Dear My Idol

Dear My Idol
Marigold


__ADS_3

Berbagai hantaran pernikahan telah sampai di rumah Annora. Sebenarnya, sang pemilik rumah juga bingung, tapi setelah mendapat kabar dari Aaron dan Evelyn, dia kemudian mengerti. Dia, masih tak menyangka bahwa dirinya akan menikah dengan sosok idolanya semasa SMP itu. Semuanya terasa seperti, mimpi.


Athaya menatap datar semua barang-barang dan makanan mewah itu. Dia kemudian masuk kedalam kamar kakaknya tanpa permisi. Annora merenggut kesal begitu menyadari bahwa sang adik masuk kedalam kamarnya tanpa izin.


"Bukankah Kakak sudah bilang padamu agar mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar Kakak?" tanya Annora saat mengetahui Athaya masuk kedalam kamarnya tanpa izin.


"Kupikir tak ada yang di dalam," ujar Athaya asal.


Annora memutar bola matanya malas. Adiknya itu memang suka sekali membual, ya. "Ada apa?" tanya Annora.


"Kau, terlihat bahagia, Kak," ujar Athaya, Annora mengernyitkan keningnya. Dia mencoba mencerna perkataan adiknya. "Berarti setelah ini, aku sendiri, ya?"


Annora mengerti. Jadi ceritanya, adik laki-laki tersayangnya ini takut kehilangan kakaknya. Annora tersenyum kecil guna menggoda Athaya. "Kau takut rindu dengan Kakak, ya?"


Athaya menghela nafasnya panjang. "Aku tau kau itu menyebalkan, Kak. Tapi, hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki." ujarnya yang berhasil membuat Annora termenung meskipun awalnya dongkol.


"Athaya ...."


"Tapi, aku tak boleh egois 'kan? Kau berhak bahagia dan bebas," lanjutnya.


Annora segera memeluk tubuh adik laki-lakinya itu. Tanpa sadar air matanya menetes. Ya, hanya Athaya yang dia punya sekarang. Mereka berdua telah melalui hari-hari yang panjang. Bertengkar adalah sesuatu yang tak bisa dihindari, tapi hanya dengan cara seperti itulah mereka dekat.


"Kakak selalu menyayangi mu, Athaya. Selalu dan akan terus seperti itu," ujar Annora, Athaya hanya mengangguk. Dia yakin dan percaya bahwa kakaknya akan selalu menyayanginya tanpa ia minta.


Annora mengurai pelukan mereka. Dia lalu mengacak surai milik Athaya. "Kau sudah semakin tinggi, ya, cebol," ejek Annora.


Athaya menatapnya kesal. "Berisik, maniak coklat," balas Athaya, mereka berdua lalu tertawa bersama.


"Kak, apakah kau yakin akan menerimanya?" tanya Athaya.


Annora terdiam seketika. "Aku ... tidak tau, semua ini terasa mimpi bagiku. Aku senang, sekaligus bimbang. Menurutmu, apakah aku harus menerimanya?" tanya Annora pada Athaya.

__ADS_1


"Itu, terserah mu, Kak. Tapi, berjanjilah padaku untuk selalu bahagia," pinta Athaya, Annora menganggukkan kepalanya mantap.


"Ya, itu pasti."


...****************...


Disinilah Annora sekarang. Dia tengah menunggu sang suami mengucap ijab qobul. Jantungnya berdegup kencang. Ini ... sangat menegangkan bagi Annora. Jika dia bisa request, dia ingin sang ayah dan ibu menemaninya. Tapi, apalah daya takdir berkata lain.


"SAH ....!!"


Teriakan dari luar membuyarkan lamunan Annora. Dia meneteskan air matanya. Evelyn dan Adelia ada di sampingnya. Evelyn menggenggam tangan gadis itu, menyalurkan rasa aman agar sang pengantin merasa tenang. Annora menoleh kearahnya, Evelyn tersenyum kecil.


"Ayo ..." ujarnya, Annora mengangguk. Dia kemudian berjalan di dampingi Evelyn dan Adelia menghampiri sang pengantin laki-laki.


Annora lalu didudukkan di samping Aaron. Setelah membaca doa, Annora mencium tangan Aaron, tak lupa dengan pemasangan cincin, dan banyak lagi.


Semuanya tersenyum bahagia. Banyak orang terkagum-kagum dengan sosok Aaron Rama Erlangga yang mau menikahi perempuan sederhana seperti Annora Sinta Az-Zahra. Namun, tak sedikit pula yang mengatakan bahwa Annora telah menggunakan guna-guna untuk menjerat Aaron.


