
Adelia menatap datar perempuan di depannya yang sedang duduk bersimpuh. Adelia menghela nafasnya pelan. Banyak sekali pekerjaannya akhir-akhir ini.
"Tugas menjaga anak kecil dan menyingkirkan pengganggu saja kau tidak bisa, bagaimana mungkin dirimu itu mendapat gelar ratu Erlangga?" Adelia berjalan mendekati Belinda. "Apakah kau mengerti, Belinda?"
Belinda mulai mengangkat kepalanya. "Lalu, apa yang harus saya lakukan, Ratu Erlangga?" tanya Belinda
Adelia berdehem singkat. "Gampang saja, buat otak Aluna berisi, juga singkirkan setiap perempuan yang ada di dekat Aaron. Ya, kau tau, jika perempuan itu bisa menjadi hambatan bagimu." jelas Adelia
Belinda mengernyitkan keningnya. "Bagaimana bisa?" tanyanya bingung
Adelia memutar bola matanya. "Kau ini banyak bertanya, ya. Tapi, tak apa, aku sedang dalam mood bagus, jadi aku akan menjelaskannya padamu." Adelia mengambil cangkir teh miliknya dan menyeruputnya.
Tak
Cangkir teh itu di letakkan. Dia menatap Belinda dengan serius. "Perempuan yang ada di dekat Aaron bagaikan batu penghalang jalanmu. Jika kau tidak menyingkirkannya, maka akan sulit bagimu untuk mendapatkan gelar itu. Apalagi jika perempuan itu mampu memberikan keturunan bagi Aaron, apakah kau pikir Aaron akan tetap mempertahankan mu, Belinda Herlina?"
...****************...
Annora membaca semua berkas yang diberikan Haikal padanya. Nihil, tidak ada informasi apapun tentang petunjuk kematian Jennie.
Annora menatap Haikal dengan serius. "Ini memang tidak terlalu awam, tapi tetap saja, aku tak menemukan informasi yang bersangkutan tentang kematian almarhumah Jennie," ujar Annora.
Haikal terkejut mendengarnya. "Anda ingin menyelidiki kasus itu?" tanya Haikal
Annora mengangguk mengiyakan. "Ya, dan aku merasa satu diantara mereka ada yang terlibat. Haikal, aku mengungkit janjimu," kata Annora.
Haikal menganggukkan kepalanya singkat. Ya, dia akan memberikan informasi kepada Annora. Selain karena tugas, ini juga menyangkut misinya yang dulu. Misi mencari sebab kematian Jennie.
Sangat janggal rasanya jika dia meninggal karena serangan jantung. Mengingat, Jennie orang yang sangat teliti soal kesehatan. Tidak hanya itu, dia juga merupakan seorang dokter sebelum menjadi istri Aaron.
"Jennie Angraeni, anak tunggal dari pasangan Jevano Angraeni dengan Jihan Fahira. Dia juga merupakan istri pertama Aaron." Haikal menarik nafasnya dalam. "Kita dahulu adalah teman dekat, ya, aku belum menjadi pengawal atau apapun itu. Mengingat, umurmu yang masih dini. Saya mendapat hak istimewa dengan bebas menjelajahi mansion ini, karena saya adalah adik Haidar."
"Aaron memiliki kesibukan yang padat. Seringkali Jennie merasa kesepian dan di saat itulah, biasanya kami akan mengobrol. Dia perempuan baik, cantik, dan lembut."
"Hingga suatu ketika, Jennie mulai menjauh. Aku bingung dan terus mendesaknya agar memberitahu apa penyebab dia menjauhiku. Awalnya dia tak mau, sebelum akhirnya mengatakannya."
__ADS_1
...*****...
^^^Erlangga's past^^^
^^^xxxx^^^
Jennie menatap Haikal dengan sendu. "Maaf, Haikal, aku tidak bisa menceritakan ini padamu," ujar Jennie dengan penuh penyesalan.
Haikal menggelengkan kepalanya. "Kau anggap apa aku ini?! Kau selalu berkata bahwa kita adalah sahabat, apakah itu hanya sebuah omong kosong?" tanya Haikal dengan nada tinggi. Dia tidak suka jika Jennie-nya berkata seperti itu. Katakan saja Haikal gila karena mencintai istri sahabat kakaknya.
"Aaron marah," kata Jennie, Haikal menatapnya bingung. "Dia tidak suka jika aku ada di dekatmu," lanjutnya.
Haikal ingin mengumpat sekarang. Hey, sekalipun Haikal mencintai Jennie, dia tidak pernah melakukan apapun pada wanita di depannya itu. Dia mencintai Jennie dengan tulus.
