Dear My Idol

Dear My Idol
Neomarica Longifolia


__ADS_3

Annora menatap Sherly, sepertinya, perempuan itu sudah memutuskan bagaimana langkah kedepannya mengenai perkataan Daffa.


"Aku tidak akan memihak mu, tapi selama menguntungkan bagiku, it's no big problem," ujar Sherly.


Annora tersenyum kecil. "Good, aku sebenarnya juga malas bekerjasama dengan mu, tapi anggap saja ini sebagai barter," timpal Annora.


Sherly kemudian pergi, ya, Annora tau ini tidak mudah, tapi setidaknya, dia sudah mencoba 'kan?


Felicia datang dengan langkah tergesa, ia langsung menubruk tubuh Annora dan memeluknya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir.


Annora menganggukkan kepalanya. "Ya, ini hanya sedikit luka," jawabnya.


Hubungan Haikal, Felicia, dan Annora memang sudah sangat dekat. Annora juga mengetahui tentang Felicia yang merupakan anak kandung Adelia. Entah bagaimana awal mulanya, tapi semua mengalir begitu saja. Tentang Felicia yang sering mencurahkan isi hatinya dengan Annora, juga Haikal. Mereka akrab, bahkan sudah seperti saudara.


Felicia menguraikan pelukannya. Dia menatap kedua iris semanis madu milik Annora. Luka yang terpancar dari kedua bola mata itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.


Annora tersenyum tipis. "Aku tidak papa, Kak," goda Annora disertai tawa kecil.


Felicia menjawil hidung Annora. "Dasar," dengusnya. "Terlepas dari apapun yang terjadi, tetaplah menjadi Annora, Annora yang kukenal, ya?"


Annora menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menatap garang Felicia. "Sudah, sana, selesaikan pekerjaan mu!" seru Annora


Felicia tertawa kecil. "Siap, Bu Bos," ledek Felicia, mereka berdua lalu tertawa bersama.


...****************...


Aluna datang ke kamar ibunya bersama sang pelayan, Belinda. Annora menolehkan kepalanya, netranya menangkap sosok anak kecil. Ia lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menyambut kedatangan Aluna. Dia kemudian mencium kepala gadis kecil itu.


Aluna mengurai pelukannya. Dia menatap ibunya. "Ibu, apakah Ibu tau besok hari apa?" tanya gadis cilik itu dengan nada semangat.


Annora meletakkan jari telunjuk di dagunya seolah berfikir. "Hmm, hari apa, ya ...?" Aluna yang melihat itupun mendesah kecewa. Annora sedikit melirik kearah Aluna. Dia tersenyum kecil melihat ekspresi sang putri.


"Ah, begini saja, nanti malam pukul sepuluh, Aluna jangan tidur. Nanti Aluna tidur dulu, terus jam sepuluh bangun, Ibu akan datang ke kamar Aluna," putus Annora.


Belinda memutar bola matanya malas mendengar perkataan sang nyonya Erlangga itu. "Apakah Anda berniat mencelakai Putri Aluna, Nyonya?" tanyanya dengan nada sinis.

__ADS_1


Iris Annora beralih menatap sosok ibu kandung Aluna itu. Dia tersenyum kecil. "Apakah Anda tidak bisa melihat situasi, bukankah disisi ada anak kecil?" Belinda menahan decihan nya.


Pintu terbuka, menampilkan sosok Aaron. Annora menghela nafasnya panjang. Belinda kemudian membawa Aluna pergi menjauh.


Annora hendak melangkah menjauh, akan tetapi ditahan oleh Aaron. Pria itu memaksa Annora untuk berbicara empat mata.


"Aku ingin bicara," ujarnya.


Annora terkekeh. "Tentu saja, bukankah sekarang kau tengah berbicara?" ujar Annora. "Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Aku ... hanya ingin minta maaf," jawab Aaron.


Annora mengernyitkan keningnya. "Untuk apa?" tanyanya memastikan


"Tentang, ibumu."


Annora menghela nafasnya. "Maaf? Tidakkah kau ingin menyesalinya? Dengar, Aaron, aku tak perlu dan tidak begitu peduli tentang permohonan maafmu. Tapi aku akan sangat menghargai penyesalanmu," tutur Annora panjang lebar.


Aaron mengernyitkan keningnya bingung. "Penyesalan?"


Annora tau ini terdengar bertele-tele dan juga berlebihan. Akan tetapi, Aaron juga harus tau bahwa nyawa yang dia renggut itu juga dicintai dan disayangi oleh seseorang.


Annora tidak ingin Aaron membunuh orang yang tak bersalah, apalagi saat dia tau bahwa Aaron memiliki salah satu ginjal ibunya. Dia tidak akan membiarkan itu.


Untuk masalah kematian ibunya, dia jelas berduka. Dia juga kecewa. Dia kecewa karena tidak memenuhi keinginan ibunya saat itu. Padahal, ibunya hanya meminta untuk pulang lebih awal dari biasanya. Tapi, dia lebih memilih mengerjakan tugas kuliahnya.


