
Annora sudah muak dengan semua drama di keluarga ini. Dia akan pergi meninggalkan Erlangga dengan kepala tegak. Ya, itulah tekadnya sekarang.
Saat ini Annora tengah berada di depan hotel. Beberapa pengawal menyergap untuk menghentikan dirinya. Annora menatap datar mereka semua. Tidak ada Haidar di sini, kemungkinan besar, Aaron memerintahnya untuk menyelesaikan tugasnya saat dia pergi selingkuh.
"Anda tak boleh masuk, Nyonya," ujar ketua pengawal itu.
Annora menatap datar semua yang ada. "Kalian pasti sudah tau posisiku, bukan? Apakah kalian mau berakhir hanya karena menghalangi ku untuk menemui suamiku sendiri?" tanya Annora yang berhasil membuat semua pengawal menyingkir dan memberinya jalan.
Annora membuka pintu itu, dirinya langsung disuguhi pemandangan yang sangat menyakitkan. Tapi, ia sudah bertekad untuk tidak menangis. Sesakit apapun hatinya, dia tak akan meneteskan air mata. Tak akan.
Annora melangkahkan kakinya. Dia kemudian membuka kamera dan memfoto perbuatan keji mereka. Annora memang sengaja mengaktifkan fitur flash di kamera ponsel miliknya.
Aaron kaget, dia lalu menutup tubuh bagian bawahnya dengan handuk. Tak hanya Aaron, Sherly juga kaget. Annora tersenyum senang melihat reaksi mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Aaron dengan nada yang lumayan tinggi.
Annora tertawa kecil. Tapi, Aaron bisa melihat ada setitik air mata yang hampir jatuh, namun ditahan oleh pemiliknya. "Aku? Aku hanya memfoto perbuatan kalian, tak salah 'kan?" jawab Annora santai. "Apa kau takut, Aaron Rama Erlangga?"
Aaron menggeram marah. "Jika kau berani macam-macam, maka aku tak akan segan untuk membunuhmu." ujarnya dengan nada rendah.
Deg
Jantung Annora berpacu cepat. Ya, dia pasti salah dengar. Mana mungkin Aaron melakukan itu padanya. Ya, Annora salah dengar.
Aaron tersenyum smirk melihat keterdiaman Annora. "Pikirmu aku bercanda, Annora Sinta Az-Zahra? Tidak, kau tak salah dengar, Sayang. Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tak bisa ku kendalikan, karena sampah sepertimu itu tidak pantas untuk dipertahankan. Bahkan jika hanya untuk hidup di dunia," jelas Aaron.
Annora yang mulanya diam, kini tertawa keras. Tawa sumbang mengudara di ruangan itu. Dia lalu menatap tajam Aaron. "Dan pikirmu aku takut? Dengar, kau tak bisa membunuhku. Aku tak akan mati konyol seperti Jennie!" teriak Annora di akhir kalimatnya.
Annora kemudian berjalan cepat untuk pergi. Haikal ada di depan itu mencekal tangannya. Annora menatap penuh tanya kearah Haikal.
"Lepas." desis Annora, dia meronta, tapi tenaganya tak mampu untuk mengimbangi kekuatan Haikal.
Setelah mendapatkan ponsel milik Annora, Haikal melepaskan cekalan nya dari tangan Annora. Aaron yang baru saja datang itu mendorong Annora sampai jatuh.
"Hentikan perilaku vulg*r mu itu." sentak Aaron, Annora bangkit dan berdiri menatap tajam Aaron.
"Dan hentikan perilaku brengs*k mu itu." balas Annora
__ADS_1
Sherly tersenyum melihat perdebatan itu. "Sebaiknya, Anda pulang saja. Dan, jangan menganggu kami," ujar Sherly.
Annora membalikkan tubuhnya. Dia kemudian menjambak rambut Sherly. "Ingat posisimu. Kau hanyalah bawahan ku." ujar Annora, dia lalu mendorong dan melepaskan jambakan nya.
"Bawa perempuan tak tau diri itu ke rumah." perintah Aaron pada Haikal. Haikal menganggukkan kepalanya.
"Nyonya ...."
"Tidak. Aku ingin di sini," tolak Annora.
Haikal kemudian mencekal tangan Annora dan membawa paksa gadis itu. Annora hanya diam, karena dia tau, memberontak pun tiada guna.
...****************...
Annora memejamkan kedua matanya. Tangannya terkepal erat. Bibirnya tertutup rapat. Munafik rasanya jika dia bilang tak apa-apa. Nyatanya, hati dan tubuhnya sakit. Dia mencoba mati-matian untuk tak menangis.
Haikal melihat itu dari spion. Dia menyaksikan bagaimana Annora menahan tangisannya. Tangannya menggenggam erat setir mobil.
Brengs*k. -umpatnya dalam hati.
