Dear My Idol

Dear My Idol
Plum Blossom


__ADS_3

Aaron berjalan cepat guna menemui sang ibunda. Ia ingin mengetahui tentang apa yang terjadi saat dirinya pergi.


Pintu dibuka, tanpa salam dan basa-basi, Aaron langsung duduk dihadapan ibunya. Tatapan tegasnya seolah ingin mengintimidasi sang ibu. Adelia hanya tersenyum remeh melihatnya.


Sekuat apapun Aaron, putranya itu akan takluk dengannya. Ibaratnya, jika Aaron adalah monster, maka Adelia adalah pawangnya. Ia akan selalu bisa mengontrol Aaron.


"Sebenarnya, apa yang terjadi selama aku pergi, Bu?" tanya Aaron dengan nada serius.


Adelia tertawa kecil. "Oh, ayolah ... Aaron, Putraku, itu hanyalah main-main. Annora tidak mungkin melakukan kesalahan bodoh yang membuatnya masuk ke penjara bawah tanah."


Adelia menjeda kalimatnya, dia tersenyum smirk memikirkan rencana yang ada di kepalanya. Ditatapnya sang putra sematawayangnya itu. "Ibu hanya memberi peringatan pada menantu kesayangan nenekmu itu agar tidak bermain api dengan mu."


Aaron mengernyitkan keningnya heran. "Apa maksud Ibu?"


Adelia tertawa kecil mendengar pertanyaan putranya itu. "Kau sudah melihat foto yang dikirimkan Belinda? Apakah kau pikir itu hanyalah sebuah editan?"


Aaron terdiam, dia tidak menjawab. Adelia kembali bersuara, "Kau pasti bisa membedakan hal itu, bukan?"


"Pikirkan baik-baik, Aaron. Jangan pernah kau gunakan cinta sebagai alasan untuk setiap kebodohan tindakanmu itu," sambung Adelia.


Aaron hanya mampu membisu. Apapun yang dikatakan ibunya itu selalu benar dan berbobot. Sedangkan Adelia hanya tersenyum tipis melihat keterdiaman putranya itu.


"Pergilah dan pikiran baik-baik perkataan ibumu ini, Nak," ujar Adelia.


Aaron kemudian pamit pergi dengan pikiran yang kacau. Satu sisi dia membenarkan perkataan ibunya, namun disisi lain, dia tidak setuju dengan itu.


...****************...


Annora menghela nafasnya kasar. Hari ini dia mungkin tidak akan keluar dari kamar, mengingat dia sedang sakit. Apalagi, Aaron sudah melarangnya. Ini pasti akan sulit.


Pintu kamar terbuka, menampilkan Aaron yang dibelakangnya ada Felicia. Gadis itu sedang membawa nampan untuk Annora. Senyuman Annora mereka melihatnya.


Felicia menaruh nampan yang berisi makanan itu berada di meja samping. "Silahkan dinikmati, Nyonya," ujar Felicia ramah.


Aaron memberi kode Felicia agar segera meninggalkan kamar mereka. Felicia menganggukkan kepalanya singkat. "Saya pamit dulu, Tuan, Nyonya."


Setelah Felicia pergi, Aaron lalu duduk di sisi ranjang Annora, membuat sang gadis mendelik tajam kearahnya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya

__ADS_1


Aaron mengambil semangkuk bubur dan menyendok nya. Di sodorkannya bubur itu. Annora menutup mulutnya. Aaron menghela nafasnya. "Buka mulutmu dan makan," perintahnya.


Annora hendak mengambil sendok itu, namun diurungkannya karena perkataan Aaron. "Jangan banyak gerak, cukup buka mulutmu dan telan," perintah Aaron.


"Tapi aku bisa makan sendiri," protes Annora.


"Kau ingin disuapi dengan sendok ini atau dari mulut langsung, Tuan Putri?"


"Sendok," sahut Annora cepat.


Aaron menganggukkan kepalanya. "Bagus," komentar Aaron, dia lalu memasukkan bubur itu kedalam mulut Annora. Meski terpaksa, Annora tetap menerima suapan itu.


Annora mencuri-curi pandang kearah Aaron. Aaron yang sadar akan hal itupun menatapnya seolah bertanya.


"Umm ... aku belum sempat mengucapkan selamat datang. Jadi, selamat datang," ujar Annora.


"Konyol," komentar Aaron.


Annora menggembungkan pipinya kesal. "Seharusnya kau bersyukur," kata Annora.


Aaron mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa?"


...****************...


Setelah tiga hari di dalam kamar, akhirnya Annora sembuh. Berterimakasih lah pada Aaron yang mau merawatnya. Sekarang ini, ia sedang membaca laporan misi dari Haikal dan juga Felicia.


