
Aaron gila. Dia mengundang istri dan selingkuhannya untuk makan siang bersama. Sepertinya, pasangan suami-isteri itu memang cocok. Mereka sama-sama gila. Kemarin Annora yang gila karena mengundang Sherly, sekarang Aaron karena membawa Annora.
Aaron duduk di depan Sherly, disampingnya ada Annora. Gadis itu terlihat tenang seolah tak terjadi apa-apa. Membuat Aaron mengernyitkan dahinya heran.
Makanan mereka tiba. Mereka bertiga lalu menyantapnya. Awalnya, semua baik-baik saja. Setidaknya, sebelum Sherly merembet pada topik selingkuh.
Sherly melirik kearah Annora. Tangannya masih sibuk memotong daging. "Jika saya menjadi seorang istri dan mengetahui bahwa suami saya berselingkuh, maka saya akan introspeksi diri. Mungkin saya kurang memanjakannya atau yang lainnya. Dan, saya akan mencoba memperbaiki itu," ujar Sherly. Aaron tersenyum mendengarnya.
Annora memutar bola matanya malas. Dia kemudian menatap Sherly. "Kenapa pencuri selalu menyalahkan tuan rumah yang tak mengunci pintunya, sedangkan mereka menyangkal kekurangan moral karena mengambil hak milik orang lain," balas Annora pedas. Dia tersenyum tipis kala melihat keterdiaman Sherly.
Annora menolehkan kepalanya kearah Aaron. "Aaron, menurutmu, posisi apa yang patut di tempati oleh perempuan kesayangan mu itu?" tanya Annora, Aaron hanya diam. Membuat Annora tersenyum smirk. "Ah, bagaimana jika dia menjadi pelayan? Cukup bagus."
Annora menatap Sherly. "Oke, mulai sekarang, kau adalah pelayan yang mengurusi kebersihan kolam-kolam. Baik kolam renang maupun aquarium besar yang ada di mansion Erlangga," ujar Annora.
Sherly menatap Annora dengan marah. "Siapa kau berani-beraninya memerintah ku?!" tanya Sherly dengan nada tinggi.
Annora tersenyum remeh. "Aku memiliki kewenangan untuk itu. Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada Aaron," ujarnya. Annora kemudian berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menjauh setelah menghabiskan makannya.
Dia menghentikan langkahnya. "Ah, satu lagi. Keputusanku tidak bisa diganggu-gugat, bahkan oleh Aaron sendiri." kata Annora tanpa membalikkan badannya.
Annora kembali melangkahkan kakinya keluar. Banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikannya daripada meladeni suami beserta selingkuhan nya itu.
Sherly menatap Aaron, sedangkan Aaron menganggukkan kepalanya. Sherly menghela nafasnya kasar. Tangannya digenggam oleh Aaron. Pria itu tersenyum tipis menatap Sherly.
"Tak apa, aku akan mencari cara untuk menyingkirkannya," ujar Aaron meyakinkan. Sherly tersenyum senang.
...****************...
Malam telah tiba. Entah kenapa Haikal meminta bertemu dengannya. Tapi, Annora merasakan firasat buruk tentang ini.
Annora menghela nafasnya panjang. Benar 'kan dugaannya. Di sana, tak hanya Haikal, melainkan juga ada Aaron dan Sherly. Dengan sedikit malas, Annora melangkahkan kakinya.
Sherly tersenyum melihat kedatangan Annora. "Wah, tamu kita sudah datang," ujarnya.
__ADS_1
Annora tersenyum tipis. Dia berjalan menuju Sherly. "Iya, ternyata si pelayan juga ada di sini, ya? Apakah kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik?" tanya Annora dengan nada remeh.
Sherly mengeram marah. Dia lalu menampar pipi Annora. Tapi, sebelum sampai, gadis itu menahan tangan Sherly. Annora tersenyum miring. "Apakah kau berfikir bahwa aku akan membiarkan tangan kotor mu menyentuh wajahku?" Setelah mengatakan itu, Annora langsung menghempaskan tangan Sherly.
Sherly mendecih karena merasakan rasa sakit di tangannya. Sherly mendorong tubuh Annora dengan kuat sehingga membuat sang empu terjatuh. Bukan Annora jika tak berdiri. Gadis itu lalu berdiri dan menjambak kemudian mendorong Sherly. Sedikit kejam memang, tapi, ia tak peduli.
Aaron membantu Sherly untuk bangun. Dia kemudian menatap tajam Annora. "Jangan pernah menganggu nya. Jangan menganggu wanitaku." ujar Aaron dengan nada rendah.
Annora membulatkan matanya. Dia tertawa sumbang. "Lindungi jal*ng mu itu, aku tak tertarik," balas Annora.
Aaron memberi kode Haikal, yang diberi kode hanya mengangguk. Dia kemudian dengan tiba-tiba mencekal tangan Annora dan menyeretnya. Annora memberontak tentu saja.
