
Hari ini ibaratkan hari baru bagi Aaron. Pria sudah bangun pagi-pagi dan menyiapkan surprise untuk sang istri. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Annora dan mendengarkan gadis itu berbicara tentang anugrah Tuhan yang sampai saat ini belum bisa dirasakannya.
Annora mengerjabkan matanya, dia menatap sekeliling kamar. Tatapan gadis itu tertuju pada wajah Aaron yang tengah tersenyum. Jarak keduanya hanya beberapa inci saja, membuat Annora bisa merasakan dengan pasti hembusan hangat nafas Aaron.
Untuk sepersekian detik tatapan mereka bertemu, saling terpaku, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Aaron masih mempertahankan senyumannya. Dia mengecup kening Annora. "Selamat pagi, Annora," sapanya.
Annora segera menjauhkan kepalanya. Dia menatap Aaron dengan tatapan horor nya. "Apa yang kau lakukan, hah?!"
Aaron hanya menanggapinya dengan santai. Tanpa beban, dia berkata, "Hanya mencium mu, kenapa? Ada masalah 'kah, Nyonya Erlangga?"
Hanya? Dia bilang hanya? Wah, sepertinya tunggal Erlangga itu memang sedang ingin menguji kesabarannya, ya. Ah, sudahlah, daripada Annora menghabiskan waktunya hanya untuk meladeni pria gila macam Aaron.
Annora menghela nafasnya panjang. Dia lalu menyingkirkan selimut yang masih bertengger apik membalut separuh tubuhnya.
"Kau mau kemana?" tanya Aaron begitu melihat Annora yang bangkit dari kasur king size mereka.
Annora memutar bola matanya jengah. "Mandi, kenapa? Mau ikut?"
Aaron tersenyum. "Boleh," jawabnya menyanggupi.
Annora menggelengkan kepalanya. "Dasar sinting." Aaron tertawa lepas mendengar ejekan itu.
...****************...
Annora sebenarnya malas untuk menyanggupi permintaan Aaron. Pria itu berkata bahwa dia akan mengajaknya berkemah. Hey, mereka bukan anak kecil lagi.
Annora mengedipkan matanya lucu. Dia lalu menatap Aaron. "Maksudmu ....?"
Aaron menganggukkan kepalanya. "Ya, anggap saja ini berkemah. Aku tau kau tidak akan setuju jika aku mengajakmu untuk berkemah di tempat yang jauh. Jadi ... aku membuat ini di sini," jelas Aaron.
Annora menganggukkan kepalanya mengerti. Annora menyentuh dahi Aaron untuk memastikan bahwa suaminya itu tidak demam. Dia menatap Aaron dengan mata yang menyimpit curiga. "Kau tak demam, apakah kau salah obat?"
__ADS_1
Aaron mengambil sebelah tangan Annora dan mengecupnya. "Sayangnya, tidak," jawab pria itu dengan senyuman menggoda.
Annora menarik tangannya dengan sedikit kasar. Dia tersenyum tipis menatap Aaron. "Seperti yang kuduga, kau sangat lihai dalam hal membujuk perempuan, ya, Aaron. Tak salah jika banyak perempuan yang akhirnya bertekuk lutut padamu dan bersedia memberikan apapun untuk Tuan Muda Erlangga ini."
"Oh, ayolah ... Apakah kau cemburu, Annora Sinta Az-Zahra Atmadja?"
"Tentu saja tidak."
"Baiklah, mari kita hentikan pertengkaran bodoh ini," kata Aaron. Dia lalu menggenggam tangan Annora dan menuntunnya untuk duduk. "Silahkan duduk dan nikmati, Nyonya Erlangga."
Annora hanya menurut saja. Dia juga dibuatkan kopi oleh pangeran Erlangga itu. Jarang-jarang, kan sang pangeran mau membuatkan kopi untuknya.
Setelah hening yang cukup lama. Akhirnya Aaron membuka mulutnya. "Aku ... senang bisa menghabiskan waktu denganmu, Annora," katanya dengan tiba-tiba.
Annora menoleh kearahnya dengan tatapan terkejut. Tapi setelah itu, dia tersenyum tipis dan mengangguk singkat.
"Apakah kita bisa melakukan hal ini di lain waktu lagi?" tanya Aaron, tidak ada jawaban dari Annora. Aaron tersenyum kecil. "Di saat seperti ini, justru aku sangat rindu dengan senyuman seseorang."
Annora menatapnya dengan penuh tanya. Aaron tak langsung menjawab. Dia menunggu sang gadis melontarkan pertanyaan. "Siapa?" Pada akhirnya Annora memilih untuk menurunkan egonya dan bertanya.
Kata-kata Aaron membuat Annora tidak bisa menebak siapa gadis itu. Aaron meliriknya sebentar, senyuman manis nan tulus terlukis indah di wajahnya. Hanya senyuman tulus, bukan smirk atau semacamnya, membuat Annora tertegun menatapnya.
