Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 13 - Quest


__ADS_3

"Hmm...."


Brian berdiri dengan tenang di hadapan papan pengumuman itu. Jari telunjuk tangan kanannya terlihat menopang dagunya sambil memperhatikan beberapa Quest yang ada.


Di sampingnya, Cecilia juga terlihat sedang membaca berbagai Quest yang ada.


Hanya saja....


...[Kucing ku hilang! Tolong temukan secepatnya! Hadiah : 5 koin perak!]...


...[Saluran air dalam kota di sisi Utara mampet. Pemerintah kota Mapleford membutuhkan bantuan kalian untuk membersihkannya. Hadiah : 1 koin perak tiap satu jam kerja. Peringatan : Setiap kelompok akan diawasi! Jangan malas!]...


...[Dibutuhkan relawan untuk latih tanding dengan anakku. Catatan : Anakku sedang belajar sihir bola api dan membutuhkan target yang hidup. Bayaran : 30 koin perak. Peringatan : Kami tidak bertanggung jawab jika relawan mati.]...


"Yang benar saja?!" teriak Brian dengan penuh kesal setelah melihat beberapa Quest itu.


Secara tak sadar, Brian bahkan memukul papan pengumuman itu hingga membuatnya rusak.


Seketika, beberapa pegawai di dalam Guild ini langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah Brian.


"Ah! Sialan, maaf. Aku akan menggantinya." ucap Brian kepada salah seorang pegawai Guild yang berjalan mendekat ke arahnya.


Pegawai Guild itu merupakan seorang wanita yang cukup menawan dengan rambut kecoklatan. Seragam Guild yang rapi turut memperindah sosoknya.


Wanita itu juga terlihat mengenakan sebuah kacamata yang cukup tebal untuk membantu penglihatannya.


"Tenang saja, sudah biasa." ucap pegawai Guild itu sambil tersenyum ramah. Ia lalu segera membungkuk dan memungut beberapa lembar kertas pengumuman yang terjatuh ke tanah.


Secara refleks, Brian pun turut membungkuk dan membantu wanita itu membereskan kesalahan yang dibuatnya.


"Melihat dari reaksimu.... Pertama kali datang kemari?" tanya pegawai Guild itu dengan terus menjaga senyumannya.


'Sialan! Dia sadar?! Ini buruk....'


Secara tiba-tiba, pegawai Guild itu mendekat dan membisikkan sesuatu ke arah Brian. Tepatnya ke arah telinga kanannya.


"Aku akan menjaga rahasiamu jika kau memberiku sepuluh koin emas."


'Deg!!!'


Jantung Brian seketika terasa ingin copot. Terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu.


'Rahasia? Apa yang dimaksudkan olehnya? Jangan katakan....' pikir Brian dalam hatinya.


Setelah beberapa saat, wanita itu semakin mendekat dan membisikkan ancamannya.


"Kalian berdua iblis bukan?"


Perkataan pegawai Guild itu langsung menusuk tepat di jantung Brian. Sebelum Brian sempat melompat mundur untuk menjauh, tangan kanan pegawai Guild itu segera menahannya.


"Tenang saja, selama kalian memberikanku uang, aku akan tetap diam."

__ADS_1


'Bagaimana bisa dia tahu? Apakah kami memang semencolok itu? Seharusnya tidak. Bahkan....' pikir Brian dalam hatinya sambil melihat ke arah Cecilia yang masih sibuk mencari Quest itu.


Brian memastikan bahwa tanduk kecil serta telinga panjang Cecilia sama sekali tak terlihat di bawah kupluk atau beanie itu.


Tapi bagaimana?


"Jika kau bertanya bagaimana.... Singkatnya aku memiliki penglihatan yang sedikit lebih baik dari orang lain." lanjut wanita itu.


"Lalu kenapa? Bukankah kau pegawai di sini? Kenapa tak melaporkan kami jika itu memang benar? Jika kami memang Iblis." balas Brian sambil berusaha untuk mengelak sedikit demi sedikit.


"Karena aku bukan dari dunia ini, jadi aku tak peduli apapun yang terjadi di dalamnya. Selama bisa mendapatkan uang dan hidup tenang, itu sudah cukup untukku." balas wanita itu.


Ia mulai berdiri secara perlahan, bahkan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Brian berdiri.


'Bukan dari dunia ini? Jangan katakan....'


"Aku tahu itu sulit dipercaya. Tapi itu lah kenyataannya. Jadi bagaimana? Sebagai bonus, aku bisa menjaga nama kalian di dalam kota ini." ucap wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam.


"Reux! Apa yang kau lakukan? Apakah kau sudah memperoleh Quest yang menarik?" tanya Cecilia dari kejauhan.


'Jadi dia belum tahu aku juga berasal dari dunia lain? Bagus lah. Kalau begitu....'


Setelah mempersiapkan dirinya, Brian kembali bertanya.


"Bonus? Menjaga nama?"


"Seperti yang kau lihat, aku memiliki kemampuan untuk menilai dengan penglihatanku. Dan semua orang di Kota ini mempercayakan tugas itu padaku, lagipula hanya aku yang bisa melakukannya di sini.


