Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 33 - Kedamaian


__ADS_3

...- Kota Mapleford -...


Pada akhirnya, para pengungsi itu dibawa ke kota Mapleford. Beristirahat sesaat sambil menanti pembersihan wilayah Grenary.


Komandan Reverie juga mengucapkan perpisahannya pada Brian dan Cecilia.


"Sekali lagi, terimakasih. Brian Vallenhein, Cecilia Vallenhein. Dengan nama ku sebagai jaminannya, kalian bisa hidup tenang di kota ini.


Tapi tolong, tetap berhati-hati lah di kota lain karena aku tak memiliki banyak pengaruh di sana." jelas Reverie sambil tersenyum ramah.


Dan dengan kalimat itu, Reverie bersama sebagian pasukannya kembali pergi. Mencari jejak para pemuja iblis yang lainnya untuk diburu.


Meninggalkan Brian dan juga Cecilia di tengah alun-alun kota ini.


Tak berselang lama, seseorang dari Guild nampak berjalan ke arah mereka berdua.


"Dengan Tuan dan Nona Vallenhein? Komandan Reverie memerintahkan kami untuk menyerahkan ini." ucapnya sambil menyerahkan dua buah kartu petualang serta sekantung uang.


Kali ini, kartu itu terbuat dari lempengan besi tipis dengan warna yang agak gelap. Di atasnya, ukiran nama dan tingkat petualang keduanya dapat terbaca dengan jelas.


Brian memegang kartu pengenal itu sambil menahan rasa sakitnya. Membaca apa yang ada di atasnya secara perlahan.


"Brian Vallenhein.... Petualang tingkat besi satu.... I-ini serius?!"


Di sampingnya, Cecilia juga masih membaca kartu petualang itu dengan kedua mata yang berbinar.


"Bagaimana pun, ini adalah perintah langsung dari Komandan Perintah Suci. Tak ada alasan bagi kami untuk menolaknya. Sehingga, kami juga akan tetap tutup mulut terhadap semua rahasia kalian berdua."


"Tunggu! Ka-kalian juga tahu soal itu?!"


"Yah, sebagian besar prajurit dan pegawai Guild sudah tahu. Lagipula, bukan hanya kalian berdua yang memanfaatkan kekuatan hitam itu. Jadi tenang saja, takkan ada masalah.


Ah, dan juga kami akan berperan sebagai mata dan telinga perintah suci. Jika kalian berbuat aneh...." ucap pegawai Guild itu sambil membuat gerakan untuk menggorok lehernya dengan ibu jarinya.


"Cu-cukup! Kami paham! Kami paham!"


"Lihat Brian! Akhirnya aku takkan menggunakan nama palsu yang jelek itu!"


Teriakan Cecilia membuat cukup banyak penduduk kota menoleh ke arah mereka. Menatap kedua orang itu dengan kebingungan.


"Bodoh! Tutup mulutmu!"


......***......


"Awawawawaw.... Ba-bagaimana ini bisa terjadi?!" teriak Hella ketakutan setelah melihat luka di kedua lengan Brian.


Hella adalah seorang penyihir dengan spesialisasi sebagai penyembuh.


Penyihir yang sama yang tertipu oleh perkataan kedua orang ini sebelumnya.

__ADS_1


"Apakah memang seburuk itu?" tanya Brian penasaran.


Setelah papan kayu yang menyangga lengannya itu dilepaskan, beserta perban yang menyelimutinya.


"I-ini.... Ini tidak sakit?" tanya Hella ketakutan.


"Tentu saja sakit, tapi aku masih kuat untuk menahannya. Serius ada apa dengan lenganku?"


Brian sama sekali tak ingat, bahkan tak sadar bahwa Orlog telah mengambil alih tubuhnya pada saat itu.


Dan tentunya, luka yang diderita Brian saat ini jauh, jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang seharusnya. Semua itu akibat beban besar yang ditanggungnya karena sihir Orlog.


Sebuah sihir yang dapat dikatakan telah musnah di dunia ini.


Di hadapannya, terlihat kulit lengan Brian yang telah berubah warna menjadi keunguan gelap. Dengan banyak darah yang masih belum juga berhenti mengalir setelah perban itu dilepaskan.


Tak hanya itu, kedua lengannya tak lagi lurus. Tapi lebih seperti sebuah kain berisi kapas di dalamnya, yang bisa ditekuk di sudut manapun.


Separah itu lah remuknya tulang di lengan Brian.


