
Di dalam ruangan gelap, Annora, Haikal, Felicia, dan Sherly berada di ruangan yang sama guna mendiskusikan tentang kelanjutan rencana mereka.
"Daffa dibawa kabur," ujar Sherly tiba-tiba. "Saat itu, aku mengunjungi Daffa untuk mengulik informasi tentang kepergiannya kala itu. Tapi, dia justru berteriak. Aku panik, terlebih ada seseorang masuk. Aku bersembunyi and, yeah, Daffa dibawa pergi."
"Dan, aku yakin kau bisa menebaknya," sahut Felicia, Sherly menganggukkan kepalanya.
Haikal geram setengah mati, berbeda dengan Annora yang masih diam bergeming. Haikal melirik kearahnya. "Apa yang membuatmu tidak fokus hari ini, Annora?" tanyanya
Annora menoleh. "Tidak," jawabnya singkat.
"Jadi, apa rencana selanjutnya? Sangat buang-buang waktu jika kita tetap mencari keberadaan Daffa," tanya Sherly.
"Kita, harus akhiri semua ini. Tutup pencarian tentang kematian Jennie," ujar Annora yang berhasil membuat Haikal sedikit emosi.
"Setelah sekian banyak yang kita lakukan, kau membatalkan semuanya? Yang benar saja, Annora!"
Annora menghela nafasnya. "Kalo ada orang ngomong, dengerin dulu," ujar Annora dengan nada lelah.
"Kita akan bersikap seolah tidak melakukan perlawanan apapun. Sherly, kau tetap melakukan hal seperti biasa. Felicia, dekati ibu dan sebisa mungkin cari informasi tentangnya, tapi ingat, jangan terlalu agresif apalagi sampai menimbulkan kecurigaan."
"Dan untuk Haikal, lakukan seperti biasa. Dan untukku, mungkin ini akan sedikit sulit. Tapi aku akan mencoba mendekati Aaron."
"Mereka akan dua langkah dari kita jika mereka tau tentang perlawanan kita. Kali ini, rencana kita adalah menyerah."
"Ingat, Yunani menang karena mereka membiarkan Troya merasa menang," jelas Annora panjang lebar.
"Singkatnya, kita hanya perlu berpura-pura menyerah, lalu mencoba kembali membaca siasat musuh. Begitu?" tanya Felicia
Annora menganggukkan kepalanya. "Yup, betul sekali. Ketika mereka merasa menang, mereka akan bersantai. Kesempatan itulah yang akan kita gunakan untuk menanggulangi rencana baru mereka."
...****************...
Hari ini, Annora sedang berjalan di antara hamparan bunga. Taman milik Erlangga, tempat yang pertamakali dijunjungnya. Kini, dia kembali ke tempat itu untuk menenangkan pikiran dan juga hatinya yang sedang berkecamuk.
Iris gadis menatap bunga peace lily yang dia genggam. Bunga yang melambangkan keanggunan itu membuatnya selalu merindukan sang ibunda. Peace lily adalah bunga favorit dan merupakan bunga yang sangat identik dengan ibunya.
Teka-teki yang harus dia jawab. Tenang kematian sang ayah, ibu, dan juga Jennie. Semuanya, begitu sulit. Dia bagaikan berjalan dengan mata tertutup. Dia tidak mengetahui mana kawan dan mana lawan. Semuanya, ambigu, abu-abu.
Mari berfikir. Pertama, dia akan mengulik tentang kematian ayahnya yang menurutnya begitu janggal. Berita itu bilang, sang ayah meninggal karena tabrak lari. Oke, fine, itu masuk akal. Tapi, dimana harta ayahnya itu sekarang?
__ADS_1
Annora masih ingat ketika sang ayah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, seseorang dari pemerintah menyita seluruh asetnya dengan alasan yang tak jelas.
Dan bodohnya, baik sang ibu ataupun dirinya percaya, karena memang saat itu, mereka semua tengah dirundung duka karena kepergian sang ayah.
Sejak saat itu, kehidupannya berubah total. Ibunya harus banting tulang untuk membiayai kuliahnya dan sekolah sang adik.
Kedua, kematian sang ibu. Ini memang sudah diketahui dengan jelas dan Annora rasa kejadian ini tidak perlu diungkit lebih dalam lagi. Ibunya yang pergi karena keteledoran Aaron.
Ironis sekali, sang ibu dibuat tiada dan diambil salah satu organ pentingnya oleh orang yang sama. Dan yang lebih mengejutkan, sekarang ini putrinya malah menjadi istri dari seorang Aaron Rama Erlangga.
Dan yang terakhir, misteri kematian Jennie, sang istri pertama Aaron yang saat ini masih Annora yakini jika pria itu masih mencintai istri pertamanya.
Sebagai seorang yang dulunya sangat menggilai sosok Aaron, tentu saja Annora tau tentang Jennie Angraeni. Pernikahan mereka terlihat bahagia, sebelum akhirnya kabar mengejutkan tentang kematian Jennie Angraeni yang disebabkan oleh penyakit jantung miliknya.
