Dear My Idol

Dear My Idol
Shadow Force


__ADS_3

Felicia menatap ibunya penuh rindu. Dia bahkan hampir meneteskan air mata jika tidak ia tahan.


Adelia tersenyum tipis menatap Felicia. "Ici, maukah Ici membantu Ibu?" tanya Adelia pada putrinya.


Felicia terdiam sebelum akhirnya mengangguk ragu. "Iya, jika Ici mampu, Ici bakalan bantu Ibu, kok," jawab Felicia.


"Ici tidak mau 'kan jika Ibu tersiksa?" Felicia menggelengkan kepalanya, membuat Adelia tersenyum senang. "Bantu Ibu, ya? Bantu Ibu untuk mendapat informasi tentang Annora, itu tidak mudah 'kan, Felicia Citra?"


Felicia melunturkan senyumannya. Dia bimbang. Di satu sisi, Adelia adalah ibu kandungnya, terlepas dari dia yang menelantarkannya waktu kecil, dan bahkan pernah tidak mengakuinya sebagai anak.


Di lain sisi, Annora adalah bos-nya yang sangat dia hormati dan sayangi, mana mungkin dia berkhianat pada Annora sedangkan nyonyanya itu sudah berbuat begitu baik padanya.


...****************...


No Name dan No Body, itu adalah nama samaran mereka. Setiap bawahan 'Shadow Force' akan diberi kesempatan untuk memliki nama samaran sendiri, hanya orang penting atau yang memiliki potensi tinggi.


No Name alias Haikal dan No Body atau yang bisa dikenal dengan nama Felicia merupakan contohnya. Mereka berada penuh dalam naungan Shadow Force yang merupakan sebuah pengawal bayangan milik Erlangga.


Shadow Force memang untuk Erlangga, tapi sampai kini, pemilik atau ketuanya belum diketahui. Bahkan Adelia dan Aaron pun tidak mengetahui motif Shadow Force yang sebenarnya.


Haikal menatap intens kearah Felicia yang tengah diam termenung. Felicia kemudian menoleh menatap Haikal. "Ada apa?" tanya Felicia


"Kayaknya lo lagi ada masalah," ujar Haikal. Sekarang ini, mereka sedang berada di gudang yang terbengkalai. Mereka berdua menjadikan gudang itu sebagai markas.


Felicia terdiam, dia bimbang. Haikal memutar bola matanya. "Gue gak tau apa masalah lo, tapi inget, jangan pernah gagalin misi ini, lo nggak mau ngecewain mereka 'kan, Felicia Citra?"


Felicia menatap Haikal, matanya berkaca-kaca. Dia juga perempuan, punya hati yang masih berfungsi. "Gue ... bingung," ujarnya kemudian.


Haikal masih terdiam, menunggu perkataan Felicia yang selanjutnya. "Ibu bilang mau ngakuin gue sebagai anaknya, tapi dengan syarat gue harus bantu dia. Gue ... bingung," lanjut Felicia.


Haikal menghela nafasnya. "Itu terserah lo, lo mau ikutin nyokap lo yang udah ninggalin plus nelantarin lo sejak kecil, atau sama kita."


"Perbuatan salah akan tetep salah, entah siapapun yang melakukannya, termasuk nyokap lo." lanjut Haikal


"Semuanya ada di tangan lo sendiri, Felicia. Tapi, kalo lo mau mihak nyokap lo, gue minta lo keluar tanpa bocor apapun, bisa?"


Felicia diam. "Gue ..." Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Bantu gue buat tetep di ini, No Name," ujarnya dengan nada yang penuh keyakinan.


Haikal tersenyum dan mengangguk. "Good."

__ADS_1


...****************...


Annora menatap mereka dengan penuh kekecewaan. Dia menghela nafasnya panjang. "Anggota Shadow Force, ada yang ingin menjelaskan ini padaku?" tanya Annora dengan nada tegasnya.


Kedua orang itu menunduk, tak berani menatap wajah garang Annora. "Aku tidak tau jika kalian bisu," ceplos Annora, dia sedang marah.


"Ma-maaf 'kan saya, Nyo-Nyonya sa-"


Annora memotong perkataan Felicia dengan cepat. "Aku tidak meminta permohonan maafmu, Felicia. Aku hanya ingin salah satu di antara kalian berdua menjelaskan tentang Shadow Force, sang pelindung bayangan Erlangga, hanya itu."


"Shadow Force, suatu geng atau perkumpulan orang yang mengawasi Erlangga secara sembunyi-sembunyi. Shadow Force di bentuk oleh seorang Erlangga yang saat ini memang belum diketahui secara pasti. Shadow Force bertugas untuk meluruskan keluarga Erlangga, dengan catatan harus ada orang yang bertindak di dalamnya."


