
Annora berjalan menuju rumahnya. Di perjalanan, dia tak henti-hentinya tersenyum. Sepertinya, pertemuannya dengan Aaron itu membuatnya menjadi seperti orang gila.
Annora membuka pintu rumah dengan sedikit kasar. Membuat seseorang yang berada di dalam tersentak kaget.
"Haloo Adekku tersayang ...!! Gimana kabarmu hari ini? Adakah bahagia?" tanya Annora dengan anehnya.
Athaya memandang kakaknya itu dengan heran. "Kau kesambet di mana sampai-sampai jadi kaya orang gila?" tanyanya dengan nada tajam.
Annora melunturkan senyumannya. Dia menatap jengkel kearah adiknya itu. "Ish, gak bisa liat Kakaknya bahagia, ya?"
"Kenapa?"
Annora ingin sekali menjitak kepala adiknya itu jika dia tak mengingat adanya hubungan darah. Annora tersenyum mengingat kejadian siang menjelang sore tadi. "Coba tebak, Kakak habis ketemu siapa?" tanya Annora.
Athaya mengernyitkan keningnya heran. "Uang?" tebak nya
Annora menggeleng. "Jika uang, maka pertanyaan ku bukan siapa, tapi apa," koreksi gadis itu.
Athaya mencoba berfikir kembali. "Arghh ...!! Entahlah, aku nyerah."
Annora tertawa kecil melihat wajah emosi Athaya. "Aku bertemu ...."
Athaya menunggu dengan tidak sabarnya. "Cepetan, Kak," desaknya pada sang kakak.
"Aaron Rama Erlangga ...!! Gimana? Gokil, gak?"
Athaya menatap kakaknya datar. "Alah, kukira kau menemukan uang seratus milyar," ujar Athaya dengan nada kecewa.
Annora menggelengkan kepalanya. "Kalau pun iya, sudah pasti Kakak kembalikan, bukan?" tanyanya. Athaya menganggukkan kepalanya.
Annora tersenyum kecil, diusapnya kepala sang adik. "Tak perlu sedih," Annora kemudian menyodorkan sekotak martabak. "Nih, makan, Kakak ada rejeki lebih," lanjutnya.
Athaya menatap martabak itu dengan mata berbinar. "Makasii, Kak ..." ujarnya sebelum dia menyahut martabak itu. Annora menatap Athaya, membuat sang empu menoleh kearahnya. "Kenapa, Kak?" tanyanya kemudian.
Annora menggelengkan kepalanya. "Habis ini kamu kuliah, ya? Masalah biaya biar Kakak yang tanggung," ujar Annora.
Athaya menggelengkan kepalanya. "Gak usah, aku mau langsung kerja aja buat bantu Kakak. Lagian, aku juga gak minat kuliah," katanya.
"Kamu harus kuliah, Atha, kalo gak kuliah, mau jadi apa nanti?"
Athaya menghela nafasnya kasar. "Biaya orang kuliah itu bukan kaya anak SD. Kemarin aja pas SMA aku telat bayar terus," ujar Athaya mengungkit.
"Makannya, pilih kuliah yang negeri, jangan swasta, kalo bisa, dapetin beasiswa. Pikirmu Kakak anak konglomerat?"
Athaya menatap kesal kearah kakaknya. "Iya-iya," jawabnya.
Annora bangkit dari duduknya. "Habiskan, kau sudah sholat 'kan?" tanya Annora, Athaya menganggukkan kepalanya. "Bagus, Kakak akan ke kamar," lanjut Annora.
...****************...
__ADS_1
Annora merebahkan tubuhnya ke atas kasur miliknya. Senyumannya kembali mereka manakala mengingat kejadian tadi.
Annora mengambil buku diary miliknya. Membuka lembaran itu. Halaman pertama saja sudah tertempel banyak foto Aaron. Dia lalu menuliskan beberapa kata tentang harinya.
...****************...
Aaron menghela nafasnya panjang. Dia kemudian memanggil Haidar untuk datang ke ruangannya.
"Apa?" tanya Haidar to the poin.
Aaron ingin sekali memukul kepala Haidar dan memutar lehernya. Lupakan ide konyol itu. "Selidiki tentangnya." perintahnya pada Haidar.
