Dear My Idol

Dear My Idol
Kamera


__ADS_3

Annora menghela nafasnya panjang. Dia ingin menyerah. Ini terlalu sulit baginya. Hey, dia orang awam, ia mana tau seluk-beluk tentang keluarga besar Erlangga ini. Apapun yang terlalu itu tidak baik. Seperti pernikahannya dengan Aaron yang terkesan terlalu cepat.


Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok pria tampan nan penuh wibawa. Annora tak akan menyangkal bahwa Aaron itu tampan. Sayangnya dia sedikit brengs*k.


Aaron berjalan menuju Annora, dia menarik tangan gadis itu. Annora hanya pasrah, dia tak ingin tangannya sakit hanya karena ini.


Aaron membawanya keluar dari kamar, dia diam. Annora melirik Aaron sekilas. "Ada apa kau menyeret ku keluar?" tanya Annora kemudian.


Aaron meliriknya sebentar. "Kau akan tau nanti," jawabnya singkat.


Arghh ...!! Dasar cowok kaya, apa-apa semaunya sendiri. -batin Annora jengkel.


Annora menatap heran kearah ruang kerja Aaron yang ada di mansion. Dia menolehkan kepalanya menatap Aaron. "Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Annora, Aaron hanya diam, dia lalu membawa masuk Annora ke dalam ruang kerjanya.


Aaron melepaskan cekalan nya dari tangan Annora. Dia kemudian duduk di kursi dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Annora menatap Aaron bingung, sebenarnya, apa maksudnya, sih? Begitulah kira-kira pikiran Annora.


Hening cukup lama, Annora masih berdiri di tempat semula. Irisnya meliar meneliti setiap sudut yang ada. Aaron melirik kearah Annora yang masih berdiri tegak itu.


"Kau tidak duduk?" tanya Aaron


Annora menatapnya. "Emang boleh?" Pertanyaan konyol itu keluar dari bibirnya.


Aaron menganggukkan kepalanya singkat. Annora segera duduk di sofa, dia diam sambil mengamati Aaron yang sedang bekerja. Cukup lama, hingga akhirnya si sulung Atmadja itu membuka mulutnya untuk bertanya.


"Sebenernya, aku disuruh ngapain, sih?" tanyanya pada Aaron


Aaron meliriknya sebentar. "Duduk tenang, tunggu aku kerja," jawabnya enteng.


"Aku juga punya kerjaan dan kepentingan sendiri, Aaron Rama Erlangga," ujar Annora, dirinya geram dengan Aaron yang memerintahnya sesuka hati. Pikirnya dia pengangguran apa? Ya, meskipun tidak semuanya salah, sih.


Aaron masih membolak-balik kertas laporannya itu. "Semua pekerjaanmu sudah ada yang handle, tenang saja," jawabnya tanpa menoleh ke arah Annora.


Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, itu adalah tugasku, bagaimana bisa kau melimpahkannya ke orang lain?" ujarnya tak setuju.


Aaron meletakkan kertasnya. Tangannya di silangkan dan menatap Annora dengan intens, kini fokusnya benar-benar kepada Annora, sang istri. "Aku hanya memintamu untuk duduk diam, Annora. Aku tidak meminta dirimu untuk melayaniku. Lagipula, apa susahnya, sih?"


Aaron kembali fokus dengan kertas-kertas nya itu. "Lagian, bukankah kau tadi hanya tiduran di sofa kamar? Memang apa bedanya jika di sini?" tanyanya lagi


Annora menghembuskan nafasnya. "Baik, jika itu maumu, akan aku turuti. Tapi masalahnya, sekarang ini aku sedang bosan. Kau mengerti 'kan arti bosan?"


"Lakukan apapun di ruang kerjaku ini, asal tidak menyentuh berkas-berkas ku," ujar Aaron. "Oh ya, jika kau ingin menonton TV, remote nya ada di depanmu," lanjutnya.


"Aku juga liat, kali," gumamnya dengan sebal. Annora itu tidak buta. Annora kemudian mengambil remote itu, menekan tombol power agar TV nya menyala.

__ADS_1


Annora memindah channel tersebut guna mencari channel yang menarik. Setelah cukup lama, Annora memutuskan untuk mematikan TV itu karena menurutnya tidak ada channel yang menarik. Annora melirik kearah Aaron, dia menggembungkan pipinya sebelah kesal.


Aaron menatapnya. "Apa?" tanyanya


Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak jadi," jawabnya. Annora berdiri, mendekati jendela yang ada di ruang kerja Aaron. Dia tersenyum senang, semuanya terlihat dari sini.


Aaron meliriknya sekilas. "Kudengar, kemarin kau pergi ke makam Jennie bersama Haikal, benar?" tanya Aaron tanpa melihat Annora.


Senyum Annora luntur, dia menghela nafasnya panjang. "Tau dari mana, kau?" tanyanya, tidak mungkin 'kan jika itu karena Haikal? Jika iya, maka ...(?).


"Bukan urusanmu aku tau dari mana, yang pasti apakah iya, Annora Sinta Az-Zahra?"


"Iya," jawab Annora tanpa menatap Aaron.


Aaron menghela nafasnya kasar. "Bukankah sudah ku bilang untuk tidak mengungkit soal Jennie?!" ucapnya dengan intonasi tinggi.