Hampir semua orang menyayangkan hal itu. Terlebih hubungan mereka yang terlepas dari isu-isu miring. Akan tetapi, siapa sangka jika hal yang terjadi sebenarnya lebih buruk dari apa yang dikatakan media tentang kematian Jennie.
Jennie meninggal dan ditemukan mengapung di atas danau yang tenang. Sayang sekali tidak ada saksi dan juga bukti yang kuat untuk itu. Akan tetapi, kalaupun ada, mereka akan segera menyingkirkannya.
Jennie, jika misteri kematian Jennie terungkap, kemungkinan besar, kasus-kasus lain yang tenggelam juga akan ikut terbuka. Mengingat, isi wasiat neneknya yang mengatakan puncak dari kemunduran Erlangga adalah karena kematian sosok putri dari panglima Jevano itu.
"Semua ini tidak akan berhasil jika aku terus bimbang dalam membuat keputusan," gumamnya pelan.
...****************...
Aluna keluar dengan pakaian tebalnya, membuat Annora tersenyum kecil. "Kau sudah siap, gadis kecil?" tanya Annora
Aluna menganggukkan kepalanya. "Tentu saja," jawabnya dengan semangat. Annora kemudian mengandeng gadis dan mereka berjalan bersama.
...****************...
Halaman luas Erlangga, disinilah Annora dan Aluna beranda. Felicia kemudian datang dengan membawa sebuah kue ulangtahun.
"Selamat ulang tahun, Putri Aluna Zeela Erlangga," ujar Felicia dengan ramah.
Aluna mengernyitkan dahinya, dia lalu menatap sang ibu. "Ibu ....?"
Annora menganggukkan kepalanya. "Ibu tau, hari ini bukan hari ulang tahunmu, kan?"
"Lalu, kenapa Ibu ....?"
__ADS_1
Annora tersenyum tipis. "Karena Ibu mungkin akan sibuk besok, lagian, hanya selisih satu hari 'kan?" Annora berjongkok didepan Aluna menyamakan tingginya. "Untuk besok, selamat ulang tahun putri kecil ibu, jangan lupa untuk bahagia selalu, ya, doa ibu akan selalu turut serta untukmu," harap Annora.
Aluna memeluk tubuh Annora hingga membuat gadis itu sedikit terhuyung kebelakang. Aluna menangis, Annora bisa merasakan itu.
"Ma-makasih, Ibu. Luna sayangg banget sama Ibu," ujar Aluna.
Annora mengurai pelukan mereka. Dia menghapus lelehan air mata yang membekas di pipi Aluna. "Jangan menangis, Sayang. Ayo senyum," tutur Annora, Aluna menurut, dia kemudian tersenyum meski air matanya tak berhenti mengalir. "Nah, seperti itu 'kan cantik."
Annora kemudian mengambil kue ulang tahun dari tangan Felicia. "Sekarang, tiup lilinnya," perintah Annora, Aluna kemudian meniup lilin itu sampai apinya mati. Setelahnya, dia memotong kue tersebut dan memberikannya pada Annora. Annora menerima itu dengan senang hati.
Semuanya begitu indah bagi mereka. Sehingga mereka tidak sadar jika dua pasang mata tengah mengamati keakraban yang terjadi antara ibu dan anak itu.
Aaron dan Belinda memperhatikan mereka dari jauh. Dari lubuk hati yang paling dalam, Aaron ingin berada di sana ikut turut serta menikmati kehangatan yang tercipta.
Dalam hati, diam-diam Belinda iri dengan Annora yang bisa begitu akrab pada Aluna. Hatinya sedikit sakit kala mengetahui putrinya lebih menyayangi perempuan asing dibanding ibunya sendiri yang telah melahirkannya.
Setelah selesai memakan kue yang ada, mereka menatap langit malam penuh bintang. Sang bulan juga ikut serta disana.
"Lihatlah bintang dan bulan itu, mereka turut serta merayakan ulang tahunmu," ujar Annora sembari menunjuk langit hitam yang bertabur bintang.
Aluna mendongak menatap langit. "Benarkah seperti itu?" tanyanya
Annora menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, apakah kau senang, Aluna?" tanya Annora
Aluna menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, ini pertama kalinya aku mendapatkan surprise ulang tahun seperti ini. Biasanya, Belinda hanya akan memberikan waktu liburan dan itu tanpa ayah," tuturnya.
Annora mengusap kepala gadi itu dengan lembut. "Kau suka kembang api?" Aluna mengangguk mengiyakan. Annora kemudian memberi kode kepada seseorang.
Duarr
Suara kembang api terdengar, Aluna menatap langit itu dengan penuh binar. Annora tersenyum senang melihat Aluna yang bahagia.
"Ibu ...."
"Yes, for you, my little princess, Aluna Zeela Erlangga."
Setelah waktu menunjukkan pukul sebelas, Annora mengajak Aluna untuk kembali tidur, tapi gadis cilik itu enggan.
"Aluna, simpan tenagamu itu untuk besok, karena besok, ibu akan menuruti satu permintaanmu, jadi ... istirahatlah agar bisa memikirkannya," ujar Annora, baru setelah itu Aluna menurut.
__ADS_1