Melihat tatapan ketakutan dari Hella, Cecilia pun bertanya.


"Jangan katakan Dewi Cahaya mu itu tak bisa menyembuhkan luka ini?"


"Eeh?! Bu-bu-bukan se-seperti itu...."


"Sudah memungut biaya tapi masih tak bisa menyembuhkan. Aku tak tahu harus berkata apa pada Dewi Cahaya mu itu." timpal Brian yang seakan menaburkan garam pada luka di hati Hella.


"Atau apa? Dengar, satu-satunya 'atau' yang cocok di situasi ini adalah sembuhkan tanganku atau kami takkan membayar." balas Brian.


Dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca, gadis penyihir itu pun memulai penyembuhannya. Ia merapalkan mantra yang menciptakan cahaya kehijauan di sekitar lengan Brian.


Sedikit demi sedikit.... Memulihkan luka yang ada di tangannya.


'Yang benar saja, dia benar-benar bisa menyembuhkannya?!' pikir Brian dalam hatinya.


Setelah perawatan yang memakan waktu hampir 2 jam lebih, akhirnya....


"Hah.... Dewi.... Maafkan aku...." ucap Hella yang telah tepar di atas meja kerjanya. Ia tak lagi sanggup untuk mengangkat wajahnya karena kehabisan energi sihirnya.


Tapi itu bukan lah masalah, karena toko penyembuhan ini memang selalu sepi pengunjung.


Sementara itu, Brian masih sibuk menggerakkan dan memperhatikan lengannya yang telah sembuh sepenuhnya.


"Gila, bagaimana bisa? Sebelumnya bahkan tak bisa banyak digerakkan tanpa rasa sakit tapi sekarang...."


"Coba lihat. Whoah.... Seperti baru."


"Baru? Kau pikir ini onderdil?"

__ADS_1


"Onderdil? Apa itu?" balas Cecilia kebingungan.


Di saat keduanya masih sibuk berdebat satu sama lain, Hella dengan tubuh yang sudah sangat lemas mengerahkan tangan kanannya. Meminta bayaran atas jasanya.


"Li.... Limapuluh koin perak...."


Mengingat sikap kedua orang itu, dan juga sikap mereka sebelumnya, Hella yakin bahwa dua orang itu akan meminta diskon.


Tapi kenyataannya sedikit berbeda.


'Klingg! Ttruukk! Tukk!'


Hella mengangkat wajahnya, melihat ke arah dua buah koin yang menggelinding di atas mejanya.


"Bonus untukmu. Terimakasih, dan maaf jika menyakiti perasaanmu." ucap Brian setelah melempar dua koin emas itu.


"Itu benar, kami hanya bercanda. Ku harap kau tak marah." timpal Cecilia juga dengan senyuman.


Uang yang diperoleh keduanya dari Guild cukup banyak. Yaitu sebanyak 10 koin emas. Memberikan dua pada Hella tak terlihat seperti pengeluaran yang buruk.


Terlebih lagi karena jasa Hella itu sendiri, Brian bisa langsung kembali beraktifitas.


"Kalian berdua.... A-aku telah salah menyangka kalian...."


"Ah, jika dipikir-pikir lagi.... Ku rasa satu koin emas sudah cukup kan?"


"Kita masih perlu memperbaiki perlengkapan kita kan?" balas Cecilia.


"Belum juga rumah. Aku ingin menabung untuk membeli tanah atau rumah."


Dengan kecepatan yang tinggi, Cecilia segera meraih salah satu koin emas itu dan mengantunginya. Sebelum Hella sempat meraihnya.


"Eeeeh?!"


"Itu sudah dua kali harga yang kau patok, sudah cukup baik kan?"


"Ta-tapi...."


Tanpa mendengarkan perkataan Hella, Brian dan Cecilia segera pergi meninggalkan toko penyihir ini.


Dan baru saja setelah sampai di luar, keduanya langsung tertawa puas.


"Hahaha, entah lah. Aku tak bisa berhenti melihat ekspresinya."


"Kau benar, wajahnya terlalu lucu barusan."


"Apakah kau pikir dia mau bergabung dengan kelompok kita?" tanya Brian penasaran sambil terus berjalan.


"Mungkin? Lihat lah tokonya, sangat sepi."

__ADS_1


"Kau benar, mungkin aku akan mengajaknya beberapa Minggu lagi."


Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka ke arah toko pandai besi milik Jareth. Berniat untuk membeli perlengkapan baru demi kelancaran misi mereka kedepannya.


__ADS_2