
Haikal menatap tajam Felicia. Dia memang membiarkan Felicia memilih antara setia dengan Shadow Force atau ibunya. Dan ternyata, dia memilih dengan ibunya. It's okey, but, Haikal masih tidak menyangka bahwa Felicia hampir menyetujui ide gila ibunya untuk membunuh Annora.
"Ada apa kau kemari?" tanya Haikal to the poin.
Felicia mengeluarkan sebuah penyadap suara dari saku baju pelayannya. "Ini hasilnya," ujarnya. Haikal mengernyitkan keningnya. "Lo pasti ngira gue pro sama ibu gue, kan? Enggak, enggak semenjak gue tau dia cuma manfaatin gue," jelas Felicia. Haikal masih diam, menunggu kelanjutan cerita Felicia.
"Ibu bilang kalo gue cuma batu loncatan buat kejayaannya. Dia juga berusaha buat nyingkirin gue," cerita Felicia.
Haikal menganggukkan kepalanya mengerti. "Yeah, itu gak heran, btw, thanks," ujar Haikal, dia kemudian mengambil penyadap itu dan memutarnya.
Haikal menatap Felicia. "Rencana selanjutnya," perintahnya pada Felicia, Felicia menganggukkan kepalanya. Dia kemudian keluar dari ruangan itu.
...****************...
Aluna tersenyum di sepanjang jalan. Annora ikut tersenyum melihatnya. "Kau sepertinya sangat bahagia sekali, Aluna," ujar Annora.
Aluna menganggukkan kepalanya. "Iyaa, Ibu, kapan-kapan kita mengunjungi paman lagi, ya?"
"Iyaa, Sayang ...."
Aluna menolehkan kepalanya menatap Aaron. "Ayah, kapan aku punya adik?" tanya Aluna
Aaron menatapnya kaget, sedangkan Annora tersedak minumnya, dia juga menatap Aluna. "Kenapa Aluna ngomong gitu?" tanya Aaron dengan nada lembut.
Annora sedikit tersentak mendengar nada suara Aaron yang lembut terhadap Aluna. Seburuk apapun seorang pria, dia akan tetap menjadi pahlawan bagi anak perempuannya, karena cinta pertama seorang ayah adalah putrinya.
"Aku cuma pengen kaya Ibu sama paman. Ibu punya paman yang sangattt sayang sama Ibu. Terus, paman punya kakak yang sangattt penyayang kaya Ibu," jelas Aluna.
Gadis itu kemudian menundukkan pandangannya. "Aku juga pengen. Ayah sibuk kerja, terus aku juga padat tutor, Ibu ...? Nenek ngelarang aku buat ketemu Ibu kalo tutor belom selesai," curhatnya.
Aaron mengelus kepala Aluna dengan lembut. Membuat sang putri mengangkat kepalanya menatap Aaron. "Iyaa, maafin Ayah, ya?"
Aluna mengangguk mengiyakan. Dia lalu memeluk tubuh Aaron dengan erat. Aaron pun memeluknya, sesekali pria itu mencium kepala Aluna.
Hati Annora menghangat melihat interaksi keduanya. Ah, dia jadi merindukan ayahnya. Bagi Annora, Arya adalah pria paling sempurna yang pernah ada. Pria yang paling tulus mencintainya, yang Annora tau, Arya adalah ayahnya. Ayahnya yang sempurna.
...****************...
Belinda berjalan santai, tapi tidak dengan otaknya yang berfikir keras. Dia masih memikirkannya bagaimana caranya menyingkirkan Annora. Annora adalah ancaman baginya, jika dia tidak disingkirkan, maka tujuannya tidak akan tercapai.
Annora Sinta Az-Zahra, dia harus tau informasi tentang perempuan itu sebelum menyingkirkannya. Titik lemah mana yang harus dia serang untuk melumpuhkan Annora.
Aaron? Tidak, dia tidak bisa memanfaatkan itu lagi. Aaron sudah tak percaya lagi padanya, itu pasti akan sulit. Charles, ya, pria gila harta itu pasti mau membantunya.
Belinda melajukan mobilnya kencang menunju ke tempat yang dia mau. Ya, tempat dimana Charles berada.
