
Sesuai perintah Adelia, hari ini Annora menemani George untuk memilih dekorasi. Sejujurnya, ia sangat tidak nyaman. Mengingat, dia juga belum begitu kenal dengan George.
Annora tersentak kaget saat George memanggilnya. "Apakah ada masalah, Nyonya?" tanyanya
Annora tersenyum gugup. "Ah, tidak ada. Kau tadi bilang apa?"
George berdehem. "Menurut Anda, lebih bagus yang mana?" tanya George sembari memberikan buku yang berisi gambar berbagai macam dekorasi itu.
Annora menerima buku itu dan melihat-lihat. Ia tampak serius. Setelah cukup lama, akhirnya dia memberi jawaban, "Terserah, saya ikut saja."
George menganggukkan kepalanya, dia kemudian memanggil pelayan itu. "Aku ingin yang warna biru ini," katanya pada pelayan tersebut. Pelayan itu menganggukkan kepalanya.
"Umm ... maaf, Tuan George, tapi ... menurutku warna emas lebih baik," ujar Annora dengan nada tak enak.
George menganggukkan kepalanya singkat. "Birunya diganti warna emas," ralat George.
"Baik, ada tambahan lagi, atau ... ingin menambah dekor yang lain?"
George menatap Annora seolah menjadi jawaban. Annora menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, itu saja," kata George. Pelayan itu kemudian pamit.
Sebenarnya, jasa dekorasi ini adalah milik Erlangga. Adelia bisa saja langsung meminta mereka untuk mengirimkan dekorasi sesuai keinginannya. Akan tetapi, kenapa dia justru memilihnya? Aneh, itulah yang dari tadi sedang Annora pikiran.
Annora dan George diajak berkeliling untuk melihat template dekorasi yang memang sudah disediakan. Mereka sebenarnya sudah melihat-lihat, tapi kembali lagi bahwa bisnis ini dinaungi langsung oleh Erlangga.
Annora sendiri meninggalkan tas selempang mininya karena memang ia merasa bahwa tas kecil itu tak perlu dibawa. Toh, juga gak ada barang penting ataupun berharga.
Setelah cukup puas melihat-lihat, Annora dan George pun kembali. Baru beberapa langkah keluar dari bangunan besar itu. Mereka berdua dicegat oleh para penjaga.
"Maaf karena ketidaknyamanannya. Salah satu pekerja kami teledor dan menaruh sebuah cek sembarangan." Manager itu menatap penjaganya. Mereka berdua lalu mengambil tas milik Annora dan mengecek saku milik George.
Annora sendiri masih bingung. Ia juga langsung memberikan tasnya ketika diminta. Seorang penjaga menemukan sebuah cek di dalam tas Annora. Annora membelalakkan matanya kaget.
"Aku, aku bersumpah aku tidak mengambilnya," kata Annora cepat.
Manager itu menatap Annora dengan penuh selidik. "Lalu, bagaimana cek ini ada di tas Anda?" tanya manager tersebut.
"A-aku, tidak tau. Aku selalu bersama Tuan George, bukan begitu, Tuan George?"
George diam, dia lalu menatap Annora. "Maaf, Nyonya. Saya tidak ikut campur dalam hal ini," kata George.
"He-hey, apa maksudmu, kau dan aku bersama selama di sini, kan?" Annora menatap George tak percaya.
"Saya tidak peduli dengan apapun alasan Anda, Nyonya. Cek itu ada di tas Anda, itu berarti Anda yang mengambilnya."
"Sebentar, berapa nominal cek itu?" tanya Annora
"Lima milyar."
"Hanya lima milyar. Itu tidak berarti apa-apa bagiku. Kau lupa, ya, siapa suamiku?" Hey, itu setara dengan uang bulanannya.
Perkataan Annora mungkin terdengar sombong, tapi ia tak pernah mengambil cek itu. Ia bahkan berani bersumpah untuk itu.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak menerima alasan apapun. Untuk itu, Anda akan saya serahkan pada nyonya besar Adelia."
__ADS_1
Itu, itu adalah jawabannya. Adelia mengirimnya kesini untuk itu. Tapi, kenapa dia melakukan hal tersebut?
