
Adelia tengah keluar kamar ditemani oleh Gita, pelayan pribadinya. Seseorang dengan tidak sengaja menyenggol lengannya karena terburu-buru. Felicia, orang yang tak sengaja menyenggolnya itu.
Adelia hendak marah sebelum dia melihat anting pelayan itu. Felicia menunduk dan mengucapkan maaf berkali-kali. Dia lalu mengangkat kepalanya guna melihat siapa orang yang tak sengaja dia senggol.
"Ibu ..." gumamnya pelan.
Plak
Adelia menamparnya dengan keras. Irisnya berkilat marah. "Siapa yang kau panggil ibu, pelayan rendahan?!" Felicia menatap Adelia dengan tatapan tak percaya. Adelia lalu menyelonong pergi tanpa mempedulikan Felicia.
Hati Felicia menyelocos. Ya, dia sangat yakin itu ibunya. Ibunya yang pergi meninggalkan dia beberapa tahun silam. Ibunya yang berjanji akan pulang cepat dan membawakan banyak uang agar mereka dapat hidup layak.
Dia tak ingin berlarut, Felicia kembali melangkahkan kakinya guna menemui sang nyonya, Annora.
...****************...
Adelia menggigit kuku jarinya yang indah itu. Hatinya gundah karena pertemuannya dengan Felicia. Ya, Adelia tak pernah lupa tentang siapa itu Felicia. Ditengah acara berfikir nya itu, terdengar suara pintu terbuka. Pintu dibuka oleh Aaron, Adelia menolehkan kepalanya.
Aaron berjalan menuju Adelia. Wajahnya terlihat gusar. "Ibu ... harusnya kita tidak menyingkirkan Annora," ujarnya.
Adelia menatapnya heran. "Kau ini kenapa? Saat Jennie pergi saja, kau tak se-histeris itu, lalu sekarang, Annora? Kenapa kau bisa se-khawatir itu?" tanya Adelia
Dulu, saat kematian Jennie, Aaron memang tak se-histeris itu. Bukan berarti senang, namun, sedih dan takutnya tak seheboh ini. Tapi, sekarang ...(?).
Aaron terdiam, dia juga bingung kenapa dirinya bereaksi seperti itu. Hanya saja, hatinya selalu mengganjal jika Annora pergi. Tak hanya itu, dirinya terkadang juga merasa khawatir tentang gadis itu.
Adelia mengernyitkan keningnya saat melihat keterdiaman Aaron. "Kau tidak jatuh cinta padanya 'kan, Aaron?" tanya Adelia
Aaron memandang ibunya dengan tatapan terkejut. Jatuh cinta? Alasan konyol apa itu? Bukankah dia menikahi Annora hanya untuk membersihkan namanya dari isu itu? Dan juga, untuk mempercantik reputasinya. Tapi, kenapa ibunya itu malah mengatakan perkataan konyol?
Cinta adalah satu hal yang tidak pernah Aaron percaya setelah kematian Jennie. Baginya, cinta itu hanyalah sebuah omong kosong yang terucap dari mulut orang bodoh.
"Aaron, jangan bilang bahwa kau sudah jatuh hati dengan Annora," kata Adelia.
Aaron menggelengkan kepalanya. "Ibu jangan membual. Aku tak mungkin jatuh hati pada gadis rendahan itu." tegas Aaron
__ADS_1
Adelia tersenyum mendengarnya. "Bagus, tapi sepertinya kau masih belum bisa santai, Aaron. Ada seorang pengganggu yang datang. Ibu ada rencana," ujar Adelia, wanita paruh baya itu kemudian memberitahukan rencananya pada Aaron.
Aaron menganggukkan kepalanya. Dia lalu pamit keluar. Adelia tersenyum senang, ya, dia akan aman sekarang.
...****************...
Felicia berhenti ketika mendengar bisik-bisik dari para pelayan yang membicarakan tentang Annora, nyonyanya.
"Aku dengar, nyonya Annora itu pergi," ucap salah seorang pelayan.
"Iya, aku tak heran, sih. Mengingat, nyonya Annora itu dari kalangan biasa," timpal pelayan yang satunya.
"Benar, kudengar, nona Aluna juga menjadi tidak mau ikut tutor karena nyonya Annora." Semua pelayan disana mengangguk membenarkan.
Felicia hendak keluar dan menghampiri mereka. Dirinya jelas marah karena nyonyanya dihina seperti itu. Padahal 'kan aslinya tidak. Bagi Felicia, Annora itu adalah nyonya yang sangat baik. Dia selalu menghargai dan menganggap siapapun tak peduli dari mana dia berasal.
