Dear My Idol

Dear My Idol
Prolog


__ADS_3

Seorang gadis tengah berjalan santai sembari berdendang kecil. Hari ini, dia sangat gembira karena seluruh bunganya habis terjual. Sepertinya, dia akan makan enak malam ini. Begitulah pikirnya.


Dor


Suara tembakan jelas terdengar. Gadis itu menghentikan langkahnya. Terdiam sejenak dan mencari sumber suara. Kakinya kembali melangkah guna menghampiri sumber suara.


Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seorang pria berjas hitam sedang ditodong pistol. Tanpa banyak basa-basi, gadis itu segera mendorong tubuh pria berjas hitam tersebut berniat untuk menyelamatkannya. Malangnya, dia malah tergores peluru itu. Gadis itupun pingsan.


Sang pria membelalakkan matanya kaget. Si penembak itu mendecih. Tak lama kemudian, bala bantuan datang. Si penembak tersebut langsung kabur.


Seorang laki-laki yang diketahui sebagai bawahan sekaligus kepercayaan pria berjas hitam itupun berlari. "Are you okey?" tanyanya.


Aaron, pria itu menatap tajam bawahan kepercayaan itu. "You can see, right?" jawabnya dengan pertanyaan sarkas.


Haidar tertawa kecil. "Kalah sama pistol?" tanyanya mengejek sang bos.


"Berisik." desis Aaron. "Bawa cewek ini ke rumah sakit," ujarnya sembari menunjuk Annora. Haidar mengangguk, dia lalu membopong tubuh kecil Annora. Aaron sendiri sudah pergi ke mobilnya.


...****************...

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Haidar sambil melirik Annora dari spion mobil.


Aaron menatapnya sebentar. "Lo tanya gue?"


Haidar memutar bola matanya jengah. "Enggak, gue tanya spion. Ya iyalah, pikirmu?" ujar Haidar dengan nada jengkel.


"Gue gak tau, lo tanya aja sama orangnya nanti kalo dia udah sadar. Yang pasti, dia udah nyelametin nyawa gue tadi," jelas Aaron, Haidar menganggukkan kepalanya mengerti.


Mereka sudah sampai di rumah sakit. Singkat cerita, Annora diobati. Dengan malas Aaron menunggu. Jika bukan karena reputasinya, maka dia tak akan mau menunggu.


"Keluarga pasien atas nama Annora," panggil dokter tersebut.


Aaron mengangkat sebelah alisnya, melirik kesana kemari guja memastikan. "Saya," ujarnya kemudian. Dokter itu mengangguk dan menjelaskan kondisi Annora padanya. Dia, tak tau persis. Tapi intinya, Annora hanya luka ringan dan sebentar lagi akan sadar.


Annora mengerjabkan matanya, memandang sekeliling dengan sayup-sayup. "Ughh, dimana?" tanyanya saat melihat ruangan asing.


"Anda sudah sadar?" tanya Aaron ramah, Annora menolehkan wajahnya kearah Aaron. Kedua irisnya membulat sempurna. Bagaimana tidak, itu adalah Aaron Rama Erlangga, idolanya, si CEO yang serba bisa. "Saya mengucapkan terimakasih kepada Anda karena telah menyelamatkan saya-"


Ucapan Aaron terpotong karena Annora pingsan secara tiba-tiba. Aaron memutar bola matanya malas. "Dia gak mungkin mati karena liat wajah ganteng gue 'kan?" tanyanya narsis pada diri sendiri.

__ADS_1


...****************...


Annora bangun dari pingsannya. Dia menepuk pelan pipinya. "Ish, harusnya lo gak histeris apalagi pingsan kaya tadi, Ra," monolognya. Annora melihat sekeliling, tatapan terhenti di laci. Dia lalu mengambil secarik kertas dan membacanya.


^^^Saya, Aaron Rama Erlangga^^^


^^^Terimakasih karena telah menyelamatkan saya dan maaf karena tidak bisa menemani Anda. Jika Anda ingin meminta pertanggungjawaban atau semacamnya. Anda bisa menghubungi nomor manajer saya. 085xxxxxxxxx^^^


Annora menjerit dalam hati. Entah mimpi apa dia semalam sampai bisa bertemu dengan Aaron Rama Erlangga.


"OMG ...!! Aaron, Dek Ra meleleh ..." ujarnya sambil berteriak. Dia langsung menutup mulutnya ketika menyadari bahwa ia tidak lagi ada di rumahnya melainkan rumah sakit.


...****************...


Annora menghela nafasnya panjang. Hari ini, mungkin dia gagal untuk makan enak karena ia harus membayar uang rumah sakit. Annora sekarang sedang berdiri di depan petugas administrasi.


"Atas nama Annora, ya?" tanya petugas itu.


Annora lantas mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Pengobatan Anda sudah dibayar oleh orang yang membawa Anda kemari," ujar petugas tersebut. Annora mengangguk senang, dia lalu mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya pergi.


Pertemuan tak disengaja yang akan membawa kepada kisah yang disengaja.


__ADS_2