Dear My Idol

Dear My Idol
Delphinium


__ADS_3

Annora sekarang ini sedang berada di depan pintu kamar Aaron, atau lebih tepatnya ruang kerja. Dia bersama dengan Aluna, putrinya. Setelah perayaan kecil-kecilan kemarin, Aluna langsung mendatangi kamarnya pagi-pagi dan mengatakan keinginannya.


Sebenarnya, dia malas. Mengingat, harus bertemu dan bersama Aaron. Tapi, karena sudah janji, ya, sudah, mau bagaimana lagi. Lagipula, ini mungkin akan menjadi langkah awalnya untuk mendekati sang pemimpin Erlangga itu.


Salah seorang pengawal keluar. "Tuan bilang, dia sedang tidak ingin bertemu siapapun," ucap pengawal itu.


"Sampaikan pada tuanmu jika putri kecilnya sedang ingin bertemu dengan ayahnya," ujar Annora, pengawal itu mengangguk, dia lalu pergi masuk.


Aaron menghela nafasnya. "Bukankah sudah kubilang, aku tidak ingin diganggu!" seru Aaron dengan geramnya.


Pengawal itu menundukkan kepalanya. "Tapi, nyonya bilang, putri kecilnya- maksud saya, Putri Aluna ingin bertemu Anda, Tuan," ujar pengawal itu.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Biarkan mereka masuk," titah Aaron kemudian.


Annora dan Aluna kemudian masuk. Annora hanya diam menemani Aluna. Gadis cilik itu yang mengungkapkan keinginannya.


"Ayah, bisakah Ayah meluangkan waktu untukku? Sebentar, saja, sekarang ini aku ingin Ayah dan Ibu menemaniku untuk liburan," pinta Aluna.


Aaron hanya diam, menimang-nimang permintaan Aluna. Annora gemas karena Aaron tak kunjung menjawab permintaan Aluna.


"Jika kau tidak ingin ikut, ya sudah, biar aku dan Aluna saja. Lagian, aku akan dengan sedang hati mewakili ketidakhadiran mu," ujar Annora.


Aaron langsung bangkit berdiri. "Baik, aku ikut," putusnya kemudian.


...****************...


Annora tersenyum tipis melihat raut bahagia Aluna. "Apakah kau senang, Aluna?" tanya Annora


Aluna menganggukkan kepalanya semangat. "Tentu saja, Bu," jawab Aluna. "Ibu, bagaimana jika setelah makan, kita mengunjungi aquarium besar, kudengar, sekarang ini sedang ada pertunjukan putri duyung," lanjutnya.


Annora mengangguk. "Tentu saja, apapun untukmu, Sayang." Tatapan Annora terpaku pada bunga yang dibawa oleh Aluna. "Untuk apa kau membawa bunga itu, Aluna?" tanya Annora


"Ah, bunga ini, ya. Ini namanya bunga delphinium, bunga yang mewakili tentang semangat, berfokus pada keceriaan dan kegembiraan. Aku membawa ini karena memang aku sedang bersemangat, Bu," jelas Aluna.


Nama Delphinium diambil dari bahasa Yunani yang berarti 'dolphin' atau lumba-lumba. Bila diperhatikan saksama, bentuk sekuntum Delphinium memang menyerupai lumba-lumba. Delphinium mewakili kepribadian seseorang yang enerjik, berpikiran terbuka, penebar optimisme, dan sangat menikmati tiap kelok kehidupan.


"Wahh, kau sekarang jadi sangat pintar, ya, Aluna."


"Tentu saja, siapa dulu, dongg, Aluna, gitu."


...****************...


Rumah makan yang ramai. Untung saja menunya masih ada, meski kalaupun tidak ada, pemilik restoran itu akan memerintahkan kokinya guna membuat makanan yang enak dan spesial untuk mereka. Mengingat, tamu mereka ini adalah Erlangga.

__ADS_1


Annora menyuap potongan daging sapi itu ke mulut Aluna. Mereka berdua tersenyum bahagia.


Aluna melirik kearah sang ayah, irisnya kemudian menatap sang ibu. "Ibu juga harus menyuapi Ayah," ujar Aluna.


Annora tersenyum. "Ayahmu sudah besar, dia bisa makan sendiri," tutur Annora.


Aluna menggembungkan pipinya sebelah. "Ibu ...."


Annora menghela nafasnya. Dia lalu tersenyum simpul. "Baik, Tuan Putri," jawabnya kemudian. Annora memotong daging itu, menyodorkannya ke dalam kulit Aaron.


"Aaaa ...."


Aaron mengunyah daging itu dengan susah payah, karena memang Annora memberinya potongan daging yang besar.


Aluna tertawa melihat ekspresi wajah ayahnya itu. "Ibu, lihatlah ekspresi Ayah," ujar Aluna.