...****************...
Belinda memasuki bar itu. Dia kemudian mencari sosok Charles. Pria itu memang suka minum dan bermain.
__ADS_1
Iris Belinda meliar, mencari sosok Charles, salah satu mantan petinggi di Erlangga. Ah, itu dia. Pria yang sudah cukup tua itu sedang duduk didampingi tiga orang wanita.
Belinda melangkahkan kakinya menuju Charles. Dia berdehem kecil, membuat sang empu menoleh kearahnya. Alis Charles terangkat sebelah. Belinda memberinya jawaban lewat lirikan mata. Charles mengangguk mengerti, dia lalu meninggalkan para wanita itu.
Ruangan sepi, hanya mereka berdua yang ada. Tidak ada alunan musik yang berdentum kencang hingga membuat mereka terganggu.
Charles menatap Belinda datar. "Ada apa?" tanyanya malas, ya, mereka saling mengenal. Mereka juga pernah bekerjasama.
Belinda memutar bola matanya. "Apa kelemahan dari istri salah satu pendiri negara ini?" tanyanya to the poin.
Charles menguap tak tertarik. "Erlangga maksudmu? Nyaris tidak ada, kalaupun iya, Adelia sudah runtuh dari dulu," jawabnya.
"Nyaris, berarti masih ada celah, kan?"
Charles menganggukkan kepalanya. "Ya, salah satunya dan yang paling terkuat adalah desakan massa."
Belinda tersenyum puas. "Lalu, apakah kau punya sesuatu yang bisa menyingkirkan orang ini?" tanya Belinda sembari menyodorkan sebuah foto.
Charles memandangnya dengan seksama. Irisnya membulat sempurna. "Tidak, jangan pernah melawannya, Belinda," peringat Charles.
Belinda mengernyitkan keningnya heran. "Why?"
"Dia bukan tandingan mu," ujar Charles.
Belinda menatapnya malas. "Ayolah, kawan, bantu aku untuk menyingkirkan orang ini. Aku akan memberimu tanah sebesar lima hektar, bagaimana?" tawar Belinda
Memang hal itu menggiurkan bagi Charles. Tapi dia tidak ingin mati. Dia masih ingin menikmati semua ini. Charles menggelengkan kepalanya. "Tidak, untuk ini aku tak berani, kau sudah gila, ya?!"
"Dia adalah salah satu keturunan yang ikut andil dalam mendirikan negara ini," ungkap Charles.
"Kau saja berani dan bisa menghandle soal kasus kematian Jennie, kenapa kau tidak bisa menghandle gadis miskin ini?"
"Dia ... lebih berbahaya dari yang kau kira. Lagipula, kudengar gadis itu di pantau langsung oleh Evelyn, jadi untuk menyingkirkannya adalah sebuah kemustahilan."
"Dengar, Belinda. Ini bukan masalah keberanian atau uang, tapi ini adalah soal hidup atau mati. Jika perempuan itu sudah bangkit dan tau siapa dirinya, aku berani bersumpah bahwa dia bisa saja menggulingkan Adelia dari tahtanya."
"Kau tidak ingin memberitahu aku tentang siapa dia?" tanya Belinda yang mencoba mengorek informasi.
Charles diam sejenak. "Dia ... adalah putri Atmadja," ujarnya kemudian.
...****************...
Belinda memaksa masuk ke dalam ruang nyonya besar Adelia. Dia menunduk hormat. Adelia meliriknya malas. "Ada apa?" tanyanya
"Saya mendapat sedikit informasi soal Annora," tutur Belinda.
"Katakan," perintah Adelia.
"Annora adalah putri Atmadja," ujarnya dalam satu tarikan nafas.
__ADS_1
Prang
Cangkir yang dipegang Adelia pecah terjatuh. Dia menatap kosong cangkir itu sebelum akhirnya tersenyum.
"Ah, pantas saja aku merasa pernah melihatnya," gumamnya. Dia kemudian menatap Belinda. "Jika Aaron sudah pulang, beritahu dia bahwa Ibunya mencarinya," perintah Adelia. Belinda mengangguk, dia kemudian pamit untuk diri, dan pergi.
