
Di tengah padang rumput yang begitu luas ini, keadaan berbalik 180 derajat.
Naila yang sebelumnya dapat dengan mudah menekan dua komandan perintah suci, kini justru menjaga jarak cukup jauh.
Begitu pula dengan Aeshma yang berdiri di samping Nila. Penuh atas rasa kebingungan dan ketakutan.
"Ba-bagaimana kita bisa sampai di sini?" tanya Aeshma gemetar.
Saat melihat sosok Greyhart di kejauhan, dirinya bisa merasakan sesuatu yang mengerikan darinya. Sesuatu.... Yang tak bisa dipahaminya.
"Sihir Cassandra, entah berapa banyak trik yang dimilikinya."
Cassandra sendiri terlihat sedikit kelelahan setelah menggunakan sihir barusan. Sebuah sihir original yang dapat menarik dan melemparkan lawannya ke arah manapun yang diinginkannya.
Sekalipun itu berada di tempat yang sangat jauh.
"Hah, beri aku satu menit." ucap Cassandra yang langsung duduk di tanah. Ia bahkan meletakkan tongkat sihirnya seakan tak memiliki rasa takut terhadap kedua iblis di hadapannya.
"Tenang saja. Jika disini, aku bisa menyelesaikan semuanya kurang dari satu menit." balas Greyhart.
Ia menggenggam pedang sisik naga emas itu dengan kedua tangannya.
Energi sihir keemasan nampak mulai menyelimuti sekujur tubuhnya. Dengan tatapan mata yang begitu tajam, Greyhart telah menentukan targetnya.
'Tak peduli siapapun iblis itu, gadis manusia itu jauh lebih berbahaya. Bagaimana bisa manusia bisa sekuat itu tanpa berkah Dewi Cahaya?' pikir Greyhart dalam hatinya sambil terus mempersiapkan serangannya.
Sekalipun memiliki wujud menyerupai iblis, Greyhart sangat yakin bahwa Naila adalah manusia.
Setelah beberapa saat....
"Haaatt!!!"
'BLAAAAARRRRR!!!'
Greyhart melesat dengan sekuat tenaga. Hentakan kakinya bahkan cukup kuat untuk menghancurkan semua tanah di sekitarnya hingga puluhan meter lebih.
Dalam sekejap, pedang naga milik Greyhart telah berada tepat di depan Naila. Arah tebasannya juga sangat akurat. Yaitu pada leher gadis misterius itu.
Tapi tanpa di duga olehnya....
'Braaaakkk!! Klaaaaangg!!!'
Refleks Naila cukup cepat untuk memberikan serangan balasan. Ditambah dengan tubuhnya yang cukup lentur dan juga kuat, Naila berhasil menggeser arah tebasan pedang itu dengan pukulannya.
Di saat yang sama, Ia langsung memiringkan tubuhnya untuk menghindar.
'Yang benar saja?!'
Ini adalah kali pertama bagi Greyhart untuk menghadapi lawan sekuat ini selain komandan suci yang lainnya.
Membuatnya curiga.
'Apakah ada pengkhianat?'
Dalam sepersekian detik saja, Naila tak hanya mampu untuk menghindari tebasan mematikan Greyhart. Tapi juga membalas dengan tendangan memutar tepat di dada Greyhart.
'Bruuukk!! Sruuuuggg!!!'
Tubuhnya terdorong sejauh sepuluh meter akibat tendangan itu. Dimana zirah mithril miliknya juga penyok.
Masih dengan sikap yang santai, Naila menatap ke arah Greyhart seakan-akan sedang meremehkannya.
"Hanya segini saja kemampuan pemburu naga?" ucap Naila.
Aeshma yang menyadari kekuatan Naila di sebelahnya tak bisa percaya. Semasanya, hanya iblis yang diberkahi secara langsung oleh Hecate yang bisa memiliki kekuatan sebesar ini.
Tapi kini....
"Kau.... Siapa kau sebenarnya?"
Aeshma sangat kebingungan. Tak seharusnya sosok seramping dan sekecil ini bisa memiliki kekuatan sebesar itu. Terlebih lagi, tak ada sedikit pun bagian tubuh dari Hecate yang digunakannya.
"Hanya seorang pelayan." balas Naila singkat.
"Pelayan kau bilang? Siapa yang kau layani?" tanya Greyhart sambil kembali bangkit. Kedua matanya memperhatikan tangan kanan Naila yang digunakannya untuk memukul pedang naganya.
