Dear My Idol

Dear My Idol
Red Rose


__ADS_3

Sudah beberapa hari berlalu. Annora diboyong di keluarga Erlangga, sedangkan Athaya memilih untuk tetap di rumah. Sebenarnya, Annora sudah mengajak adiknya itu untuk ikut, keluarga Erlangga juga tak keberatan. Tapi, Athaya menolak, alasannya simpel, karena dia tak ingin merepotkan kakaknya.


Disinilah Annora berada, dia sekarang bersama dengan Aaron. Mengelilingi mansion Erlangga yang menurut Annora besar sekali itu.


Haidar datang bersama seseorang berjalan menghampiri Aaron dan Annora. Annora memandang keduanya dengan tatapan bingung.


"Annora, ini adalah saudara Haidar. Mulai sekarang, dia akan menjadi pengawal pribadimu," ujar Aaron, Annora hanya menatap Aaron, sepertinya, dia masih belum mengerti.


Aaron menghela nafasnya. "Sama seperti aku dengan Haidar, singkatnya. Haikal akan menjadi pengawal sekaligus sopir mu," lanjutnya.


"Bos-nya?" tanya Annora, dia ingin memastikan hal itu. Dia khawatir jika suatu saat ia ada masalah dengan Aaron, maka Haikal akan menjadi orang yang paling berbahaya.


"Kau, dia hanya akan menuruti perintah mu. Uang untuk membayarnya akan aku transfer ke rekening mu." Aaron menatap Haikal. "Perkenalkan dirimu," perintahnya.


Haikal mengangguk patuh. "Perkenalkan, saya Haikal Putrajaya, adek dari Haidar Putrajaya. Saya bersumpah akan selalu setia pada Anda, Nyonya Annora Sinta Az-Zahra," ujar Haikal memperkenalkan diri. Annora hanya mengangguk, dia bingung harus menanggapi Haikal bagaimana.


Aaron dan Annora melanjutkan acara jalan-jalannya. Dengan kawalan Haidar dan Haikal. Mereka berdua menikmati waktu kebersamaan.


...****************...


Sudah cukup lama Annora menjadi istri Aaron. Tapi, dia tetap merasa menjadi asing. Pasalnya, Aaron begitu tertutup dengannya. Akhir-akhir ini, Aaron juga sering pulang malam. Katanya, sih, karena kerjaan.


Annora sedang berbincang-bincang dengan Evelyn. Dia memang lebih dekat dengan Evelyn dibanding dengan Adelia. Bagi Annora, Adelia itu menakutkan. Hampir sama seperti ibu mertua yang galak, meski dia tak pernah dimarahi.


"Dimana Aaron? Biasanya kalian bersama?" tanya Evelyn tiba-tiba.


Annora menatap Evelyn dengan heran. "Bukankah Nenek memberinya tugas di luar kota?" tanyanya.


"Aku tak pernah memberinya tugas sampai ke luar kota. Bahkan Adelia sendiri yang meng-handle semua itu," sangkal Evelyn. Dia kemudian menatap Annora. "Kapan dia pergi?"


"Umm ... sudah satu minggu yang lalu," jawab Annora.


"Seminggu yang lalu? Padahal klien yang Adelia tangani baru tiga hari," kata Evelyn.


Hati Annora menjadi gelisah. Dari kemarin dia memang sudah tak tenang. Aaron seperti, menyembunyikan sesuatu. Bukan hanya Aaron, tapi juga seluruh keluarga ini. Seperti ... ada sesuatu yang sangat besar tersembunyi. Entah apa, Annora tak tau.

__ADS_1


...****************...


Annora memanggil Haikal. Satu-satunya orang yang cukup dengan Haidar adalah Haikal, karena mereka kakak-adik. Dan Annora akan memanfaatkan itu untuk mengetahui keberadaan Aaron sekarang.


"Haikal, apakah kau tau dimana Aaron sekarang?" tanya Annora to the poin.


Haikal menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tau, Nyonya," ujarnya.


Annora mengetukkan jarinya. Mencoba berfikir positif tentang Aaron. Tapi, nihil. Otaknya memaksa ia untuk berfikir rasional. Kemungkinan terbaik adalah Aaron sedang ada pekerjaan sendiri, sedangkan terburuknya adalah ... selingkuh.


Annora menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tak mungkin, Aaron bukan orang yang seperti itu. Annora percaya itu.


Haikal mengernyitkan keningnya heran ketika melihat Annora menggelengkan kepalanya. "Ada masalah, Nyonya?" tanya Haikal.


Annora tersentak kaget. Dia membuka matanya kemudian menggeleng. "Tidak," jawabnya singkat.


Annora menatap Haikal. "Bukankah kau adik dari Haidar?" tanya Annora, Haikal hanya menganggukkan kepalanya. "Harusnya, kau tau dimana saudaramu itu pergi, kan? Rasanya, mustahil bila Haidar tak memberitahumu tentang dia yang akan pergi ke mana," lanjut Annora.


"Dia, berkata bahwa akan menemani Aaron ke pelabuhan setelah pekerjaannya selesai. Mungkin saat ini, dia sedang ada di pelabuhan. Mengingat perkataannya tempo lalu, kita bisa menunggu dan melihat di atas jembatan," jelas Haikal panjang lebar.


