Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 43 - Pulang


__ADS_3

Hari telah cukup gelap. Ketiga petualang ini memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di dalam reruntuhan kota Baltimore ini, untuk terakhir kalinya.


Di hadapan cahaya kuning kemerahan dari api unggun itu, ketiganya menikmati daging rusa panggang hasil buruan mereka.


'Kraauukk!'


'Nom! Nom! Nom!'


"Akan lebih enak jika ada garam, tapi mau bagaimana lagi." keluh Brian yang masih terus menikmati daging bakar itu.


"Eeh? Ta-tapi ini sudah cukup enak?" balas Hella di sampingnya.


Sementara itu, Cecilia masih sibuk menanti dagingnya hingga agak gosong.


"Ah, benar juga. Cecilia, kau sudah ambil potongan tubuh mereka sebagai bukti?" tanya Brian.


Tak ingin diganggu dalam fokusnya membakar daging rusa bagian paha atas itu, Cecilia segera melempar sebuah kantung kulit kecoklatan ke arah Brian.


'Bruukk!'


Di dalamnya, terdapat 5 buah taring dengan 4 taring berukuran lebih kecil. Tak hanya itu, juga terdapat 5 buah potongan jari dan juga 5 buah potongan sayap Wyvern.


Semua itu akan digunakan sebagai bukti untuk diserahkan kepada Guild. Menunjukkan bahwa mereka benar-benar telah memburu hewan buas ini.


"Bagus lah. Hella, simpan ini."


"Eeh?! Aku takut jika nanti menghilangkannya dan...."


"Tak masalah. Itu artinya kau memiliki hutang setidaknya sebesar 50 koin emas kepada kami berdua." balas Brian sambil tertawa ringan.


"Eeeh?!"


'Kraaauukk!'


Cecilia di sisi lain, sudah mulai memakan daging bakarnya. Sambil mengunyah, Ia juga mulai berkomentar mengenai perburuan barusan.


"Hella, aku tak menyangka kau punya sihir sekuat itu. Kau benar-benar manusia?" tanya Cecilia penasaran.


Bahkan dengan 5 tetes lebih darah Hecate pada tubuhnya, Cecilia hanya bisa menggunakan sihir-sihir sederhana


"Itu karena aku sudah cukup sering menggunakannya. Membuat kapasitas sihir ku menguat." balas Hella dengan senyuman yang ramah.


Di hadapan Brian, kedua gadis ini berbeda 180 derajat. Dimana salah satunya memegang potongan daging bakar itu dengan anggun serta berusaha untuk tidak mengotori wajah dan pakaiannya....


Satunya lagi memakan layaknya orang barbar. Dimana tangan dan mulutnya cukup kotor akibat cara makan yang kasar.


'Kraukk! Krauukk!'


"Bwegwuitukah? Glek! Apakah kau bilang jika sering digunakan maka sihir kita akan menguat?" tanya Cecilia sambil terus mengunyah daging di mulutnya.


"Bisa dibilang seperti itu. Faktor penting lain adalah perlengkapan. Jika aku masih membawa tongkat sihir ku yang sebenarnya, mungkin aku bisa membuat sihir satu setengah kali lebih kuat?"


"Hah?! Benarkah?!"

__ADS_1


Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga larut malam. Dan akhirnya, semua terhenti setelah makanan mereka habis.


Hella adalah yang pertama untuk meninggalkan api unggun ini. Bersiap untuk segera tidur.


Menyisakan hanya Brian dan juga Cecilia yang masih memandangi lautan bintang di langit, dengan sedikit cahaya dari api unggun itu.


Setelah memastikan Hella benar-benar telah tertidur dari kejauhan, Brian mulai membicarakan hal penting ini.


"Kau menemukannya?"


Cecilia tak menjawab, hanya meraih sesuatu di balik pakaiannya.


'Tap!'


Brian meraih apa yang dilemparkan oleh Cecilia itu. Yaitu sebuah botol kaca kecil dengan cairan merah gelap yang cukup banyak di dalamnya.


"23 tetes. Pantas saja Wyvern sialan itu hampir sekuat naga muda." ucap Cecilia.


"Kau pernah bertemu naga?"


"Hanya dari kisah yang ku dengar."


Brian memandangi cairan kemerahan yang tak lain merupakan darah Hecate itu. Secara perlahan, Brian kembali teringat atas perkataan dari Reverie mengenai kekuatan terkutuk ini.


"Kau tahu? Komandan Reverie pernah mengatakan padaku, jika darah ini dapat membunuh kita suatu hari nanti." jelas Brian dengan suara yang cukup lirih.


Berjaga-jaga jika saja Hella masih bangun dan mendengar perkataannya.


"Omong kosong." balas Cecilia singkat.


"Itu pasti omong kosong dari Gereja. Aku tak percaya pernyataan itu."