'Tidak membatu? Bagaimana bisa dia menahan kutukan sisik Fafnir?'
Sebelum Naila sempat menjawab, langit di atas Naila nampak terbelah dengan warna hitam pekat. Beberapa sambaran petir pun dapat terlihat.
"Terimakasih, Tuan." ucap Naila pada dirinya sendiri setelah melihat retakan kecil itu di langit.
Tak berselang lama, sebuah tombak melesat dari retakan di langit itu. Menancap di tanah tepat di hadapan Naila.
Sedikit demi sedikit, rerumputan yang hijau itu berubah menjadi kehitaman dan mulai layu. Kematian dan kerusakan tanah menyebar secara perlahan dengan pusat dari tombak itu.
Greyhart yang melihatnya semakin kebingungan saat Naila mulai menggenggam tombak itu.
"Kau.... Apakah kau benar-benar manusia?"
Pertanyaan itu tentu saja dikarenakan lengan Naila yang mulai rusak dan terluka saat memegangnya.
Sedikit demi sedikit mulai menghitam dengan kulit yang mengelupas. Menunjukkan otot dan daging di baliknya.
"Aku hanya lah pelayan."
__ADS_1
'BLAAAAARRRRR!!!'
Keduanya kembali berhadapan satu sama lain. Kini dengan senjata mereka masing-masing.
'Klaaangg!!!'
Setiap tebasan tombak Naila menyebabkan gelombang kejut yang merusak tanah di sekitarnya. Termasuk tubuh Greyhart yang terkena hempasan tombak itu.
Di sisi lain, tebasan pedang sisik naga milik Greyhart juga terus melukai tubuh Naila. Merubah sebagian tubuhnya yang terkena tebasan menjadi batu.
Aeshma yang berada di belakang memutuskan untuk menargetkan penyihir yang masih memulihkan diri itu. Cassandra.
'Swuusshh!!!'
Dengan mengepakkan kedua sayapnya sekuat tenaga, Aeshma melesat dengan cepat ke arah Cassandra.
'Zraaassshhh! Kreettaakk!!!'
Sekali lagi, cakar tajamnya berusaha untuk mencabik-cabik tubuh penyihir wanita itu. Tapi perisai yang kuat menghentikannya di tengah jalan.
'Blaaarr! Klaaaaangg!!!'
Dengan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi, perisai sihir milik Cassandra mulai retak.
Membuat Greyhart tak lagi memiliki pilihan lain di tengah situasi ini.
"Dewi Cahaya.... Maafkan aku." ucap Greyhart singkat sebelum melompat mundur cukup jauh.
Seketika, tatapan mata Greyhart berubah sepenuhnya. Bola matanya berubah menjadi kekuningan dengan iris yang tajam, layaknya seekor naga.
'Apa yang dia lakukan?!' pikir Naila terkejut.
Tak pernah didengarnya informasi seperti ini. Sebuah kenyataan bahwa sang pemburu naga, justru membawa sebagian dari kekuatan naga itu sendiri pada dirinya.
Hanya dengan perubahan singkat itu, gerakan Greyhart berubah sepenuhnya.
'Swuusshh! Sraassh! Sraaaasshh!!'
Gerakannya menjadi jauh lebih cepat dan juga tak membuat kesalahan sedikit pun.
Dalam sekejap mata, Greyhart berhasil memotong kedua tangan dan kaki Aeshma. Dan sebelum sempat menebas sayapnya, Naila telah tiba untuk membantunya.
'Klaaaanggg! Blaaarrrrr!!!'
Benturan antara tombak hitam itu dengan pedang naga milik Greyhart menimbulkan gelombang kejut yang menghempaskan segalanya sejauh puluhan meter.
Termasuk Aeshma dan juga Cassandra.
Dengan gerakan yang begitu cepat, Naila memberikan serangan balasan. Sebuah tusukan tombak diarahkan tepat pada jantung Greyhart.
"Kugghhh!!!"
Greyhart sedikit terlambat dalam menghindarinya. Tapi tusukan tombak Naila hanya mengenai dada bagian kanannya. Dengan hentakan kuat di ujung tombaknya yang merusak tanah dalam garis lurus sejauh puluhan meter.
'Sraaaasshhh!!!'
Tak ingin hanya diam, Greyhart juga membalas dengan menebaskan pedangnya tepat ke arah dada Naila secara vertikal.