"Menurutmu, apa yang mereka lakukan?"


Annora menganggukkan kepalanya mengerti, raut wajahnya berubah seratus persen. Raut bahagia tercetak jelas di wajah manisnya. Annora menatap Haikal dengan penuh harap. "Bisakah kita menyusul mereka?" tanyanya.


"Saya akan selalu bisa untuk Anda, Nyonya," jawab Haikal.


Annora tersenyum senang. "Baiklah, kita akan pergi malam ini," ujar Annora dengan nada riang.


Haikal keluar untuk menyiapkan mobil, sedangkan Annora pergi ke kamarnya guna mengambil tas dan bunga mawar merah pemberian Aaron tempo lalu. Dia kemudian mencium wangi bunga yang sedikit layu itu.


Annora kemudian keluar, menunggu mobil yang akan mengantarnya. Haikal membukakan pintunya untuk Annora, Annora mengucapkan terimakasih. Mereka lalu melesat menuju jembatan.


...****************...


Di atas jembatan, disinilah mereka berdua sekarang. Menunggu kapal feri yang ditumpangi oleh Aaron, yang katanya digunakan untuk memberi surprise.

__ADS_1


Annora menatap penuh binar pada kapal feri itu. Meski jauh, tapi ia bisa melihat betapa mewahnya kapal itu karena dihiasi oleh lampu-lampu yang indah. Kapal itu semakin mendekat, menampakkan sepasang manusia yang telah bercumbu.


Annora menatap keduanya dengan tatapan tak percaya. Dipanggilnya Haikal yang berada di sampingnya.


"Haikal, apakah mataku bermasalah? Tak mungkinkan jika itu Aaron?" tanya Annora, dia berharap matanya bermasalah, setidaknya untuk saat ini.


Haikal menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Nyonya. Itu benar Aaron," jawab Haikal jujur. Dia menatap prihatin kearah nyonyanya itu.


Setetes air mata terjun bebas membasahi pipinya. Bunga mawar yang dipegangnya pun jatuh, mahkota mawar itu berserakan mewakili perasaan pemiliknya.


Annora membenci ini, dia benci ketika keingintahuan nya malah membuatnya jatuh kedalam jurang nestapa. Harusnya, dia tak perlu mengetahui ini. Bohong rasanya jika dia mengatakan bahwa hatinya tak sakit.


Pada kenyataannya, Sinta selalu jatuh hati pada pandangan pertama, bukan? Ya, begitupula dengan Sinta yang ini, Sinta yang jatuh cinta pada Rama. Sayangnya, Rama yang Sinta jatuh cintai ini bukanlah Rama sang penguasa Ayodya.


"Haikal, apakah kau sudah ini tau sebelumnya? Ah, sudah pasti kau tau, ya. Ini 'kan surprise yang kau maksud? Harusnya aku tau dari tadi, maaf karena tidak mengerti maksud perkataan mu tadi," ujar Annora.


"Tidak, Nyonya. Saya berani bersumpah bahwa saya tidak tau tentang ini. Saya juga tidak menyangka akan hal ini," jawab Haikal cepat. Jujur, dia juga tak menyangka bahwa hasilnya akan seperti ini. Dia pikir, Aaron hanya akan makan bersama kliennya, tapi ternyata (?).


"Menurutmu, siapa perempuan itu?" tanya Annora mengalihkan pembicaraan.


"Sherly Cinthya Arabella, sekertaris sekaligus orang kepercayaan Aaron setelah kakak," jelas Haikal.


Annora membalikkan badannya, diusapnya pipi yang terbasahi oleh air mata itu. "Aku ingin pulang," ujarnya.


Haikal lalu membukakan pintu untuk Annora. Gadis itu segera masuk. Haikal pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju kencang.


Annora terdiam di sepanjang jalan. Tatapannya kosong. Haikal khawatir tentang itu. "Apa Anda baik-baik saja, Nyonya?" pertanyaan konyol itu lolos dari bibirnya. Annora tak menjawab, dia hanya diam.


...****************...


Annora tau ini salahnya, tapi tetap saja dia tidak suka. Annora mencoba mengingat tentang pertemuan pertamanya dengan Aaron. Dari mulai dia yang menyelamatkan laki-laki itu hingga berakhir menjadi istrinya. Ini semua terasa mudah.


"Harusnya aku tau akan seperti ini jadinya. Tak mungkin orang seperti Aaron jatuh cinta kepada gadis biasa sepertiku kecuali jika memang ada sesuatu."


"Dari awal semua ini memang janggal. Terlalu mudah. Bahkan banyak artis-artis yang mencoba mendekatinya namun dia tolak. Harusnya aku sadar itu."

__ADS_1


"HARUSNYA AKU SADAR DARI AWAL ...!!" jerit Annora. Aaron adalah lelaki hebat, dia sempurna, mustahil rasanya jika dia jatuh cinta pada perempuan sederhana macam Annora.


Aaron adalah orang yang berhasil melukai Annora tanpa menyentuhnya. Mungkin tubuh Annora baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Perempuan mana yang tak sakit bila melihat orang yang dicintainya bercumbu dengan perempuan lain.


__ADS_2