Haidar mengernyitkan keningnya. "Kau tertarik padanya?" tanya Haidar penasaran.
Aaron mendecih. "Gue cuma takut kalo dia bikin reputasi gue jelek," jawab Aaron. Haidar mengangguk mengerti. "Gak ada media yang liput 'kan?" tanyanya kemudian
Haidar mengutak-utik iPad miliknya. "Ada, tapi pas lo nungguin cewek tadi. Err, semacam paparazi, lah," jawab Haidar sambil menunjukkan video dan artikel yang berkaitan.
Aaron memijat pangkal hidungnya. "Urus," perintahnya. Haidar mengangguk dan pergi.
Aaron mengambil sebuah foto dari laci kerja miliknya. Amarahnya seketika memuncak. Dia lalu melempar bingkai kecil itu hingga pecahannya berserakan.
Aaron mengambil nafasnya dalam-dalam dan mencoba untuk tenang. "Brengs*k," umpatnya kemudian.
...****************...
Annora menatap kumpulan preman yang tengah mengerubungi sosok nenek tua untuk dimintai uang. Annora mendecakkan lidahnya kesal, dia kemudian melangkahkan kakinya.
Semuanya menoleh, salah satu orang yang diketahui ketua itupun menatap remeh Annora. "Woah, ada gadis kecil, menurutmu, akan kita apakan dia?" tanyanya pada semua anggotanya.
"Dia lumayan cantik," komentar salah seorang diantara mereka yang membuat semuanya tertawa. Tanpa basa-basi, ketua mereka memerintahkan untuk menghajar Annora.
"Alamak, gue gak bisa silat," keluh Annora dengan nada lirih.
"KALIAN MAU CARI MATI, HAH?!" teriak seseorang di seberang sana. Annora tersenyum senang, ya, itu adiknya, Athaya. Athaya menatap mereka tajam, semuanya menunduk takut-takut. Annora mengernyitkan keningnya melihat reaksi para preman itu.
Athaya berjalan menuju mereka. "Apa gue pernah ngajarin kalian semua malak? Apalagi sama orang tua? And, nyakitin Kakak gue?" tanya Athaya dengan nada rendah. Tak ada jawaban, hal ini jelas membuat Athaya marah. "Jawab, hah!!"
Ketua preman itu tersentak. "Ma-maaf, Bos, ka-"
"Cih, sekali lagi gue liat lo semua kaya gini, siap-siap aja pesen kijing sama catering buat tahlilan," potong Athaya cepat.
Mereka semua mengangguk kaku. Athaya tersenyum puas. "Sebagai hukuman, lo semua harus minta maaf sama Nenek itu dan juga Kakak gue, terus bantu Kakak gue buat jualin bunga!" perintah Athaya. Singkat cerita, mereka semua mulai melakukan apa yang Athaya perintahkan.
Annora menyenggol lengan adik laki-lakinya itu. "Sejak kapan kau main sama mereka?" tanya Annora.
Athaya tersenyum kecil. "Kakak tenang saja, mereka akan ku didik dengan baik," jawabnya setengah berbisik. Annora memukul pelan pundak Athaya yang membuat sang empu mengaduh dan tertawa.
Annora melangkahkan kakinya menghampiri sang nenek itu. Annora berani bertaruh jika nenek yang ada di depannya itu merupakan orang berada meski pakaiannya terlihat sederhana.
__ADS_1
"Halo, Nek, Nenek tidak apa-apa 'kan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Annora sopan.
Nenek tersebut menggelengkan kepalanya. "Tidak, Cu, Nenek cuma mau bilang terimakasih karena udah nyelametin Nenek," jawab nenek itu.
Annora tersenyum kecil. "Ah, Nenek bisa aja," jawabnya kemudian. "Oh ya, Nenek mau kemana? Kok sendirian? Mau dianterin, gak? Tenang aja, Nek, Nora orangnya baik 'kok," ujar Annora tanpa henti.
Nenek itu tertawa pelan. Membuat Annora tertegun sejenak. Nenek itupun menghentikan tawanya dan tersenyum kecil menatap Annora. "Ah, aku sudah lama tak tertawa selepas ini. Kau, sangat baik, gadis kecil." Annora tersenyum senang.
"Siapa namamu tadi? Nora?" tanya nenek tersebut.