...****************...
Annora digiring para penjaga menuju penjara bawah tanah milik Erlangga. Penjara yang khusus untuk para pengkhianat Erlangga.
Dia lalu dikurung di dalam jeruji besi itu. Dua wanita datang, Annora sangat mengenali mereka. Adelia, sang ibu mertua dan juga Gita, pelayan pribadi Adelia. Ibu mertuanya itu membawa selembar kertas dan juga sebuah bolpoin.
"Tanda tangani surat cerai ini," titah Adelia dengan nada yang tak terbantah.
Annora menatap datar surat itu. "Jika aku tak mau?" tanya Annora memancing.
Adelia tersenyum smirk. "Maka ucapkan selamat tinggal untuk bungsu Atmadja," ujar Adelia. Annora membelalakkan matanya kaget. Sirat ketakutan tercetak jelas di wajahnya. Membuat Adelia tersenyum puas. "Lakukan perintahku, atau kau akan mendapatkan kiriman kepala bungsu Atmadja dariku dalam keadaan tak bernyawa, putri Atmadja.
Adelia lalu berbalik pergi, meninggalkan Annora yang terdiam kaku membisu. Pikirannya berkecamuk saat ini. Annora berteriak frustasi. Ia hampir gila.
"Tuhan ... tolong aku ...."
...****************...
Aaron berjalan dengan langkah ringannya menuju kamar Annora. Ia sangat merindukan istri kecilnya itu. Beberapa penjaga menundukkan kepalanya hormat. Aaron langsung membuka pintu kamar Annora.
Kosong, ia kemudian memanggil sang istri. "Annora ...!! Where are you ...?" Tak ada sahutan sama sekali, Aaron lalu melangkahkan kakinya menuju ke segala penjuru kamar guna mencari keberadaan sang istri tercinta.
Setelah cukup lama mencari, Aaron akhirnya memutuskan untuk bertanya pada penjaga yang berjaga di depan pintu kamar Annora. "Dimana istriku?"
Penjaga itu menundukkan kepalanya. "Nyonya Annora dari pagi telah meninggalkan kamar untuk memenuhi panggilan nyonya besar Adelia, Tuan," jawab penjaga itu. Tanpa babibu lagi, Aaron segera pergi menemui sang ibunda.
...****************...
"Dimana Annora?!" tanya Aaron dengan suara rendah.
Adelia tersenyum tipis. "Ayolah, kau baru pulang. Apakah kau lebih merindukan istrimu dibanding ibumu ini, Aaron?"
Aaron mendengus dingin. "Aku hanya ingin tau dimana Annora berada, Bu. Jangan bertele-tele," tutur Aaron yang sudah mulai jengah.
"Baik-baik ... Annora ada di penjara bawah tanah," ungkap Adelia dengan ringannya.
Aaron membelalakkan matanya. "Apa yang ia lakukan sampai Ibu memenjarakannya?"
"Yah, hanya memberinya sedikit peringatan. Sudahlah, jangan menganggu ibumu ini, Aaron. Atau kau akan benar-benar kehilangan orang yang kau cintai itu," jawab Adelia dengan nada malas.
Tanpa berpamitan, Aaron pergi meninggalkan sang ibu. Adelia mendecih. "Awas saja kau, Annora."
...****************...
Aaron memerintahkan penjaga untuk membuka pintu sel. Aaron kemudian masuk ke dalam sel dan mengelus kepala Annora yang dibalut pashmina itu. Gadis itu meringkuk di pojok sel.
Aaron lalu membangunkan Annora. Gadis itu membuka matanya dengan berat. Mata yang bengkak seperti habis menangis. Aaron memeluk tubuh Annora.
"Kau tak apa-apa 'kan?" tanya Aaron disela-sela dekapannya itu.
Annora tak menjawab, dia melepaskan pelukan Aaron. Senyuman lembut terlukis di wajahnya. Annora kemudian mengambil selembar kertas dan bolpoin. "Tolong tandatangani ini," pinta gadis itu dengan nada lirihnya.
