Dear My Idol

Dear My Idol
Chamomile


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya tengah memperhatikan berita yang berisikan putra sematawayangnya, Aaron Rama Erlangga. Ya, dia adalah Adelia Chandrawinata, sang ratu di Erlangga.


Adelia meremas remote tersebut sebelum akhirnya mematikan televisi. Dia kemudian memanggil pelayan kepercayaannya. "Gita ...!! Gita ...!!" panggilnya dengan sedikit berteriak.


Gita, pelayan itu segera pergi menemui sang ratu Erlangga. "Ya, Nyonya," jawabnya. "Ada yang bisa saya bantu?" lanjutnya


"Selidiki tentang skandal berita Aaron yang sedang viral itu." perintah Adelia pada pelayan kepercayaannya itu.


Gita menganggukkan kepalanya. "Baik, Nyonya. Ada lagi?"


"Panggilkan Aaron kemari, aku ingin bicara padanya," lanjut Adelia, lagi-lagi Gita mengangguk. Dia lalu pamit undur diri untuk melaksanakan perintah yang ada.


"Cih, apa yang dipikirkannya saat itu (?)." monolog Adelia yang tak habis pikir dengan kelakuan Aaron.


Dia mengambil cangkir teh hijau miliknya dan menyesapnya secara perlahan guna menikmati sensasi teh itu.


Pintu dibuka secara kasar, menyebabkan Adelia terlonjak kaget. Dia bersumpah akan membunuh siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.


"Baj-" ucapan Adelia terpotong karena melihat Evelyn, sang ibu mertua. Adelia menghela nafasnya kasar. Dia kemudian berdiri di hadapan sang ibu mertua yang masih tampak segar bahkan diusia tuanya.


"Ada urusan apa Ibu datang kemari?" tanya Adelia mencoba sopan. Bukannya mendapat jawaban atas pertanyaannya, dia malah mendapat tamparan keras dari ibu mertuanya itu.


Plak


Adelia menyentuh pipinya yang memerah akibat tamparan itu. Dia bisa melihat raut wajah amarah ibu mertuanya tersebut.


"Ibu, gila?! Kenapa kau datang-datang menamparku tanpa sebab?!" tanya Adelia dengan nada tinggi.


"Dasar wanita berhati iblis! Kau apakan keluargaku, hah?!" teriak Evelyn, nafas wanita tua itu sudah tak beraturan. Dadanya naik turun akibat luapan emosi.


Adelia tersenyum tipis, ya, sekarang dia tau apa penyebabnya mertuanya itu marah. Lagian, itu bukan salahnya. Itu karena mereka tak mau diatur olehnya.


"Ibu itu bicara apa? Jika Ibu bicara tentang Arfan, aku tak membunuhnya. Sudah kukatakan berkali-kali, bukan? Aku begitu mencintainya, kau pun tau tentang itu," ujar Adelia.


Evelyn menatapnya datar. Kali ini, wanita tua itu sudah sedikit tenang. "Kau bisa membohongi dan membodohi semua orang, tapi tidak denganku, Adelia Chandrawinata. Ingat posisimu, dirimu tak lebih hanyalah bawahan ku yang bisa ku depak kapan saja," jelas Evelyn, dia kemudian pergi berlalu.


Adelia mengumpat. "Bajing*n. Akan ku singkirkan kau, wanita bau tanah," ujarnya dengan nada emosi.


...****************...


Aaron mengetuk pintu kamar ibunya. Dia kemudian masuk setelah dipersilahkan. Tanpa banyak basa-basi, dirinya segera duduk di depan sang ibu.


Adelia menatap serius kearah Aaron. Dia kemudian memerintahkan Gita untuk menunjukkan sesuatu kepada Aaron.

__ADS_1


Aaron mengernyitkan keningnya kala Gita memberinya iPad. Dia kemudian melihat kearah iPad tersebut.


"Bagaimana, kau sudah tau maksud Ibu 'kan?" tanya Adelia to the poin. Aaron menatap ibunya dengan penuh tanya. "Gadis itu, sepertinya cukup polos, kau tak keberatan 'kan, Aaron?"


Aaron terdiam sejenak. Kedua irisnya tak lepas dari sosok gadis ber-pashmina yang tengah tersenyum lebar itu. "Aku ...."


"Kau ingin menjadi anak baik 'kan Aaron. Turuti kata Ibumu ini, maka kau tak akan hilang arah. Jangan lupa tentang kejadian itu, Aaron Rama Erlangga," potong Adelia.


Aaron masih diam, sebelum akhirnya dia mengangguk mengiyakan. "Aku ... Terserahmu, Bu, aturlah sesuka hatimu," ucapnya kemudian.


"So, kau tak akan keberatan 'kan? Anggap saja ini sebagai ajang pencari jodohmu," ujar Adelia.


"Terserah." Aaron lalu pergi meninggalkan sang ibu yang tengah tersenyum senang.


"Ya, setidaknya satu-persatu semuanya berjalan dengan lancar 'kan?"


...****************...


Adelia memakan makanannya dengan santai seperti biasanya, begitupula dengan Evelyn. Seolah, tak terjadi pertengkaran apapun. Aaron ingat betul saat sekertaris pribadinya melaporkan bahwa ibu dan neneknya itu sedang bertengkar. Tapi ini (?).


Adelia berdehem kecil. "Sebentar lagi, Aaron akan menikah dengan gadis yang diselamatkannya," ujarnya.