"Atmadja? Ah, ternyata kau putrinya, ya?" monolognya. "Aku bersumpah akan mencabik mu," desis Adelia tak tertahan.
...****************...
Aaron menatap ibunya datar. Adelia sendiri masih menata rambutnya dengan rapi. "Apa yang ingin Ibu bicarakan?" tanya Aaron
Adelia meliriknya sebentar. "Siapa nama lengkap Annora?" tanya balik Adelia.
Aaron mengernyitkan keningnya heran mendengar pertanyaan konyol dari ibunya, Adelia. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Bu? Bukankah kau juga tau namanya," jawab Aaron.
Adelia menghela nafasnya. "Jawab saja, Aaron Rama Erlangga," perintahnya pada sang putra.
"Annora Sinta Az-Zahra," jawab Aaron singkat.
Adelia mengangkat alisnya sebelah. "Benarkah?" tanyanya tak percaya, Aaron hanya menganggukkan kepalanya singkat tanda mengiyakan. "Bukan, Annora Sinta Az-Zahra Atmadja?"
Aaron terdiam sejenak. Atmadja, ah, dia pernah mendengar itu dari Haidar. Ya, Haidar pernah mengucapkan nama itu. Athaya Bima Atmadja, jadi ... Annora juga Atmadja?
"Sepertinya iya, mengingat nama adiknya juga Atmadja," ujar Aaron.
"Kau itu bodoh atau bagaimana, Aaron? Apakah kau tau dengan marga Atmadja?" tanya Adelia, Aaron menggelengkan kepalanya.
Adelia membuang nafasnya kasar. "Dasar, kau ini. Atmadja adalah salah satu dari tiga pilar pendiri negara ini. Mungkin sekarang istrimu tidak bisa apa-apa, tapi itu tak menjamin kau aman. Dia masih memiliki kekuasaan yang bahkan lebih tinggi darimu, jadi, singkirkan hama itu sebelum kau mati digerogoti olehnya."
Aaron terdiam sejenak. Menyingkirkan Annora? Tidak, dia tidak akan pernah menyingkirkan gadis itu. Gadis yang selalu menganggu pikirannya akhir-akhir ini. Dia tidak akan pernah membiarkan Annora pergi, meski itu malah menghancurkan dia ataupun gadisnya.
"Tidak," kata Aaron tegas. "Aku tidak akan menyingkirkan istriku," tolaknya.
Adelia mengepalkan tangannya. "Kau tidak mau menuruti perintah Ibumu ini, Aaron? Kau menentang perintahku?!" tanya Adelia dengan nada marahnya.
"Bukan, aku hanya tidak ingin Ibu memisahkan kita. Dia ... istriku, Bu, aku harap Ibu mengerti," ujarnya.
Adelia tertawa mendengarnya. "Kau harus menuruti Ibumu ini, Aaron. Kau tidak akan pernah mampu melindungi orang yang kau cintai."
...****************...
Annora menatap malas Aaron. Hey, ini sudah pukul sebelas malam dan dia meminta Annora untuk menemaninya? Dasar gila.
"Aaron, sebenernya, apa masalahmu, sih? Kau hanya tinggal merebahkan tubuhmu, pejamkan mata, lalu tidur dengan nyenyak," ujar Annora jengkel, gadis itu kemudian beranjak pergi.
Selang beberapa menit, gadis itu kembali dengan setangkai bunga lavender lengkap dengan minyaknya dan juga teh chamomile.
"Minumlah," perintah Annora, Aaron menurut, dia kemudian meminum teh chamomile buatan Annora. "Habiskan, setelah itu tidur. Jika kau tidak bisa, oleskan minya lavender ini, aku akan tidur duluan," ujarnya kemudian, gadis itu langsung beranjak dari duduknya dan mulai merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah Aaron menghabiskan teh buatan Annora, dia berjalan menuju gadis itu. Tangannya terangkat guna mengusap pipi gembil sang gadis. Irisnya terpaku pada bibir mungil itu. Bibir yang pernah dikecupnya.
Aaron mulai merebahkan tubuhnya, mendekatkan dirinya kearah Annora. Pria itu kemudian memeluk tubuh Annora sebelum akhirnya terlelap.