"Annora, Annora Sinta Az-Zahra Atmadja. Err, panjang memang," ujarnya disertai tawa kecil diakhir kalimatnya. Nenek itupun ikut tertawa. "Nenek sendiri?" tanya Annora kemudian.
"Adalah, kudengar, kau menjual bunga?"
Annora menganggukkan kepalanya semangat. "Ya, apakah Nenek akan beli? Saya bisa pilihkan," ujar Annora.
Nenek itu tersenyum lembut. "Waktuku hampir habis disini, aku harus pergi. Menurutmu, bunga apa yang digunakan agar seseorang selalu mengingat kita ataupun pertemuan kita?" tanyanya.
Annora terdiam sejenak. Dia kemudian tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi-gigi putihnya. "Forget me not," ujarnya.
Sang nenek menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Annora memejamkan matanya pelan, mencoba menghayati arti bunga tersebut.
"Forget me not, jangan lupakan aku. Bunga forget me not berasal dari genus Myosotis dari keluarga Boraginaceae. Bunga forget me not ini berwarna biru dengan bentuk yang yang manis, ada juga yang berwarna putih dan pink. Bunga forget me not merupakan tanaman kebun yang indah dan sering di jadikan lambang kesetiaan."
"Sesuai dengan namanya, bunga tersebut bermakna agar orang yang kita cintai tak melupakan kita."
"Ibu pernah bercerita tentang bunga ini. Dulu, ketika Tuhan baru menciptakan alam semesta ini dan tiba waktunya Tuhan menghiasi dengan berbagai tanaman bunga yang sangat indah dan berbagai macam."
"Hingga waktunya menamai bunga yang tadi sudah Tuhan ciptakan, satu per satu bunga dinamai: mulai dari bunga mawar dinamai rose, bakung dinamai lily, tulip, kemudian magnolia, dilanjutkan dengan bunga frangipani, bunga poppy, pansy, bunga melati alias jasmine, bunga lavender, bunga geranium, dan bunga aster."
"Mereka sangat senang dengan nama-nama mereka tadi, lalu ada satu bunga kecil yang indah berada diantara semak-semak dibawah bunga mawar yang belum dipanggil namanya oleh Tuhan."
"Maka bunga yang sudah dinamai tadi berseru-seru memanggil Tuhan dan berkata: 'forget me not, my lord! Forget me not!' lalu Tuhan tersenyum sambil memandang mereka dan berkata: 'Then shall it be your name!'."
"Maka, bunga kecil, indah nan mempesona tadi dinamai bunga forget me not. Dimana arti dari bunga tersebut adalah Tuhan yang Maha Esa tak akan pernah sedetikpun melupakan makhluknya walaupun dia kecil dan tak terlihat oleh makhluk yang lain." jelas Annora panjang lebar, dia kemudian membuka matanya secara perlahan.
Nenek tersebut tersenyum. "Kau, hebat," pujinya pada Annora, sedangkan yang dipuji hanya tersenyum tipis. "Aku ingin itu, bunga forget me not," lanjutnya.
"Maaf, saya tidak menjual bunga itu. Nenek bisa membeli bunga itu di online shop atau toko bunga yang besar dan terkenal." ujar Annora dengan nada bersalah.
Nenek itu tersenyum tipis. "Tak apa, tapi aku harap, tanpa bunga itu, kau tidak akan melupakan pertemuan pertama kita. Terimakasih sudah menolong dan menghiburku," ujarnya sebelum akhirnya pergi.
Annora hanya menatap nenek itu dengan prihatin. Ketua preman itu menghampiri Annora. "Bu Bos, semuanya udah habis, izin pamit," ujarnya.
Annora menganggukkan kepalanya. "Eh, tunggu." Annora mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyodorkannya. "Nih, makasih, ya, udah bantu," ujarnya.
Ketua preman itu awalnya menolak, namun karena dipaksa Annora jadi mau tak mau dia menerimanya. "Terimakasih, Bu Bos."
Annora mengangguk mengiyakan. "Panggilin Athaya, ya," pintanya.
__ADS_1
"Tapi, Bu Bos, bos Athaya udah pergi dari tadi, kita semua gak tau dia ada di mana sekarang. Atau, mau kita cariin?" tawarnya.
Annora menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, sekali lagi, makasih, ya."