Jadi jika ada yang menuduh kalian berdua macam-macam, aku bisa datang untuk membersihkan nama kalian." jelas wanita itu. Seakan-akan ini bukanlah kali pertamanya.


Tapi....


Permasalahannya adalah biayanya. 10 koin emas adalah yang yang sangat banyak. Sebagai perbandingan, 1 dollar di dunia nyata setara dengan 10 koin perunggu di dunia ini.


Sedangkan 1 koin perak setara dengan 100 koin perunggu. Begitu pula untuk koin emas dimana satu koin emas setara dengan 100 koin perak.


Dengan kata lain tuntutan pegawai itu yang sebesar 10 koin emas, sama seperti membayar 10.000 dollar atau 150 juta rupiah lebih.


Dan kondisi keuangan Brian saat ini....


"Maaf tapi jika kau ingin melaporkan kami, maka laporkan saja. Selain tak ada bukti atas perkataan mu, kami juga tak punya uang untuk dihamburkan." balas Brian dengan suara yang lirih.


Brian masih berusaha untuk bernegosiasi.


"Kau pikir aku hanya menggertak?" balas wanita itu, kini sambil sedikit marah. Ekspresi wajahnya pun berubah.


"Memangnya bukan? Sudah sering penipuan seperti ini kau tahu? Dan juga...."


Tiba-tiba, wanita itu kembali mendekat dan membisikkan apa yang diketahuinya.


"Tiga darah Hecate untuk kalian berdua, dan sepotong kecil tanduk Hecate untuk gadis Elf itu."

__ADS_1


Brian salah.


Wanita yang ada di hadapannya benar-benar nyata. Ia sama sekali tak menggertak dan bahkan mengetahui dengan tepat atas apa yang mereka berdua miliki.


Tapi....


'Kenapa dia tak menyinggung tentang matanya?' pikir Brian dalam hatinya kebingungan. Penasaran, Brian pun menggertak nya sekali lagi.


"Hanya itu yang kau lihat?"


"Apa maksudmu? Penglihatanku tak pernah salah." balas wanita itu sekali lagi. Ia bahkan melihat keduanya sekali lagi untuk memastikan bahwa tak ada kesalahan.


'Ini.... Apa yang terjadi? Bukankah itu mata Hecate? Atau.... Bukan?'


Brian semakin kebingungan dengan situasi ini. Terlebih lagi terhadap mata yang saat ini tertanam di dalam mata kanan Cecilia.


"Menyerah lah, aku tahu semuanya."


"Hah.... Baik lah, tapi bisa kah kami membayarnya dengan cicilan? Kami tak memiliki uang sebanyak itu." balas Brian dengan wajah yang seakan telah menyerah.


Tak lagi bisa untuk mengelak di hadapan penglihatan wanita itu.


"Tak masalah! Senang bekerjasama denganmu! Ohya, namaku Adelle. Panggil saja jika kau hendak membayar." balas wanita itu kini dengan senyuman yang begitu lebar.


Dengan segera, pegawai Guild bernama Adelle itu melangkah pergi setelah merapikan kertas yang berserakan.


"Reux! Lihat! Quest ini sangat bagus! Bahkan hadiahnya juga sangat besar! Bagaimana menurutmu?!" teriak Cecilia di kejauhan.


Selagi Brian dan Adelle masih bernegosiasi, Cecilia telah berjalan jauh hingga beberapa papan di samping tempat Brian berada.


"Kau serius? Coba lihat." balas Brian juga sambil tersenyum.


Saat telah mendekat....


Dan melihat apa yang ada di selembar kertas itu....


...[Salah satu iblis penguasa dari wilayah Frostbite datang menginvasi wilayah kekaisaran Luvelia! Semua petualang diundang untuk ikut serta dalam membela umat manusia. ...


...Bayaran di muka : 50 koin perak. Bayaran jika penguasa Iblis terbunuh dan kalian masih bertahan hidup : 10 koin emas. Syarat : Harus berada di garis depan. ...


...Informasi terkini : Penguasa Iblis dengan sihir es itu, bersama dengan puluhan ribu pasukannya telah meruntuhkan kota besar Vorksal dan beberapa kota serta pedesaan kecil di sepanjang perjalanan.]...


Setelah membaca semuanya....


"Oi, kau ingin kita bunuh diri? Quest macam apa ini?! Dan kenapa kau bisa memungutnya?! Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ini?!"


"Ta-tapi bayarannya...."


"Jangankan bayaran! Tidak kah kau lihat? Beberapa kota hancur karena iblis ini! Tentu saja kita akan menjauh. Tapi syukurlah, Iblis itu bergerak ke arah Timur dan berlawanan dengan lokasi Kota ini tapi...."


Dengan wajah yang terlihat murung dan kecewa, Cecilia pun mengambil kertas itu dan mengembalikannya ke tempat semula.

__ADS_1


Sedangkan Brian sendiri bersyukur bahwa Ia telah melihatnya terlebih dahulu.


Jika tidak....


__ADS_2