Dear My Idol

Dear My Idol
Purple Tulip


__ADS_3

Annora menatap bingung perempuan di depannya yang membawa semua pelayan Erlangga. Tidak semua, sih, sebagian besar.


Perempuan itu maju satu langkah. Dia membungkukkan badannya singkat. "Perkenalkan, saya adalah Felicia Citra. Saya ditugaskan untuk menjadi pelayan pribadi Anda oleh nyonya agung Evelyn," kata Felicia.


Annora mengernyitkan keningnya heran. "Nenek?" tanyanya, Felicia menganggukkan kepalanya.


"Dalam surat ini, Anda tertulis sebagai atasan kami semua. Semua pelayan ini adalah bawahan Anda. Anda juga memiliki kewenangan terhadap beberapa hal di keluarga ini. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa membaca surat ini," kata Felicia sembari menyodorkan amplop coklat berisi surat formal itu.


Annora menerima surat tersebut. Dia membaca semuanya dengan teliti. Irisnya membuat kaget. "I-ini ...."


"Anda juga mendapat surat dari nyonya agung Evelyn," ujar Felicia, Annora juga membaca surat tersebut.


Inti dari surat itu adalah, Evelyn memintanya untuk mengelola separuh keluarga Erlangga. Dia juga meminta Annora untuk mengungkap tentang kematian Jennie dan mengungkapkan kebusukan Erlangga. Tak hanya itu, Evelyn juga meminta maaf pada Annora karena harus membuatnya terlibat dalam intrik yang rumit serta mengancam nyawa. Dan, banyak lagi.


"Saya akan selalu berada di pihak Anda, Nyonya. Anda tak perlu khawatir," ujar Felicia menenangkan.


Annora menganggukkan kepalanya. "Ya, terimakasih," balas Annora.


Haikal datang dan memberitahukan kepada Annora bahwa nyonya besar Adelia tengah memanggilnya. Annora kemudian langsung pergi menemui ibu mertuanya itu.


...****************...


"Duduklah," perintah Adelia, tanpa banyak bicara, Annora segera duduk. "Apa yang kau lakukan pada ibu?" tanya Adelia


Annora mengernyitkan keningnya heran. "Maksudnya?"


"Kau pasti sudah tau posisimu di Erlangga, kan? Aku hanya ingin tau, apa yang kau lakukan sampai ibu memberikan semua itu padamu," ujar Adelia.


Annora terdiam, dia bingung mau menjawab apa. "Maaf, Ibu, aku tak mengerti apa maksud perkataan Ibu," kata Annora jujur.


Adelia mendecih pelan. "Ternyata gadis polos seperti mu berbahaya juga, ya. Baiklah, kau boleh keluar," ujar Adelia. Annora menganggukkan kepalanya, dirinya kemudian pamit untuk pergi. Adelia menghela nafasnya kasar.


"Gita ...!!" panggil Adelia dengan nada tinggi.


Gita kemudian masuk dengan tergesa. "Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gita sopan.

__ADS_1


"Panggil Aaron kemari. Jika dia mengulur, paksa." perintah Adelia, Gita hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera pergi untuk melakukan perintah Adelia.


Adelia mengambil cangkir teh hijau miliknya. "Laba-laba di balik kain sutra," gumamnya pelan sembari menyeruput teh hijau itu.


...****************...


Annora tengah berada di taman bunga milik Erlangga. Tangannya masih memegang surat pemberian Evelyn. Dia, bingung sekarang. Dia hanyalah seorang gadis yang tak sengaja terseret dalam keluarga tersebut. Dia, tak memiliki kewenangan yang cukup untuk ikut campur.


Annora tersentak kaget saat bahunya disentuh. Dia kemudian menolehkan kepalanya. "Felicia ....?"


Felicia tersenyum kecil sebagai jawabannya. Dia kemudian duduk di samping Annora. "Apa yang menganggu Anda, Nyonya?" tanya Felicia


Annora menggelengkan kepalanya pelan, dirinya kemudian menunduk. "Menurutmu ... apakah aku bisa melakukan permintaan nenek?" tanya Annora tiba-tiba.


Felicia menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Anda adalah cucu kesayangan nyonya agung Evelyn," jawab Felicia sambil menyemangati Annora.


"Tapi, aku hanyalah gadis biasa. Aku sadar posisiku. Mustahil rasanya jika harus berhadapan dengan mereka semua," ujar Annora.


