
Adelia menggeram marah. Dia sudah diberitahu bawahannya tentang data penting yang hampir di curi oleh orang tak dikenalinya.
Adelia memejamkan matanya, mencoba berfikir jernih. Data sopir pribadi mantan menantunya, Daffa Rahman hampir diculik? Berarti, ada seseorang yang memang ingin membuka kembali kasus kematian Jennie. Tapi pertanyaannya, siapakah dia?
Annora? Ya, mungkin saja. Itu sangat patut di curigai. Tapi, ini masih belum cukup. Sekalipun Evelyn memberinya posisi yang penting, tapi kekuatannya di Erlangga ini masih tergolong cukup lemah meski tidak sepenuhnya.
Belinda, ya, dia akan menggunakan wanita itu untuk menyingkirkan Annora, sama seperti dulu. Tapi, mungkin ini lebih sulit, mengingat ... Annora dinaungi langsung oleh Evelyn, meskipun sang nyonya agung tersebut tidak ada di sini, tapi Adelia yakin bahwa si nenek tua itu sudah mengirim antek-antek nya untuk menjaga sekaligus mengawasi Annora.
...****************...
Annora mengernyitkan keningnya mendengar cerita Haikal. Daffa Rahman, sopir sekaligus orang terdekat Jennie.
Annora menatap Haikal. "Lalu, apa yang kita lakukan? Kau ingin mencari orang itu? Lagipula, apa urusannya dengan Daffa?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Annora.
Haikal terdiam sejenak. Ya, memang informasi apa yang bisa digali dari sosok Daffa? Sepertinya tidak ada.
Annora mengangkat alisnya sebelah melihat keterdiaman Haikal. "Sepertinya ini tidak akan berhasil," Annora mendesah pasrah. "Aku selalu berfikir jika kita bisa bertemu dengan Jennie lalu menanyakan langsung," ujarnya konyol.
Annora tersenyum seolah mendapatkan ide brilian. "Kita cari saja orang yang memiliki indra keenam, itu lebih efisien, efektif, dan mudah, bagaimana?" tawarnya
"Memangnya ada, Nyonya? Ini sudah bukan jamannya itu lagi. Lagian, sekalipun ada, kita tetap saja harus membutuhkan bukti yang valid dan sah. Hakim tidak akan percaya dengan kemampuan yang tidak bisa dibuktikan dengan ilmiah itu," jelas Haikal yang membuat Annora mengembung kan pipinya.
Annora membuang nafasnya kasar. "Benar juga," ujarnya pelan. Astaga, kasus ini benar-benar rumit dan tak cocok dengan otak kecilnya ini.
Daffa Rahman, orang yang saat ini sedang dipikirkan oleh Haikal. Laki-laki itu mencoba mengingat sosok supir pribadi mendiang sahabatnya. Sosok Daffa dikabarkan menghilang setelah ditugaskan untuk mengantarkan jenazah milik Jennie.
"Sepertinya, ini tidak akan berhasil, Haikal. Jika nenek ada di sini, kemungkinan besar bisa, tapi dia tidak ada. Dia pergi entah kemana. Aku hanyalah pendatang, yang tidak begitu mengerti tentang seluk-beluk keluarga ini," jelas Annora. Dia sepertinya mulai menyerah untuk melaksanakan permintaan neneknya.
Haikal menatap Annora kaget. "Anda sudah diperintahkan nyonya agung Evelyn untuk mengungkap kasus ini, Nyonya. Nyonya agung Evelyn yakin dengan kemampuan Anda. Maka dari itu, jangan menyerah. Bukankah Anda ingin membuat nyonya agung Evelyn senang?"
Pernyataan Haikal membuat Annora tertegun. Dia pernah berjanji bahwa akan selalu menuruti kemauan Evelyn. Bagi Annora, Evelyn sudah seperti neneknya sendiri. Dia adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Annora di keluarga ini.
"Daffa dinyatakan menghilang tanpa kabar setelah mengantarkan jenazah milik Jennie. Saya sempat mencarinya, terakhir dia dikabarkan sedang dirawat di RS Lentera. Dia bahkan dikabarkan sekarat, tapi untuk saat ini. Saya hanya mendengar kabar burung tentang dirinya yang berada di RSJ," jelas Haikal.
