Dear My Idol

Dear My Idol
Wounded Love


__ADS_3

Aaron membuka matanya perlahan. Wajah damai Annora adalah objek pertama kali yang Aaron lihat. Bibir mungil yang terkatup, hidung mancung tapi kecil, serta bulu mata lentik. Aaron baru tau jika Annora secantik itu. Ah, jangan lupakan tentang surai hitam yang tidak tertutup kerudung pashmina.


Annora terusik dari tidurnya. Dia membuka matanya, irisnya terpaku pada manik obsidian milik Aaron. Sepersekian detik, mereka saling bertatapan.


Annora adalah orang yang pertamakali sadar. Dia kemudian memutus kontak mata mereka. Memalingkan pandangannya kearah lain. Annora lalu mencoba duduk, namun tangannya ditahan oleh Aaron, sehingga dia kembali terjatuh ke atas kasur.


Aaron memeluk tubuh Annora, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri. Annora diam, tubuhnya membeku seketika. Bulu kuduknya meremang.


"Jangan pergi," ujar Aaron dengan nada seraknya. "Berjanjilah untuk tetap di sisiku." Annora diam, dia bingung harus bagaimana.


...****************...


Annora tersenyum tipis menatap Sherly. Ya, dia sudah mendengar kabar itu dari Haikal. Tidak ada yang menyangkal bahwa ternyata Daffa Rahman adalah pacar Sherly.


Sherly memandang Annora dengan tatapan tajamnya. Sherly yakin jika Annora sudah mengetahui pasal ini dari Haikal. Memang brengs*k si Haikal. Tapi, dia tidak ingin membuang waktunya, Sherly kemudian berlalu tanpa mengatakan apapun melewati Annora.


Annora menahannya. Sherly menatapnya penuh tanya. "Apa yang Nyonya Erlangga ini butuhkan?"


"Aku membutuhkan otak licik mu," jawab Annora.


Sherly tertawa kecil. "Hahh, saya tidak menyangka bahwa Nyonya Erlangga bisa bercanda. Tapi maaf, saya tidak punya waktu itu itu, permisi," pamit Sherly.


Annora diam, dia lalu tersenyum. "Apakah kau yakin, Sherly Chintya Arabella? Bukankah kau ingin bukti tentang perkataan kekasihmu, Daffa Rahman?" pancing Annora


Sherly berdecih, dia kemudian berbalik menatap Annora. "Apa yang kau tau soal Daffa, hah?!" sentak nya


Annora menggelengkan kepalanya. "Jika kau ingin tau, temui aku," ujarnya sebelum berlalu perdana meninggalkan Sherly dengan seribu pertanyaan.


...****************...


Annora menatap bingung kearah Jevano yang didampingi oleh Jasmine. Pasalnya dua orang itu datang secara tiba-tiba dan mengejutkan seluruh isi mansion Erlangga.


Annora berdehem kecil. "Ada apa kalian kemari?" tanya Annora


Jevano menundukkan kepalanya hormat, dia kemudian menatap Annora. "Apakah benar jika Anda adalah putri Atmadja, atau lebih tepatnya Arya Dewa Atmadja dengan Almera Az-Zahra?" tanya Jevano


Annora menganggukkan kepalanya. "Ya, benar. Ayahku bernama, Arya Dewa Atmadja, sedangkan ibu, Almera Az-Zahra. Memangnya kenapa?"


Jevano mengambil nafasnya dalam-dalam. Dia menatap Annora pasti. "Kau ingin mendengar sesuatu?" tanyanya, Annora menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


...***...


^^^Erlangga's Past^^^


^^^xxxx^^^


Arya Dewa Atmadja, korban kekejaman Adelia yang selanjutnya. Bagaimana Jevano bisa tau? Singkat saja, dia mendapat berita tersebut karena mendengar Gita berbicara seperti itu dengan seseorang yang tidak dikenali Jevano.


...****************...


Jevano menghela nafasnya panjang. Pangeran Erlangga itu memang suka sekali cari keributan. Beruntung dia adalah anak tunggal kaya raya. Jika tidak, ugh, entah apa yang terjadi pada anak itu.


Jevano baru saja mendapat telpon dari nyonya besar Adelia. Dia memintanya untuk mencari donor ginjal yang cocok dalam kurun waktu satu hari. Ini gila! Mana ada orang yang mau memberikan ginjalnya secara cuma-cuma?


"Hey, kudengar korban tabrak lari itu meninggal, ya?"


"Iya, aku jadi turut prihatin padanya."