Melukai dan juga merubah sebagian tubuh Naila menjadi batu yang keras. Tapi entah untung atau sialnya, Naila mampu sedikit menghindarinya. Menyelamatkannya dari kematian.
"Aaarrggh! Sialan! Manusia sialan!!!" teriak Aeshma kesakitan dengan darah yang terus bercucuran dari sekujur tubuhnya.
'Sreeeeettt!!! Klaaaaangg!!!'
Secara tiba-tiba, rantai sihir dengan warna kebiruan muncul dari bawah tanah. Mengikat tubuh Aeshma yang telah tak lagi berdaya itu.
Naila yang melihatnya segera paham atas apa yang perlu dilakukannya.
Ia melompat ke belakang dan menghunuskan tombaknya tepat ke arah jantung Aeshma sebelum kemudian menariknya kembali.
'Jleeebb! Sraaassh!!'
"Gaaaghh!!!"
'Membunuh rekannya sendiri?! Jangan katakan....'
Cassandra mampu menyadarinya. Bahwa tujuan iblis yang menyerupai manusia itu adalah untuk menyelamatkan jiwa Aeshma dari kehancuran.
Akan lebih baik membunuh dan melepaskan jiwanya, dibandingkan dengan membiarkannya dimusnahkan dengan sihir suci.
Dengan jantung kehitaman yang menancap di ujung tombak Naila, Ia segera melompat mundur. Menjauh dari kedua komandan itu.
"Kau pikir bisa lari? Cassandra, jika aku menghancurkan tempat ini, tolong bantu aku menjelaskannya pada Kaisar." ucap Greyhart yang mulai memasang kuda-kudanya.
Ia menggenggam pedang naga itu dengan kedua tangannya. Mengumpulkan energi sihir yang sangat besar pada pedangnya.
Cahaya keemasan nampak mulai tertarik dan tersedot ke arah pedang sisik naga emas itu.
Sedikit demi sedikit, tanaman dan hewan-hewan kecil di sekitarnya mulai layu dan mati karena energinya tertarik oleh pedang itu.
Bersamaan dengan itu, rantai yang sama seperti sebelumnya muncul dari bawah tanah. Mengikat tubuh Naila sepenuhnya dan membuatnya sama sekali tak bisa bergerak.
'Penyihir sialan itu. Lalu, ini kah serangan pamungkas sang pemburu naga yang dikatakan bisa membinasakan apapun itu? Bisa kah aku selamat?'' keluh Naila dalam hatinya.
Tak pernah sekalipun Naila melihat energi sihir sebesar ini dalam hidupnya.
__ADS_1
'Bahkan Tuan Aldebaran sekalipun tak pernah mengendalikan sihir sebesar ini.... Hahaha....'
Bersiap untuk menerima akhir dari kehidupannya, Naila hanya bisa memejamkan kedua matanya.
Ia tak pernah menyesali sedikit pun pilihan kehidupannya hingga saat ini. Jika ada hal yang diharapkannya di tengah keputusasaan ini....
'Tuan Aldebaran.... Ku doakan atas keberhasilan mu untuk merebut tahta itu, sebagai raja iblis yang sebenarnya.'
Tiba-tiba....
'Klaaaanggg!!! Srruuugg!!!'
Huruf Rune kuno muncul di sekitar tubuh Naila. Mengelilinginya dan juga mulai membalut sekujur tubuhnya. Bersamaan dengan itu, lingkaran sihir dengan formasi yang rumit muncul tepat di tempat Naila berada.
"A-apa yang.... Greyhart! Cepat bunuh dia!!" teriak Cassandra setelah menyadari formasi sihir itu.
"Haaaaattt!!!"
Dengan kekuatan penuh, Greyhart mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Menimbulkan gelombang kejut cahaya yang sangat kuat hingga sejauh ratusan meter. Lebar gelombang kejut cahaya itu mencapai puluhan meter lebih.
Apapun yang berasal tepat di hadapan Greyhart sudah dipastikan akan hancur sepenuhnya oleh kekuatan sihir dan suhu yang sangat tinggi. Membakar apapun yang dilewatinya.
Padang rerumputan ini pun berubah menjadi neraka. Dengan tanah yang terbakar hingga berwarna merah menyala.
Tanah itu pun terkikis hingga sedalam beberapa meter lebih. Tak menyisakan apapun setelah dilalui oleh gelombang kejut itu.
"A-apakah kau berhasil?" tanya Cassandra.