Andai dia tau bahwa ibunya akan pergi selamanya, ia tidak akan berangkat ke universitas. Dia akan melarang ibunya keluar. Andai dia tetap di rumah saat itu. Andai dia menuruti keinginan ibunya. Andai dia tidak pergi.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Seribu andai yang tak akan terulang. Ibunya telah pergi, meninggalkan mereka selamanya. Hanya karena keegoisannya, adiknya juga kehilangan sang ibu.


Annora mendesah melihat keterdiaman Aaron. Dia tidak tau apa sebab pria itu minta maaf. Aaron adalah orang yang memiliki gengi yang tinggi. "Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya


"Tidak ada," jawabnya singkat. "Aku hanya tak ingin kau pergi," lanjutnya.


Annora memejamkan kedua matanya. "Egois." desisnya, dia kemudian membuka matanya, menatap Aaron dengan kilatan kemarahan. "Tenang aja, aku gak akan pergi, sebelum menjalankan semua perintah nenek," lanjutnya.

__ADS_1


"Seharusnya kau tidak perlu semarah ini," ujar Aaron tiba-tiba, Annora ingin tertawa. Sepertinya, sifat arogan Aaron akan keluar. "Bukankah itu impas? Maksudku, aku adalah salah satu pe-" ucapan Aaron terpotong oleh Annora.


"Pemimpin? Kau ingin membanggakan gelar itu dihadapan ku, Aaron Rama Erlangga? Bodoh. Apakah kau tidak tau jika ibuku adalah menantu Atmadja? Atmadja dan Erlangga selevel. Jika hanya dengan dirimu, tentu saja ibuku lebih pantas untuk hidup."


"Jika permohonan maafmu hanya sebagai formalitas dan juga ajang pamer, maka simpan rapat-rapat," lanjut Annora, gadis itu berbalik memunggungi Aaron. "Kau tidak pernah kehilangan orang yang benar-benar kau cinta dan mencintaimu, karena dari awal, kau tidak pernah dapat dan mau merasakannya."


Aaron diam membeku. Kalimat terakhir Annora itu, benar-benar membuat hati Aaron bergetar. Apakah dia manusia? Pertanyaan itu berputar di kepalanya.


"Jangan pikirkan perkataan ku, pergilah, aku ingin istirahat," ujar Annora, karena tidak memiliki alasan lain, Aaron kemudian pergi, meninggalkan Annora yang termenung sendiri.


...****************...


Sherly berada di tempat yang sama seperti kemarin. Ya, di dalam ruangan tempat Daffa dirawat. Perempuan itu diam-diam mengendap untuk masuk menemui Daffa.


Kondisi mental laki-laki itu akan tetap terganggu, kecuali jika dirinya sendiri mampu sembuh dari traumanya. Dan Sherly akan membantu itu. Setidaknya, jika Daffa memang bersalah, dia bisa balas dendam dengan cantik, karena lawannya bukanlah orang gila.


Daffa tersenyum kala melihat kedatangan Sherly. "Kau ... datang lagi," serunya.


Sherly meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. "Jangan berisik," peringat Sherly.


Daffa menganggukkan kepalanya. "Aku senang melihatmu kembali," ujar Daffa, dia kemudian menunduk. "Tapi sepertinya, kau tidak."


Sherly memutar bola matanya malas. Dia kemudian menatap Daffa. "Aku ingin tau, apa yang terjadi saat kau tidak menemui ku waktu itu."


Daffa mencoba mengingat kembali. Dia kemudian berteriak keras seperti orang yang kesetanan. Derap langkah kaki yang mendekat membuat Sherly panik seketika. Dia lalu bersembunyi di bawah ranjang pasien milik Daffa.


Seseorang masuk, Sherly masih menahan nafasnya. Irisnya hanya bisa menangkap kaki suster itu yang mengunakan sepatu berwarna biru dongker, yang mana sangat berbeda sekali dengan perawat atau pada umumnya.


Teriakan itu berhenti, Sherly bisa pastikan bahwa suster itu menyuntikkan cairan penenang pada Daffa. Tapi, tunggu, kenapa suster itu membawa Daffa pergi?


Sherly keluar dari persembunyiannya. Dia mendecih. Sial, dia kecolongan. Itu pasti salah satu orang suruhan Adelia. Sherly keluar, mencoba membuntuti siapa orang itu. Tapi, nihil. Orang tersebut sudah hilang.


...****************...


Annora tersenyum ketika melihat sebuah buket bunga iris. Dalam bahasa Yunani, iris berarti pelangi. Dalam bahasa bunga, bunga iris umumnya melambangkan kefasihan, harapan, kebijaksanaan, komunikasi, dan keyakinan. Seperti bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang yang penuh warna.

__ADS_1


Bukan tanpa sebab Annora memberikan itu pada Aluna. Dia hanya ingin mengatakan bahwa Aluna itu berharga, terlepas dari apapun kesalahan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Dia terlahir suci, tanpa dosa, sekalipun dihadirkan dengan cara yang salah.


__ADS_2