Dear My Idol

Dear My Idol
Chrysanthemum


__ADS_3

Pintu diketuk, Annora membukanya. Iris gadis itu menangkap sosok perempuan yang diketahui bernama Belinda. Perempuan itu segera masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Tipe tamu yang mandiri memang si Belinda ini.


"Putri Aluna, Anda dipanggil oleh nyonya Adelia di kamarnya. Anda juga ditunggu oleh beberapa tutor di sana," ujar Belinda.


Aluna menggelengkan kepalanya. Dia memeluk erat tubuh Aaron. "Aku tak mau pergi! Kau saja yang pergi, aku masih ingin bersama Ayah dan Ibu!" ujar Aluna dengan nada marah.


Aaron menatap Belinda dengan datar. "Kau bisa meng-cancel nya 'kan? Cancel saja, lagian ini adalah hari Minggu. Tak ada salahnya jika dia libur sejenak," ujar Aaron yang terkesan membela Aluna.


Belinda menggeleng kepalanya. "Tidak bisa. Putri Aluna harus tetap mengikuti pembelajaran itu. Lagipula, nyonya Adelia ingin bertemu dengannya," tolak Belinda.


Annora hanya diam, dia sebenarnya bingung mau berkomentar apa. Sedangkan Sherly, perempuan itu masih berkutat dengan ponsel pintarnya.


"Ayah, aku ingin disini, bersama Ayah dan Ibu. Aku masih ingin makan makanan buatan Ibu ..." ujar Aluna


Belinda menghela nafasnya. "Putri, Anda bisa mendapatkan makanan yang lebih enak dan banyak daripada makanan murahan ini."


"JANGAN MENGHINA MASAKAN IBUKU ...!!" teriak Aluna, Annora segera menghampiri putrinya itu.


Dia mengambil Aluna dari Aaron. "Aluna, Luna mau disini aja sama Ibu? Iya?" tanya Annora, Aluna hanya mengangguk di dalam gendongan ibunya itu. "Oke, Aluna bakalan tetep di sini. Tapi, Luna janji ngomongnya biasa-biasa aja, ya, gausah teriak? Janji, oke? Luna tau, gak, kalo teriak-teriak itu gak bagus. Selain itu, juga bikin tenggorokan sakit."


Aluna menaruh kepalanya di pundak Annora. Gadis itu sepertinya mengantuk. Annora hanya mengelus punggung kecil tersebut.


"Aaron, Aluna harus pergi tutor. Dia masih harus menamatkan beberapa pelajaran!" kata Belinda dengan nada yang sedikit tinggi.


Annora menatap tajam Belinda. "Bisakah Anda menjaga intonasi suara agar tetap tenang? Apakah Anda tidak melihat bahwa Aluna tengah mengantuk?" pertanyaan tajam itu keluar dari bibir Annora.


"Jika kau tak tau urusannya, lebih baik diam." balas Belinda tajam.


Annora tersenyum kecil. "Jika kehadiran Anda disini hanya untuk berteriak layaknya orang gila. Maka keluarlah, pintu akan saya buka lebar-lebar," jawab Annora sakras.


"Aaron ...."


"Keluar. Cancel tutor nya, katakan pada ibu jika cucunya tengah mengantuk. Aku tak ingin keributan di sini." perintah Aaron, mau tak mau, Belinda harus keluar.


Dengan perasaan kesal, Belinda keluar. "Awas kalian semua." desisnya penuh dendam.


Annora masih menggendong Aluna yang kini telah tertidur. Dia menatap datar kearah dua sejoli itu. "Jika kalian ingin bermesraan, silahkan keluar. Saya ingin istirahat," ujar Annora, dia sudah malas dengan semua drama yang terjadi hari ini.

__ADS_1


Aaron lalu memerintahkan Sherly untuk keluar. Perempuan itu mengangguk, namun sebelum pergi, dia sempat mencium bibir Aaron sekilas. Annora yang melihat itu hanya menatap datar meski hatinya sakit.


Setelah Sherly pergi, Aaron berdiri. Dia melangkahkan kaki menuju Annora. "Biar aku yang gendong," ujarnya.


Annora menggelengkan kepalanya. "Tak perlu. Kau pasti lelah," kata Annora dengan sedikit senyuman. Dia lalu pergi meninggalkan Aaron untuk merebahkan tubuh kecil milik Aluna. Annora tersenyum menatap Aluna yang tertidur itu. Di kemudian mencium pipi gembil putrinya.


"Selamat mimpi indah, Aluna kesayangannya Annora," bisik Annora tepat di telinga Aluna.


Aaron melihat semua itu. Dia melihat bagaimana Annora memperlakukan Aluna dan masih banyak lagi.


Annora berjalan untuk mengambil piring-piring itu. Dia mulai mencuci piring kotor tersebut. Sepertinya, dia lupa akan kehadiran Aaron.


Aaron berjalan mendekatinya. "Aku bantu," ujar Aaron.


Annora terlonjak kaget. Dia kemudian menggelengkan kepalanya. "Tak perlu, kau pasti lelah, kan? Istirahatlah," karena butuh banyak tenaga agar kau bisa bermain dengan selingkuhan mu itu. -lanjut Annora di dalam hati.


Aaron menghela nafasnya. "Baiklah jika itu maumu, aku pergi dulu," pamit Aaron, Annora hanya bergumam.


