
Annora menatap Aaron bingung. Jam sudah menunjukkan pukul satu, tapi Aaron malah mengetuk pintu kamarnya dan berdiri di ambang pintu tanpa mengatakan apapun.
"Ada apa?" tanya Annora kemudian.
"Apakah, aku boleh tidur di sini?" tanyanya
Annora terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Aaron lalu masuk dan langsung duduk di sofa. Annora hendak beranjak pergi untuk tidur, namun hal itu terhenti karena perkataan Aaron.
"Bisakah, kau menemaniku? Sebentar, saja. Aku tidak bisa tidur," curhat Aaron.
Annora menghela nafasnya. Annora lalu duduk di hadapan Aaron. "Kenapa?" tanya Annora, Aaron mengernyitkan keningnya. "Kenapa kau tidak tidur di kamarmu sendiri? Dimana para penghangat ranjang mu?"
Aaron diam, dia tidak mengatakan apapun, membuat Annora mendesah pasrah. "Aku tak tau apa yang terjadi padamu, tapi, tidak baik bagi kesehatan mu jika kau tidur larut malam," peringat Annora.
"Apakah kau marah padaku?" tanya Aaron tiba-tiba.
Annora mengernyitkan keningnya. "Kau salah obat? Dengar, Aaron, aku tidak tau apa masalahmu, itu yang pertama. Dan, kenapa kau minta maaf? Maksudku, ini tidak seperti kau yang biasanya," tutur Annora panjang lebar.
Bukannya menjawab, Aaron malah menatap Annora dengan intens. Ingatannya kembali melayang pada percakapannya dengan sang ibu beberapa jam lalu. Tentang dia yang akan selalu kehilangan orang yang dicintainya.
Annora seketika ingat sesuatu. Tapi, ia bimbang, apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu, mengingat, saat ini Aaron sedang dalam keadaan yang kurang memungkinkan.
"Aaron ..." panggil Annora, Aaron menatapnya intens. "Apakah, aku boleh bertanya?" tanya Annora dengan ragu.
Aaron menganggukkan kepalanya singkat. Annora menghembuskan nafasnya pelan, mencoba mengumpulkan tenaga serta kekuatannya untuk bertanya.
"Maaf jika malam-malam malah membahas ini. Tapi, tolong jawab dengan jujur pertanyaan ku ini," pinta Annora. "Apakah ... apakah kau orang yang telah membunuh Jennie?"
Aaron diam, Annora sendiri sudah pasrah, mana mungkin Aaron mau menjawab pertanyaannya yang konyol itu.
Diluar dugaan, bibir Aaron terbuka untuk menjawab pertanyaan Annora. "Kau, benar-benar ingin tau?" tanya Aaron memastikan.
__ADS_1
Annora menganggukkan kepalanya. "Tentu saja," ujarnya, dia kemudian diam-diam menghidupkan alat penyadap yang memang dia taruh di bawah meja agar tidak ada yang mengerti.
"Aku ... tidak membunuh Jennie, aku hanyalah salah satu penyebabnya, bukan penyebab utamanya," ungkap Aaron, Annora diam tidak berkomentar apapun. Dia ingin mendengar keseluruhan isi cerita Annora.
"Saat itu, aku kacau, karena memang keadaan Erlangga kurang baik-baik saja. Aku lalu melampiaskannya dengan Belinda. Dan, aku dengar darinya bahwa Jennie selingkuh. Yeah, kau tau akhirnya, bukan?"
"Biar aku tebak, kau percaya padanya?" tebak Annora, Aaron hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Aaron, bolehkah kau bertanya sesuatu?" tanya Annora, Aaron hanya menganggukkan kepalanya singkat. "Apakah ... apakah kau mencintai Jennie?"
Konyol. Itu adalah pertanyaan retoris yang tidak memerlukan jawaban. Tapi sepertinya, otak Annora memang sedang bermasalah.
"Lupakan," katanya, dia menghela nafasnya pelan. Dia kemudian menatap Aaron yang terlihat kacau. "Lebih baik kau tidur," saran Annora.
Aaron menggelengkan kepalanya. "Aku, tidak bisa tidur," jawabnya jujur.
"Tidurlah, bukankah besok hari peringatan tiga tahun kematian Jennie?" Aaron menganggukkan kepalanya. "Apakah besok kau mengunjungi makam Jennie?"