Brian yang awalnya kebingungan, mulai teringat kembali atas invasi yang dilakukan penguasa Frosbite di wilayah manusia. Dimana quest yang sangat berbahaya itu muncul, meminta petualang menghentikannya.


'Apakah penguasa itu memiliki kekuatan Hecate? Jika iya.... Apakah serangannya karena hilang kendali? Atau....'


Saat Brian memikirkan mengenai hal itu, suara yang telah lama tak didengarnya pun muncul.


"Aku tak tahu apa yang kau bingungkan, tapi sosok Hecate atau apalah itu takkan pernah mengancam nyawa kalian berdua. Sekalipun kalian meneguk seluruh darahnya." ucap Orlog di dalam pikiran Brian.


'Ka-kau serius?!'


"Entah lah, aku hanya merasa sosok itu tidak terlalu hebat. Buktinya dia bisa kalah bukan?"


Tanpa sadar, Brian mulai mengepalkan tangan kanannya. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya atas pernyataan bodoh dari Orlog.


Entah lah? Merasa? Bagaimana jika meneguk terlalu banyak darah Hecate benar-benar membuatnya jadi gila?


Tapi perkataan Cecilia segera menyadarkannya. Mengembalikannya pada kenyataan.


"Tak masalah jika kau tak mau. Aku bisa mengambil semuanya untuk diriku sendiri."


"Tu-tunggu!"

__ADS_1


Pada akhirnya, darah Hecate yang terkumpul itu dibagi dua antara Cecilia dan juga Brian.


Semakin memperkuat tak hanya fisik mereka, tapi juga kekuatan sihir mereka secara tak langsung. Dengan harga, yang masih belum diketahui secara pasti.


......***......


'Braaak!'


Brian meletakkan kantung kulit itu di atas meja Guild ini. Tepatnya di hadapan sosok Adelle.


"Ini? Kenapa sebanyak ini?"


"Kenapa? Katakan pada orang bodoh yang bilang disana hanya ada satu Wyvern. Kami hampir saja mati kau tahu?" balas Brian kesal.


"Itu benar. Sebaiknya kalian memberikan kompensasi yang pantas pada kami."


Mendengar keributan ringan itu, sang ketua Guild tua itu muncul. Berusaha untuk mengetahui detail dari keseluruhan kejadiannya.


Setelah mendengar semuanya....


"Jadi begitu ya? Seekor induk dan juga 4 ekor Wyvern muda? Kerja yang bagus. Dengan ini Guild akan memberikan bonus tambahan, total hadiah kalian bertiga menjadi 110 koin emas." ucap pria tua itu.


Tak hanya itu, Ia juga menuliskan sesuatu pada selembar kertas yang menyatakan bahwa Brian dan juga Cecilia telah naik tingkat. Kini menjadi petualang besi tingkat 2.


"Ah, ya. Terimakasih." ucap Brian yang cukup senang dengan kompensasi ini.


Begitu juga dengan Hella yang tersenyum di bagian belakang. Bersyukur atas bayaran yang cukup besar ini.


Tapi hanya satu orang yang sangat jujur atas situasi ini.


Yaitu Cecilia, yang telah tersenyum sangat lebar dengan mata yang berbinar. Bahkan air liur nampak hampir menetes dari bibirnya.


"Awawawawaw! Uang! Brian! Lihat semua hadiah ini!"


"Kalau begitu, kami nantikan kerja kalian berikutnya." ucap ketua Guild itu sebelum pergi meninggalkan bilik ini.


"Terimakasih banya.... Eh?"


Di hadapannya, Brian melihat sosok Adelle yang mengambil 10 koin emas yang telah tertumpuk rapi pada meja itu. Lalu memasukkannya dalam saku seragamnya sendiri.


"Oi. Apa yang kau lakukan? Ku pikir hutang kita sudah lunas?"


Dengan senyuman yang lebar, Adelle pun mendekatkan wajahnya sembari berbisik.


"Aku tahu kalian baru saja meneguk 10 tetes lebih darah terkutuk itu, dan jika kalian ingin aku diam...."


Tak ada celah maupun kesempatan untuk melawan situasi ini. Lagipula, berkat gadis pegawai Guild ini juga Brian dan Cecilia bisa bertahan selama ini.


Yang membuat Brian hanya bisa menghela nafasnya, sambil membalas.


"Terserah lah, selama kau tetap tutup mulut."


"Hah?! Apa-apaan itu?! Kenapa wanita sialan ini mengambil ua...."

__ADS_1


"Pajak. Diam dan ayo pesan sesuatu untuk dimakan." balas Brian yang dengan segera menyeret Cecilia menjauh.


Sedangkan Hella sendiri, meraih seluruh koin emas itu dan memasukkannya pada tas kulitnya. Sebelum menyusul Brian dan juga Cecilia di kejauhan.


__ADS_2