Dear My Idol

Dear My Idol
Purple Hyacinths


__ADS_3

Annora menatap mawar putih itu tak jemu-jemu. Mawar putih selalu mengingatkannya pada sang ayah yang selalu memberikan bunga ini untuk ibu disaat hari anniversary pernikahan mereka.


Aaron melirik kearah Annora yang dari tadi sibuk dengan bunga mawar putih. Dia berdehem kecil. "Sepertinya, kau sangat menyukai mawar putih," komentar Aaron.


"Sepertinya iya," jawab Annora tanpa mengalihkan pandangannya pada bunga itu.


"Aku penasaran dengan perkataan mu yang mengatakan bahwa aku tidak mencintai Jennie," kata Aaron tiba-tiba.


Annora terdiam sejenak, dirinya kemudian menoleh menatap Aaron, mengalihkan seluruh perhatiannya pada pria yang sekarang ini ada di sampingnya. "Menurutmu, apa itu cinta?" Bukannya menjawab, Annora malah bertanya.


Aaron mengernyitkan keningnya. "Entahlah, kau sendiri?"


"Cinta itu memberi tanpa berharap kembali. Cinta adalah anugerah Tuhan yang paling suci. Cinta merupakan masalah hati, jadi jika kau bertanya padaku tentang makna cinta secara logis, tidak ada, karena tidak ada cinta yang mengunakan logika."


"Maksudmu?"


"Menikah itu nasib dan jatuh cinta itu takdir. Kau bisa memilih dengan siapa kau menikah, tapi kau tidak akan pernah bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta. Itu adalah kata-kata yang kudengar dari ayah."


"Aku tidak bisa menjelaskan secara pasti tentang apa itu cinta, karena cinta bukanlah ilmu matematika yang pasti. Cinta memiliki definisi yang berbeda, tergantung siapa dan bagaimana orang itu mengartikan cinta."


"Jika kau mencintai Jennie, kau tidak akan mengharapkan kehidupannya kembali, meski sulit, kau akan tetap mencintainya," tutur Annora panjang lebar.


Aaron hanya diam mendengar perkataan Annora. Tanpa menatap Annora, dia kemudian bertanya. "Bagaimana rasanya agar bisa dicintai dan mencintai?"


Annora terdiam, dirinya terpaku dengan pertanyaan Aaron. "Aku ... tidak paham dengan maksud perkataan mu itu," ujar Annora jujur.


"Manusia yang normal biasanya akan bisa mencintai dan dicintai, lalu bagaimana caranya agar kita bisa merasakan hal itu?" tanya Aaron


"Jujur. Agar bisa merasakan arti cinta, kau harus jujur pada dirimu sendiri. Gengsi adalah penghalangnya. Logika selalu membuat orang merasa hina ketika jatuh cinta, meski itu tidak sepenuhnya salah."


"Kita memang tidak bisa memilih mau jatuh cinta kepada siapa dan bagaimana, tapi kita memiliki kontrol atas rasa cinta itu. Ini memang rumit, mengingat cinta tidak menggunakan logika."


Annora diam sebentar. Dia mengalihkan pandangannya ke arah mawar putih yang ada di tangannya itu. "Kau tidak akan paham dengan perkataan ku sebelum kau benar-benar mengalaminya sendiri, Aaron."


...****************...


Annora membuka pintu mobil, mereka telah sampai di mansion Erlangga. Annora melangkahkan kakinya, hari ini cukup melelahkan. Ia ingin tidur siang meski itu hanya setengah jam, karena memang badannya remuk seperti habis dipukuli.


Baru beberapa langkah Annora berjalan, kakinya berhenti begitu mendengar perkataan Aaron.


"Tolong ajari aku tentang cinta, Annora," kata Aaron.


Annora diam membisu, dia lalu membalikkan badannya menghadap Aaron. Tak sepatah katapun keluar dari bibir ranumnya, hanya ada senyuman manis yang memiliki makna ambigu. Setelahnya, Annora kembali berbalik dan melangkahkan kakinya ke tempat yang ia tuju.