Evelyn menghentikan kunyahan nya. Dia terdiam sejenak. "Lalu?" tanyanya kemudian


Evelyn menatap Adelia dengan heran. "Sejak kapan kau menjadi aneh seperti ini? Salah minum obat atau ada rahasia yang terbongkar?"


"Ibu, aku bicara serius. Aku meminta Ibu merestui Aaron dengan gadis bunga itu," ujar Adelia.


"Terserah mu," jawab Evelyn singkat.


Sebenarnya, dia sangat senang ketika mengetahui bahwa gadis yang akan dinikahi cucunya itu merupakan salah satu incarannya. Dia sebenarnya juga setuju, tapi ... akan sangat mencurigakan jika Adelia mengetahui ini. Bisa-bisa dia langsung menyelidik dan menghabisi cucu tersayangnya itu.


"Kau tidak akan berbuat macam-macam padanya 'kan?" tanya Evelyn dengan nada khawatir yang cukup ketara.


Adelia menggelengkan kepalanya. "Gadis polos sepertinya bisa apa? Ibu tenang saja," jawab Adelia santai. Evelyn hanya diam tak membalas. Kepalanya terlalu pusing jika hanya untuk meladeni wanita gila macam Adelia.


...****************...


Annora membuka pintu rumahnya. Dia mengerjabkan matanya ketika melihat seorang nenek tua mirip dengan nenek kemarin, namun bedanya, nenek itu terlihat atau memang orang kaya.


"Iya, Anda mencari siapa?" tanya Annora, dia terus memperhatikan wajah nenek itu, ia seperti pernah melihatnya, tapi ... dimana, ya?


Evelyn tersenyum kecil. "Wah, bukankah aku memintamu untuk tidak melupakan pertemuan pertama kita?" tanya Evelyn, dia kemudian memberikan kode pada pengawalnya itu.

__ADS_1


Evelyn menerima bunga Forget Me Not dan memberikan bunga tersebut kepada Annora. "Forget me not," ujarnya.


Annora terdiam sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Hwaa ...!! Apakah Anda adalah Evelyn Dewi Erlangga?" tanya Annora dengan sedikit histeris.


Evelyn tersenyum kecil. "Ambil bunganya dan kita bisa mengobrol," perintahnya pada Annora. Annora menganggukkan kepalanya semangat, dia mengambil bunga itu, tak lupa juga untuk mengucapkan terimakasih.


Annora menatap Evelyn dengan takut-takut. "Umm, tapi apakah Anda keberatan, mengingat ... rumah saya ....(?)."


Evelyn menggelengkan kepalanya pelan. "Kau tak perlu takut, aku justru akan merasa sangat senang jika kau mau menjamuku di rumahmu itu," ujar Evelyn.


Annora menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mempersilahkan Evelyn untuk masuk kedalam rumahnya. Dia lalu menyajikan teh dan beberapa makanan.


"Maaf ..." ujar Annora tak enak hati.


Evelyn hanya diam, dia kemudian mengambil cangkir dan meminumnya secara perlahan. Kedua irisnya berbinar begitu merasakan rasa teh. "Kau sangat berbakat dalam meracik teh," puji Evelyn pada Annora, sedangkan sang gadis hanya tersipu malu mendengarnya.


Evelyn menatap Annora. "Ini yang aku tak suka. Setelah kau mengerti siapa aku, kau bersikap seolah-olah kita jauh. Sinta, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" tanya Evelyn.


Annora menganggukkan kepalanya. "Tentu saja boleh, umm ...."


"Nenek. Kau harus memanggilku seperti itu, mengerti?"


"Hu'um ...."


Evelyn menatap Annora dengan wajah khawatir. Dia yakin bahwa Adelia akan melakukan sesuatu pada gadis kecil nan polos yang belum mengerti apa-apa ini.


"Aku pernah mendengar tentang bunga chamomile yang bisa digunakan untuk membuat teh, apakah itu benar?" tanya Evelyn.


Annora menganggukkan kepalanya. "Benar sekali. Teh bunga chamomile memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah untuk mencegah kanker. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa teh chamomile mampu menurunkan risiko perkembangan kanker, gula darah, mencegah osteoporosis, dan banyak lagi." jelasnya.


"Bisakah kau memberitahuku tentang makna bunga itu?"


"Bunga chamomile memiliki makna simbolis istirahat, kedamaian, serta ketenangan. Di Rusia, bunga ini juga merupakan lambang kesetiaan." jelas Annora.


"Kau sangat menyukai bunga, ya? Kalau boleh tau, siapa yang mengajarimu tentang semua itu?" tanya Evelyn.


Annora menganggukkan kepalanya. "Iya, dulu ibu yang memberitahu dan mengajariku tentang makna, manfaat, dan kisah bunga," jawab Annora.


Evelyn mengangguk mengerti, dia kemudian melirik kearah jam tangan miliknya. "Aku sebenarnya masih ingin mengobrol denganmu, tapi sayangnya aku tidak bisa. Terimakasih sudah menjamu Nenek tua ini, maaf sekali karena merepotkan mu," ujar Evelyn.


Annora menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak-tidak, justru aku yang berterimakasih, Nek. Karena Nenek mau menemaniku. Ya, aku sedang tak bisa berjualan bunga sekarang."


Evelyn menatapnya heran. "Kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Yah, toko bunganya tutup," jawab Annora, Evelyn mengangguk mengerti.


__ADS_2