Annora mengangguk. "Iya, Ayahmu terlihat konyol, Aluna," setujunya.


...****************...


Tempat kedua yang mereka kunjungi adalah jembatan gantung yang alasnya terbuat dari kaca. Aluna mengandeng tangan ibunya dengan tegang. Dirinya takut.


Annora mengelus rambut putrinya itu. "Tak apa, kaca ini adalah kaca yang kuat, jadi kau tidak perlu takut. Lagipula, Ayahmu bisa menjaminnya jika ini aman, bukan begitu, Aaron?" tanya Annora sembari menolehkan kepalanya menatap sang suami.


Aaron menganggukkan kepalanya kaku. Dirinya juga takut ketinggian. Annora menghela nafasnya, rupanya, ayah dan anak itu sama saja.


...****************...


Sherly mengernyitkan keningnya ketika melihat Belinda membawa sepasang sepatu berwarna biru dongker seperti yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Meski konyol, tapi Sherly yakin jika orang suruhan Adelia itu adalah Belinda.


...****************...


Sesi foto. Setelah di jembatan gantung, Aluna meminta untuk mengabadikan momen ini. Sekarang ini, mereka berada di studio foto. Mereka ber-swafoto bertiga.


Aluna kemudian mendekati fotografer itu. Membisikkan sesuatu padanya. Aluna menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Ayah, Ibu, fotografer ini akan mengarahkan kalian, jika sudah pas, baru aku kesana," tutur Aluna, Aaron dan Annora hanya bisa pasrah.


Annora merutuki fotografer itu. Hey, posisinya dengan Aaron menurutnya terlalu intim, sebenarnya, tidak juga, sih. Tapi, tetap saja.


Ckrek


Nah, kan, sudah Annora duga. Ini pasti ide licik dari Aluna. Hahh, Aluna memang sangat mewarisi gen ayahnya, ya. Annora hanya bisa berharap agar Aluna tidak menjadi anak brengs*k seperti Aaron.

__ADS_1


Aaron tersenyum puas melihat kecerdikan Aluna. Ah, putrinya itu sangat peka, ya. Itu baru putriku. -batin Aaron bangga.


Aluna kemudian duduk diantara mereka, Aaron dan Annora mencium pipinya di sisi kanan dan kiri. Dan ....


Ckrekk


Setelah selesai, Aluna menatap semua foto itu. Dia tersenyum senang. "Terimakasih untuk hari ini, Ayah, Ibu," ujar Aluna, Aaron dan Annora hanya tersenyum menanggapinya.


"Ah, sekarang, ayo kita ke tempat yang ingin Ibu kunjungi," ujar Aluna.


Annora mengernyitkan keningnya. "Untuk apa, Aluna, ini adalah hari ulang tahunmu, Sayang," tutur Annora lembut.


"Tak apa, Bu, aku yakin jika tempat yang ingin Ibu kunjungi itu pasti akan sangat indah."


Annora tersenyum. "Jika itu adalah keinginanmu, Ibu bisa apa?"


...****************...


Aluna menatap sekeliling dengan takjub. Taman bunga yang indah. Dia menoleh menatap ibunya.


"Ibu, disini indah," ujar Aluna.


Annora tertawa kecil. "Simpan rasa takjub mu itu, Aluna, karena diatas akan ada sesuatu yang lebih indah," sahut Annora.


Mereka berada di atas. Menikmati angin sepoi-sepoi dan juga jingganya senja yang ada. Aluna takjub dengan pemandangan yang tersaji.


"Kau benar, Bu, disini sangat indah," ujar Aluna membenarkan perkataan Annora.


"Tentu saja, ini adalah tempat favorit Ibu dengan nenekmu dulu," cerita Annora.


"Lalu, dimana nenek sekarang?"


"Nenekmu meninggal karena kecelakaan."


"Maaf"


Annora menggelengkan kepalanya pelan. "It's okey," jawab Annora.


...****************...


"Aku senang hati ini, Bu. Yah, meski harus sedikit kecewa karena salah baca dan ternyata aquarium nya tutup, tapi, tak apa. Karena yang terpenting, aku bisa liburan bareng sama Ayah dan Ibu," ujar Aluna.


Annora tersenyum simpul mendengarnya. Dia mengelus kepala Aluna agar gadis itu tertidur, karena memang dari tadi, Aluna belum tidur dan juga beberapa kali sempat menguap.

__ADS_1


Aaron menyenderkan kepalanya, berpura-pura tidur di pundak Annora. Annora mencoba membangunkan Aaron, tapi dia takut jika Aluna juga ikut terbangun. Alhasil, dia membiarkan Aaron tertidur di pundaknya.


Aku berharap waktu berhenti sebentar, bolehkah jika aku egois, karena aku masih ingin menikmati ini sedikit lebih lama lagi. -batin Aaron.


__ADS_2