Annora menutup kasar pintu kamar miliknya. Isakan kecil terdengar. Ya, Annora menangis. Hancur sudah pertahanannya. Untuk kali ini, biarkan Annora menangis. Setidaknya untuk kali ini saja.
...****************...
Aaron berjalan cepat menuju kamar ibunya. Dia datang menemui Adelia. Dia ingin membicarakan tentang Annora.
Pintu dibuka dengan cukup keras. Adelia menatap Aaron dengan heran. "Ada masalah apa?" tanya Adelia pada Aaron.
"Ibu, sepertinya kita harus menyingkirkan Annora secepatnya. Gadis itu adalah hama besar bagi kita," jawab Aaron.
Adelia menatapnya dengan tatapan tanya. "Kenapa kau menjadi terburu-buru? Apa yang terjadi sebenarnya?"
Aaron mengusap wajahnya kasar. "Dia memergokiku berselingkuh," jawabnya.
Adelia tertawa mendengarnya. "Aaron, Aaron. Kau ini lucu, ya. Dia tak akan bisa menghancurkan mu hanya dengan itu. Tapi, aku setuju dengan perkataan mu tadi. Kita harus menyingkirkan Annora, ya, suatu keharusan," ujar Adelia.
"Ibu, aku tak akan mau menganggap Annora sebagai istriku. Dan, aku ingin menikahi Sherly," kata Aaron mengungkapkan keinginannya.
__ADS_1
Adelia menatap putranya itu datar. "Aku tak peduli, apakah kau menganggap Annora sebagai istri atau tidak. Tapi yang pasti, buat dia keluar dari Erlangga hanya dengan nama atau tak memiliki muka bahkan untuk sekedar menemui keluarganya," jelas Adelia.
Adelia menghela nafasnya. "Tapi, ini mungkin sedikit sulit, mengingat, nenekmu ada di pihaknya," lanjutnya.
"Bagaimana Ibu tau jika nenek ada di pihak Annora?" tanya Aaron bingung.
"Menurutmu, siapa yang memberikan Annora posisi penting itu? Aku? Mana mungkin. Lagipula, kudengar nenekmu mengutus seseorang," jelas Adelia.
...****************...
Annora keluar untuk menyelesaikan urusannya. Di belakangnya ada Felicia sebagai pelayannya. Dia tanpa sengaja bertemu dengan Haikal. Annora hanya melirik Haikal, dia segera melangkahkan kakinya kembali.
Annora masih tak terima dengan perlakuan Haikal tadi. Tapi, dia tidak bisa menyalakan Haikal, mengingat bayaran Haikal ada pada Aaron. Bukankah, uang itu dewa bagi manusia?
Annora tersenyum senang kala melihat Aluna berlari kearahnya dengan membawa sebuah bunga anggrek bulan.
Aluna segera menubruk tubuh Annora. "Ibu ...!!" ujarnya sembari memeluk tubuh Annora, Annora membalas pelukan itu. Setelah cukup lama, Aluna mengurai pelukannya.
Aluna menyodorkan bunga anggrek bulan yang baru dipetiknya itu. "Ini untuk Ibu ..." katanya dengan senyuman yang berseri-seri.
Annora mengambilnya, tak lupa juga dia mengucapkan terimakasih. Annora kemudian menggendong Aluna. "Kau mau Ibu ceritakan tentang kisah dibalik bunga anggrek bulan?" tanya Annora, Aluna menganggukkan kepalanya semangat.
"Baiklah, tapi kita ceritanya di kamar saja, ya?" Aluna mengangguk lagi.
...****************...
"Dua Saudari Bunga Anggrek Bulan, itulah judulnya," ujar Annora.
"Dalam kisah ini, ada dua saudara perempuan yatim piatu yang tinggal bersama ibu mereka yang sangat mencintai mereka. Namun, karena kesulitan hidup, sang ibu tidak dapat memberikan mereka makanan yang cukup, dan akhirnya meninggal karena kelaparan. Setelah ibu mereka meninggal, kedua saudari ini merindukan kasih sayang sang ibu."
"Kemudian, di malam bulan purnama, mereka bermimpi tentang ibu mereka yang memberikan mereka bunga anggrek bulan. Bunga tersebut dianggap sebagai simbol cinta kasih dan pengorbanan seorang ibu yang selalu melindungi anak-anaknya, bahkan setelah meninggal dunia."
"Bunga anggrek bulan dianggap sebagai simbol cinta kasih yang abadi dan kehadirannya dianggap sebagai tanda bahwa kasih sayang sang ibu selalu ada di sisi mereka."
Annora menghentikan ceritanya, dia tersenyum kecil kala melihat Aluna tertidur di pangkuannya. Annora kemudian mencium pipi gembil milik putrinya itu.
"Terimakasih, Aluna," katanya.
__ADS_1