
Aaron terdiam membatu menyaksikan punggung Annora yang semakin menjauh dari jangkauannya. Rasa sesak memenuhi dadanya. Hatinya seperti dihantam batu besar yang sangat menyesakkan.
"Saat kau jatuh cinta, kau akan merasakan debaran yang menyenangkan ketika berada di dekatnya dan hatimu akan merasa sakit atau sesak karena dia menjauh darimu."
Perkataan Jennie terngiang-ngiang di kepalanya. Semua yang dirasakannya sama seperti perkataan mendiang istri pertamanya. Jatuh cinta? Benarkah? Benarkah orang seperti Aaron yang terkenal kejam, beringas, dan suka menghilangkan nyawa orang ini bisa merasakan cinta?
"Apakah ini yang kau coba jelaskan padaku, Annora? Tentang jatuh cinta yang tidak bisa memilih? Pembelajaran kita belum selesai. Kenapa kau sudah pergi meninggalkanku?" monolog pria itu.
Aaron, pria tersebut memilih kembali ke kamar Annora. Merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan tatapan kosongnya. Pikirannya kini penuh dengan Annora.
"Cinta itu memberi tanpa berharap kembali."
Kalimat itu tiba-tiba berputar di kepalanya. Cinta itu memberi tanpa berharap kembali. Memang, orang gila mana yang mau melakukan hal itu? Hanya satu yang bisa dilakukan Aaron untuk benar-benar mengetahui jati diri Annora. Dan Aaron bertekad untuk melakukan rencana itu besok.
...****************...
Annora menatap adiknya dengan tatapan bersalahnya. Laki-laki itu tidak mau menjawab ketika dia bertanya. Adiknya juga tidak menganggap kehadirannya.
Annora menghembuskan nafasnya panjang, irisnya masih mencuri-curi pandang kearah Athaya. "Maaf ... Kakak hanya tidak ingin kau terseret dalam hal ini, Athaya," tutur Annora meminta maaf.
Athaya menatap sang kakak. "Tapi, aku juga anak ibu dan ayah, Kak. Aku berhak tau. Tentang dirimu yang diselingkuhi, terutama tentang kematian ibu," respon Athaya kemudian. "Apakah kau sudah tidak menganggap ku sebagai adekmu, Kak?"
Annora buru-buru menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Apa yang kau katakan, Athaya? Kau akan selalu menjadi Adekku yang tersayang. Jangan pernah berfikir aneh-aneh."
"Lalu, saat kau ada masalah, kenapa kau tidak menghubungiku? Apakah kau pikir aku tidak khawatir apalagi peduli padamu? Aku selalu khawatir dengan keadaan mu di sana, Kak. Aku takut jika Aaron melakukan kekerasan padamu. Aku takut keluarga mereka mengucilkan mu. Aku khawatir padamu, Kak," jelas Athaya.
Annora meneteskan air matanya. "Ma-maaf," hanya kata itu yang bisa diucapkan Annora.
Dengan sesenggukan, gadis itu menjelaskan, "Kau Adekku satu-satunya. Aku akan merasa gagal jika mereka semua berhasil mencelakai mu. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika hal itu sampai terjadi padamu."
"Aku tidak ingin membuatmu khawatir, aku tidak ingin menambah bebanmu karena aku yakin kau memiliki masalah yang tidak kau ceritakan padaku."
__ADS_1
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dari mereka. Annora yang diam mencoba membuat adiknya aman. Serta Athaya yang selalu mengkhawatirkan kakak sematawayangnya. Mereka saling menyayangi, namun sayangnya, gengsi mereka terlalu tinggi hingga menimbulkan kesalahpahaman ini.
Athaya lalu memeluk Annora. "Maafkan aku, Kak. Agar kesalahpahaman ini berakhir, bisakah kau menceritakannya padaku?"
Annora menganggukkan kepalanya dalam dekapan sang adik. Dia kemudian menceritakan semuanya pada Athaya. Meski tak semua, hanya sebagai saja. Namun, dia tetap menceritakan tentang Aluna yang ternyata merupakan anak Aaron dengan mantan teman Jennie.
...****************...
Menit berlalu, jam berganti. Sekarang ini, Annora dan Athaya tengah bercanda ria. Kesalahpahaman yang tadi sudah selesai.
"Bagaimana kau bisa tau tentang semua ini?" tanya Annora tiba-tiba.
Athaya berdehem kecil. Pipinya sedikit bersemu, membuat Annora mengernyitkan keningnya heran. "Sebenarnya ... aku dan pengawal mu itu sedang dekat," ujar Athaya.