"Entah lah, tapi seharusnya ia sudah mati. Kenapa?" balas Greyhart sambil memandangi lautan tanah berapi itu itu.
"Sesaat.... Aku melihat tubuhnya terlilit oleh sihir teleportasi, serupa dengan yang ku miliki."
Greyhart segera menyipitkan kedua matanya. Tak bisa percaya atas apa yang baru saja didengarnya.
"Hah? Kau bercanda? Bukankah itu sihir buatanmu sendiri? Seharusnya tak ada yang bisa menggunakannya selain dirimu kan? Kau yakin tak salah lihat?" tanya Greyhart kembali.
"A-aku tak tahu.... Aku benar-benar tak tahu...."
Pada akhirnya, pertempuran ini meninggalkan kedua komandan perintah suci dalam kebingungan. Tak tahu apakah mereka berhasil memburu iblis itu atau tidak.
Juga, mereka belum berhasil menemukan sumber dari sihir kuno yang dirasakan sebelumnya.
......***......
...Kota Mapleford...
'Bruuukk!! Braaakkk! Klaaangg!!'
Tubuh seorang gadis terjatuh tepat di dalam penginapan ini. Dengan banyak luka dan darah yang berceceran ke segala arah.
"Uughhh.... Ini...." ucap Naila kebingungan. Ia pikir dirinya akan mati oleh tebasan Greyhart. Tapi entah bagaimana, dirinya masih selamat hanya dengan cukup banyak luka di sekujur tubuhnya.
Langkah kaki seorang pria terdengar mendekat secara perlahan.
Saat Naila mengangkat wajahnya, Ia melihat sosok seorang pria dengan penampilan yang begitu rupawan. Pakaian ala bangsawannya masih tertata dengan rapi.
"Maafkan aku, Naila. Aku sedikit terlambat. Kau baik-baik saja? Tak ku sangka sihir itu begitu rumit." balas pria itu yang tak lain adalah Aldebaran.
"Sihir itu? Tuan.... Apakah kau barusan...."
"Penyihir sialan itu menambahkan huruf Rune kuno serta huruf buatannya sendiri untuk memperumit sihirnya, sehingga hampir mustahil untuk dipahami."
"Hah.... Seperti yang diharapkan dari Tuanku. Mampu mereplikasi sihir milik Cassandra secepat itu." balas Naila yang telah memahami apa yang barusan terjadi.
"Tidak, aku sudah jelas mulai melambat. Kita harus mempercepat rencana ini sebelum aku mati karena usia."
Sambil membalas perkataan Naila, Aldebaran mulai menyembuhkan tubuh pelayannya itu dengan sihirnya.
Tampak jelas di tatapan matanya, Aldebaran benar-benar peduli pada Naila. Bahkan melebihi kepeduliannya pada salah satu pengikut Hecate yaitu Aeshma.
Aldebaran sama sekali tak menanyakan mengenai bagaimana nasib Aeshma. Hanya memperdulikan keselamatan pelayannya yang bernama Naila itu.
"Hahaha, Tuanku terkadang suka bercanda. Bukankah tahun ini Tuanku baru akan memasuki umur ke 26 tahun?"
"49 hari lagi. Hah, tubuh manusia benar-benar lemah."
"Ah, benar juga. Tuan, aku telah membunuh Aeshma untuk menyelamatkannya. Pemburu Naga bernama Greyhart itu jauh lebih kuat daripada rumornya." balas Naila.
"Begitu kah? Kalau begitu, lain kali kita harus lebih berhati-hati."
Secara perlahan, tubuh Naila mulai kembali pada wujud manusianya. Tapi kini.... Menjadi seorang wanita dengan rambut pirang mengombak yang indah.
"Dimengerti, Tuanku."
Naila kini terlihat layaknya seorang bangsawan yang begitu menawan.
"Hentikan itu. Kali ini, adalah giliranku menjadi pelayanmu." balas Aldebaran yang juga merubah penampilannya. Kini menjadi seorang pria tua dengan rambut yang mulai memutih.
Dengan penampilan yang baru itu, keduanya memulai halaman baru dalam rencana mereka.
Kini....
Dengan sihir baru yang diperolehnya dari Cassandra. Memungkinkan keduanya berpindah tempat dengan sangat mudah.
__ADS_1
Menjadikan keduanya, sebagai ancaman terbesar umat manusia yang bahkan tak pernah diketahui keberadaannya oleh siapapun.