Dear My Idol

Dear My Idol
Aster


__ADS_3

Athaya menghentikan motornya di depan mansion Erlangga. Dia berdecak kagum melihat betapa besar dan mewahnya mansion itu.


Annora turun dari motor Athaya. "Mampir?" tawar Annora, Athaya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


Athaya duduk di ruang tamu, sedangkan Annora masuk ke dalam. Entah apa yang akan di lakukan oleh kakaknya itu.


Felicia yang memang sedang lewat itupun melihat Annora. Tanpa banyak membuang waktu, dia segera berlari dan memeluk tubuh Annora. Annora terkejut tentu saja, tapi dia kemudian mengelus rambut panjang yang sedikit ikal milik Felicia.


"Syukurlah ... syukurlah Anda sudah kembali, saya sangat senang sekali, Nyonya," ujar Felicia. "Apakah Anda terluka, Nyonya? Anda baik-baik saja 'kan?"


Annora tersenyum tipis mendengar pertanyaan Felicia seolah mengatakan bahwa dia sedang baik. "Iya, aku tak terluka," jawab Annora.


"Baiklah, kau siapkan makanan dan minuman untuk menjamu adekku, ya, di depan," perintah Annora, Felicia tersenyum dan menganggukkan kepalanya semangat. "Terimakasih," kata Annora kemudian.


"Itu memang tugas saja, Nyonya."


Annora kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Felicia memanggilnya, dia, tau apa yang terjadi di dalam. Tapi ... dirinya tak tega untuk memberitahukannya kepada Annora.


"Nyonya ..." panggil Felicia dengan nada ragu, Annora membalikkan tubuhnya, menatapnya penuh tanya. "Anu ... lebih baik Nyonya jangan ke kamar dulu," katanya.


"Bukan maksud saya untuk lancang, tapi ..." Felicia terdiam, dia tak melanjutkan perkataannya.


Annora mengernyitkan keningnya heran. "Tapi ....?"


Felicia mengutuk otaknya yang mendadak buntu. "Maafkan kelancangan saya, Nyonya. Saya akan segera membawakan makanan dan minuman untuk adek Anda, permisi," ujarnya kemudian. Dia langsung pergi berlalu.


Annora mengangkat kedua bahunya. Dia lalu berjalan menuju ke kamarnya. Saat sampai di depan kamar, dirinya dihadang oleh Haikal. Dapat Annora lihat raut wajah terkejut Haikal, tapi juga ada raut bahagia. Entahlah.


"Maaf Nyonya, Anda tidak diperkenankan untuk masuk," kata Haikal.


Annora menatap tajam Haikal. "Siapa kau yang berani menghalangi jalanku untuk masuk ke kamarku sendiri?" tanya Annora dengan tajam. Dia masih sedikit kesal karena Haikal menjadi kaki tangan Aaron. Bukankah Aaron yang bilang bahwa dia adalah bos nya? Lalu kenapa tiba-tiba berkhianat? Cih, uang memang dewa.


Haikal menundukkan kepalanya hormat. "Maaf, Nyonya. Ini adalah perintah Aaron," ucap Haikal. Sebenarnya, ini bukan perintah Aaron. Ini murni karena keinginannya sendiri, dia tak ingin Annora sakit hati karena melihat suami brengs*k nya itu.

__ADS_1


"Dan aku adalah istrinya. Menyingkir lah."


Haikal mengalah, dia hanya diam saja saat Annora berlalu melewatinya. Annora membuka pintu itu dengan cukup kuat, dia tengah terburu-buru. Ada satu informasi yang harus dia selidiki.


Annora terdiam membatu. Ya, untuk ketiga kalinya dia melihat adegan ini. Annora mengambil nafasnya dalam-dalam. Dia lalu menghembuskannya secara perlahan.


Prokk


Prok


Annora bertepuk tangan. Dia bertepuk tangan untuk Aaron yang berhasil melukai hatinya. Tak ada lagi air mata, meski dia ingin sekali. Setelah menangis, kedua matanya akan sembab, tak hanya itu, hidungnya pun memerah. Dia tidak ingin sang adik melihatnya.


Annora berjalan kearah mereka. Dia tersenyum tipis kala melihat wajah terkejut mereka. "Kenapa? Terkejut? Ah, tak perlu seperti itu, Aaron. Bukankah kau sudah sering melakukannya? Tenang saja, aku hanya akan mengambil ponselku, kau tidak keberatan 'kan, Aaron Rama Erlangga?"