Annora menghela nafasnya setelah mendengar penjelasan Haikal. Dia lalu meminta Haikal untuk keluar dan mencari bukti yang lebih kuat.
"Pergilah, cari bukti yang lebih kuat. Kita tidak pernah tau sekuat apa lawan kita," perintah Annora pada pengawalnya itu. Haikal mengangguk, dia kemudian pamit pergi.
Annora berjalan, tatapan terpaku pada langit biru yang tertutup awan itu. Pikirannya kalut. Dia tidak terlalu mempercayai Haikal.
Saat seseorang memperbaiki kaca yang pecah, memang kaca tersebut mampu memantulkan bayangan, tapi tidak secara sempurna. Begitupula dengan kepercayaan. Mungkin dia bisa memaafkan mu, tapi jika untuk mempercayai sedalam sebelumnya, it is an impossibility.
Annora mengakui dia tidak sepintar itu. Dia tidak tau harus bagaimana lagi. Annora menghela nafasnya panjang. Dia mengetikkan sesuatu di kolom pencarian ponselnya.
Annora berteriak. "Felicia ...!!" panggilnya dengan nada yang cukup tinggi karena takut gadis itu tak dengar.
Felicia mengetuk pintu, dia kemudian masuk. Felicia menundukkan kepalanya hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Felicia sopan.
"Tolong belikan aku minyak ikan, terus ikan salmon, susu coklat, oatmeal, dan ... um ... apa, ya? Ah, sayur bayam," ujar Annora.
__ADS_1
Felicia menganggukkan kepalanya. "Baik, Nyonya," Felicia kemudian pergi untuk melakukan perintah Annora.
Annora tersenyum senang. Ya, setidaknya mungkin setelah makan makanan tersebut, otaknya menjadi sedikit encer.
Felicia kembali, membuat Annora mengernyitkan keningnya heran. "Ada apa?" tanyanya
"Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Nyonya," jawab Felicia.
Annora menganggukkan kepalanya. "Arahkan dia untuk ke ruang perjamuan ku, aku akan menyusul nanti," katanya memberi intrupsi.
"Baik"
...****************...
Annora menatap kaget Jasmine yang sedang menunggunya. Felicia sudah keluar, jadi hanya ada mereka berdua. Annora segera menghampiri Jasmine.
"Jasmine ...?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Jasmine menoleh, dia tersenyum mendapati Annora. "Hai," sapanya. Mereka berdua lalu berpelukan.
Annora mengurai pelukannya. Dia menatap Jasmine tak percaya. "Bagaimana bisa, kau ....?"
"Aku diperintah kakak," ujar Jasmine, dia lalu mengeluarkan sebuah amplop dari sebalik sakunya. "Ini, katanya untukmu," lanjutnya.
Annora menerima amplop itu, dia membuka dan membacanya. Annora menatap Jasmine. "Katakan pada kakakmu jika aku benar keturunan Atmadja dan tanyakan padanya untuk apa dia bertanya seperti itu?"
Jasmine menganggukkan kepalanya. "Baiklah," jawabnya.
Jasmine memutar bola matanya. "Itu karena mu, lah. Jika kakak tidak memintaku untuk mengirimkan surat ini padamu, mungkin aku tidak akan memakai pakaian rendahan ini," dengusnya.
"Huss, jangan gitu. Mereka hanya bekerja, toh juga halal," ujar Annora memperingati.
"Iya-iya, kamu bener, deh." Jasmine merogoh sakunya dan menatap jam tangan miliknya. "Ah, aku pergi dulu, ya. Sebenarnya, aku bukan maid, maid sih, tapi sementara. Oke, bye ..." pamit Jasmine.
Annora tersenyum dan mengangguk. "Ya, hati-hati, maaf juga karena aku tidak bisa mengantarmu," ujar Annora yang hanya dibalas oleh acungan jempol.
...****************...