Aaron diam menyaksikan tubuh mungil Annora yang sudah tidak terlihat lagi. Gadis kecil yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya. Gadis yang tiba-tiba mendobrak pintu hatinya. Gadis aneh yang berhasil membuat Aaron hampir gila.


...****************...


Malam tiba, Annora baru saja selesai melipat sajadah, terdengar pintu yang diketuk. Annora lalu bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamarnya itu.

__ADS_1


Annora menatap Aaron dengan tatapan bingung, sedangkan Aaron tersenyum tipis menatap istrinya itu. Netra Annora menangkap sesuatu yang menurutnya aneh.


"Kenapa kau membawa koper itu?" tanyanya


"Kau tidak menyuruhku masuk dan malah memberikan pertanyaan? Bagus sekali," sindir Aaron.


Annora memutar bola matanya malas. Dia kemudian masuk ke dalam kamar seolah mempersilahkan Aaron masuk.


Aaron, laki-laki itu kemudian menaruh kopernya. Tanpa menunggu dipersilahkan, dia dengan segera duduk di sofa. Menatap sekeliling kamar.


Masih sama seperti dulu, bagus. -batinnya.


Tatapannya tertuju pada Annora yang sedang berkutat dengan dapur mininya. Annora kemudian berbalik dengan membawa secangkir teh untuk Aaron.


Aaron menatap diam teh itu, dia lalu mengalihkan pandangannya kepada istrinya, Annora. "Kenapa tidak kopi?" tanyanya


Annora menghela nafasnya. "Apakah perlu ku ingatkan bahwa sekarang ini malam?" tanya balik Annora.


Aaron mengernyitkan keningnya. "Memang jika malam, apa masalahnya?"


"Malam hari adalah waktu yang tepat untuk istirahat, Aaron Rama Erlangga. Aku tidak ingin kau begadang hanya karena meminum secangkir kopi," jelas Annora.


Aaron mendengarkan penjelasan Annora dengan malas. "Kau tidak ingin memberiku makan?" tanyanya


"Kau belum makan?"


Aaron memutar bola matanya jengah. "Jika sudah, mana mungkin aku mengajukan hal itu, Annora Sinta Az-Zahra Atmadja."


"Memberimu?" tanya Aaron dengan heran.


Annora terkekeh. "Iya, memberimu. Apakah kau pikir aku mendapat makanan ini hasil mengemis ku padamu?"


"Memangnya dari siapa?" tanya Aaron penasaran.


"Ya, dari hasil transferan mu juga, sih."


"Sama aja."


"Beda."


"Apa bedanya? Itu juga dariku, kan?"


"Ya, beda, dong 'kan aku gak minta, kamu yang ngasih."


Aaron memutar bola matanya. "Iya-iya, beda banget ..." Pada akhirnya, Aaron memilih untuk mengalah, karena debat pun tiada guna.


Annora berdiri dari duduknya untuk mengambilkan Aaron makanan. Setelah selesai, mereka berdua lalu memakan makanan itu bersama.


Suara pintu diketuk terdengar, Annora melempar tatapan tanya pada Aaron yang hanya dibalas oleh gelengan kecil. Annora kemudian berdiri, melangkahkan kakinya, dan membuka pintu tersebut. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat putrinya datang dengan membawa dua buah bunga dengan warna yang sama.

__ADS_1


Aluna, gadis itu tersenyum lebar dengan menampakkan deretan gigi-gigi putihnya. "Hai, Ibu ..." sapanya pada sang ibunda tercinta.


Annora membalas sapaan gadis kecil itu. "Hai juga."


Aluna kemudian menyodorkan kedua jenis bunga itu. Lavender dan hyacinth ungu dimana kedua bunga tersebut memiliki arti yang cukup jauh.


Lavender sendiri merupakan bunga favorit Annora. Mengutip dari berbagai sumber, bunga lavender memiliki arti yang sangat mendalam. Bunga ini melambangkan pengabdian, kesucian, dan juga cinta. Kamu bisa memilih bunga lavender ketika ingin merayakan momen spesial dengan pasangan, karena bunga lavender juga melambangkan kesetiaan.