Posisi Jevano saat ini memang berada di rumah sakit. Ya, dia akan menemui direktur rumah sakit ini dan meminta salah satu pasiennya, tidak banyak, kan? Hanya satu saja.


...****************...


...***...


Air mata Annora mengalir tanpa sadar. Ayah dan ibunya tiada di tangan orang yang sama. Bahkan dirinya juga hampir tiada. Haha, lucu sekali semesta ini mempermainkan perasannya.


"Sekali lagi, saya minta maaf," ulang Jevano untuk yang kesekian kalinya.


Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan salahmu," ujar Annora dengan senyuman tipis yang dipaksakan.


Selang beberapa waktu kemudian, Jevano dan Jasmine pamit pergi. Tangis Annora pecah seketika. Aaron, ya, Aaron. Dia harus membayar semua ini. Baik dengan kesengsaraan nya maupun kebaikannya.


Annora berdiri, mengusap kasar pipinya yang berlinang air mata. Dia berdiri, melangkahkan kakinya menuju kamar Aaron.


...****************...


Annora menatap lurus kearah Aaron. Haikal juga ada disana, dia sedang memberikan laporan yang mungkin diminta oleh Aaron. Annora tak peduli.


"Annora ...."

__ADS_1


Plakk


Satu tamparan keras dihadiahkan oleh Aaron dari Annora. Gadis itu menampar rahang keras Aaron. Irisnya berkaca-kaca, hatinya sakit.


"Biadab! Harusnya kau mati, Aaron. Pria brengs*k sepertimu tak pantas hidup. Harusnya kau yang mati, bukan ibuku!!" seru Annora dengan nada marah.


Deg


Aaron menatap Annora kaget. "Bagaimana kau bisa ....(?)"


Annora tertawa sumbang. "Kau adalah manusia paling brengs*k dan tak tau diri yang pernah kutemui." Annora mengangkat dagunya menatap Aaron. "Dengar, Aaron Rama Erlangga, jika kau menggunakan salah satu ginjal ibuku, maka gunakanlah dengan baik. Jangan kau nodai dengan perilaku bejat mu, brengs*k!"


Aaron diam. "Bawa Nyonya Erlangga itu pergi, cepat!!" perintahnya


Haikal memapah tubuh Annora yang memang sudah lemas. Dia lalu membawa Annora pergi meninggalkan Aaron sendiri.


Aaron berteriak. "Bagaimana dia bisa tau?" tanyanya pada diri sendiri.


...****************...


Annora menatap langit biru yang dihiasi sang mega. Langit luas nan tinggi yang tak mungkin tergapai. Ingatan gadis itu berkelana saat dirinya masih kecil, dimana sang ayah selalu membawakannya oleh-oleh sepulang kerja, apalagi jika dari luar kota. Juga sang ibu yang selalu membelai lembut rambut jika dia merasa lelah dengan dunia.


Haikal menyodorkan sebotol air mineral untuk Annora. Annora menerimanya, tak lupa juga ia untuk mengucap terimakasih.


"Hidup tak selalu dengan tawa, kadang juga ada masa untuk menangis," ujar Haikal tiba-tiba.


Annora tertawa kecil mendengarnya. "Namun, jika tangisan itu sudah habis, maka hanya tawa yang bisa menggantikannya," balasnya.


"Aku memang pernah mendengar kabar bahwa Aaron hampir meninggal karena kecelakaan itu, tapi aku tidak menyangka bahwa masih hidup," ungkap Haikal.


"Uang membeli segalanya," ujar Annora, dia menolehkan kepalanya menatap Haikal. "Menurutmu, apa yang mendasari panglima Jevano membiarkan putri sematawayangnya bersama pria seperti Aaron?"


"Jennie itu orangnya keras kepala, lagipula, panglima Jevano juga sangat mementingkan kebahagiaan putrinya, jadi dia setuju-setuju saja," jawab Haikal menjelaskan.


Annora menganggukkan kepalanya mengerti. Irisnya kembali menatap langit biru itu. "Aku merindukan kedua orang tua ku, apakah aku harus menyusulnya untuk menuntaskan renjana ini?"


"Tidak, tidak perlu. Kau mungkin tersiksa karena merindukan mereka, tapi mereka lebih tersiksa karena melihat putrinya tersiksa disebabkan kerinduannya," ujar Haikal.


"Kata-katamu berbelit dan sulit dipahami, tapi apa yang kau katakan itu ada benarnya juga," tutur Annora, mereka lalu tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2