"Dia adalah orang yang saat ini sedang berada di sampingku," lanjut pria itu. Annora menolehkan kepalanya guna mencari siapa yang menjadi objek deskripsi Aaron. Tidak ada siapapun di samping Aaron kecuali dirinya. Ah, jadi yang dimaksud suaminya itu dia, ya?
Aaron menatap intens Annora. Membuat gadis itu mengalihkan pandangannya. "Tatap aku, Annora," titah dari pangeran Erlangga itu dengan nada yang tak terbantahkan.
Annora menatap netra obsidian milik Aaron. "Aku selalu berharap jika kau masih seperti dulu. Aku ingin selalu melihat pipimu yang bersemu, senyummu yang selalu merekah untukku, dan masih banyak lagi."
Annora hanya diam, dia tak berani menjawab apapun. Tatapan Aaron beralih pada secangkir kopi yang ada di tangannya.
"Bukankah kau berjanji akan mengajariku tentang cinta, lantas bagaimana janjimu itu?" Pertanyaan yang menohok Aaron lontarkan untuk Annora. Membuat gadis itu menatapnya.
"Cinta itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi dia bisa dirasakan dengan hati. Ibaratnya, cinta seperti udara yang akan selalu dibutuhkan. Udara yang tidak terlihat, namun bisa kita rasakan."
__ADS_1
Aaron terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan Annora. Annora menghela nafasnya panjang. Dia menatap Aaron dengan senyuman kecil yang menenangkan. Tangannya menggenggam tangan pria itu dengan lembut. Membuat sang pria mendongak menatapnya.
"Cinta bukan suatu bab yang bisa diajarkan layaknya pelajaran yang ada di sekolah. Kau akan mengerti arti cinta ketika sudah mengalaminya. Kau tak perlu memahami hal itu, karena dirimu akan tau dengan sendirinya tentang sinyal tersebut."
Suara bising dari luar membuat Aaron dan Annora saling melempar tatapan tanya. Salah satu pengawal mereka melaporkan bahwa Athaya sedang mengamuk di luar dan memaksa masuk.
Dengan sedikit sempoyongan, Athaya berhasil berdiri di hadapan sang kakak. Meski dirinya masih dihalang-halangi oleh pengawal itu.
"Biarkan Adekku disini," perintah Annora pada pengawal itu, pengawal tersebut menatap Aaron meminta persetujuan. Aaron menganggukkan kepalanya singkat.
Tanpa basa-basi Athaya langsung menghampiri Aaron dan memukul rahang pria itu dengan kuat. Sontak Annora kaget dan mencoba melerainya.
Athaya menatap tajam kakaknya itu, membuat Annora tersentak dan tanpa sadar mundur beberapa langkah. "Apakah kau waras, Kak?! Kau bermesraan dengan pria yang bahkan telah membunuh kedua orang tua kita?!!"
Deg
Annora jelas terkejut dengan perkataan Athaya. "Athaya ...."
"Apakah kau pikir aku tidak tau, Kak?! Aku tau semuanya. Dan jika kau masih berfikir untuk bersama dengan pria tak tau diri ini, maka jangan pernah menganggap ku sebagai adikmu lagi."
Aaron mencoba berdiri, namun sayangnya Athaya langsung mendorong pria itu. "Apa kau tau? Pria yang kau elu-elukan itu telah memberikan hadiah pada kita berupa uang agar kita tidak mengungkit kembali tentang kematian ibu."
"Benarkah seperti itu, Aaron?" tanya Annora pada Aaron yang saat ini telah berdiri sepenuhnya.
"Aku memang memberi hadiah, tapi bukan uang," sangkal Aaron. Ia bahkan masih ingat ketika menyuruh pengawalnya untuk memberikan bunga snapdragon.
Konon katanya, bunga snapdragon bukan hanya bunga yang aneh dan ceria, tetapi juga melambangkan permintaan maaf dan kepositifan. Memberi bunga ini hadiah bisa menjadi cara unik untuk mengungkapkan permintaan maaf.
Dan, Aaron memilih bunga itu karena memang dia ingin menyamarkan permintaan maafnya karena memang karena ia memiliki gengi yang tinggi.
Athaya mendecih, tatapannya kemudian beralih menatap sang kakak. "Ayah dan ibu tidak akan senang melihat putrinya bersama pembunuh biadab," ujar Athaya, dirinya lalu berbalik. "Kembalilah sebelum aku benar-benar membencimu, Kak."
Annora melangkahkan kakinya hendak menyusul sang adik. Tangannya sempat ditahan oleh Aaron.
__ADS_1
Dengan mata yang berkaca-kaca, Annora berkata, "Aku kecewa padamu, Aaron." Satu kalimat yang berhasil membuat Aaron merasakan rasa sakit yang teramat.