Dear My Idol

Dear My Idol
White Rose


__ADS_3

Hari ini adalah peringatan tepat tiga tahun kematian Jennie, Aaron tidak akan lupa itu, apalagi Annora sudah memperingatkan untuk mengunjungi mendiang istri pertamanya.


Saat ini, Aaron tengah menatap dalam diam Annora yang sedang memasak makanan untuk mereka berdua. Setelah sekian menit, Annora kemudian menyajikan makanan itu di depan Aaron. Mereka berdua lalu memakan makanan itu.


Aaron tau dia bukanlah pria peka, tapi saat ini, Aaron bisa merasakan jika Annora sedang tidak fokus hari ini. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, Aaron tak tau. Meski Aaron ingin bertanya, namun diurungkannya.


Tiga tahun kematian Jennie. Rasa bersalah tiba-tiba memenuhi relung hatinya. Annora merasa gagal karena sampai detik ini dia belum bisa mengungkap kasus ini. Padahal, dia sudah berjanji pada nenek, panglima Jevano, dan juga Haikal.


Sebenarnya, Annora juga tidak ingin mengungkap kasus kematian Jennie, mengingat, itu bukan urusannya. Akan tetapi, kematian Jennie berhasil membuatnya bersimpati.


Jennie adalah korban bagi kebusukan Erlangga. Semakin dekat dengan Erlangga, maka kau akan tau seberapa bahayanya mereka. Dia tidak ingin bernasib sama seperti istri pertama Aaron itu. Kalaupun iya, dia akan memastikan jika dirinyalah korban terakhir, karena dia tidak ingin perempuan lain yang mungkin akan menjadi istri Aaron mengalami hal yang sama.


Annora cukup kenal dengan Jennie, karena dia adalah istri Aaron, selain itu, dulu 'kan dia sangat menggemari pria itu. Jika mengingatnya, Annora jadi malu sendiri. Jennie terkenal akan kemurahan hatinya, dia selalu tersenyum, dan cantik. Tak ayal jika Aaron jatuh cinta padanya.


Annora menatap Aaron yang sedari tadi menatapnya. "Ada apa?" tanyanya kemudian


Aaron menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawab pria itu dengan singkat.


"Kau ... ikut mengunjungi Jennie?"


Aaron mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kenapa?" balasnya balik bertanya.


"Sebenarnya gak ada apa-apa, sih, tapi kalo emang kamu gak ikut, aku bisa minta tolong Haikal buat anterin," jelas Annora.


"Agak siangan, mungkin, kalo kerjaan ku udah selesai, nanti aku kabarin lagi," balas Aaron cepat.


Annora mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Aaron, tapi setelahnya, gadis itu memilih untuk tidak peduli.


...****************...


Ruangan gelap yang tadinya berisi tiga orang itu sudah bertambah dikarenakan kehadiran Annora. Ya, setelah beberapa bulan mereka tidak bertemu, akhirnya bisa kembali bertatap muka.


Haikal sendiri sudah menemukan dimana Daffa berada, hal atau langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah bagaimana caranya agar Adelia tidak menyadari hal tersebut.


Setelah itu, maka tugas Sherly adalah untuk membantu Daffa mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu silam. Lalu, tugas Felicia adalah untuk mengalihkan dan memberikan informasi kepada mereka tentang rencana Adelia selanjutnya.


"Gue udah tau dimana Daffa berada," ujar Haikal yang membuat seluruh mata menatapnya. "Tapi, gue masih bingung langkah apa yang diambil selanjutnya buat ngamanin Daffa," lanjutnya.


Semuanya terdiam, masing-masing dari mereka sibuk memikirkan rencana untuk itu. Hingga pada akhirnya, suara Annora terdengar. "Kembar," ujarnya, baik Haikal, Felicia, dan Sherly menatapnya dengan penuh tanya.


"Cari orang yang mukanya mirip Daffa, kita bayar dia buat jadi Daffa. Tapi harus ada jaminan kalo nyawanya selamat," lanjut Annora.


Haikal menganggukkan kepalanya mengerti. Berbeda dengan Felicia yang sepertinya kurang setuju. "Kayaknya, itu terlalu beresiko, deh, coba cari ide lain," tolaknya.


"Mustahil, waktunya mepet. Meskipun ini juga sulit, tapi masih bisa diusahain. Kalo mau yang gak beresiko, bunuh aja Adelia sama Belinda, tapi pastiin dulu Aaron gak dendam," kata Sherly, Felicia menghela nafasnya pasrah. Apa yang dikatakan Sherly memang ada benarnya.


