Cursed Throne

Cursed Throne
Chapter 22 - Panggilan


__ADS_3

"Fuuh, syukurlah gadis itu mudah untuk di ajak bernegosiasi." ujar Brian. Ia terlihat menggerakkan lengan kirinya kesana kemari untuk memastikannya sudah sembuh.


"Manusia benar-benar bodoh...." balas Cecilia.


"Kau tahu aku juga manusia kan?"


"Bu-bukan seperti itu maksudku! Tapi...."


Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke toko pandai besi East Forgery milik Jareth. Putra dari pasangan tua di desa itu.


Jaraknya memang sedikit jauh dari lokasi Guild. Lebih tepatnya di pinggiran kota yang tak begitu padat penduduk.


Dan dalam perjalanan itu, tiba-tiba....


'Swuuusshhh!!!'


Kegelapan kembali menyelimuti sekeliling Brian, dan hanya dia sendiri. Sebuah pemandangan yang pernah dilihatnya sebelumnya.


"Hah, aku sudah bertanya-tanya kapan kau akan muncul kembali." ujar Brian yang telah memahami apa yang terjadi.


Saat ini, Brian kembali terpanggil dalam sebuah tempat penuh kegelapan dimana sosok misterius itu berada.


Benar saja, tak berselang lama, sosok misterius itu menampakkan dirinya.


Meskipun masih dalam kondisi yang terdistorsi. Bentuk tubuh dan lengannya memang dapat terlihat. Tapi semuanya terlihat buram.


"Aku tak menyangka kau bisa menjadi seserakah itu namun tetap selamat. Manusia cukup menarik juga." ucap sosok misterius itu.


"Serakah? Aah, benar juga. Kau hanya ingin mata itu selamat kan? Itu membuatku berfikir, kenapa kau menemui ku? Bukankah mata itu ada di tubuh Cecilia?" tanya Brian kembali.


Sekalipun dalam kondisi terdistorsi dan juga buram, Brian dapat melihat dengan jelas senyuman tipis di sosok misterius itu.


"Sekalipun aku tak suka manusia, aku lebih tak suka keturunan dari Aerdryne."


"Hah? Siapa itu? Orang tua Cecilia?"


Sosok misterius itu menganggukkan kepalanya sembari menjawab.


"Juga seluruh Elf yang lain."


Seketika jantung Brian terhenti untuk sesaat. Dengan informasi ini, serta kemampuan sosok misterius ini untuk membalikkan waktu, Brian akhirnya paham sepenuhnya.


"Ka-kau.... Jangan katakan kau...."


"Dulu orang menyebutku sebagai dewa takdir, Orlog. Yah, itu telah lama sekali."


Semua kecurigaan Brian akhirnya terjawab. Kekuatan yang baru saja dirasakannya kemarin itu tidak seharusnya dimiliki oleh orang biasa.


Tapi sebelum Brian sempat berkata-kata, sosok misterius bernama Orlog itu kembali melanjutkan pembicaraannya.

__ADS_1


"*Seluruh dewa yang lain seharusnya juga telah musnah sama seperti ku. Tapi entah kenapa aku terbangun tiba-tiba....


Jika melihat masa lalu, mata ku juga selalu berpindah tangan sebagai barang antik para bangsawan manusia. Hmm? Apakah itu karena darah iblis itu*?" tanya Orlog pada dirinya sendiri.


Ia terlihat menggunakan tangan kanannya sebagai tumpuan dagunya sembari berfikir keras.


Tubuh Brian membeku di tempat. Ia sama sekali tak menyangka akan berhadapan dengan sosok sepenting ini.


"Benar juga. Nampaknya darah iblis itu yang membuatku terbangun. Apakah artinya selama ini aku tak pernah mati?" tanya Orlog kembali pada dirinya sendiri.


"Aah, aku.... Aku...."


Tiba-tiba Orlog memukul pundak Brian dengan kedua tangannya. Membuat pria itu terkejut setengah mati.


"*Tenang saja! Aku hanya minta kalian untuk menjaga mata ku, jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Siapapun itu, dan jangan sampai ada yang tahu.


Jika terdesak, kau bisa menghancurkannya. Itu benar, lebih baik seperti itu*. Kalau begitu, sampai jumpa lagi." jelas Orlog panjang lebar sebelum melambaikan tangannya.


Seluruh kegelapan yang menyelimuti sekeliling tubuh Brian segera menghilang.


Mengembalikannya di tengah jalanan kota Mapleford yang cukup ramai ini.


"Bri... Reux? Kau dengar? Aku tanya padamu apakah kau lapar, kenapa diam saja?" tanya Cecilia yang kini telah menghadang jalan Brian.


Brian hanya terdiam sambil menatap mata kanan Cecilia. Sebuah mata yang sama sekali tak terlihat perbedaannya dengan mata kiri Cecilia. Hampir tak ada, kecuali memiliki warna kemerahan yang sedikit lebih cerah.


Itu pun hanya bisa terlihat jika diperhatikan dengan seksama. Jika tidak, mungkin takkan ada yang menyadarinya.