Annora membalikkan badannya, dirinya menunduk tak berani menatap Aaron.. "Aku hanya mengunjungi makamnya saja," gumamnya yang masih di dengar oleh Aaron.


"Tetap saja aku tidak suka."


Annora mengangkat kepalanya menatap Aaron. "Aku tau kau mencintainya dengan sangat." Annora menundukkan kepalanya. "Tapi ... aku juga ingin mengenalnya. Dia pasti sangat baik dan spesial 'kan, sampai-sampai orang sepertimu mencintainya, bahkan setelah kepergiannya," lirihnya kemudian.


Annora tau, Aaron mencintai Jennie. Terlepas dari berita kematian yang justru berasal dari keluarga Erlangga sendiri. Annora iri pada Jennie. Dia bisa dicintai dengan dalam bahkan oleh orang brengs*k seperti Aaron.


Tatapan Annora terpaku pada sebuah kamera yang ada di samping meja TV. Dia kemudian berjalan dan mengambil kamera itu.


"Aaron, apakah aku boleh menggunakan kamera ini?" tanya Annora tanpa menatap Aaron, dia masih sibuk membolak-balik melihat kamera itu.


"Terserah," jawab Aaron singkat.


Annora menghentikan aktivitas membolak-balik kamera, kepalanya menoleh menatap Aaron dengan sebal. "Boleh apa enggak?"


"Terserah"


Annora menghela nafasnya kasar. "Baik, berarti boleh," simpulnya kemudian. Dia tanpa sengaja menekan tombol tersebut.


Ckrekk


Annora kaget, dia kemudian mengambil foto yang keluar. Tawa kecil mengudara di ruang kerja milik Aaron itu. Setelah reda, dia baru teringat akan janjinya pada Aluna.


Annora berdiri dan menghampiri meja Aaron. "Aaron, berpose, lah, aku ingin mengambil gambar mu," ujar Annora.


Aaron meliriknya sekilas. "Tak mau," tolaknya cepat.

__ADS_1


Annora menggembungkan pipinya kesal. "Ayolah, aku ingin memberikan ini kepada Aluna," bujuk Annora.


"Aku mendapat laporan bahwa Aluna menjadi malas belajar karena mu, apakah itu benar?" tanya Aaron


Annora mendecakkan lidahnya kesal. "Hey, Aluna masih terlalu dini untuk belajar semua itu," ujar Annora.


"Tapi tetap saja, kau 'kan yang membuatnya malas belajar? Aluna itu-" ucapan Aaron terpotong.


"Aluna itu masih kecil. Dia harus menikmati masa kanak-kanaknya tanpa buku-buku tak berguna itu. Kau sadar, tidak, sih Aaron, semua buku itu harusnya dipahami oleh orang dewasa, bukan anak kecil sepertinya."


Annora menghela nafasnya. "Aluna bukan robot apalagi tahanan. Dia sangat diperbolehkan untuk bermain dan bahagia apalagi bebas. Kau, kau itu ayahnya, tidakkah kau paham itu?"


"Aku hanya tidak ingin anakku bodoh sepertimu," jawab Aaron.


"Tidak ada manusia yang bodoh. Sebodoh apapun dia, pasti memiliki sisi jenius. Lagian, aku hanya ingin Aluna memiliki masa kanak-kanak. Aku ingin dia memiliki bahan cerita yang menyenangkan. Jika saat dewasa dia sedih, setidaknya dia pernah diam-diam keluar kamar saat tidur siang. Tapi, aku yakin bahwa mereka tidak memberi Aluna waktu istirahat," oceh Annora panjang lebar.


Aaron hanya terdiam. "Kau, menyayangi Aluna?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Aaron.


"Pikir saja sendiri," jawab Annora dengan sarkas. "Sudah, berpose," perintahnya pada Aaron.


Aaron kemudian berpose dengan kedua tangan diletakkan di atas meja. Annora memulai mengambil gambarnya.


Ckrek


Ckrekk


Annora tersenyum, dia kemudian mengacungkan jempolnya. "Bagus," komentarnya. Annora masih berdiri di depan meja Aaron, membuat sang empu menatapnya penuh tanya. "Anu ... aku, minta kertas, bolpoin, sama amplop, boleh?"


Aaron kemudian memberinya tanpa mengatakan apapun. Annora tersenyum. "Terimakasih," ucapnya.


Annora kemudian menuliskan beberapa patah kalimat. Dia lalu melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop, tak lupa, dimasukkannya pula foto Aaron tadi. Dia tersenyum senang kala melihat amplop itu.


Annora kemudian berjalan kearah meja kerja milik Aaron. "Tolong minta seseorang buat anterin surat ini, dongg ..." pinta Annora.


Aaron meliriknya sebentar, dia kemudian menghubungi salah seorang pelayan. Ketukan pintu terdengar.


"Masuk," perintah Aaron, di sana sudah berdiri Haikal. Haikal berjalan mendekati mereka berdua, menunduk hormat sebelum akhirnya berbicara.


"Ada apa?" tanyanya


Aaron memberi kode Annora, Annora mengangguk singkat mengerti. Dia kemudian menatap Haikal dan menyodorkan kotak yang berisi amplop buatannya tadi. "Tolong berikan kepada Aluna, ya, pastikan hanya Aluna yang menerimanya," ujar Annora.


Haikal mengambil amplop itu dan mengangguk singkat. "Baik," jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2