
Annora tengah memasak makanan, ditemani oleh Aluna. Ya, gadis cilik itu dari tadi merengek minta dibuatkan makan olehnya, alhasil, dia harus membuat makan. Tapi, tak apa, lagipula jam makan siang sudah tiba.
"Aluna, Ibu baru melihatmu kemari, kemana saja kau selama ini?" tanya Annora, tangannya masih sibuk menata makanan yang dibantu oleh Aluna.
"Sebenernya, aku gak tinggal di sini, Bu. Aku cuma kesini kalo mau liat buyut sama ayah. Tadi, ayah janji sama Aluna buat ketemuan. Tapi, sampai sekarang aku belum melihat batang hidungnya," ujar Aluna, Annora tertawa kecil mendengar perkataan gadis cilik itu. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
Makanan telah siap dan tersaji. Annora dan Aluna mau mendudukkan tubuhnya, namun suara ketukan pintu membuat mereka mengurungkan niatnya. Annora berjalan menuju pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Aaron.
"AYAH ...!!" teriak gadis cilik itu sembari berlari memeluk Aaron. Aaron dengan senang hati memeluk putri sematawayangnya itu. Aluna melepaskan pelukannya, dia menatap Aaron dengan tatapan kesal. "Kenapa Ayah lama sekali?" tanyanya
Aaron tersenyum tipis mendengarnya. "Maaf, Ayah tadi sibuk sekali," jawabnya. Aluna hanya menganggukkan kepalanya, gadis cilik itu lalu menarik tangan ayahnya untuk masuk.
Annora menangkap siluet perempuan. Perempuan itu tersenyum tipis, tapi entah kenapa, senyumannya terlihat sinis, atau hanya Annora saja yang merasakannya?
"Annora, ini sekretaris ku, perkenalkan dirimu," perintah Aaron pada Sherly.
Sherly mengangguk mengiyakan. Dia lalu menatap Annora. "Saya, Sherly Cinthya Arabella, sekertaris Tuan Aaron," ujarnya sembari mengulurkan tangan.
Annora menerima jabatan tangan itu. "Annora, Annora Sinta Az-Zahra," ucap Annora.
"Ibu ...!!" panggil Aluna, Annora melepaskan jabat tangannya, dia kemudian menatap Aluna dengan penuh tanya. "Ayo makan ..." ujarnya dengan puppy eyes. Annora menganggukkan kepalanya.
"Ayo ...."
Ironis, padahal dia adalah istri Aaron, tapi lihatlah sekarang. Dia malah terlihat seperti pembantu. Annora menghembuskan nafasnya panjang. Ya, dia yang salah. Dia salah karena telah jatuh cinta pada Aaron.
Annora baru saja mau menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, tapi suara ketukan pintu membuatnya mengurungkan niatnya. Annora menghela nafasnya, dia lalu menaruh sendoknya dan berjalan menuju pintu. Terlihat Haikal dengan membawa sebuah kotak kado berpita.
"Ini dari adek Anda, Nyonya," ujar Haikal sembari menyodorkan kotak itu.
Annora tersenyum dan menerima kotak tersebut. "Kembalilah lima menit lagi," perintah Annora pada Haikal. Haikal hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Annora menutup pintunya. Senyumannya mengembang. Aaron mengernyitkan keningnya heran.
Aluna berjalan mendekati Annora. "Itu apa, Bu?" tanyanya dengan penasaran.
Annora tersenyum, tangannya masih sibuk dengan kotak itu. "Ini adalah kiriman surat dari orang tersayang," ujar Annora yang membuat Aaron dan Aluna mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Orang tersayang? Siapa?" tanya Aluna penasaran.
Annora tersenyum misterius. "Coba tebak ...(?) Menurutmu siapa?"
"Umm, entahlah. Ibu ... jangan membuatku penasaran," ujar Aluna, Annora tertawa mendengarnya. Dunia serasa milik berdua, sepertinya, Annora dan Aluna melupakan kehadiran Aaron dan Sherly.
Annora menatap penuh binar kearah kamera mini dan sebuah jepit rambut lucu. Annora lalu mengambil jepit itu dan memakinya di sisi pashmina nya. Annora melihat pantulan dirinya di cermin miliknya.
"Cantik," gumamnya kagum melihat jepit itu. Tangannya kembali mengambil sebuah kamera mini. Tangannya tanpa sadar menekan tombol.
Ckrekk
Annora kaget bukan main. Selembar foto keluar dari kamera mininya. Aluna mengambil foto tersebut. Dia tertawa kencang melihat foto tersebut. Annora juga ikut tertawa melihatnya.
"Ibu ... Ibu terlihat konyol di sini," ujar Aluna, Annora menganggukkan kepalanya, dia membenarkan perkataan putrinya itu.
