Dear My Idol

Dear My Idol
White Chamomile


__ADS_3

Annora mengernyitkan keningnya kala melihat pemberian Aaron. Dia sekarang memang sedang ada di kamar bersama sang suami. Pria itu memberinya ponsel baru. Annora menatap Aaron dengan penuh tanya.


"Untukmu," kata Aaron singkat.


Annora menghela nafasnya. Annora tau jika ponsel ini untuknya, tapi, kenapa Aaron memberinya yang baru? "I know, kenapa harus baru?" tanya Annora


Aaron menatap datar Annora. "Gak mau? Buang aja, simpel 'kan?" ujarnya tanpa beban.


Annora memicingkan matanya. Dih, mentang-mentang uangnya banyak. -batin Annora kesal.


"Bukan gitu, kamu 'kan bisa kembaliin hp ku yang dulu, kenapa harus beri baru, coba?" tanya Annora dengan sedikit ketus.


Aaron heran dengan gadis di depannya ini. Perempuan lain jika diberi hadiah atau apalah, pasti akan minta yang mahal minimal berterimakasih dan tersenyum senang. Tapi, Annora ini memang agak aneh. Bukan agak sepertinya, memang aneh.


"Hp mu yang dulu hancur," jawab Aaron singkat.


Annora menatap Aaron dengan tatapan menyelidik. "Iya 'kah? Kamu apain?"


Aaron memutar bola matanya malas. "Udah, pake itu aja. Banyak nanya."


Annora mencebik kesal. Dia kemudian menatap ponsel barunya itu. Tanpa menoleh, Annora mengucap terimakasih. "Thanks," ucapnya kemudian.


Aaron hanya diam, dia lalu pergi meninggalkan Annora di kamar sendiri. Annora memandang punggung tegap Aaron yang semakin menjauh itu. Helaan nafas terdengar dari mulutnya.


"Masuk tanpa sengaja dan tak dapat keluar karena situasi yang rumit. Terkadang, aku merutuki kebodohan ku saat itu," monolog Annora.


...****************...


Felicia berjalan melewati lorong, perasaan memang sudah tidak enak dari tadi. Dirinya merasa jika ada orang yang mengikutinya dari belakang. Felicia kaget saat tangannya ditarik oleh seseorang, dia mau berteriak, namun mulutnya di sekap oleh orang itu.


Haikal lah pelakunya. Dia kemudian melepaskan tangannya dari mulut Felicia. Menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya. Meng-kode Felicia agar tetap diam. Felicia menurut, Haikal menoleh kanan-kiri. Setelah dirasa aman, dia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Gue Haikal, lo pasti udah tau 'kan?" tanya Haikal


Felicia menatap marah laki-laki di depannya itu. "Tentu aja gue tau, lo itu cowok brengs*k bawahan Aaron," balas Felicia dengan nada marah tapi suara yang pelan. Dia masih marah karena mengetahui bahwa Haikal lah salah satu penyebab nyonyanya pergi menghilang selama beberapa hari.

__ADS_1


Haikal menatap lurus Felicia. Tatapannya begitu serius. "Gue bukan bawahan Aaron. Kita bekerja buat orang yang sama. Bedanya, lo mau balas budi, sedangkan gue karena sesuatu yang sulit di jelaskan," sangkal Haikal.


Felicia membulatkan matanya kaget. Bagaimana laki-laki di depannya itu tau tentang tujuannya. Dan, apa maksud perkataannya tadi? Bekerja buat orang yang sama?


"Maksudnya? Enggak! Gue gak percaya," sangkal Felicia.


Haikal mengerutkan keningnya. "Mau gue buktiin?" tawar Haikal, Felicia hanya diam, dia tak menolak apalagi mengiyakan.


"Felicia Citra, putri dari pasangan Pradika Citra dengan Adelia Chandrawinata. Kebangkrutan dari Citra Crop membuat ibumu, Adelia Chandrawinata pergi meninggalkan kalian berdua. Tak lama setelah itu, ayahmu meninggal. Kau pun diadopsi oleh seseorang. Bagaimana?"


Felicia menatap Haikal dengan pandangan tak percaya. Kedua matanya berkaca-kaca karena mau tak mengenang masa lalunya yang menyedihkan itu.


Haikal mengeluarkan tisu dari kantongnya dan memberikannya pada Felicia. "Hapus itu, gue gak narik lo buat nangis," ujarnya.


Felicia menerima tisu itu. "Thanks," katanya.


"Gue gak bakalan ungkit itu lagi, toh juga gak ada gunanya buat gue. Satu hal yang harus lo tau, gue adalah salah satu orang kepercayaannya, begitupula dengan lo. Kita berdua di tugasin dengan tugas yang sama. Menjaga Annora Sinta Az-Zahra." jelas Haikal


Felicia menatap Haikal dengan penuh tanya. "So, apa yang bakalan kita lakuin?" tanya Felicia, dia percaya bahwa Haikal itu memang berada di pihaknya, karena sebelum itu, dia pernah berkata bahwa ada seseorang yang bakalan bantu Felicia. Dan Haikal lah orangnya.