Annora menghela nafasnya panjang. Dia merebahkan tubuhnya, pikirannya berkelana. Aluna, sumber teka-teki yang ada di pikirannya. Jika Aluna anak Belinda, maka bagaimana dengan Jennie? Sebenarnya, apa yang terjadi di sini? Aaron, Jennie, dan Belinda, semuanya berputar di kepala Annora.


Pikiran gila tiba-tiba muncul di kepala Annora. Dia tersenyum misterius. "Untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu juga 'kan?"


...****************...


Sherly mengeluarkan sebuah kotak makan. "Saya membuat beberapa sushi kegemaran Anda, Tuan. Anda pasti suka," ujar Sherly sambil menyodorkan sebuah sushi ke mulut Aaron.


Annora mengambil sumpit itu secara paksa. Dia tersenyum tipis. "Biar saya saja, Nona. Anda pasti sudah kerepotan." Annora menyuapkan sushi itu ke mulut Aaron. Dia tersenyum dan dibalas oleh Aaron dengan senyuman pula.


Annora melirik kearah Sherly. "Anda sepertinya kurang memahami batasan, Nona. Anda mungkin dekat dengan Aaron, tapi jangan pernah lupa siapa saya," kata Annora sembari mengambilkan makanan untuk Aaron.


Sherly tersenyum paksa. Dia hanya diam sembari melirik Aaron. Aaron hanya meng-kode dirinya agar tetap tenang. Aaron tersenyum menatap istrinya itu.


"Sepertinya ada perayaan, kau sedang merayakan apa?" tanya Aaron


Annora tersenyum kecil menatapnya. "Tidak ada perayaan apapun. Aku hanya ingin mengundang kalian berdua makan, apa kalian keberatan?" balas Annora dengan pertanyaan.


"Kenapa harus kita berdua? Kupikir kau hanya akan mengajakku saja," ujar Aaron dengan sedikit heran.

__ADS_1


"Umm, katanya, kalo mau ajak kamu, harus ajak asisten mu juga, kalo enggak, kamu gak bakalan mau," ungkap Annora


"Siapa yang bilang?" tanya Aaron, Annora mengangkat bahunya tak peduli. Mereka semua lalu melanjutkan acara makannya.


Annora melirik kearah Sherly, dia tersenyum kecil. "Jika boleh tau, sudah berapa lama Nona Sherly bekerja menjadi sekertaris suami saya?" tanya Annora tiba-tiba.


"Baru tiga tahun, memang kenapa?"


Annora menghela nafasnya kecewa. "Yahh, kukira sudah lama, ternyata baru, ya? Padahal, aku ingin bertanya tentang Jennie," kata Annora dengan nada lesu.


Aaron tersedak minumnya, Annora segera memberikan air untuk suaminya itu. "Lain kali hati-hati, tak ada yang mau minta makananmu," ujar Annora dengan sedikit bercanda.


Sherly menatap Annora. "Kenapa Anda ingin mengetahui tentang almarhumah Jennie?" tanya Sherly


Annora tersenyum kecil. "Saya ingin belajar darinya. Saya ingin mengerti apa yang disukai Aaron dan apa yang dibencinya," jawab Annora dengan tenang.


"Kau bisa langsung menanyakannya padaku," sela Aaron.


Annora menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak-tidak, aku tau kau adalah laki-laki baik. Mana mungkin kau mau memberitahu secara gamblang tentang hal yang tak kau sukai." tolak Annora, dia kemudian menatap Sherly. "Bukan begitu, Nona?"


Sherly menganggukkan kepalanya, membuat Annora tersenyum senang. "Tapi, bukankah Anda sebaiknya bertanya kepada Nona Belinda, karena dulu saya dengar, beliau adalah pelayan pribadi sekaligus sahabat almarhumah nona Jennie," usul Sherly.


"Ah, benar juga, ya. Tapi ... nyonya Belinda itu sepertinya agak arogan, apakah itu karena sahabatnya yang pergi meninggalkan dirinya?" tanya Annora


"Berhenti membahas Jennie. Aku tak suka." Aaron lalu berdiri, dia menggandeng tangan Sherly. "Ayo pergi, Sherly, kita punya banyak tugas," katanya pada Sherly.


...****************...


Annora tengah mengelilingi mansion bersama Haikal. Mereka bertemu karena Haikal ingin melaporkan tentang surat kemarin yang sudah mendapat jawaban dari Athaya.


"Sepertinya Anda sangat menyukai bunga serunai kuning, Nyonya," kata Haikal karena melihat Annora yang dari tadi terus menatap bunga itu.


Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku justru sangat membenci bunga ini. Sayangnya, bunga ini sangat sesuai dengan kisahku," ujar Annora tanpa menoleh kearah Haikal.


Bunga serunai itu ia dapatkan dari Sherly. Sekertaris Aaron itu memberinya bunga tersebut untuk mengejek dirinya. Bagaimana Annora tau? Singkat saja, Sherly bilang bahwa dia tau jika Annora sangat menyukai dan mengerti tentang bunga. Dia pasti sudah menyelidiki tentang arti bunga apa yang sesuai untuknya.


Dalam tradisi bunga Victoria, krisan atau serunai kuning mewakili kesedihan dan cinta yang diabaikan, sangat bertentangan dengan rona cerah serta cerianya.

__ADS_1


Dan tentu saja Sherly memberi bunga itu untuk mengejek dirinya. Dia adalah istri sah Aaron tapi dirinya diperlakukan layaknya orang lain.


__ADS_2