"Aluna, kau mau berfoto bersama Ibu?" tanya Annora, Aluna menganggukkan kepalanya semangat. Annora menolehkan kepalanya, dia ingin meminta tolong Aaron untuk mem-fotokan dia dengan Aluna, tapi, Aaron tengah sibuk bersama Sherly.
Annora mengambil ponsel pintarnya, dia kemudian menekan sebuah nama dan mengetikkan pesan. Beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintunya. Annora melangkahkan kakinya untuk membuka pintu tersebut.
Annora memberikan kamera mininya. "Tolong foto 'kan, ya?" Haikal hanya menganggukkan kepalanya.
Aluna terdiam sejenak, irisnya meliar mencari tempat yang apik. "Disana," tunjuk Aluna. "Disana bagus, Bu," lanjutnya.
Annora menganggukkan kepalanya, mereka kemudian berpose di sana. Haikal mengangkat kamera mini tersebut.
"Satu, dua, tiga ...."
Ckrekk
Haikal mengambil hasil gambar tersebut. Dia terpaku pada senyum Annora. "Cantik," gumamnya pelan.
Aluna kemudian mengambil gambar tersebut. Dia menunjukkan foto itu kepada Annora. "Bagaimana?" tanyanya.
"Cantik. Ayo kita foto lagi," ujar Annora, Aluna mengangguk mengiyakan.
Aaron tiba-tiba berdiri, dia mengambil kamera mini yang dibawa Haikal. "Biar aku saja," ujarnya, bukan hanya Annora yang terkejut, tapi juga Haikal dan Sherly.
__ADS_1
Aaron menatap Annora. "Berpose, lah," perintahnya.
Annora dan Aluna kemudian berpose. Mereka berdua sangat menikmati sesi foto dadakan itu.
"Aluna, bolehkah Ibu berfoto sendiri tanpamu?" tanya Annora pada Aluna, Aluna menganggukkan kepalanya tanda memperbolehkan.
Annora kemudian berfoto dengan pose sederhana. Aaron masih menjadi fotografernya. Aaron menatap foto itu. Tak bisa dipungkiri bahwa Annora memang cantik.
Annora meminta foto itu. Dia juga mengambil bolpoin dan menuliskan sesuatu di sebalik foto itu. Dia kemudian menulis jawaban dari surat Athaya.
"Ibu ...!! Sebenernya, itu surat dari siapa, sih? Kok Ibu excited banget," tanya Aluna dengan penasaran.
Annora tersenyum kecil. "Ini dari adek Ibu, atau kau bisa memanggilnya paman." Annora lalu melepaskan jepit rambutnya yang bertengger apik di pashmina. "Ini adalah barang yang dulu Ibu inginkan, tapi lihatlah sekarang, dia membelikannya," ujar Annora.
"Tapi, Bu, bukankah itu hanya jepit murahan?" tanya Aluna
Annora menggelengkan kepalanya. "Sebuah barang dinilai dari siapa yang memberi dan kenangannya, bukan harga barang," ujar Annora, tangannya beralih mengambil kamera. "Lihatlah, Ibu yakin jika dia membeli ini di pasar loak," lanjutnya.
Annora kemudian memakaikan Aluna jepit tadi. Dia lalu menyodorkan sebuah cermin kecil. "Lihat, kau cantik 'kan?"
Aluna menganggukkan kepalanya semangat. Dia menolehkan kepalanya menatap Annora. "Ibu, aku menyukai ini," katanya.
"Kau mau? Ambillah," jawab Annora, Aluna tersenyum senang. Dia kemudian memeluk Annora erat.
"Terimakasih, Ibu ...!!" serunya, Annora tertawa kecil. Aluna lalu melepaskan pelukannya. Dia menatap aneh ibunya yang tengah menulis surat balasan. "Ibu, apakah paman tidak mempunyai ponsel?" tanyanya
"Paman punya ponsel, tapi ... akan lebih seru jika menggunakan surat," jawab Annora.
"Tapi lebih cepat menggunakan ponsel, Bu," sangkal Aluna.
"Aluna, dulu ayah Ibu alias kakekmu selalu melakukan ini saat dia pergi ke luar kota. Dia akan menuliskan dalam surat tentang indahnya kota yang sedang disinggahinya itu. Saat kau mengirim surat, jantungmu akan berdebar karena menunggu balasannya. Semuanya, terasa beda," jelas Annora.
"Benarkah? Aku juga ingin," kata Aluna.
"Besok saat kau jauh dari Ibu, Ibu akan mengirim mu surat tuk sekedar menanyakan kabarmu," ujar Annora.
"Yeay ...!! Makasih, Ibu ...!!" Aluna kemudian memeluk tubuh Annora.
__ADS_1
Satu yang Aaron simpulkan mengenai hari ini. Dia, melewatkan banyak hal.