
Pintu kerja milik Aaron dibuka dengan keras. Aaron berani bersumpah bahwa dia akan mengutuk siapapun yang berani melakukan ini padanya.
Sherly berjalan cepat menuju Aaron, wajahnya marah. "Kenapa istri si*lan mu itu menjadikanku pelayan?!" tanya Sherly dengan nada marah.
Aaron meliriknya sekilas. "Mana aku tau, kau tanya sendiri," jawab Aaron acuh.
"Aaron ....!!"
Aaron memutar bola matanya malas. "Berhenti berlagak, Sherly. Jika kau ingin tau jawabannya, tanyakan itu pada Annora langsung. Pergilah, aku ingin bekerja dengan tenang, atau harus ku panggilkan penjaga di depan untuk mengusir mu?"
Sherly keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal. Di depan pintu, dia bertemu dengan Belinda. Belinda tengah tersenyum mengejek.
"Wah, sepertinya kau dibuang," ujar Belinda dengan nada remeh.
Sherly mengepalkan tangannya. Dia lalu tersenyum membalas perkataan Belinda. "Iya, sama seperti dirimu, kan?"
Belinda tertawa mendengarnya. "Apakah kau bercanda? Aaron mana mungkin membuang ku, tapi jika itu kau, mungkin saja, pelayan," cemooh Belinda. Dia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang kerja Aaron.
Sherly menjegal Belinda, membuat ibu satu anak itu terjatuh. Belinda menatap tajam Sherly. Sherly berjongkok dan menatap sengit kearah Belinda.
"Mari kita lihat nanti, anjing Adelia," kata Sherly, dia kemudian berlalu pergi meninggalkan Belinda.
Belinda menggeram marah. "Dasar jal*ng!" desisnya penuh dendam.
...****************...
Annora menatap Sherly bingung. Pasalnya, tiba-tiba saja perempuan itu datang dan marah-marah padanya.
"Tolong jaga tata krama Anda dengan Nyonya Annora, Sherly," perintah Felicia.
Sherly memicingkan matanya. "Kau memanggilku apa tadi?!" tanyanya
Felicia menatapnya heran. "Sherly, bukankah itu namamu?"
"Kasta ku lebih tinggi darimu, pelayan!" sentak Sherly, dia marah karena Felicia tidak menghormatinya. Dia memiliki posisi yang cukup penting di Erlangga. Tapi itu tadi, sekarang sudah tidak. Sepertinya, Sherly lupa akan hal itu.
Felicia tersenyum kecil. "Kau sekarang juga seorang pelayan, jika kau lupa. Bahkan lebih rendah dariku," jawab Felicia.
Annora menahan tawanya, ya, dia lupa jika dirinya sudah mengurus surat untuk menurunkan jabatan Sherly.
Annora berdehem kecil. "Felicia, berikan seragam pelayan padanya, aku tidak ingin dia malu karena tidak memiliki seragam sendiri," titah Annora.
Sherly menggeram marah. "Kau?!"
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak bicara, kerjakan pekerjaanmu dengan baik. Felicia, bantu Sherly, dia sekarang adalah junior mu," kata Annora sambil berlalu pergi.
Setelah Annora tak nampak, Felicia tersenyum menatap Sherly. "Mari, junior," ejeknya.
...****************...
Annora menatap Haikal datar. Sebenarnya, apa maksud laki-laki di depannya ini. Kemarin, dia hampir membunuhnya, sekarang malah mohon-mohon minta maaf. Is he crazy?
"Ada dua hal yang tidak bisa di beli di dunia ini, yang pertama cinta dan yang kedua kepercayaan. Kedua hal itu tidak bisa dibeli, bahkan jika dengan seluruh emas yang ada di dunia," kata Annora.
Annora menghela nafasnya panjang. "Aku bisa saja memaafkan mu, tapi jika kau memintaku untuk percaya padamu, mungkin saja bisa, tapi tidak seperti dulu. Kau mengerti maksudku 'kan, Haikal Putrajaya?"
Haikal menundukkan kepalanya. "Saya tau, maka dari itu, dengan kesadaran penuh, saya ingin meminta maaf kepada Anda, Nyonya. Saya bersumpah akan selalu setia pada Anda, Nyonya," ujar Haikal dengan sungguh-sungguh.
Annora masih menatap datar Haikal. "Kau pernah mengucapkan hal itu dulu, apakah kau lupa, Haikal Putrajaya?"
Hening, tidak ada yang mau membuka suara. Hingga akhirnya, mulut Haikal terbuka, mengucap kalimat yang mengudara di ruangan itu.
"Jika saya berkhianat pada Anda, Anda bisa membunuh saya dengan pistol ini," kata Haikal sembari menyodorkan sebuah pistol.
Annora membulatkan matanya kaget. "Kau gila?! Jangan bodoh, Haikal! Nyawamu lebih penting daripada kepercayaan ku padamu," ujar Annora dengan nada tinggi. Ia menghela nafasnya lelah. "Baik, aku akan memaafkan mu, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Nyonya?"