Annora mengangkat sebelah tangannya guna menghapus air mata Athaya yang menetes. "Kau berani sendiri?" tanya Annora dengan nada candaan.


Athaya tak menjawab. Dia memberikan sebuah bunga marigold. Annora menatapnya dengan penuh tanya. Athaya tersenyum kecil.


"Bunga marigold. Beberapa orang menganggap kalau bunga marigold melambangkan keindahan, kekayaan, kejayaan, kehangatan, hingga kesucian. Dan aku berharap, semua itu melimpah di keluargamu," ujar Athaya.


"Selain makna-makna tersebut, ada makna lain yang bertolak belakang. Bunga ini juga dipercaya melambangkan kesedihan, rasa putus cinta, kedukaan, kekecewaan, dan kekejaman."


"Aku memberikan bunga ini untuk mengungkapkan kesedihanku karena sebentar lagi, kau tak akan bersamaku. Kakakku yang dulu maniak coklat, sekarang sudah dewasa," lanjut Athaya.


Sekarang ini, bukan Athaya yang menangis, melainkan Annora. Dia tersenyum samar. "Dan Adekku yang dulu pendek, kini sudah tumbuh menjadi lelaki tampan. Tetap menjadi Adek kecilku, ya, Athaya?"


Athaya menganggukkan kepalanya. "Ya, pasti," jawabnya. Athaya lalu mengusap wajah ayu Annora yang menangis. "Jangan menangis, Kak. Ayo senyum, ini 'kan hari bahagia mu," ujar Athaya, Annora mengangguk, mereka lalu tertawa kecil bersama.

__ADS_1


...****************...


Resepsi pernikahan digelar mewah di tempat terbuka. Para hadirin yang datang pun bukan sembarangan, kebanyakan dari mereka merupakan konglomerat, bisnisman, dan banyak lagi orang penting.


Annora gugup setengah mati, Aaron lalu berjalan mendekatinya. Menggenggam tangan istrinya, mencoba memberi ketenangan. Annora menolehkan kepalanya, menatap Aaron dengan mulut agak terbuka.


"Tak apa, mereka semua tak akan memakan mu," candaan garing itu keluar dari bibir sexy milik Aaron.


Annora tertawa kecil, sekarang, dia sudah tak se-gugup tadi. "Terimakasih," ujarnya sembari tersenyum manis.


Untuk beberapa saat, Aaron tertegun dengan senyum manis milik sang dewi Sinta itu. Dia kemudian berdehem kecil guna menghilangkan rasa gugupnya.


"...?" tatapannya bertanya.


"Karena telah menghiburku dan menghilangkan kegugupan ku," jawabnya. Aaron tak menjawab, dia hanya menggenggam tangan Annora dengan lebih erat namun lembut.


Aaron dan Annora keluar menuju panggung itu. Mereka berdua berjalan di atas karpet merah yang terbentang apik untuk mereka berdua. Alunan musik pun ikut mengiringi langkah sang pasutri baru.


Semuanya berjalan dengan tenang, sebelum akhirnya terjadi sebuah kesalahan yang akan membuat Annora celaka. Palang tenda atas jatuh dan hampir mencelakai sang pengantin perempuan, untung saja Aaron segera menarik Annora kedalam pelukannya.


Aaron menguraikan pelukannya. "Kau tak papa?" tanyanya, Annora yang terlalu syok itupun hanya mengangguk.


Aaron mengepalkan tangannya, Evelyn yang melihat itupun marah, tak hanya mereka berdua, Athaya juga. Evelyn dengan segera menelpon seseorang untuk meminta pertanggungjawaban. Pihak yang bersangkutan itupun meminta maaf kepada pengantin dan keluarganya serta pada tamu undangan.


"Huh, yang tadi itu hampir saja, ya," lirih Adelia.


Athaya segera berlari menghampiri kakaknya. "Kau tak apa, Kak?" tanyanya dengan nada khawatir, Annora menganggukkan kepalanya.


"Kau tak perlu khawatir, Kakakmu akan aman bersamaku," ujar Aaron.


"Justru itu, aku takut jika Kakakku bersamamu," balas Athaya, mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam permusuhan.

__ADS_1


Annora melerai mereka berdua. Kondisi pernikahan sudah mulai kondusif, ya ... meskipun tadi ada sedikit tragedi. Akan tetapi, Aaron masih penasaran dengan kejadian tadi, tak mungkinkan jika itu perbuatan ibunya?


__ADS_2