"Saya dan Felicia adalah salah satunya, seseorang dari SF meminta kita untuk melindungi Anda dari Erlangga yang membusuk ini." tutur Haikal panjang lebar.


"Siapa orang itu?"


"Unknown, kami tau tapi dilarang membocorkannya. Dia tidak berbahaya untuk Anda, tapi beracun untuk para Erlangga," lanjut Felicia.


Annora terdiam sejenak. Kepalanya pusing sekali. Belum selesai masalah Jennie, kini tambah lagi. Annora menatap Haikal dan Felicia secara bergantian.


"Tak peduli apa motif SF, aku hanya ingin kalian tidak berkhianat kepada ku," final Annora, dia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya pergi.


"Sepertinya ... dia tidak peduli akan hal ini. Tugasmu adalah meyakinkan dirinya, beri informasi apapun terkait dengan SF jika dia minta, asal jangan yang private. Rahasia, tapi umum. Kau mengerti?"


...****************...


Annora menutup mulutnya tak percaya. Dia menatap Felicia dengan mata berair. Ia lalu memeluk Felicia. Awalnya Felicia kaget, tapi setelah itu, dia membalas pelukan Annora.


"Maafkan saya karena sering mengecewakan Anda, Nyonya. Saya juga serba salah dengan keadaan ini," jelas Felicia.


Annora menganggukkan kepalanya. "Pilih sesuai kata hatimu, jika menurutmu baik, maka lakukanlah," ujarnya.


Felicia menatap Annora. "Nyonya, Anda ....(?)"


"Seorang ibu memiliki peran yang lebih besar, bukan? Jika kau memihak ibumu, aku tak keberatan, hanya saja ... mungkin akan terasa sedikit sulit, ya, tapi tak apa, ada Haikal yang membantuku nanti."


Tuh 'kan, nyonyanya itu baik. Padahal Annora tau jika Adelia adalah salah seorang yang terlibat dalam pembunuhannya. Tapi, lihatlah, dia bahkan masih mengijinkan Felicia memilih.


Tak tahan, air mata Felicia tumpah. "Terimakasih, terimakasih, Nyonya ..." ujarnya

__ADS_1


...****************...


Annora menyeruput kopinya, pikirannya melayang pada kejadian beberapa tempo lalu. Shadow Force, sang pengawal bayangan Erlangga. Dan tentang Haikal juga Felicia yang ternyata ikut dalam SF.


"Aku berani bertaruh bahwa orang mengirim Felicia kemari adalah orang yang jenius. Dia tidak menekan Felicia, tapi dia membuat keadaan menekan mental Felicia. Memilih antara ibu atau bosnya. Itu memang konyol sekali," gumam Annora.


...****************...


Aaron menatap bingung kedatangan Annora di ruang kerjanya. "Ada apa?" tanyanya singkat


Annora tersenyum manis. "Bisa kita bicara? Aku ingin mengobrol denganmu, Aaron Rama Erlangga," ujar Annora mengungkapkan niat di hatinya.


Aaron mengernyitkan keningnya. Dia kemudian mengangguk. Ya, mereka berdua mengobral, hingga akhirnya, sampailah kepada satu topik yang sangat disukai.


"Menurutmu, apakah Shadow Force itu nyata?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Annora.


"Nyata, tapi dia gak bisa dilihat," jawab Aaron. "Aku bahkan sudah menyewa beberapa orang untuk menyelidiki siapa dan apa motif SF. Memang kenapa kau tanya soal itu?"


Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, aku hanya penasaran. Ya, kau tau, akhir-akhir ini banyak orang membicarakan tentang Shadow Force itu," jawab Annora.


Aaron menganggukkan kepalanya mengerti. Dia menatap Annora dengan tatapan yang sulit diartikan. Annora menoleh menatapnya. Kedua iris mereka bertemu.


Ya, Aaron bahkan rindu dengan senyuman gadis itu saat baru menjadi istrinya. Dia rindu sambutan itu. Dia rindu bagaimana Annora memperlakukan nya dulu.


Iris Aaron terpaku pada bibir mungil itu. Tanpa sadar kepalanya mendekat, tangannya menarik dagu Annora.


Cupp


Untuk sekian detik, bibir keduanya menempel. Tak hanya Annora yang terkejut, Aaron juga. Tapi dia enggan untuk melepasnya.


Annora mendorong dada bidang milik Aaron. Membuat keduanya saling berjauhan.


Plakk


Annora lah pelukan, dia menampar wajah tampan Aaron. Dadanya kembang-kempis, kedua bola matanya berkaca-kaca. Dia menatap Aaron dengan tatapan marah.


"Jangan memperlakukanku layaknya jal*ng mu!" desis Annora sebelum melangkah menjauh dari Aaron.


Aaron menatap punggung Annora yang mulai menjauh. Rasa sesak memenuhi relung hatinya. "Brengs*k." umpatnya

__ADS_1


__ADS_2