Annora menatap semua orang yang ada di sana secara bergantian. "Jadi, gimana?" tanyanya


"Gak ada ide lain 'kan, ya udah," jawab Sherly.


Haikal menganggukkan kepalanya. Dia lalu menolehkan kepalanya menatap Annora. "Ada info apa?" tanyanya

__ADS_1


"Aaron bukan pembunuh Jennie," kata Annora, dia tidak akan bosan mengatakan hal itu, mengingat, itulah kebenarannya.


Haikal terkekeh geli mendengarnya, lelucon apa lagi ini. "Aaron? Aku tau kau adalah istrinya, tapi bukan berarti kau harus menutupi segala aib nya, Annora. Ayolah, bicara dengan jujur," ujar Haikal.


Annora menggelengkan kepalanya menatap Haikal. "Aku ngomong jujur, kok," sangkal Annora.


Haikal tentu saja tidak percaya. "Beritahu kita semua, apa yang menjadi dasar semua asumsi mu itu," kata Haikal.


Annora ingin menjawab, akan tetapi sering telpon berbunyi, seolah melarangnya untuk mengatakan hal ini pada Haikal. Annora memberi kode kepada semua untuk diam, dia menjawab panggilan yang ternyata dari Aaron.


Setelah beberapa detik, Annora mematikan ponselnya. Dia kembali fokus dengan perkataannya tadi. "Kau ingin tau apa yang membuatku yakin jika Aaron bukan pembunuhnya, cinta, itu yang buat yakin."


"Aaron juga manusia, meski sikapnya lebih ke iblis, sih, tapi 'kan tetep aja, dia masih punya hati dan bisa jatuh cinta."


Annora menatap Sherly. "Kalo lo nggak percaya, tanya aja sama Sherly. Sherly adalah satu-satunya orang yang paling deket sama Aaron. Selain selingkuhan, dia juga temen curhat." Sherly memutar bola matanya malas kala Annora mengungkit hal itu.


"Tanya sama dia, pas Aaron mabuk ataupun pelepasan, siapa nama perempuan yang disebutnya, pasti Jennie," lanjut Annora.


Gadis itu kemudian mengambil alat penyadap yang berada di tas selempang mininya. Dia lalu menaruh benda kecil itu di atas meja. "Ini yang aku dapet semalem, maaf kalo infonya gak terlalu penting. Aku ada janji, pamit dulu, ya."


Annora lalu berdiri dan buru-buru meninggalkan tempat itu. Haikal mengambil alat penyadap tersebut. Membolak-balik benda persegi kecil itu.


Felicia menatap Sherly. "Gue penasaran sama perkataan Annora tadi," tuturnya yang berhasil membuat Haikal dan Sherly menatapnya. "Emang, siapa nama yang disebut Aaron pas dia lagi mabuk?"


Tatapan Haikal dan Felicia menatap Sherly. "Lo berdua tanya gue?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri, Haikal dan Felicia tidak menjawab, tapi tatapan matanya seolah mengatakan 'iya'.


Sherly menghembuskan nafasnya. "Sebenernya, orang yang dipanggil Aaron itu cuma satu, yaitu Annora," katanya yang berhasil membuat baik Haikal maupun Felicia tercengang mendengarnya.


...****************...


Annora mendelik tajam kearah Aaron. "Berisik. Ayo, cepat," katanya, gadis itu langsung masuk mobil dan duduk di belakang.


"Depan," kata Aaron singkat, Annora mengernyitkan keningnya tak paham. "Duduk depan, Annora, aku bukan supir mu," lanjutnya.


Dengan sedikit malas, Annora keluar dan duduk di samping Aaron. "Puas?"


...****************...


Annora meletakkan bunga lili putih di atas makam Jennie setelah berdoa, dia lalu berjalan menjauh dengan langkah yang cukup cepat karena Aaron sudah menunggunya.


Aaron hanya diam, dia tidak berkata apa-apa meski Annora datang dengan terlambat. Pria itu hanya diam sembari melangkahkan kakinya menuju mobil. Annora pun ikut diam, dia juga bingung mau bilang apa.


Aaron mencoba menghidupkan kembali mesin mobilnya, namun lagi-lagi gagal. Annora melirik keadaannya. "Ada masalah?" tanyanya


"Mesinnya mati," jawab Aaron singkat, dia memejamkan matanya mencoba mengingat kapan terakhir kali dia membawa mobil hitam kesayangannya ini ke bengkel.


