
Athaya saat ini sedang berada di mansion Erlangga, tepatnya ruang tamu pribadi milik nyonya Erlangga yang tak lain dan tidak bukan adalah kakaknya sendiri.
Seorang perempuan masuk, Athaya segera menolehkan kepalanya. Dia kira itu adalah kakaknya, Annora, ternyata seorang pelayan. Sherly menatap Athaya dengan alis yang bertaut. Dia seperti pernah melihat laki-laki di depannya ini. Ah, benar, laki-laki itu adalah adik Annora.
Sherly menatap Athaya dengan pandangan mengejek. "Woww, sepertinya kau kehabisan uang sampai-sampai datang kemari," ujar Sherly.
Athaya meliriknya sekilas. "Tidak kusangka bahwa ada pelayan yang berlagak seperti tuan rumah," sindir Athaya santai, dia bahkan masih dengan tenang menyeruput kopinya.
Sherly menggeram marah. Dia menarik nafasnya dan mencoba tenang. Untuk menghadapi mulut Athaya, dia harus tenang.
"Kau tidak tau siapa aku, ya? Perkenalkan, namaku, Sherly Chintya Arabella, wanita yang dicintai Aaron Rama Erlangga," ujar Sherly memperkenalkan diri.
Dia tau jika Athaya sangat menyayangi kakak perempuannya itu, makannya dia memanfaatkan situasi ini untuk memisahkan mereka berdua. Ya, setidaknya setelah Annora pergi, saingan Sherly menjadi berkurang.
Athaya melirik tajam Sherly. Dia mencoba tenang meski amarah masih meliputi hatinya. Sherly tersenyum melihat reaksi Athaya.
Pintu dibuka, menampilkan sosok Annora yang dibelakangnya ada pelayan setianya, Felicia. Athaya segera berdiri begitu melihat kakaknya. Annora kemudian menghampiri adiknya. Mereka berdua berpelukan layaknya Teletubbies.
Annora mengurai pelukannya, dia menatap Athaya dengan heran. "Bukankah masih besok? Apa dipercepat?" tanya Annora
Athaya menggelengkan kepalanya. "Besok, Kak, aku kesini hanya karena merindukan mu, memangnya tidak boleh?"
Annora tertawa kecil. "Iya 'kah?"
Athaya tak menjawab, dirinya kemudian melirik kearah Felicia. "Ah, Nona ini siapa, Kak? Sepertinya aku pernah melihatnya," ujar Athaya.
Jantung Felicia berdetak kencang. Dia takut jika adik nyonyanya itu melaporkannya yang tempo lalu membentak dan memarahinya. Athaya tersenyum melihat wajah panik Felicia.
"Dia ... Felicia, Felicia Citra." Annora menoleh menatap Felicia. "Felicia, perkenalkan ini Adekku, Athaya Bima," ujarnya.
Felicia mengangguk kaku. "Salam, saya Felicia, pelayan pribadi Nyonya Annora," ujarnya sembari menundukkan kepalanya hormat.
Annora kembali menatap adik sematawayangnya itu. "Katakan dengan jujur, apa maksud kedatanganmu kemari?" tanya Annora dengan tegas.
"Ekhmm," Sherly berdehem untuk menyadarkan mereka bertiga bahwa dia ada di sana.
Annora meliriknya sekilas. Dia kemudian tersenyum menatap Sherly. "Ah, Nona Sherly. Maaf, ya, saya jadi lupa jika ada Anda di sini. Anda boleh keluar sekarang. Felicia, tolong antarkan Nona Sherly keluar, dia masih mempunyai banyak pekerjaan," titah Annora.
Felicia menganggukkan kepalanya. "Baik, Nyonya." Dia lalu berjalan mendekati Sherly dan menarik lengannya. "Mari keluar, Nona," ujarnya. Baru beberapa langkah, kaki mereka berhenti karena perkataan Athaya.
"Berhenti. Aku ingin mengadukan kepada Kakak tentang pelayanan mu, Nona," ujar Athaya. Felicia keringat dingin. Annora melirik Athaya dengan alis terangkat seolah bertanya.
"Nona Sherly tidak menjamuku dengan baik, Kak. Juga Nona Felicia yang memarahiku tempo lalu," papar Athaya, wajahnya tersenyum penuh kemenangan.
"Benarkah begitu, Nona Sherly dan Felicia?" tanya Annora
Felicia segera berbalik. Dia membungkukkan badannya. "Maafkan saya, Nyonya. Saat itu saya panik karena takut Adik Anda marah," ujar Felicia meminta maaf.
__ADS_1
Annora mengangguk, tanda memaafkan. Sedangkan Sherly masih berdiri, sepertinya dia tidak memiliki niat untuk minta maaf.
Annora menatap Sherly. "Secara khusus, Anda akan saya tunjuk sebagai pelayan pribadi saya, Nona Sherly. Saya takut jika kejadian ini terulang, apalagi jika itu adalah tamu penting saya." Iris Annora bergulir. "Felicia, bantu Sherly."
Athaya tersenyum melihatnya. Kini di ruangan itu hanya ada dua orang, yakni Annora dan Athaya. Annora mempersilahkan Athaya untuk duduk. Mereka saling menatap serius satu sama lain.
"Ada apa?" tanya Annora to the poin.
Athaya tersenyum. "Ayolah, Kak, jangan terlalu serius." Athaya kemudian memberikan sebuah bunga sepatu. "Ini, untukmu," ujarnya.
Annora menerima bunga itu. "Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Annora
Athaya memutar bola matanya malas. "Oh, Kakak ku tersayang, tidakkah kau ingin mengucapkan terimakasih pada adekmu tercinta ini?"
