! Pria ini sangat berbahaya! Dia sangat berbahaya! Semalam dia menginterogasiku habis-habisan!"


"Menginterogasi habis-habisan itu terlalu kasar Nona Cecilia, bagaimana jika.... 'Aku akan melakukan apapun selama Brian selamat'? Bukankah itu lebih tepat?"


Balasan Reverie membuat wajah Cecilia sedikit memerah.


"Tidak! Brian! Kau sama sekali tak boleh percaya dengannya! Apapun itu...."


'Braakkk!'


Cecilia yang terlalu semangat dan ekspresif, secara tak sengaja memukul lengan Brian yang penuh dengan luka.


"Aaarrggh! Sakit sekali! Bodoh, kenapa memukul lenganku?!"


"Eeh?! A-aku sama sekali tak sengaja! I-itu benar! Ini semua perangkapnya!"

__ADS_1


Sambil melihat tingkah keduanya, Reverie hanya bisa tersenyum sambil tertawa ringan. Dengan sebuah keyakinan yang pasti.


Bahwa dua orang ini, takkan membahayakan umat manusia.


__ADS_2