Pria itu kemudian membuka matanya, merogoh saku, dan mengambil ponsel pintar miliknya. Tangan pria itu menari dengan lihainya untuk mengetik sebuah pesan.


Setelah selesai, Aaron menatap Annora yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan khawatir meski tak ketara. "Kau tenang saja, aku sudah meminta montir untuk mengecek mobil ini," kata Aaron mencoba menenangkan hati istrinya itu, sedangkan Annora hanya mengangguk singkat.


Hening melanda, entah Annora yang terlalu menikmati suasana tenang ini atau memang Aaron yang mati topik.

__ADS_1


Setelah sekian detik hening melanda, akhirnya Aaron buka suara. "Kenapa kau sangat ingin ke makam Jennie?"


Annora menoleh mendengar pertanyaan Aaron. "Maksudmu?" balasnya balik bertanya.


Aaron berdehem kecil. "Bukankah kau yang mengajakku kemari, jadi ... aku hanya ingin tau saja alasan mu mengajakku kesini," jawab Aaron.


Annora terdiam sejenak, memikirkan perkataan yang akan diucapkannya pada Aaron. "Bagaimana perasaanmu saat mengunjunginya? Apakah kau merindukan kehadirannya?"


"Entahlah," jawab Aaron singkat, dia kemudian menatap Annora. "Kau sendiri?" tanyanya balik.


"Sama sepertimu. Aaron, menurutmu, Jennie itu orangnya seperti apa?"


"Dia ... baik, sangat baik, cantik, dan juga ... lembut," kata Aaron sembari mengingat Jennie.


"Apakah kau mencintai Jennie?" Pertanyaan konyol itu lolos dari bibir Annora, membuat Aaron menatapnya heran.


"Apa maksudmu?"


"Jika memang kau mencintai Jennie, kenapa kau tidak mencari tau tentang kematiannya. Bukankah kau bilang jika itu bukanlah kesalahanmu? Kau juga bilang jika saat itu keadaan Erlangga sedang kacau, jadi kau melampiaskan itu pada Belinda."


"Saat ini, Erlangga baik-baik saja, kau tidak ingin membuka kasusnya?" imbuh Annora


Aaron terdiam. "Tidak, aku tidak mungkin melakukan hal itu. Meski aku menyayangkan kematiannya, tapi aku tidak akan membuka kasus itu," tolaknya.


"Why?"


"Karena sekalipun aku berusaha membuka kasus itu, dia tidak akan hidup kembali."


"Berarti kau belum benar-benar mencintai Jennie."


"Bagaimana bisa?"


"Tentu saja, kau tidak merasa marah pada orang yang telah menyakiti kekasihmu."


Apa yang dikatakan Annora adalah sebuah kebenaran dan Aaron mengetahui itu. Pada akhirnya, dia tidak akan pernah tau apa itu cinta. Hidupnya hanya tentang pencapaian yang tidak boleh gagal.


Suara mobil terdengar, mungkin itu adalah montir yang di panggil Aaron. Aaron keluar, sedangkan Annora tetap diam di dalam mobil hingga Aaron menjemputnya dan menyuruhnya untuk keluar.


"Ada apa?" tanya Annora


Aaron menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, sebaiknya kita pulang menggunakan mobil yang dibawa montir itu," kata Aaron, Annora menatap mobil yang dimaksud oleh suaminya itu. Dia hanya ikut ketika Aaron menarik tangannya.


Saat Annora ingin masuk mobil, suara anak kecil terdengar. Annora membalikkan badannya dan berjongkok menyamakan tingginya pada anak laki-laki itu.


"Ada apa, Adik kecil?" tanya Annora dengan lembut.


Anak laki-laki itu menyodorkannya sebuah bunga mawar putih. "Tolong beli bunga ini, Kak," pintanya.


Annora tersenyum tipis, dia kemudian membuka tasnya dan memberikan beberapa uang. Anak kecil itu menatapnya tak percaya.


"Ini kebanyakan, Kak," katanya sambil mengembalikan uang yang lebih.

__ADS_1


Annora menggelengkan kepalanya. "Sisa dari uang itu adalah untukmu karena telah membuatku senang," ujar Annora, gadis itu lalu berdiri. "Kakak pergi dulu, ya," pamitnya pada anak laki-laki itu.


__ADS_2