Sedangkan hyacinth ungu, dalam bahasa bunga, mewakili perasaan iri hati dan kebencian. Namun, beberapa orang juga menggunakannya untuk menggambarkan pengampunan atau cara memaafkan kesalahan orang lain.


Annora lalu mempersilahkan Aluna untuk masuk. Gadis cilik itu sedikit terkejut ketika mendapati sang ayah ada di sana. "Loh, Ayah?" serunya dengan nada terkejut yang tak tertahan.


Aaron menoleh menatap Aluna. Ia tersenyum kecil, tangannya direntangkan, bermaksud untuk memeluk sang putri. Aluna memeluk ayahnya itu, setelah sekian detik, mereka melepaskan pelukannya.


Iris Aaron meliar, mencari sosok yang biasanya selalu ada di samping Aluna. Suara Annora memecahnya.


"Aluna ... kamu mau makan?" tanya gadis itu


Aluna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu, aku sudah kenyang," jawabnya.


Annora menganggukkan kepalanya mengerti, dia kemudian teringat sesuatu. Diambilnya pie apel yang baru saja matang untuk disajikan.


"Jika kau tidak ingin makan bersama Ayah dan Ibu, maka nanti kau harus mencicipi pie apel buatan Ibu, oke?" Aluna menganggukkan kepalanya semangat, membuat Annora tersenyum senang.


Aaron menatap Annora dengan tatapan menyelidik. Annora menyadari itu, diapun membalas tatapan Aaron. "Apa?" tanyanya


"Kau tidak bilang kalau punya pie apel."


"Karena pie ini baru saja matang, sudahlah, habiskan makananmu atau kau akan membuat Aluna menunggu lama," titah nyonya Erlangga itu. Aaron mendengus walaupun akhirnya menurut. Annora sendiri sudah menghabiskan makanannya, mengingat porsi makan gadis itu sangat sedikit.


Aaron melirik kearah Aluna. "Dimana pelayanmu itu?" tanya Aaron tiba-tiba.


Aluna mengernyitkan dahinya bingung. "Belinda?" tanya Aluna ragu-ragu.


Aaron menganggukkan kepalanya, Annora sendiri juga ikut tertarik dengan topik pembicaraan yang dilakukan ayah dan anak ini.


"Entahlah, akhir-akhir ini dia sibuk." Aluna kemudian menatap Annora. "Apakah Ibu menyukai bunga yang kuberikan? Saat itu, aku bingung mau memberi Ibu apa, tapi tiba-tiba aku ingat bahwa Ibu sangat menyukai bunga, jadi ... aku bawakan saja bunga."


Aluna terdiam sejenak, memberi jeda untuknya menyusun kalimat. "Karena pengetahuanku tentang bunga masih terbatas, aku kemudian bertanya pada Belinda. Dia menyarankan ku untuk memberikan bunga hyacinth ungu. Dan, untuk bunga lavender sendiri aku yang memilihnya, karena bunga lavender sangat-sangat mewakili Ibu."


Penjelasan Aluna sangatlah jelas. hyacinth ungu itu adalah pemberian dari Belinda, tak salah lagi.


"Ibu ... Belinda tidak mengatakan apapun, bahkan saat aku menanyakan artinya pun dia hanya tersenyum. Aku ingin mencari arti bunga itu memalui iPad ku, tapi iPad ku sudah lama disita. Aku jadi penasaran, sebenarnya, apa arti dari bunga hyacinth ungu?"


Annora terdiam, dia bingung harus menjawab seperti apa. Ia tak ingin membuat Aluna sedih dan kecewa hanya karena amarah Belinda yang tidak jelas itu.


Annora tersenyum kecil. "Terlepas dari apapun maknanya, ibu akan selalu senang jika itu pemberian mu, Sayang," tutur Annora lembut. Gadis itu melirik kearah Aaron yang telah menyelesaikan acara makannya.


"Baiklah, karena Ayahmu sudah menyelesaikan makannya, mari kita makan pie apel ini ...!!" seru Annora dengan semangat.

__ADS_1


Aluna menganggukkan kepalanya. "Ayo ....!!"


__ADS_2