__ADS_1
Aaron membaca surat tersebut dengan teliti. Bukannya menandatangani, Aaron justru merobek kertas tersebut. "Tidak, tidak akan pernah," tolaknya.
"Tolong ... untuk kali ini saja, tolong ..." mohon Annora, hanya Athaya keluarga sekarang. Dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia gagal menjaga adik sematawayangnya itu.
Gigi Aaron ber-gemertuk menahan amarah. Tidak bisa, sekalipun Annora harus tersiksa di sampingnya, dia tidak akan melepaskan gadis itu pergi.
"Aku tidak akan menandatangani surat itu, mengerti. Sekarang ini, keluarlah," ujar Aaron, dengan sedikit sempoyongan, Annora keluar dibantu oleh Aaron.
Gadis itu hanya menatap kosong setiap langkah. Ia, takut. Takut jika adiknya kenapa-napa. Karena bagi Annora, Athaya adalah segalanya.
...****************...
Annora melirik takut-takut kearah Aaron. Annora tau pria itu marah padanya. Tapi ... ini 'kan permintaan ibunya.
"Aaron ... bisakah kau mengantarkan ku untuk menemui Athaya?" cicit Annora
Aaron meliriknya sebentar. Helaan nafas terdengar dari mulut pria itu. "Baiklah," jawabnya kemudian. Annora tersenyum senang, gadis itu kemudian bersiap.
...****************...
Annora mengetuk pintu dengan cemas. Ayolah, Athaya, buka pintunya. -batin gadis itu. Pintu dibuka menampilkan Athaya yang menguap. Sepertinya, dia baru bangun tidur.
Annora langsung memeluk adik itu. Membuat Athaya tersentak kaget. Tanpa sadar, air matanya menetes.
"Syukurlah kau baik-baik saja," ujar Annora lega disela-sela acara memeluknya. Gadis itu kemudian menguraikan pelukan mereka. Dia memutar dan meneliti tubuh Athaya.
Athaya menghela nafasnya jengah. Dia menurunkan tangan Annora. "Kau ini kenapa, sih, Kak?" tanyanya, ia juga menghapus sisa-sisa lelehan air mata Annora. "Apakah kau diperlakukan dengan buruk oleh keledai dungu itu?"
Annora menggelengkan kepalanya. "Aku ingin bicara di dalam," ujar Annora kemudian, Athaya menganggukkan kepalanya. Ia lalu mempersilahkan Annora untuk masuk.
Mereka berdua lalu duduk berhadapan. Hening cukup lama, Athaya kemudian berinisiatif untuk bertanya. "Ada masalah apa, Kak?" tanya Athaya pelan.
Annora menghela nafasnya. "Bisakah kau pergi dari sini dan menyamarkan jejak mu, Athaya?"
Athaya mengernyitkan keningnya. "Katakan sesuatu dengan jelas, Kak. Jangan coba-coba membohongiku, Kak."
"Adelia mengancam ku bahwa dia akan ..." Annora terdiam sejenak, ia tak sanggup untuk melanjutkan.
"Dia akan ....?"
"Dia ... akan membunuhmu," lirih Annora pelan, detik berikutnya, terdengar suara isak tangis dari Annora. Athaya segera memeluk kakaknya. Mengucapkan kata penenang untuk sang kakak.
Dasar keluarga biadab. -batin Athaya geram.
...****************...
Aaron melirik kearah Annora melalui ekor matanya. Masih sembab, gadis itu pasti menangis lagi. Entah apa yang sudah dilakukan ibunya pada Annora, sampai-sampai gadis itu frustasi dan mengajukan surat cerai padanya.
Aaron kemudian berhenti begitu melihat toko bunga. Membuat Annora menatapnya dengan heran. Tanpa sepatah katapun, Aaron langsung turun.
Tak lama kemudian, Aaron kembali dengan sebuket bunga mawar pink. Ia lalu memberikannya pada Annora.
Tanpa menatap Annora dan dengan wajah bersemu, ia berkata, "Katanya, mawar itu melambangkan kebahagiaan, jadi jangan sedih."
__ADS_1
Annora tersenyum tipis. "Terimakasih," ucapnya.