Iris Annora menajam begitu melihat berita itu. Berita tentang hilangnya remaja perempuan yang berakhir di rudapaksa oleh orang tak dikenal.


Annora kemudian mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Tangannya terkepal erat, dari semua kasus yang ada, hanya kasus ini yang paling Annora benci.


Beberapa saat kemudian, Haikal dan Felicia masuk. Mereka berdua menunduk hormat sebelum akhirnya duduk dan berdiskusi. Annora menunjukkan berita yang memuat tentang kejadian tersebut.


Haikal mengernyitkan keningnya heran. "Bukankah hal ini sudah terjadi sejak sepuluh tahun silam, ya?" Annora dan Felicia sontak menoleh kearahnya, mereka berdua menatap seolah menuntut penjelasan dari Haikal.


Haikal menghembuskan nafas pelan. "Ya, tentang hal ini memang sudah ada sejak sepuluh silam lalu. Tapi, berita ini tenggelam."


"Lalu, bagaimana dengan korbannya dan ... apakah sampai saat ini pelakunya belum juga terungkap?" tanya Annora

__ADS_1


Haikal mengangkat bahunya tak tau. "Entahlah, yang pasti, banyak atau bahkan mayoritas dari mereka akan melakukan bunuh diri karena tak sanggup menghadapi perundungan."


Felicia menatap Annora. "Jangan bilang kau menyuruh kami berdua datang kemari adalah untuk mengupas hal ini?" tebak Felicia


Annora tersenyum senang. "Tepat sekali," balasnya, dia kemudian terdiam memikirkan sesuatu.


Haikal dan Felicia saling melempar tatapan tanya Antara satu dengan yang lain. Akhirnya, Felicia menyentuh bahu Annora untuk menyadarkan gadis itu dari acara lamunannya.


"Are you okey, girl?"


Annora menganggukkan kepalanya singkat. Dia kemudian menatap satu persatu temannya itu. "Kalian ngerasa ada hal yang aneh, gak?" tanya Annora, baik Haikal ataupun Felicia menggelengkan kepalanya tak tau.


"Setiap korban rudapaksa ini 'kan kebanyakan bundir, tapi pertanyaannya adalah ... dimana? Dimana jasad mereka?"


Haikal terdiam. Benar juga, dari dulu sampai sekarang, tak terpikirkan olehnya tentang semua itu. Tentang dimana korban selalu dinyatakan hilang dengan jejak darah.


"Aku denger, polisi cuman berhasil nemuin bercak darah sama senjata tajam aja. Meskipun hasilnya tetep sama yaitu si korban bunuh diri, tapi ... where is the body?" Pertanyaan Felicia semakin membuat Haikal berfikir.


Ketiganya saling melempar tatapan tanya, meski mereka tau bahwa tidak ada salah satu dari mereka yang tau akan hal itu.


...****************...


Annora tengah mengajak Aluna untuk berkeliling di sekitar mansion Erlangga. Gadis cilik itu mengeluhkan bahwa kepalanya pusing karena harus menghafal semua yang berkaitan dengan undang-undang negara.


Sebenarnya, Annora sangat prihatin dengan keadaan Aluna. Akan tetapi, gadis itu sendiri juga berambisi untuk menjadi putri mahkota, jadi ... Annora tidak bisa melarangnya.


Netra Aluna terpaku pada bunga plum blossom yang mulai bermekaran di halaman Erlangga. Gadis itu kemudian menarik tangan sang ibunda. "Ibu, bunga plum blossom sudah mulai bermekaran," katanya.


Annora menganggukkan kepalanya. "Iya, itu berarti kita sudah memasuki musim semi." Aluna menghela nafasnya, membuat Annora menatapnya penuh tanya. "Apa ada yang menganggu mu, Aluna?" tanya Annora


Aluna menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja ... kenapa kita tidak memiliki bunga plum blossom yang banyak seperti negara tetangga, Bu?"


Annora tersenyum simpul. "Kau tau, bunga plum blossom ini ada di sini karena permintaan nenek Evelyn. Jika bukan beliau yang meminta, mungkin saat ini kita tidak bisa menikmati keindahannya. Lagipula, plum blossom kurang cocok untuk hidup di iklim seperti ini," jelas Annora.


Aluna menganggukkan kepalanya mengerti. Dia kemudian mengambil bunga plum blossom yang dapat ia gapai. "Ibu, apa makna dari bunga ini?"


"Harapan, bunga ini melambangkan harapan," jawab Annora.

__ADS_1


Aluna tersenyum senang. "Aku ingin menjadi seperti plum blossom bagi ayah dan Ibu."


"Tanpa kau minta pun ayah dan ibu akan selalu berada disisi mu, gadis cilik ..." ujar Annora gemas.


__ADS_2