Haikal menganggukkan kepalanya mantap. "Baik, Nyonya. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda," ujar Haikal.
...****************...
Hari Minggu ini, entah kenapa Aluna belum mengunjunginya. Padahal, gadis kecil itu berjanji bahwa dia akan mengunjungi Annora setiap hari Minggu.
Annora keluar, melangkahkan kakinya untuk ke kamar Aluna. Dia ingin melihat putri kecilnya itu karena sudah beberapa hari tak melihat Aluna.
Annora masuk ke kamar Aluna. Dia sedikit terkejut karena melihat Aluna duduk bersama buku-buku tebal. Annora berjalan menghampiri Aluna.
"Hai, Luna ..." sapa Annora, Aluna menolehkan kepalanya, dia tersenyum menatap Annora.
"Hai, Bu ..." sapa balik Aluna, dia kemudian melanjutkan acara membacanya.
Annora mengambil salah satu buku tebal itu. Membacanya secara sekilas. Annora menghela nafasnya, dia kemudian mengambil semua buku tebal itu.
Belinda yang baru masuk kamar itupun menghentikan Annora. "Apa yang kau lakukan? Kembalian!" seru Belinda
Annora menatap Belinda dengan tatapan tak percaya. "Kau gila?! Kau memberi buku Aluna yang bukan usianya," ujar Annora, dirinya tak habis pikir dengan Belinda. Bagaimana bisa seorang ibu mengeksploitasi anaknya sendiri?
__ADS_1
Belinda menatap Annora datar. "Itu aku lakukan untuk kebaikannya, agar dia mampu memimpin keluarga ini," ucapnya.
"Aku tau itu untuk kebaikannya, tapi tidak sedini juga, kan? Dia masih butuh bermain," kata Annora.
"Ibu, aku suka membaca ini, tak apa," ujar Aluna tiba-tiba.
Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang lebih menyenangkan dari masa kecil. Dan Ibu tak ingin kau menghabiskan masa kecilmu hanya dengan buku-buku yang harusnya tidak kau baca di umur kecilmu ini," jelas Annora panjang lebar.
"Kau tak memiliki wewenang untuk menghentikan ini," cegah Belinda.
Annora menatap tajam Belinda. "Aku punya wewenang, karena aku Ibunya, perlukah ku ingatkan tentang posisimu?" sentak Annora, dia lalu meminta seorang pengawal untuk membawa buku tebal itu. Sedangkan Annora sendiri mengandeng tangan Aluna untuk membawanya pergi dari sini.
...****************...
Aluna menatap ibunya sedikit takut, pasalnya baru kali ini Aluna melihat raut wajah marah Annora. Ternyata, ibunya itu menyeramkan, ya.
"Ibu ...."
Annora menghentikan langkahnya, berjongkok di depan Aluna. "Ibu tidak ingin kau tumbuh dewasa sebelum waktunya. Ibu ingin kau tumbuh normal seperti anak di luaran sana," ujar Annora.
Aluna menangis, dia memeluk tubuh ibunya. "Maafkan aku, Bu. Ibu tidak marah padaku, kan?" tanya Aluna dengan terbata-bata.
Annora mengelus punggung kecil itu. "Tidak, bagaimana bisa Ibu marah padamu, Aluna," jawab Annora, dia mengusap pipi Aluna yang terbasahi oleh air mata.
Annora menggendong tubuh kecil Aluna. Menggendongnya dan membawa gadis kecil itu ke kamarnya.
...****************...
Aluna menatap ibunya yang berkutat dengan laptop itu sebal. Tadi ibunya yang mengajaknya kesini, tapi kenapa dia malah asik sendiri? Huh, menyebalkan.
Aluna menggoyangkan lengan Annora, membuat sang puan menoleh. "Ya, ada apa Luna?" tanya Annora
Aluna mencebik kesal. "Ibu nonton apa, sih? Kok dari tadi serius banget, sampe gak liat anaknya," sindir Aluna.
Annora tertawa mendengarnya. Dia lalu mengangkat tubuh Aluna untuk dipangkukan nya. "Rupanya anak Ibu ini sudah pandai menyindir, ya? Ibu sedang melihat bunga ini, bagaimana, bagus, tidak?"
Aluna menganggukkan kepalanya. "Itu bunga apa, Bu?" tanya Aluna
"Baby breath, bunga ini sangat sesuai untukmu," jawab Annora
Aluna menatap Annora penuh tanya. "Kenapa begitu, Bu?"
"Bunga baby's breath sering diartikan sebagai simbol kepolosan, kesucian, dan kemurnian. Dan itu sangat mewakili dirimu, Aluna," jawab Annora.
__ADS_1
Sebenarnya, tidak hanya itu. Bunga baby's breath juga dapat melambangkan kesetiaan dan cinta yang tulus. Oleh karena itu, bunga ini sering digunakan dalam rangkaian bunga untuk pernikahan, pertunangan, atau acara-acara keagamaan.