"Apakah kau masih bisa melihat sedikit di masa depan?" bisik Brian dengan suara yang lirih.


Cecilia segera menoleh ke arah samping. Memfokuskan pikirannya untuk melihat.


Kali ini, Brian dapat melihat mata kanan Cecilia mulai sedikit bercahaya.


"Akan ada orang terpeleset di sana beberapa saat lagi." bisik Cecilia sambil menunjukkan jarinya ke arah halaman suatu toko.


Brian segera memperhatikan tepat dimana Cecilia menunjuknya.


Dan tak berselang lama, terlihat sosok seorang pemuda yang berjalan keluar dari toko. Ia membawa dua tumpuk box kayu yang terlihat begitu berat.


Bahkan pemuda itu terlihat sangat kesulitan untuk berjalan dengan dua beban berat itu. Pada saat Ia berjalan beberapa langkah....


'Srruutt!! Braaakkk!!!'


Pemuda itu terjatuh. Box kayu yang dibawa olehnya hancur, dengan banyak lempeng besi di dalamnya yang berceceran.


"Bagus lah, kabar-kabar jika akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada kita." ucap Brian yang segera membalikkan badannya dan berjalan menjauh.


"Tentu saja." balas Cecilia dengan senyuman yang ramah. Cecilia bahkan berjalan sambil melompat-lompat ringan. Menunjukkan suasana hatinya yang sedang baik-baiknya.

__ADS_1


'Meski begitu, dewa takdir ya? Hah.... Aku tak percaya akhirnya aku terseret dalam situasi merepotkan seperti ini. Tak bisa kah aku hidup damai saja?' keluh Brian dalam hatinya.


Keduanya pun memutuskan untuk makan sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke toko East Forgery milik Jareth itu.


......***......


...East Forgery...


'Kliiing!'


Suara dari lonceng yang terpasang pada pintu itu terdengar cukup nyaring saat Brian membukanya.


Memperlihatkan toko persenjataan dan perlengkapan lain yang cukup lengkap juga rapi. Rak-rak terlihat berjejeran dengan berbagai jenis persenjataan.


Di sudut ruangan, terlihat sosok seorang pria dengan rambut kecoklatan muncul dari balik pintu. Ia masih mengenakan kaos tanpa lengan dengan handuk di lehernya.


"Aah, pelanggan. Silakan melihat-lihat terlebih dahulu." ucap pemilik toko bernama Jareth itu. Ia segera meletakkan palu besi di mejanya dan membersihkan badannya dari keringan.


Dengan cepat Ia kembali ke dalam dan mengganti pakaiannya. Sebuah baju rapi dengan kancing membuat kesannya berbeda jauh dibanding sebelumnya.


"Selamat datang. Ada yang bisa ku bantu?" ucap Jareth dengan ramah.


Dengan wajah yang cukup rupawan serta banyak bekas luka di tubuhnya, terutama tangannya, Brian langsung bisa tahu. Bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang pekerja keras.


"Wuah! Lihat! Busur besi! Dan panah ini juga...."


Di kejauhan terlihat sosok Cecilia yang mulai menemukan apa yang diinginkannya.


"Kira-kira berapa untuk busur besi itu? Juga dengan sekitar 50 anak panah?" tanya Brian singkat.


"Pilihan yang sangat bagus, Nona. Busur besi ini kokoh namun ringan. Dengan desain yang ramping serta bilah tajam di kedua ujungnya membuat kemampuan bertarung di jarak jauh maupun dekat sangat terjamin." jelas Jareth.


Penjelasannya sangat menarik dan juga cukup singkat. Tak hanya itu sikapnya yang ramah juga menjadi poin penjualan yang cukup penting.


"Sedangkan untuk harganya, busur besi ini bisa Tuan dapatkan cukup dengan 25 koin perak. Bonus 10 anak panah. Untuk anak panahnya sendiri 5 koin perak per 25 biji." jelas Jareth, kini menghadap ke arah Brian.


"Tambah ini, ku harap 40 koin perak cukup." ucap Brian sembari mengangkat sebuah pedang satu tangan di sampingnya.


Pedang satu tangan itu cukup sederhana. Dengan bahan utama besi, bilah pedang itu terlihat begitu tajam. Setidaknya, tak berkarat dan tak setumpul pedangnya saat ini.


"Uuh.... Seharusnya semuanya senilai 52 koin perak tapi.... Baiklah. Aku akan menjualnya seharga 42 koin perak."


"Setuju." balas Brian singkat tanpa banyak bernegosiasi.


Dengan segera, Ia mengambil kantung koinnya dan meletakkannya semua di atas tangan Jareth.


"Di dalamnya ada 43 koin perak dan beberapa puluh koin perunggu. Ambil saja. Dan juga...."


Senyuman yang lebar terlihat menghiasi wajah Jareth. Tapi semua itu segera luntur sesaat setelah Brian melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Sebelumnya aku minta maaf, ayahmu telah tiada. Aku telah berusaha menyelamatkan semuanya, tapi.... Begitu lah."


__ADS_2