"Tidak. Anda pasti bisa, Nyonya. Percayalah. Anda masih memiliki saya. Saya bersumpah akan selalu setia pada Anda apapun kondisinya," ucap Felicia, dia kemudian menyodorkan sebuah bunga tulip ungu. Annora menerimanya dengan tatapan bingung.


"Saya dengar Anda sangat menyukai sekaligus mengetahui arti bunga. Jadi, saya berikan Anda bunga tulip ungu. Katanya, bunga tulip ungu memiliki makna kesetiaan," lanjut Felicia.


"Ma-maaf," kata Felicia dengan kepala yang menunduk.


Annora menepuk pundak Felicia. "Tak apa, jangan terlalu formal begitu. Kita 'kan temen," ujar Annora.


"Temen?" ulang Felicia dengan nada tak percaya. Annora menganggukkan kepalanya. Mereka berdua lalu berpelukan layaknya Teletubbies.


...****************...


Aaron menatap ibunya dengan penuh tanya. Pasalnya, sudah dari tadi dia di sini, namun sang ibu tak kunjung mengatakan apapun.


"Ibu, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Aaron yang sudah mulai jengah dengan keterdiaman sang ibu.


Adelia menatap Aaron dengan serius. "Annora. Annora Sinta Az-Zahra," kata Adelia.

__ADS_1


Aaron menatap ibunya dengan heran. "Ada apa dengan Annora?" tanyanya


"Istrimu itu adalah hama yang harus disingkirkan. Ya, disingkirkan," jawab Adelia.


"Kenapa? Bicaralah yang jelas, Bu. Aku bukan manusia super yang bisa membaca pikiranmu," ujar Aaron.


"Annora menguasai setengah pemerintahan di keluarga Erlangga. Dia akan menjadi ancaman untukmu, entah nanti atau sekarang. Ibu minta padamu agar kau hati-hati dengannya," jelas Adelia.


Aaron hanya menganggukkan kepalanya, dia tak berani bertanya kepada Adelia, karena itu sama saja bunuh diri. Aaron dan Adelia itu sama-sama gila. Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Tak peduli apakah itu kotor atau tidak asal keinginannya terpenuhi.


Aaron kemudian keluar dari ruangan pribadi ibunya. Berjuta pertanyaan masih bersarang di kepalanya.


Adelia menghela nafasnya kasar. "Annora, gadis itu membuatku harus bekerja keras. Sekarang, aku harus menyingkirkannya. Apapun caranya."


...****************...


Annora tengah membaca sebuah buku jurnal yang mencatat tentang keluarga Erlangga. Annora mendengus kasar. Dia lalu membuang buku tebal itu ke sembarang arah.


Annora kemudian menangis. Dia menangisi hidupnya. "Ibu ...!! Disini mengerikan, tolong bawa aku keluar, Bu ..." ujarnya dengan sesenggukan.


Tentang dirinya yang diselingkuhi. Aluna yang merupakan anak dari salah satu selingkuhan suaminya. Kematian Jennie yang harus diungkap. Dirinya yang mungkin akan terancam bahaya. Terkadang, hidup ini lucu, ya. Annora tak sekuat itu, tapi kenapa Tuhan mempercayakan semua itu padanya?


Annora menarik nafasnya dalam-dalam. Dia kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Tuhan tak mungkin memberikan sebuah ujian melebih batas kemampuan hamba-Nya. Tapi, kalo Ra ngerasa gak bisa karena udah berat banget, berarti tandanya Tuhan yang bakalan bantu Annora."


Perkataan almarhumah ibunya terngiang di kepalanya. Ya, menyerah bukan pilihan. Dia harus tetap kuat untuk semua itu. Dia masih ingin berjuang. Dia akan membuktikan bahwa Sinta akan baik-baik saja sekalipun Rama tak ada, meski itu mustahil.


Annora menepuk pipi gembil nya sendiri. "Ayo, Ra, lo pasti bisa. Inget Athaya, dia masih perlu duit lo," monolog Annora menyemangati dirinya sendiri.


Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Annora menghapus sisa air matanya. Dia kemudian mengambil ponselnya. Keningnya mengernyit kala melihat sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


Aaron yang tengah tidur di atas tubuh perempuan. Itulah gambarnya.


^^^Dia lagi nyaman, jangan ganggu, ya ....^^^

__ADS_1


^^^—S. C. A.^^^


Annora tak bodoh, dia tau siapa pengirim serta perempuan yang ada di foto itu. Habis sudah pertahanannya. Mau tak mau air mata Annora harus keluar. Dia, ingin menyerah. Rasanya, semesta sangat membenci dirinya.


__ADS_2