"Aku tak pernah mengijinkan kalian untuk menghina ibuku!" seru Aluna dengan nada marah.
Seluruh pelayan terdiam, termasuk Felicia. Dia juga ikut menghentikan langkahnya guna melihat reaksi nona nya.
Aluna menatap tajam kearah mereka semua. Seorang perempuan tiba-tiba datang dan bertepuk tangan, memecah keheningan yang ada. Sherly, itulah orangnya.
Sherly terhuyung ke belakang. Belinda adalah orang yang mendorongnya. "Jangan pernah menyentuhnya." ujarnya dengan nada rendah.
Belinda menatap semua pelayan yang ada. Pelayan itu menundukkan kepalanya, mereka tentu tak ingin berurusan dengan Belinda, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Belinda memiliki posisi yang cukup penting. Dia juga merupakan sahabat sekaligus teman main almarhumah Jennie.
"Jika kalian berani menyentuh Putri Aluna, maka bersiaplah." ancamnya, dia kemudian menggandeng tangan Aluna agar menjauh dari pelayan-pelayan itu.
Sherly mengepalkan tangannya. "Suatu saat kau akan membayarnya Belinda. Suatu saat," gumamnya penuh dendam.
...****************...
Aluna menghela nafasnya pelan. Ya, dia terkurung lagi bersama dengan buku-bukunya. Sebenarnya, dia malas, tapi mau bagaimana lagi. Ibunya juga tak datang.
Belinda menyentuh pundak Aluna. "Ada apa, Putri?" tanya Belinda
__ADS_1
"Aku rindu ibu," ujarnya dengan nada pelan.
Belinda memutar bola matanya malas. "Putri, saya tidak ingin Anda melakukan itu lagi."
Aluna menatap malas Belinda. "Siapa kau? Kenapa kau mengatur-atur hidupku? Aku hanya membela ibuku yang sedang di hina. Itu wajar 'kan? Lagian, pelayan seperti mu tak pantas memerintah ku," ujar Aluna.
Belinda mengambil nafasnya dalam-dalam. Dia kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tenang Belinda, tenang. Jangan terpancing. -batinnya menginterupsi.
Belinda tersenyum kecil. "Maafkan saya, Tuan Putri," katanya kemudian.
...****************...
Felicia menatap Haikal. Ya, sekarang dia tengah bersama Haikal Putrajaya sedang mendiskusikan sebuah masalah.
"Aku tau untuk siapa kau bekerja, tapi kali ini, tolong, beritahu aku, dimana nyonya berada," pinta Felicia, Haikal hanya diam tanpa berniat menjawab. Felicia menghembuskan nafasnya panjang. Mungkin ini terdengar gila, tapi hanya inilah satu-satunya cara agar Haikal mau memberitahunya tentang Annora.
"Aku akan memberikan apapun untukmu jika kau mau memberitahu secuil informasi tentang nyonya," lanjutnya.
Haikal meliriknya sekilas. "Tubuhmu?" tanyanya kemudian.
Felicia kaget, dia lalu menormalkan raut wajahnya. "Jika itu yang kau inginkan, maka akan ku berikan," jawabnya kemudian. Ada satu hal yang membuat Felicia senekat ini.
Haikal terperangah mendengarnya. Dia kemudian mendecih dan pergi tanpa menjawab apapun.
Pupus sudah harapan Felicia. Dia sudah diamanatkan oleh Evelyn agar menjaga Annora dan selalu mengirimkan kabar nyonyanya itu. Tapi, dia gagal.
...****************...
Aluna menatap bunga lili putih itu. Dia menghela nafasnya. "Hahh, jika ibu di sini, pasti dia akan menceritakan tentang bunga lili putih ini," keluhnya.
Aluna mengambil iPad miliknya. Dia mengetikkan beberapa kata. Aluna tersenyum senang kala berhasil menemukan sebuah indahnya.
"Wahh, ternyata bunga lili putih itu melambangkan kesucian dan kepolosan, ya? Tapi, ibu juga pernah berkata bahwa lili putih menggambarkan kesedihan. Ah, tak hanya itu. Dia juga bilang bahwa lili putih bisa menggambarkan kerinduan," monolognya.
Aluna sangat senang, hingga dia tak menyadari bahwa Belinda ada di kamar sejak tadi.
__ADS_1
"Ini sudah cukup malam, Tuan Putri. Anda harus tidur," perintah Belinda.
Aluna mempoutkan bibirnya kesal. Dia lalu meletakkan iPad miliknya dan mulai merebahkan tubuhnya. Belinda menggelengkan kepalanya, dia kemudian mematikan lampu dan keluar dari kamar Aluna.