Haikal menghembuskan nafasnya panjang. "Tak apa, aku mengerti. Sekarang, aku lega karena kau tidak membenciku," ungkap Haikal.
Jennie menatap Haikal dengan pandangan tak enak. "Sekali lagi, maaf, Haikal," ujarnya.
Haikal tersenyum kecil menatapnya. "Jangan khawatir, aku mengerti, Jennie. Aku berharap rumah tangga kalian baik-baik saja. Baiklah, aku pergi dulu, ya, sepertinya kakak memanggilku," pamit Haikal lalu pergi.
...****************...
Sebulan setelah Haikal melihat itu, dia berjalan-jalan menyusuri sungai. Ini merupakan salah satu rutinitasnya, karena bagi Haikal, malam dengan luasnya air danau adalah perpaduan yang sempurna.
Semesta ingin memberikan kejutan padanya, dia melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya itu. Ya, sahabatnya telah mengapung di danau yang tenang. Irisnya membulat sempurna.
...*****...
Annora mendengarkan cerita Haikal dengan seksama. Satu hal yang pasti, Jennie tidak meninggal karena serangan jantung, melainkan karena tenggelam. Tentang dalangnya, masih abu-abu.
"Apakah kau tidak melihat siapa orangnya?" tanya Annora
Haikal menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, dia sudah mengapung, wajahnya pun pucat pasi," jawab Haikal.
Annora menulis itu di sebuah notebook miliknya. "Kenapa kau tidak membawanya ke dasar danau?"
__ADS_1
Haikal menghembuskan nafasnya pelan. "Saya waktu itu masih labil, Nyonya. Setelah melihat mayat Jennie, saya langsung berlari kencang meninggalkan mayatnya karena saya terlalu takut," ungkap Haikal.
"Aku ... turut prihatin," kata Annora, dia kemudian menatap Haikal. "Jam berapa kau menemukan Jennie?"
"Malam hari, pukul sembilan kalau tidak salah, lebih sepuluh menit," jawab Haikal.
Annora terdiam sejenak. Orang gila mana yang saat mengandung keluar dari rumah saat malam-malam? Itu ... terdengar mustahil.
Annora memutar keras otaknya, ia mencoba mencari dugaan yang pas untuk itu. Nihil, tidak ada jawaban. Arghh ...!! Andai Jennie bisa berbicara di mimpi seperti film-film itu, pasti akan lebih mudah.
Annora menghembuskan nafasnya. "Ini, rumit. Huwaa ...!! Aku ingin pulang ...!!" teriak Annora, sepertinya dia lupa jika Haikal masih ada di depannya.
Annora tersadar, dia lalu tersenyum canggung. "Hehe, maaf, ya, aku emang agak orangnya," ujar Annora.
Haikal tersenyum. "Tidak apa-apa, Nyonya," katanya maklum.
...****************...
Belinda berjalan, dia sengaja menyenggol pundak Sherly. Sherly langsung menarik lengannya itu. Menatap wanita di depannya dengan sengit.
"Apa maksud lo kaya gitu?" tanya Sherly dengan nada marah.
Belinda tersenyum. "Emang masalah? Ya, gue kasihan aja sama lo, lo sekarang udah dibuang Aaron, ya? Upss," ujar Belinda, dia menutup mulutnya dengan tangan guna mengejek Sherly.
"Bac*t! Gak usah munafik. Mimpi sono jadi ratu Erlangga. Cih, jijik gue," kata Sherly dengan nada jijik yang ketara.
Belinda menatap remeh Sherly. "Mendingan juga gue. Antara wanita yang memberi Aaron keturunan atau cuma jal*ng kaya lo, lebih baik mana? Jelas gue. So, gak ada salahnya gue bermimpi kaya gitu," ujar Belinda, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Sherly.
Langkahnya terhenti, dia membalikkan badannya. "And, satu lagi. Gue bakalan nyingkirin siapapun yang ngehalangi gue. Anyone and in any way," lanjutnya.
Sherly menggelengkan kepalanya. "Sinting, anjing Adelia emang stres," gumam Sherly, dia kemudian pergi.
...****************...
Annora meminta Haikal untuk mengunjungi makam Jennie. Haikal menyanggupi itu, namun sebelumnya, dia ingin membeli buket bunga iris terlebih dahulu.
__ADS_1
Annora menatap buket itu. "Iris biru, konon katanya, bunga itu melambangkan kepercayaan, harapan, dan juga kebijaksanaan." Annora menoleh menatap Haikal. "Kenapa kau memberinya bunga iris? Biasanya jika orang berziarah mereka akan membawa mawar atau lili," kata Annora bingung.
"Bunga iris biru adalah kesukaannya, jadi aku selalu membawakan ini," ujar Haikal, Annora menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan mulai membelah jalanan.