Hening, tak ada jawaban dari Aaron. Kedua sejoli yang tadi asik bercumbu itu hanya membisu. Annora memutar bola matanya malas melihat keterdiaman mereka.


Dia tersenyum kecil. "Baiklah jika kau tak ingin mengembalikan ponselku, uang bulanan yang kau beri juga lebih dari cukup untuk membeli sebuah ponsel beserta tokonya," kata Annora.


Annora tertawa kecil. "Hidup?" potong Annora cepat. Dirinya lalu melirik kearah Haikal. Dia tau jika Haikal dari tadi berdiri tepat di pintu. "Apakah kau tidak mengatakan perkataan ku waktu itu, Haikal?" tanyanya


Haikal menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Nyonya," jawabnya.


Annora kembali menatap Aaron. "Lanjutkan sesi bercinta mu itu dengan jal*ng kesayanganmu," ujar Annora, dirinya membalikkan badannya. Berjalan keluar, tapi sebelum itu, dia meminta kepada Haikal agar menyiapkan sebuah kamar untuknya.


"Siapkan kamar baru untukku, jika perlu, bakar saja kamar ini bersama tuannya yang tengah bercinta," titah Annora, Haikal menganggukkan kepalanya.


...****************...


Athaya itu orangnya aktif. Dia mana betah berlama-lama duduk diam. Sekarang ini, dia tengah berkeliling di ruang tamu Erlangga dan melihat-lihat pajangan yang ada di ruang tamu mansion ini.


Tanpa disengaja, Athaya menubruk tubuh seseorang. Karena perempuan itu hampir terjatuh, Athaya lalu menahannya. Tangan Athaya berada di pinggang ramping sang pelayan.


Mereka berdua saling bertatapan. Untuk sesaat, Felicia terpaku melihat kedua iris Athaya. Athaya tersenyum smirk melihatnya. Dia kemudian mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Lain kali hati-hati, Nona," kata Athaya dengan nada menggoda.


Felicia tersadar, dia langsung berdiri dan mendorong tubuh Athaya. "Dasar laki-laki mes*m!!" jerit Felicia


Athaya tertawa mendengarnya. "Mes*m atau tampan, Nona?" tanya Athaya dengan narsisnya.


Felicia tak mempedulikan itu. Dia sibuk dengan makanan yang jatuh. Sesekali gadis itu mendumel karena harus kerja dua kali.


"Bisakah kau tenang, Nona? Jujur saja, aku merasa sangat terganggu dengan suaramu itu," ujar Athaya.


Felicia berdiri, menatap marah Athaya. "Kau! Ini semua karena mu! Kau tidak tau untuk siapa makanan ini semua, hah?! Ini adalah makanan untuk adek nyonya Annora." katanya.


Athaya tersenyum. "Dan kau tau siapa yang sedang kau marahi ini?" tanya Athaya, Felicia hanya menatapnya bingung. "Aku adalah adek nya Annora, Annora Sinta Az-Zahra," lanjut Athaya yang berhasil membuat Felicia ternganga.


Athaya tertawa melihat reaksi terkejut dari Felicia. "Tak apa, Nona. Aku bukan orang jahat, okey? Sekarang, aku hanya ingin meminta tolong padamu untuk memberitahukan kepada kakakku bahwa aku akan pulang ke rumah," ujar Athaya. Dia kemudian mengeluarkan bunga aster. "Dan berikan bunga ini padanya," lanjut Athaya.


Felicia menganggukkan kepalanya cepat. Dia lalu pergi untuk memenuhi perintah dari adik nyonyanya itu.


...****************...


Annora mengemasi baju dan barangnya. Aaron yang geram melihat itupun segera mengambil paksa tas tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.


Aaron menatap tajam Annora. "Sudah kukatakan bahwa kau akan tetap di sini!" sentak Aaron


Annora tertawa hambar. Irisnya sudah berkaca-kaca. Jangan, jangan menangis, kumohon. -batin Annora berkata.


"Lalu, kau ingin aku tetap di sini dan mati konyol, begitu 'kah, Aaron Rama Erlangga?" tanyanya


Aaron kalap, dia mencekik leher Annora. "Aku memerintahkan mu untuk tetap di sini! Jangan membuatku untuk membunuhmu." desis Aaron


Annora balik mencekik leher Aaron, meski dia tau itu tak berdampak apapun bagi suaminya. "Bukankah kau sudah hampir membunuhku, hah?!" teriak Annora


Aaron melepaskan cekikan nya, dia lalu pergi meninggalkan Annora. Annora meneteskan air matanya. "Sial."

__ADS_1


__ADS_2