Annora tersenyum kala melihat Aluna. Gadis kecil itu kemudian berlari memeluk sang ibunda. Annora menyambutnya dengan senang hati. Irisnya menatap aneh ke arah Aaron. Kenapa pria itu ada di sini? Apakah dia melakukan kesalahan? Sepertinya tidak.
"Ibu, aku dengar dari Felicia bahwa Ibu membeli banyak makanan. Memangnya untuk apa?" tanya Aluna
Annora tertawa kecil. "Ibu ingin makan makanan yang bergizi agar Ibu juga cerdas. Oh ya, gimana pelajaran mu saat ini, apakah kau masih membaca buku-buku aneh itu?" tanya Annora
"Ya, masih meskipun sedikit. Tenang saja, jadwalku sudah agak renggang," jawab Aluna.
Annora tersenyum kecil. Dia kemudian menatap Aaron. "Ada apa?" tanyanya to the poin. Aaron menatap Aluna. Annora menganggukkan kepalanya mengerti.
"Ibu ... Apakah aku boleh mencicipi semua makanan ini?" tanya Aluna sambil menatap seluruh isi makanan yang tersaji di meja.
__ADS_1
Annora menganggukkan kepalanya. "Tentu saja," jawabnya.
Dering ponsel berbunyi. Aluna mengintip siapa yang menelpon ibunya itu. Dirinya kemudian berteriak untuk memanggil sang ibu yang berada di kamar mandi.
"Ibu ...!! Ada telepon ...!!" teriaknya, Annora kemudian keluar, dia menatap Aluna seolah bertanya. "Um, Athayaaa, huruf 'a' nya dobel, eh, enggak, triple." Annora segera mengangguk, dia lalu mengangkat ponsel pintar miliknya.
"Halo, assalamualaikum ...."
"Wa'alaikumsalam, kakak ...!! Aku dapet beasiswa ke luar negeri ...!!" seru Athaya di seberang.
"Apa?! Kau mendapat beasiswa ke luar negeri?"
"Tidak perlu terkejut seperti itu. Pikirmu aku manusia berotak udang?"
"Yayaya, aku tau kau pintar."
"Ya, untuk saat ini, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Oh ya, gimana di Erlangga? Seneng 'kan?"
Annora terdiam sejenak, dia kemudian tersenyum kecil. "Ya," jawabnya singkat.
"Dih, sok cool. Lusa anter aku ke bandara, ya?"
"Iya-iya, aman"
"Nadanya jangan lemes gitu, dong ... kaya aku mau apa aja. Aku kan cuma ke negara tetangga, buat nuntut ilmu juga."
"Iya adekku tersayang. Tapi ... berarti aku sendiri, ya?"
"Hah? Apa? Aku tak dengar, bicara yang jelas, kak."
"Gak jadi"
"Haiss, baiklah. Byee, wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam"
Annora menghela nafasnya panjang. Adiknya sebentar lagi akan pergi. Ya, dia sendiri. Alone. Dia bahagia mendengar sang adik tercinta mendapat beasiswa ke luar negeri. Tapi, tetap saja. Hah, memikirkannya membuat Annora pusing sendiri. Intinya, dia senang sekaligus sedih. Rasanya campur aduk.
Aluna menatap ibunya khawatir, dia kemudian memegang tangan Annora. Annora tersentak, dia kemudian menatap Aluna.
"Ada apa, hm?" tanya Annora lembut
Aluna menggelengkan kepalanya. "Ibu jangan sedih," katanya.
"Tidak, Ibu tidak sedih. Oh ya, katanya tadi mau makan," ujar Annora.
"Aku tidak mau makan jika tidak disuapi Ibu," ujar Aluna dengan nada merajuk.
Annora tertawa kecil. "Iya-iya, Ibu suapin, deh. Dasar, manja."
__ADS_1
...****************...
Annora menatap buket bunga tulip putih. Annora menghela nafasnya panjang. Adiknya akan pergi meninggalkannya sebentar lagi. Dia sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia cukup senang mendengar Athaya mendapat beasiswa. Padahal awalnya adik laki-lakinya itu menolak keras.