"Memang kenapa? Kau mau mengunjunginya?" tanya Aaron
Aaron mengamati gerak-gerik Annora. Setelah sekian menit termenung, akhirnya pria itu memilih untuk menyusul sang istri yang merebahkan tubuhnya. Dia lalu memeluk tubuh Annora.
Pada akhirnya, Rama selalu jatuh cinta pada Sinta-nya. Begitupula dengan Aaron. Sejak dulu, hidupnya hanya tentang target dan tercapai, gagal adalah pantangan baginya. Bagi Aaron, semua harus sempurna dan logis.
Logika adalah kunci utama, sedangkan cinta adalah hal yang tabu baginya. Namun, siapa sangka bahwa perempuan di sampingnya itu mampu membuatnya merasakan apa yang dirasakan pada manusia normal lainnya.
Jatuh cinta, mungkin itu terdengar konyol. Tapi, itulah kenyataannya. Aaron sudah membaca beberapa artikel tentang cinta atau jatuh cinta.
Jantung berdebar saat berada di dekatnya, rasa tidak ingin kehilangan, juga keinginan untuk selalu melindunginya. Aaron merasakan itu semua.
Dan yang paling penting, dia merasa aman dan tenang saat berada di samping gadis itu. Seolah Annora memiliki sesuatu jimat yang membuatnya selalu merasa tenang jika didekatnya.
__ADS_1
...****************...
Felicia meracik teh untuk tamu istimewa sang ratu Erlangga itu yang tak lain dan tak bukan adalah adik tirinya sendiri, Aaron Rama Erlangga. Pasangan ibu dan anak itu tengah berdebat mengenai Annora.
Felicia datang menyajikan teh diantara mereka berdua. Dirinya kemudian kembali dan bersembunyi. Dihidupkannya alat penyadap suara itu untuk merekam.
"Bukankah Ibu sudah bilang padamu, Aaron. Singkirkan Annora atau aku yang akan turun tangan." ancam Adelia pada putranya.
Aaron menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Untuk kali ini, saja. Tolong, tolong jangan ganggu urusan rumah tanggaku. Jangan celakai orang-orang di sekitarku. Tidak cukupkah selama ini aku menurut perintah Ibu?"
Adelia terkekeh mendengar penuturan putranya itu. "Dengar, Aaron, Ibu hanya ingin kebaikanmu saja, tidak lebih. Ibu hanya tidak ingin kau dimanipulasi oleh orang yang kau sayang, itu saja."
"Aaron, Annora itu berbahaya. Layaknya oleander yang indah, akan tetapi dia memiliki racun. Ibu hanya tidak ingin kau terlena dengan keindahannya dan malah berakhir tragis karena terkena racunnya," jelas Adelia.
Aaron diam, pikirannya membenarkan perkataan ibunya, tapi tidak dengan hatinya yang menolak mentah-mentah perkataan itu.
Felicia yang diseberang itupun sedikit geram begitu mengetahui sang ibu menjelek-jelekkan majikannya. Bagi Felicia, Annora bagaikan teratai yang berada di atas air penuh lumpur. Sekalipun di atas lumpur yang kotor, dia masih suci dan mampu mensucikan sekitarnya.
"Apakah kau akan memilih istrimu itu dibanding ibumu yang telah melahirkan dan membesarkan mu, Aaron?" tanya Adelia yang membuat putra sematawayangnya itu bimbang. Memang jika dalam hal membujuk seperti ini Adelia sepertinya jagonya.
Aaron terdiam sebentar, dia lalu tersenyum dan menggeleng singkat. "Aku pamit dulu, Bu," pamit Aaron.
Adelia menggeram marah. Dia kemudian memanggil Gita. "Gita ...!! Gita ...!!" teriak Adelia
Gita datang dengan tergesa. "Ada apa, Nyonya?" tanyanya
"Panggilkan Belinda sekarang, suruh dia datang menemui ku dengan segera," perintah Adelia, Gita menganggukkan kepalanya dan segera pergi untuk memanggil Belinda.
Felicia keluar dari tempat persembunyiannya. Dia hendak mengambil bekas cangkir yang dipakai Aaron.
"Ica, apakah mereka masih mencoba mencari tau tentang Jennie?" tanya Adelia dengan nada pelan yang terkesan lembut.
__ADS_1
Felicia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu, sepertinya Annora sudah menyerah untuk itu," jawab Felicia disertai senyuman kecil.
Adelia mengangguk mengerti. Bagus. Satu pengacau sudah pergi. -batin Adelia