Annora mengedipkan matanya, dia sedang memproses kalimat yang baru saja dilontarkan oleh adiknya itu. Annora menjerit bahkan memukul pundak Athaya dengan cukup keras sehingga mampu membuat sang empu mengaduh kesakitan.
Dengan tatapan horornya Annora berkata, "Kau ...!! Kau menyukai Haikal ...?!" teriak gadis itu syok.
Athaya langsung mencubit gemas pipi chubby kakaknya itu. "Aku bukan menyukai Haikal, tapi Felicia, Kakakku tersayangg ...."
"Kau ... menyukai Felicia?" tanya Annora kemudian.
Athaya menganggukkan kepalanya. "Iya, memangnya kenapa? Ada masalah?"
"Tidak, lalu ... bagaimana kisah asmara kalian?"
"Hah ... Dia cukup sulit untuk didekati. Kami bertemu dengan tidak sengaja saat dia menunggu jemputan, sepertinya kau sedang memintanya untuk membelikan makanan waktu itu."
"Dan dari situ, hubungan kami mulai rapat. Dia baik dan cukup jujur, buktinya dia mau jujur ketika kau bertanya apakah dia mencintaiku."
"Lalu, apakah Felicia mencintaimu?"
__ADS_1
Athaya menganggukkan kepalanya bangga. "Tentu saja, adekmu yang tampan ini memiliki pesona yang sulit untuk ditolak, Kak." Wajah Athaya memuram. "Akan tetapi, dia menolak saat aku mengatakan untuk ingin serius. Dia minder, katanya, dia terlalu tua untukku yang bahkan menjadi adekmu."
Annora menganggukkan kepalanya mengerti. Ya, umur Felicia itu lebih tua darinya bahkan dari Aaron. Jika dipikir-pikir, umur Athaya dengan Felicia selisih sembilan tahun. Akan tetapi, dalam cinta umur hanyalah angka, bukan?
"Yah, aku hanya ingin bilang, jika kau memang mencintainya, maka perjuangkan lah. Sekeras apapun hati perempuan pada akhirnya dia akan luluh juga," nasehat Annora pada adiknya. Athaya menganggukkan kepalanya mengerti.
Ya, apa yang dikatakan oleh kakaknya itu adalah sebuah kebenaran. Sebelum janur kuning melengkung, Felicia bukan milik siapapun.
...****************...
Annora memutuskan untuk kembali ke mansion setelah melihat sebuah video yang dikirimkan Felicia padanya. Ternyata, bukan Aaron yang mengirim itu, melainkan Belinda.
Annora masuk kedalam kamarnya, ia sangat terkejut melihat Aaron yang saat ini juga sedang menatapnya. Keduanya saling bertatapan, sebelum Annora memutus kontak mereka. Entah kenapa akhir-akhir ini mereka berdua selalu eye contact.
"A-aku bisa jelasin-"
Perkataan Aaron dipotong cepat oleh Annora. "Aku tau itu bukan kau," kata Annora, dia kemudian mengambil tas kecil yang biasa ia pakai.
Aaron menatapnya tak percaya. Pria itu langsung memeluk Annora, membuat sang puan mematung seketika.
"Terimakasih, terimakasih karena sudah percaya padaku," bisik Aaron.
Annora hanya diam di dalam dekapan sang pangeran Erlangga, dirinya juga bingung harus merespon bagaimana. Aaron mengurai pelukannya, dia membelai lembut wajah Annora dan mengecup lama kening gadis itu. Annora masih diam, semuanya terlalu tiba-tiba, sampai-sampai otaknya tak mampu merespon dengan baik.
Aaron kemudian membisikkan sesuatu di telinga Annora yang malah semakin membuat sang puan tidak bisa berkata-kata.
Air mata Annora menetes. "Can I trust you?" tanyanya pada keheningan yang ada di dalam kamar. Gadis itu kemudian mengusap air matanya dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamarnya.
...****************...
Aaron sendiri sudah seperti orang gila begitu keluar dari kamar. Senyumannya merekah seolah hari ini adalah hari paling bahagia sedunia. Membuat para pelayan menatapnya aneh sekaligus memuja, meskipun setelah itu mereka langsung dihadiahi tatapan tajam oleh sang pangeran Erlangga.
__ADS_1
"Apakah ini yang disebut cinta? Cinta yang tidak bisa ditebak. Cinta yang datangnya tiba-tiba. Dan, cinta yang selalu membuat seseorang berdebar."
"Aku merasakannya, sekarang aku sedikit mengerti. Aku harap, kau pun merasakan hal yang sama, Annora, karena sekarang ini, aku yakin bahwa aku jatuh cinta padamu."