Annora tersenyum manis. "Terimakasih, Adekku tersayangg. Sekarang, beritahu kakakmu yang cantik ini, dari mana kau mendapatkan bunga mungil nan manis ini juga ada apa kau kemari? Apakah kau merindukan kakakmu yang manis ini?"
Athaya menghela nafasnya. "Tidak, aku mendapatkan bunga itu di depan, karena aku tidak membawa buah tangan, maka ku petik saja bunga itu." terang Athaya, dia kemudian memberikan sebuah surat. "Tanda tangan," titahnya pada Annora.
Annora mengambil surat tersebut dan membacanya. Dia tersenyum senang. "Kau hebat, Athaya," pujinya, dia dengan segera menandatangani surat itu dengan bolpoin yang dibawa oleh Athaya.
Athaya tersenyum bangga mendengarnya. "Tentu saja, Athaya gitu, loh ..." jawabnya dengan sombong.
Annora mencebik. "Dih, sombong," komentar gadis itu. Setelah selesai, dia memberikan surat tersebut pada Athaya. "Nih"
Athaya mulai menatap Annora dengan intens. Membuat sang gadis merasa risih. "Ada apa, sih?" tanyanya dengan nada jengkel.
Deg
Annora tersenyum kecil. "Ah, mana mungkin. Aaron itu pria baik, ya, pria baik," ujarnya dengan sedikit gugup.
Athaya menyimpitkan matanya. "Benarkah?" tanyanya tak percaya.
Annora menganggukkan kepalanya. "Benar, aku tak bohong." Sedetik berikutnya, Annora tersenyum menggoda. "Kau khawatir, ya ....?"
Athaya memutar bola matanya malas. Mulai lagi. -batinnya kesal.
"Lalu jika tidak, bagaimana Sherly bisa mengatakan bahwa dia adalah wanita kesayangan Aaron?"
Skakmat. Annora tak bisa menjawab. Sial. Sherly memang menyebalkan. Dia bingung, bagaimana bisa seorang perempuan bangga atas status 'wanita simpanan', aneh.
Annora tertawa kecil untuk menghilangkan kegugupannya. "Dia ... hanya membual. Kau tau, banyak perempuan yang tergila-gila dengan Aaron. Ya, dia salah satunya," bohong Annora.
Athaya menghela nafasnya panjang. "Terserah. Tapi jika dia berani macam-macam padamu, maka urusannya denganku. Kau tak perlu takut, Kak," kata Athaya.
Annora tersenyum. "Ya, itu pasti."
...****************...
__ADS_1
Annora tengah masak besar. Hari ini adalah keberangkatan adiknya, ia akan mengantarnya ke bandara dan membawakan bekal ini.
Seseorang memanggilnya dari luar. Annora mengenal suara itu. Ya, itu adalah suara Haikal. Annora mematikan kompornya, dia melepas apron biru muda miliknya, dan keluar.
Haikal membungkukkan tubuhnya. "Maaf menganggu, Nyonya, tapi saya punya berita penting," ujar Haikal.
Annora menganggukkan kepalanya. Dia lalu mempersilahkan Haikal untuk ke ruang tamu pribadinya.
...****************...
Annora membaca semua surat-surat itu dengan seksama. Kesimpulannya, Jennie meninggal karena tenggelam dan dia tidak memiliki riwayat sakit jantung ataupun yang lainnya.
Annora menutup surat itu. Dia menghela nafasnya pelan. "Jennie Angraeni. Kita sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk mengungkap kasus ini. Tapi, jumlah saksi yang benar-benar bisa membantu kita hanya satu, dan itupun sudah menghilang bak ditelan bumi."
"Sebenarnya, apa motifnya? Dugaan pelaku, menurutmu siapa?" tanya Annora
"Aaron," jawab Haikal cepat.
Annora mengernyitkan keningnya. "Aaron? Itu adalah jawaban ter-konyol yang pernah ku dengar. Aaron tak mungkin membunuh Jennie," sangkal Annora.
"Apa dasarnya?"
Annora terdiam sejenak. Dia tidak mungkin 'kan berkata bahwa Aaron sangat mencintai Jennie? Itu adalah privasi. Lagipula, apa motifnya? Cemburu?
"Mereka menuduh anak yang dikandung Jennie adalah hasil hubungan gelap. Anda tau watak Aaron 'kan?"
Ya, Annora tau itu. Aaron tak akan segan untuk membunuh seseorang jika dia merasa terancam. Tapi, jika itu Jennie, Annora masih belum yakin.
"Hasil otopsi?"
"Tidak ada otopsi. Pihak Erlangga menolak melakukan itu dengan alasan tidak kuat menahan kesedihan."
Annora terdiam. "Semasa Jennie masih hidup, siapa orang yang pro terhadapnya?" tanya Annora
"Nyonya agung dan aku," jawab Haikal.
"Hanya itu?"
"Yang lain diiming-imingi oleh uang dan kekuasaan."
"Uang dan kekuasaan," gumam Annora, dia tersenyum tipis. "Kita juga harus seperti itu. Uang dan kekuasaan. Satu-satunya cara untuk mengungkap kasus ini adalah menggulingkan ibu Adelia, bahkan Aaron. Dengan begitu, semua yang ada di sini akan mau membuka mulutnya," lanjut Annora.
Wajahnya yang cerita berubah menjadi sendu. "Tapi itu tidak mudah."
Sebenarnya, apa maksud nenek untuk membuka kasus Jennie dan kebusukan Erlangga, ya? -batin Annora bertanya.
"Itu tergantung Anda, Nyonya. Jika Anda memanfaatkan dengan benar kekuasaan yang diberikan nyonya agung, itu bahkan lebih dari cukup," jelas Haikal.
__ADS_1