Felicia menganggukkan kepalanya mengerti. "Oke, gue bakalan lakuin apa yang lo minta itu. But, sebelum itu, kasih gue bukti kartu milik lo," ujar Felicia.


Haikal hanya tersenyum, dia mengeluarkan sebuah kartu. Felicia menganggukkan kepalanya, ya, Haikal ada di pihaknya.


"Ternyata, No Name itu lo? Gak nyangka, sih," kata Felicia.


Haikal memutar bola matanya. "Giliran lo," titah Haikal.


Felicia menatapnya malas, dia kemudian mengeluarkan kartu miliknya. Haikal tersenyum puas. "No Body, si cewek misterius yang terkenal dengan mulut bar-bar, gua baru tau kalo itu lo," komentar Haikal.


"Kita berdua punya posisi penting. Gue harap kita bisa kerja sama, No Name," ujar Felicia dengan nada serius, khas dengan No Body.


Haikal mengangguk singkat. "Gue juga, No Body."


Haikal mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Felicia. Langkahnya terhenti karena Felicia memanggilnya. "No Body," panggilnya, Haikal menoleh.

__ADS_1


Felicia menghampirinya. "Kita bagi tugas, lo pantau Aaron and gue jaga Annora, gimana?" tawar Felicia


Haikal mengangguk. "Oke," jawabnya kemudian.


...****************...


Annora tengah memegang bunga kamila putih di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel yang di beri Aaron. Tatapannya tidak lepas dari kedua benda itu.


Felicia yang merasa sedikit takut itupun memanggil nyonyanya. "Nyonya," panggilnya.


Annora tersadar dari lamunannya, dia menoleh menatap Felicia. "Ya, ada apa?" tanyanya kemudian.


"Tidak, saya hanya takut jika Nyonya melamun terus. Memangnya ada masalah dengan dua benda itu, Nyonya?" tanya Felicia


"Jangan terlalu formal begitu, Felicia. Santai saja, kita 'kan temen," ujarnya, Annora lalu menghela nafasnya. "Bunga kamila putih, aku yakin jika itu adalah pemberian Haikal, tapi, untuk apa dia memberikan itu padaku?" curhat Annora


Felicia menatap heran kearah nyonyanya itu. "Memang kenapa Nyonya? Mungkin saja itu hadiah-" ucapan Felicia tersebut terhenti karena mendapat tatapan tajam dari Annora.


Felicia tersenyum canggung. "Hehe, maksud saya, emangnya kenapa Nyonya? Bisa aja itu hadiah 'kan? Tapi, kalo boleh tau, emang arti bunga kamila putih itu apa, sih?"


"Selain kesucian, kamila putih juga memiliki makna sebagai permohonan maaf," jawab Annora.


Felicia tersenyum mendengarnya. "Bagus, itu berarti dia tau bahwa apa yang dilakukannya pada Nyonya itu salah," ujar Felicia, Annora mengernyitkan keningnya heran. Sejak kapan Felicia dekat dengan Haikal?


"Ada satu hal yang harus Nyonya tau," kata Felicia, nada suaranya berubah menjadi serius. "Bahwa Haikal tidak pernah menjadi bawahan Aaron," lanjutnya.


Annora tentu saja terkejut. Selain karena Felicia menyebut Aaron tanpa embel-embel 'Tuan' dia juga terkejut karena perkataannya yang mengatakan bahwa Haikal bukanlah bawahan Aaron. Buaian macam apa itu?


"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Annora mencoba mengorek informasi.


Felicia menghela nafasnya panjang. "Nyonya, saat pertama kali bertemu, saya memang dikirimkan untuk menjaga Anda, bukan menjadi pelayan. Begitupula dengan Haikal, kita berdua bekerja untuk orang yang sama."


"Anda boleh percaya atau tidak, itu terserah Anda. Tapi, bagaimanapun juga, Haikal tidak akan bekerja terang-terangan. Dia sengaja menjatuhkan Anda di sungai itu, karena dia tau kedalaman air sungai tersebut tidak akan melukai Anda."


Annora semakin bingung dibuatnya. "Tunggu, aku sedang malas untuk bicara berbelit-belit. Tapi, siapa bos yang menyuruhmu?" tanya Annora

__ADS_1


Felicia tersenyum kecil. "Dia hilang namun ada, itulah katanya. Tapi yang pasti, dia sangat menyayangi Anda, Nyonya. Bahkan lebih dari dia menyayangi keluarganya sendiri," jawab Felicia.


__ADS_2