"Apa yang kau lakukan padaku, hah?! Lepas!!" seru Annora, Haikal hanya terdiam dan terus menyeretnya ke mobil.
...****************...
Annora menatap sekelilingnya dengan heran. Pusing melanda kepalanya, yang dia ingat adalah ketika Haikal menariknya dan dia memberontak lalu ... Ah, dia dibius.
Pintu mobil terbuka, menampilkan Haikal. Laki-laki itu mencekal tangan Annora dan membawanya pergi secara paksa.
"Maafkan saya, Nyonya," lirih Haikal.
Annora menggelengkan kepalanya cepat. "Ti-tidak. Berhenti disitu. Kubilang, berhenti!!" jerit Annora panik.
Air matanya keluar. "Kumohon ..." lirih Annora, dia takut. Dia takut dengan dingin dan heningnya malam. Dia takut dengan air yang berarus deras. Dia takut ketinggian. Dan dia takut sendiri dalam sepi.
"Maaf, Nyonya. Harusnya Anda tidak melawan Aaron."
Annora tertawa sumbang. Tentu saja, Aaron adalah orang yang paling menginginkan kematiannya. "Aku tau siapa yang membayar mu dan aku pun tau untuk siapa kau bekerja. Katakan pada bos brengs*k mu itu bahwa aku tak akan mati. Tidak disini!" teriak Annora di akhir kalimatnya.
Haikal terus melangkah maju, membuat Annora terpojok dan masuk kedalam derasnya air sungai itu. Annora tentu saja tau. Ini sama saja membuat orang berpikiran bahwa Annora bunuh diri, padahal nyatanya tidak.
Annora terjun bebas kedalam arus air yang cukup deras itu. Haikal menekan sebuah nama di ponselnya.
__ADS_1
"Halo, dia sudah terjun," ujar Haikal dalam panggilan teleponnya.
"Bagus, sekarang kau boleh pergi. Pastikan tidak ada jejak," jawab seseorang di seberang sana. Haikal lalu mematikan saluran teleponnya. Dia menatap sungai itu sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi.
Aaron dan Sherly ada tak jauh dari tempat kejadian. Keduanya melihat bagaimana Annora jatuh.
Sherly menggenggam tangan Aaron. Dia lalu tersenyum dan dibalas dengan senyum oleh Aaron. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan tempat itu.
...****************...
Pukul dini hari Aaron pulang. Dia membuka pintu kamarnya. Betapa tidak ia ketika melihat putrinya, Aluna tengah tertidur di sofa.
Aaron melangkahkan kakinya menuju Aluna. Dia menggendong anak kecil itu dan memindahkannya ke kasur yang empuk. Aluna terusik dari tidurnya, kedua bola matanya mengerjap pelan.
"Ayah ...?" gumamnya, irisnya meliar mencari sang ibu. "Ayah, dimana ibu?" tanya Aluna
Aaron terdiam, dia kemudian tersenyum manis menatap putrinya. "Ibu sedang ada urusan, dia akan pulang lama," mungkin tidak. -lanjutnya dalam hati.
Aluna menghela nafasnya pasrah. Kedua bola matanya mengeluarkan air. Aaron panik melihatnya. "Hey, kenapa?" tanyanya
Bukannya reda, tangisan Aluna malah semakin kencang. "Ibu berjanji akan membacakan ku sebuah dongeng, tapi kenapa dia mengingkari janjinya?"
Aaron mengelus pelan surai kecoklatan milik Aluna. "Tak apa, Ayah bisa membacakannya. Kau ingin kisah apa?" tanya Aaron yang mencoba menenangkan Aluna.
"Tapi aku inginnya ibu, bukan Ayah," tolak Aluna.
Aaron menghela nafasnya. "Jika ibu sudah datang, baru ibu. Sekarang ini, ayah saja, ya, yang menceritakan dongeng kepadamu?" tawar Aaron
Aluna menganggukkan kepalanya pelan meski agak sesenggukan. "Tolong ceritakan tentang kisah bunga," pinta Aluna.
"Kisah bunga?" tanyanya bingung, Aluna menganggukkan kepalanya. "Apakah dia selalu menceritakan itu kepadamu?"
"Ibu selalu menceritakan kisah tentang makna bunga. Dia juga sering menyanyikan ku lagu tidur. Dia memeluk dan mencium keningku sebelum tidur. Aku, tak bisa tidur jika tanpa itu," jelas Aluna.
__ADS_1
Aaron terdiam. Dia mungkin akan senang jika Annora mati, tapi Aluna? Aaron menghela nafasnya panjang. "Maaf, Aluna. Ayah tidak bisa melakukan apa yang ibumu lakukan. Kita tidur seperti biasa, ya? Ayah akan mengelus pelan kepalamu agar kau tidur."
Aluna mengangguk meski agak kecewa. Dia, rindu ibunya.